Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Aku Tak Akan Kembali Meski Hanya Dalam Mimpi


__ADS_3

"Azizah..."


Axel berdiri kaku, Ia perlahan mendekati Azizah yang masih menyorotkan sinar mata yang sama.


"Duduk mas"


Pinta Azizah datar, tidak seperti saat pertama kali bertemu Axel kemarin. Takut dan gemetar.


Kejadian yang hampir saja melukai anaknya, membuat Azizah bertekad untuk berubah. Dia harus kuat, karena anak-anaknya membutuhkan kekuatannya untuk berlindung.


"Bagaimana keadaan Kamu"


"Seperti yang Kamu lihat, Aku masih hidup"


Terdengar sederhana, tapi Axel jelas menangkap nada sarkasme disana.


"Aku sungguh minta maaf Zizah, Aku tidak bermaksud untuk..."


"Aku tahu, tapi... untuk apa kamu datang mas? semua tidak akan kembali sama"


Sela Azizah sebelum Axel menyelesaikan kalimatnya. Axel terdiam menatap Azizah dengan tatapan sendu.


"Aku sudah memaafkan Kamu, jauh sebelum Kamu meminta maaf. Tapi.... Aku tidak akan kembali, meskipun hanya dalam mimpi"


"Zizah...."


"4 tahun mas..."


Luka hati yang masih menganga itu tergambar jelas dari bola matanya yang memerah, membuat Axel menunduk, hatinya berdenyut nyeri setiap kali mengingat 4 tahun pernikahan mereka.


"Pernah Kamu bayangkan bagaimana rasanya menjadi Aku selama 4 tahun itu?"


"Setiap hari Aku menunggu, melihat ke arah pintu berharap suamiku yang sangat Aku cintai dengan sepenuh hati akan datang sekedar untuk menjengukku walaupun sebentar. Setiap hari mas"


Azizah tidak bisa menangis, terlalu lelah dan mungkin sumber air matanya sudah mengering hingga habis.


"Aku selalu mengirimkan pesan singkat untuk seuamiku itu, Aku bahkan tidak berani hanya sekedar menelepon karena takut mengganggu pekerjaannya. Setiap menit Aku akan menengok layar handphoneku, berharap sekaliii saja Suamiku akan membalas pesanku. Tapi... itu tidak pernah terjadi. Tapi... tapi Aku tidak menyerah. Pikiranku yang bodoh karena cinta buta itu membuatku seperti orang idiot. Aku terus mengiriminya pesan dengan harapan bodoh bahwa suamiku akan membalasnya. pasti akan membalasnya"


Azizah tersenyum, tapi siapapun bisa melihat bahwa hatinya mungkin menangis darah saat ini.


"Aku selalu berusaha mencairkan hatinya yang dingin, mencoba menyentuh perasaannya barang kali ada cinta untukku walaupun hanya setetes embun. Aku membawakannya makanan hampir setiap Minggu, melakukan perjalanan dari tempatku diasingkan sampai ke kantornya dengan bahagia, ternyata sama sekali tidak ada artinya"


"Azizah..."


Semua ucapan Azizah bagai ribuan jarum yang menusuk hatinya. Sakit dan perih. Perasaan bersalah semakin menyelimuti batinnya.


"Dan Kamu tahu? kejutan apa yang Aku dapatkan di ujung penantianku?"


"Ternyata Dia... Dia yang membunuh Anakku... Anakku yang bahkan tidak tahu apa-apa"


"Kamu tahu yang lebih menyakitkan?? Dia bilang bahwa Dia bahkan tidak sudi memiliki anak dari perempuan rendahan sepertiku. Dia... Dia akan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya jika sampai Aku mengandung anaknya. Kamu tahu bagaimana perasaanku saat mendengar suamiku yang kuanggap seperti malaikat berbicara seperti itu?"


"Aku hancur. Aku hancur Seperti gelas kaca yang dijatuhkan dari ketinggian. Remuk"

__ADS_1


Ucap Azizah dengan suara bergetar. Yah, Dia sehancur itu saat mengetahui kebenaran dari mulut suaminya sendiri.


"I'm Sorry..."


Axel menunduk dalam. Ia juga mengutuk mulutnya sendiri jika mengingat semua ucapannya itu. Ia sungguh menyesalinya meski kini percuma, Azizah terlanjur terluka parah karenanya.


"Sekarang, Aku bertanya padamu mas, bagaimana Kamu akan menyatukan kembali gelas kaca yang sudah hancur itu?"


Axel terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus berkata apa.


"Jika dulu Kamu begitu egois menyingkirkan anak kita untuk kebahagiaan kamu dan kekasihmu, maka kali ini Aku akan melakukan hal yang sama"


"Azizah... apa maksud Kamu?"


"Aku akan menghilang selamanya dari hidupmu kalau Kamu tidak menyerah dan pergi dari hidupku"


Axel melebarkan matanya mendengar ucapan Azizah yang sayangnya terlihat sangat sungguh-sungguh.


"Aku bersumpah Kamu tidak akan pernah menemukan Aku ataupun anak-anakku.


Aku sudah berkorban banyak untuk pernikahan bodoh itu. Bisakah Aku meminta imbalanku sekarang?? Aku mohon dengan sangat Tuan Axel William Djaja, pergilah, pergilah sejauh mungkin dari hidupku dan anak-anakku. Mereka hanya anakku, hanya anakku!"


Azizah mengakhiri ucapannya dengan isakan. Ia membuang wajahnya ke samping. Terlalu sakit menatap pria yang menjadi sumber luka hatinya selama ini.


"Azizah...."


"Pergilah dari hidupku, Aku mohon! Atau Aku benar-benar akan mengakhiri hidupku di hadapanmu sekarang"


Ucap Azizah dengan tatapan menyala.


Tak menunggu lama seorang perawat datang,


"Ada yang bisa saya bantu Bu Azizah?"


"Tolong minta Tuan ini keluar Sus, Saya ingin beristirahat"


"Baiklah. Maaf Pak, biarkan Ibu Azizah istirahat, Anda bisa menjenguknya lagi nanti"


Axel tak bergerak. Ia kembali menatap Azizah yang kini sudah berbaring memunggunginya.


Ia salah mengira, Ia pikir Azizah ingin bertemu dengannya karena akan memberi kesempatan. Ternyata ia mendapatkan kejutan yang menyakitkan.


"Mari Pak, silahkan keluar ruangan dulu. Pasien butuh istirahat"


Ulang sang perawat karena melihat Axel tak bergeming.


Dengan langkah berat Axel keluar dari ruangan. Ia di tolak. Azizah tak lagi menginginkannya, tak lagi membutuhkan dirinya.


***


"Xel, Are you Okay?"


Tanya Radit khawatir melihat Axel terlihat pucat dan murung.

__ADS_1


Axel tak bersuara. Ia hanya berjalan lurus yang entah kemana tujuannya. Membuat Radit penasaran.


Sementara Darren menarik nafas lega. Ia bangga, Azizah benar-benar menyelesaikan masalahnya.


Melihat bagaimana ekspresi Axel sekarang, pasti yang dikatakan Azizah sangat menyakitkan. Ia tak pernah melihat Axel sekacau itu seumur hidupnya. bahkan saat sempat putus dengan Alexa dulu Axel tak se-menyedihkan ini.


Radit dengan bingung mengikuti Axel yang justru meninggalkan rumah sakit dengan lesu.


'Azizah ngomong apa yah?' Batin Radit. Ia sungguh kepo.


***


"Kamu sudah mendapatkan informasi tentang gadis itu?"


Ucap wanita yang tak lain adalah Karina, Ibunda Darren.


"...."


"Aku tidak mungkin bertanya pada suamiku. Kejadian 17 tahun lalu sangat melukainya. Berpuluh-puluh tahun ia selalu menyalahkan diri sendiri. Putrinya hilang, sementara anak sulungnya depresi hingga kehilangan ingatannya"


"....."


"Tolonglah, Aku membutuhkan informasi tentangnya secepat mungkin. Aku benar-benar merasakan firasat bahwa Dia adalah Rheina, Putriku yang di culik 17 tahun lalu"


"....."


"Terima kasih, Aku akan ke Indonesia hari Rabu besok. Aku harap Aku sudah mendapatkan informasi lengkapnya sebelum sampai di sana"


"...."


"Sekali lagi, terima kasih atas bantuanmu Carlos"


"...."


"Sampai jumpa"


Karina memejamkan matanya yang sudah basah. Ia sangat berharap bahwa gadis yang bernama Azizah itu benar-benar Rheina Hayes Atmaja, Putrinya.


"Azizah punya tanda lahir yang sama dengan Rheina, Wajahnya... wajahnya juga persis seperti Rheina ku. Ya Allah, Hamba mohon semoga Azizah adalah Rheina, semoga Rheina ku benar-benar masih hidup. Hamba mohon...."


Karina terisak. Batinnya bahagia sekaligus takut. Ia takut jika kenyatannya tidak sesuai dengan harapannya.


Putri kesayangan keluarganya. Adik kesayangan Darren yang hilang hingga Darren depresi dan nekad melompat dari balkon sampai terluka parah dan kehilangan ingatannya.


Karina kembali memandangi foto Azizah dari layar handphonenya.


"Katakan nak, katakan kalau Kamu benar-benar Rheina. Rheina Putriku yang malang huhu"


Karina memeluk gawainya dengan erat seolah tengah memeluk Azizah yang menurutnya adalah Rheina.


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya....

__ADS_1


Luvv banyak-banyak ❤️🌹🌹🌹


Semoga tidak mengecewakan ya, Aku menerima masukan, saran dan juga kritik, tapi tidak dengan hinaan. Karena itu membuat Aku down hehehe. Terima kasih sebelumnya ❤️❤️🌹🌹


__ADS_2