
Darrenku Yang Manis
Seudah 1 Minggu berlalu, keadaannya tidak terlalu berubah, singkat kata, aman terkendali. Namun Darren dan Abimana tetap waspada dan menempatkan beberapa orang suruhan mereka untuk mengawasi Azizah yang saat ini selalu ditemani Nayla.
Masing-masing dari mereka tetap beraktivitas sebagaimana biasanya, namun kali ini ada yang lain.
Yups, Rheimon sudah menceritakan segalanya kepada Darren tentang kecelakaannya dulu sampai putranya itu mengalami amnesia. Namun, setelah menceritakan semua itu, Rheimon justru menyesalinya. Karena....
"Dad, biar Aku saja yang menjelaskannya sama Rheina, Daddy pokoknya terima beres"
Sudah 3 hari 3 malam putranya itu selalu ngotot ingin memberitahu tentang hubungan darah mereka. Namun Rheimon saat ini masih menolak. Bukan tanpa alasan, hanya saja Ia masih harus mempersiapkan 1 bukti lagi, yaitu tentang bukti penculikan Rheina. Karena tulisan tangan Fauzi hanya berisi tentang kejadian malam itu, dimana Marcell pada akhirnya meregang nyawa. Sebelum kejadian itu.... Seharusnya Darrenlah kuncinya. Karena putranya itu adalah satu-satunya saksi penculikan Rheina yang tidak lain dilakukan oleh Karissa. Karissa sengaja memanfaatkan Darren untuk bisa membawa pergi Rheina. Anehnya, meski Darren juga ikut di bawa, namun setelahnya hanya Rheina yang hilang. Sementara Darren ditemukan dalam keadaan tak sadarkan diri di tempat persembunyian anak buah Karissa, tanpa luka sedikitpun.
Mungkin itulah sebabnya, Darren merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk melompat dari jendela kamarnya.
Sayangnya setelah itu Darren tidak mengingat apapun. Jadi, sampai detik inipun Rheimon belum menemukan jawabannya. Karena jawabannya ada dalam ingatan putranya.
"Okay Okay... Minggu nanti Kita ke rumah Rheina dan menceritakan semuanya, puas?"
"Serius Dad???"
"Yah..."
"Ohhhh My God!!! Thank you Dad!!!"
Yah bagaimana lagi, tidak ada yang bisa menolak keinginan Darren. Karena jika ditolak anak itu malah akan semakin menghantui seperti jelangkung.
"Mba berarti pesanan yang terakhir ini punya Bu Prapti yang guru senam itu?"
"Iya Nayla, Kamu nggak apa-apa kalau mba minta tolong anterin ke sana?"
"Nggak apa-apa lah, kan Nayla ada motor..."
"Susah nggak bawanya? Banyak lho ini ada 50 box"
Ucap Azizah seraya memperhatikan box pesanan kuenya satu persatu.
"Bisaa.. santai mba.. jangankan box kue 50 pcs.. Nayla pernah bawah 30 box paket panci anti lengket anti miskin pake motor ajaib Nayla yang sakti mandraguna itu"
"Hahahaha, bisa aja... Kalo susah bawanya dua kali balik aja Nay"
"Tenang, bisa kok... Bisa diatur mba zizah nggak perlu khawatir"
"Hehe, oke deh.. sini mba bantu angkutin ke motor...."
"Siapp..."
Ucap Nayla bersemangat.
Beberapa hari ini Nayla dan Azizah memang mulai fokus lagi menerima pesanan kue. Meski keadaan Azizah sudah terbatas untuk bergerak aktif mengingat perutnya yang sudah tidak bisa diajak bekerja sama, namun untungnya ada Bi Ani dan Nayla yang membantunya.
"Bi, Bi Ani nggak masuk kerja hari ini? Nayla juga udah dari kemarin nggak ke pabrik"
"Bibi sama Nayla udah resign Nduk"
Jawab Bi Ani santai seraya membungkus lemper isi abon kedalam daun pisang yang sudah terpotong rapi.
"Hah??? Ya Allah kenapa?? Apa gara-gara Zizah Bi?"
Azizah kaget bukan main. Kedua orang terdekatnya itu tiba-tiba resign secara bersamaan?
"Hehehe enggak kok. Tapi sebenarnya pak Darren yang minta bibi sama Nayla bantuin Kamu buat memulai bisnis kue ini. Bibi sama Nayla tetep digaji kok"
"Ya Allah... Mas Darren kenapa baik banget ya"
Azizah masih takjub, bagaimana bisa orang-orang di sekelilingnya saat ini adalah orang-orang yang berhati malaikat. Sangat tulus dan baik dalam memperlakukan dirinya. Ia sangat mensyukurinya, sungguh...
__ADS_1
"Karena Kamu anak baik, jadi pantas di pertemuan dengan orang-orang yang baik juga
"Makasih ya Bi..."
"Sama-sama Nduk... Bibi juga makasih, kehadiran Kamu bikin hidup Bibi yang sebatang kara ini nggak sepi lagi..."
"Bi..."
Tanpa sadar Azizah menangis, Bi Ani juga sama... Mereka kemudian berpelukan erat meluapkan rasa kasih dan syukur dipertemukan satu sama lain. Itulah yang dinamakan cinta. Bisa muncul dihati siapa saja meski tak memiliki ikatan darah sekalipun.
Sementara di sisi lain,
Darren yang kembali menemui Vano untuk membahas hasil penemuan informasi terbaru yang didapat oleh sahabatnya itu.
"Jadi gimana bro..."
"Nah, ternyata bro... Pak Fauzi dan Om marcell saat itu melakukan pertemuan bisnis sama... Bram, Papanya Alexa"
"What???"
"Yups, Loe bakal lebih kesel lagi kalo tahu fakta selanjutnya"
"Apa tuh?"
Sahut Darren semakin penasaran.
"Jadi, sebenarnya Bram Sadewo itu nggak cuma kenalan Om Marcell, tapi mereka juga dulu teman kuliah. Setahu Gue bukannya bokap Loe juga kenal Bram? Kayaknya orang tua kita dulu satu Circle deh. Buktinya bokap Gue langsung engap dan kesel banget begitu gue tanya soal Bram"
"Hm, bisa jadi. Bokap Gue sama nyokap kan kuliah di Indonesia wakanda ini kemudian pindah dan menetap di Melbourne"
"Terus..."
"Nah yang Gue heran, ternyata yang menjebak Om Marcell dan Fauzi sampe celaka pada malam itu adalah si Bram ini"
"Dijebak? Maksudnya gimana?"
"Jadi, Bram ini sengaja mengundang Om Marcell yang saat itu di dampingi pak Fauzi untuk menemui koleganya, katanya. Loe pasti udah di kasih tahu Bokap Loe dong tentang kasus penggelapan dana perusahaan Djaja yang nilainya sampai triliunan itu?"
"Ya, Gue tahu"
"Nah ceritanya, Bram ini mau ngenalin koleganya yang bisa membantu menyelidiki kasus itu, padahal notabene kasus itu udah 80% terungkap. Cuma Gue kira Om Marcellnya aja yang terlalu nggak enakan atau terlalu percaya sama si kodok Bram ini"
"Singkat cerita, ternyata yang mau di temuin sama Om Marcell ini justru adalah seseorang yang bisa dikatakan musuh Om Marcell"
"Siapa?"
"Nah itu Dia, penyelidikan orang suruhan Gue mandeg sampe di situ. Agak susah Ren nyari tahunya...
Apalagi detail copy-an catatan Pak Fauzi yang Loe kasih ke gue cuma tentang kejadian malam Dimana Om Marcell akhirnya di temukan udah meninggal didalam mobil di pinggir hutan. Jadi ada bagian kosong dari dua kejadian itu."
Darren menghela nafas berat. Perasaannya kesal karena masalah ini benar-benar seperti teka-teki yang sulit dipecahkan olehnya.
"Tapi tenang Bro, selama kita bisa menemukan si kodok Bram, Kita bisa dapetin jawabannya"
__ADS_1
"Loe bener, no matter what, I should find him"
"Hmm... Gue bakal bantu loe, tenang aja..."
"Thanks bro..."
"Mmm... Ren, Ngomong-ngomong Loe nggak sama sekali inget sesuatu gitu tentang masa lalu?"
Darren menggeleng lemah. Sungguh Ia tak mengingat apapun, bahkan secuil kenangan dari masa lalupun Darren tak pernah memimpikannya.
"It's Oke bro. Semua hal punya timing masing-masing. Gue yakin ada saatnya nanti loe bakal inget semuanya, Okay? Jangan terlalu dipikirin"
"Hmm... Thanks again"
"Ck... Apa sih. Oh ya sorry banget nih, Gue juga harus pergi sekarang. Si Radit tiba-tiba ngajak hangout bareng"
"No problem bro, Radit masih Gue anggap sahabat Gue kayak dulu, walaupun Dia lebih Pro ke Axel. Gue ngerti, Karena Axel udah banyak berjasa buat keluarga Radit"
"Hmmm, oke oke!"
"Ya udah sana, Gue masih pengen merenung disini"
"Serius Loe nggak apa-apa Gue tinggal?"
"Serius lah. Loe kira Gue anak TK yang bakal di culik gara-gara nongkrong sendirian di Cafe? Liat dong brewok Gue!"
"Hahaha, Oke-oke. Gue cabut ya!"
"Hmn"
"Bye!"
"Bye."
Jawab Darren singkat, Vano pun berlalu meninggalkan Darren yang sebenarnya sedang berfikir keras. Yups, Dia berusaha keras mengingat masa lalunya. Kenapa sama sekali tidak ada memori yang tertinggal dalam otaknya? Apa yang terjadi sebenarnya saat itu???
"Aaarrrghhh!"
Darren menggeram frustasi.
Tidak lama kemudian, gawainya berdering.
Darren mengernyitkan keningnya melihat nama yang muncul di layar.
"Tante Karissa??"
Darren bergumam. Sudah lama sekali tantenya itu tidak menghubunginya. Pasti ada hal yang penting, karena Tante Karissa tidak pernah suka berbasa-basi.
Darrenpun segera menjawab panggilan itu.
"Halo Tante...."
Suara tawa renyah terdengar dari seberang telepon.
"Halo keponakan Aunty... Darrenku yang Manis... Apa kabar hehehe"
Darren tersenyum. Panggilan Tante Karissa padanya tidak pernah berubah, Darrenku yang manis....
__ADS_1
Bersambung....