Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Azizah Hilang (Part 3)


__ADS_3

Azizah Hilang (Part 3)


"Sejak kecil?" Bibir tipisnya secara naluriah mengeluarkan pertanyaan itu.


Rheimon menutup matanya karena tegang, sementara Karina menggigit bibirnya kuat-kuat karena menyesal telah kelepasan bicara, maksudnya, Mereka memang ingin mengatakan kenyataan bahwa mereka adalah orang tua kandung Azizah, tapi sebenarnya hati mereka masih dilema antara siap dan tidak siap... Tapi sekarang malah...


Karina mengambil nafas sejenak, kemudian Ia benar-benar memantapkan hati untuk mengatakan yang sejujurnya pada Azizah bahwa Dia dan Rheimon adalah orang tua kandungnya.


"Tante dan Om... Kami adalah..."


"Mommy!!"


Mendengar seseorang memanggilnya Karina pun secara spontan menoleh ke arah sumber suara.


Darren rupanya. Dibelakangnya ada Vano dan Pria yang sedang tergila-gila dengan putrinya.


Melihat Darren datang, Rheimon yang sudah hampir jantungan mendadak lega. Setidaknya, Jika ada Darren akan lebih mudah untuk meyakinkan Azizah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Meskipun Darren belum pulih dari amnesianya. Tapi Rheimon yakin putranya itu bisa memberikan jawaban yang memuaskan jika Azizah menuntut penjelasan nantinya.


Azizah yang tadinya penasaran dengan ucapan Karina sontak lupa begitu saja melihat Darren dan Abimana Datang.


"Lama ya Mom nunggunya?"


"Enggak Kok, Mommy juga masih lihat-lihat menu. Duduk, duduk, Vano, Abimana... Mommy sama Daddy sengaja ambil Family Table biar muat banyak, hehe"


"Terima kasih Tante" Ucap Abimana dan Vano bersamaan.


Vano duduk di samping Darren sementara Abimana tanpa sadar berjalan untuk duduk di samping Azizah. Namun suara orang berdehem menghentikan langkahnya.


"Mau ngapain Kamu? Sini duduk di samping saya"


Ucap Rheimon dengan tatapan penuh intimidasi, membuat Abimana seketika menelan ludah dengan kasar. Kalau saja Abimana belum tahu bahwa Rheimon adalah Ayah kandung Azizah, bisa dipastikan Mereka saat ini pasti sedang adu mulut.


"Baik Om"


Abimanapun dengan berat hati kemudian duduk di samping Rheimon sambil melirik Azizah yang diam-diam tersenyum geli.


"Ya udah, pesan makan dulu, habi itu kita Ngobrol..."


"Oke Mommy"


Sahut Darren antusias. Pria itu terus mencuri-curi pandang pada Nayla yang tengah fokus pula memilih menu dengan kening berkerut.


'Gemes banget' batinnya.


Tanpa di sadari keluarga itu, Karissa yang memang sejak pagi telah membuntuti Darren, tersenyum puas. Ia merasa beruntung, 1 kali dayung, 10 pulau akan terlampaui sekaligus.


"Dari dulu, keberuntunganku tidak pernah pudar. Kamu!" Tunjuk Karina pada bodyguardnya.


"Saya, Madam"


"Lihat baik-baik, target kita adalah perempuan muda itu, yang memakai hijab dan sedang hamil tua. Awasi dia terus. Jangan lengah, tunggu ada celah dan kesempatan walaupun sedikit"


"Baik Madam"

__ADS_1


Jawab Bodyguard itu seraya mengangguk paham. Sementara Karissa menyunggingkan senyum sinis.


Beberapa saat kemudian makanan sudah tersaji semuanya, Mereka pun menikmati makan siang bersama dengan suasana yang hangat dan akrab. Tak lama berselang Axel dan Radit juga tiba di tempat yang sama, Namun karena restauran itu sedang sangat ramai, maka tak ada satupun dari pihak Darren yang menyadari keberadaan Axel disana.


Axel termenung menatap ke arah keluarga yang nampak bahagia itu.


Hatinya tiba-tiba terasa sesak, pemandangan tak jauh darinya itu seolah menunjukkan bahwa tak ada lagi tempat untuknya disana. Pandangannya menangkap Abimana yang tengah menaruh beberapa sendok makanan ke piring Azizah dan disambut tawa oleh mantan istrinya itu.


Andai saja waktu bisa Ia ulang....


"Xel"


Suara Radit yang disertai tepukan ribgan di punggungnya membuyarkan lamunannya.


"Duduk disana, Sebelum kesini tadi Gue udah reservasi tempat"


"Hmn..."


Gumam Axel lirih. Matanya terus tertuju pada meja Azizah berada.


"Udah.. Ayoo... Kita makan dulu, katanya yang penting Loe bisa liat Azizah"


Ucap Radit yang kemudian diangguki lemah oleh Axel. Merekapun berjalan menuju meja yang letaknya berlawanan arah dengan meja Azizah dkk.


"Jadi... Ada yang pengen Tante bicarakan dengan Kamu nak"


Setelah semuanya selesai menyantap makan siang, Karina mencoba memulai pembicaraan.


Tidak, Dia tidak bisa terus menyembunyikan ini. Lagipula, kejujuran itu penting, dan Azizah adalah anak yang baik, Karina yakim reaksi Azizah tidak akan semengerikan seperti yang ia bayangkan. Azizah pasti mau mendengarkan penjelasannya bukan?


Sementara Rheimon menggenggam kuat jemari istrinya sebagai bentuk dukungannya. Karina tersenyum menatap wajah suaminya, Ia kemudian menatap Darren yang juga tersenyum seraya menutup kedua matanya, seolah menambah keyakinan dirinya untuk mengatakan semuanya pada Azizah a.k.a Rheina.


"Sebenarnya Om dan Tante adalah orang tua kandung kamu Nak..."


Jrenggggg!!!!


Semua orang disana terdiam sekaligus tegang, mereka diam-diam memperhatikan reaksi Azizah.


Sementara itu, setelah mengatakannya, Karina tak kuasa menahan air matanya dan menangis.


Sedangkan Azizah sendiri masih membeku. Tak bereaksi apapun. Baginya, apa yang dikatakan Karina sangat sulit dipercaya. Ia masih belum mempercayai pendengarannya. Orang tua kandung katanya??


"Tante... Tante... Aku rasa Tante salah sangka, maksudku Tante salah orang... Aku punya orang tua Tante, tapi mereka sudah berpulang ke Rahmatullah. Jadi... Aku rasa, Aku bukan.... Mmm Tante pasti salah orang..."


"Enggak nak, Om sama Tante tidak salah orang. Kalau kamu tidak percaya, Kamu bisa tanyakan kepada Tuan Adhitama, Kakek Axel"


Ucap Rheimon yang kini tengah menahan air matanya agar tidak jatuh.


"A... Apa??"


Azizah sangat shock mendengar penuturan pria yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu.


"Bagaimana mungkin? Tapi.. kenapa kalian dan Aku... Nggak mungkin.... Ini.... Nggak mungkin, Bapak sama Ibuku...."

__ADS_1


"Pak Fauzi dan istrinya bukan orang tua kandung Kamu nak"


Sambung Rheimon lagi


Azizah semakin kebingungan, Apa ini??


"Nak.... "


Tiba-tiba Karina menggenggam tangan putrinya, menatapnya penuh haru.


"Kamu, mau kan mendengar penjelasan Mommy dulu?"


Azizah terdiam, tapi ketika melihat ke arah mata Karina, Ia bisa merasakan bahwa Karina tidak mungkin membohonginya, Wanita itu benar-benar terlihat tulus dan jujur.


Tanpa sadar Azizah mengangguk tanda setuju untuk mendengarkan penjelasan Karina.


"Saat itu kamu masih TK, umur Kamu belum genap 6 tahun. Tapi kamu satu sekolah dengan kakak kamu, Darren yang saat itu sudah kelas 5 sekolah Dasar"


Azizah kemudian menatap Darren. Darren adalah kakaknya?? Sahabat mantan suaminya yang kejam itu adalah kakaknya.


"Nak, jangan marah pada kakakmu, Dia juga tidak tahu kalau Dia memiliki adik. Kakakmu mengalami amnesia setelah jatuh dari balkon, seminggu setelah kalian diculik"


"Diculik?"


Azizah membulatkan matanya. Ia diculik??


"Ya, sampai saat ini kami masih menyelidikinya. Mommy bersyukur karena takdir punya cara tersendiri untuk mempertemukan Kita, bahkan yang membuat Mommy akhirnya bisa menemukan kamu adalah Darren, Kamu ingat Mommy saat pertama kali datang menemuimu?"


"Saat itu? Tante sudah tahu?"


"Belum, tapi Tante bisa merasakannya nak"


"Tapi.. sebenarnya apa yang terjadi?? Ini terlalu mendadak untuk Azizah percayai Tante"


Ucap Azizah yang masih dilanda kebingungan.


"Ini juga kesalahan Mommy dan Daddy. Saat itu Daddy mu sangat sibuk karena baru saja di beri tanggung jawab untuk mengelola perusahaan Kakekmu. Sementara Mommy juga meskipun setiap hari di rumah, tapi Mommy juga cukup sibuk mengurus bisnis bakery. Singkat cerita, saat itu Kamu dan Darren yang seharusnya pulang sekolah jm 12 siang tidak kunjung keluar. Kemudian Sopir kalian menghubungi Mommy dan Daddy"


Karina mengambil nafas sejenak, kemudian melanjutkan untuk menceritakan kenangan pedih itu.


"Mommy dan Daddy segera menghubungi polisi begitu wali kelas Darren mengatakan bahwa kalian sudah di jemput oleh seseorang yang mengaku sebagai supir baru Mommy. Mommy juga sangat marah atas keteledoran pihak sekolah. Tapi semua sudah terlanjur. Pada akhirnya kami melakukan pencarian hingga larut malam tapi tidak ada kabar apapun"


Lalu, Daddymu ingat bahwa Dia meletakkan alat pelacak di kalung yang dipakai kakakmu, Dengan segera kamipun melacaknya. Syukurlah kami bisa menemukan keberadaan kalian saat itu dan segera menuju titik lokasi.


Sayangnya, saat kami datang semua sudah terlambat. Mereka seperti sudah mengetahui kedatangan kami, dan kami hanya menemukan Darren dalam keadaan pingsan disana, sementara Kamu sudah menghilang nak..."


Karina menunduk. Ia ingat betul bagaimana histerisnya Dia malam itu. Hidupnya seolah runtuh, putranya tak sadarkan diri, anak perempuan tersayangnya hilang.


"Hanya ada sepatu dan botol minuman kamu yang tertinggal disana Nak, Rheina... Nama kamu Rheina .. Percayalah Nak, meski orang-orang mengatakan bahwa kamu mungkin sudah tiada, tapi kami selalu mencarimu meski saat itu bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tapi pada akhirnya Tuhan mengabulkan doa-doa kami selama ini"


"Tapi... Kenapa Tante dan Om malah tinggal di luar negeri? Bukannya disini?"


"Karena kakakmu, Kakakmu mungkin merasa bersalah karena kehilangan kamu, Dia melompat dari balkon dan luka parah. Sejak saat itu Kakakmu tidak ingat apapun, bahkan saat siuman Darren tidak ingat dengan Mommy dan Daddy nak, Jadi kami putuskan untuk meninggalkan negara ini agar kakakmu bisa pulih dari traumanya..."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2