
Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. Axel menganga melihat kemesraan dua insan yang berada cukup jauh darinya.
Hatinya semakin sakit dan sesak saat Abimana diam-diam mengecup pipi Azizah dan dibalas belaian mesra di pipi Abimana oleh mantan istrinya itu.
"Ya Tuhan... Mereka... Bersama?"
Ucap Axel lirih dengan bibir bergetar dan matanya yang memerah.
Axel masih terperangah tak percaya menatap kedepan sana, dekat tapi terasa sangat jauh. Kemesraan dan kebahagiaan dua pasangan yang terlihat sangat harmonis dan bahagia bak pecahan kaca yang dilemparkan ke jantung dan hatinya. Sakit dan berdarah.
"Mereka udah Married Xel"
Axel seketika menatap tajam seseorang yang tengah berbicara itu, Ia adalah Vano.
Seolah bisa membaca pertanyaan yang muncul dari sinar mata sahabatnya, Vano menjawab dengan singkat, padat dan jelas.
"Darren yang ngasih tahu Gue pas Gue baru datang, awalnya Gue juga sama Kaya Loe, kaget liat mereka semesra itu"
Axel kembali menatap Abimana dan Azizah dengan tatapan terluka. Harapannya pupus sudah. Azizah sudah menjadi milik Abimana.
Merasa tidak kuat dengan apa yang disuguhkan untuk penglihatannya. Axel memilih untuk meninggalkan tempat itu.
"Xel"
Vano ingin mencegah, tapi Ia urung melakukannya, Ia mengerti perasaan Axel saat ini. Tapi, keputusan Azizah untuk menerima Abimana juga bukan kesalahan. Abimana tulus mencintainya dan lagi status mereka sama-sama single. Azizah sudah resmi bercerai dengan Axel.
Takut jika Axel melakukan kebodohan seperti dulu, Vano pun mengejar sahabatnya itu keluar dari ruang pernikahan ini.
Vano menghembuskan nafas lega saat melihat sahabatnya itu tengah duduk termenung disebuah kursi taman, tepat di area terbuka di belakang hotel tempat Darren dan Nayla mengadakan akad nikah.
"Gue Kira Loe bakal terjun bebas dari gedung ini Xel"
Ucap Vano dengan kekehan setelah duduk di samping Axel.
"Nggak akan, Gue nggak akan melakukan hal bodoh kayak dulu lagi, nyatanya itu juga nggak bikin Azizah balik lagi ke Gue"
"Nah itu Loe tahu, Xel dengerin Gue, Semua udah berlalu, udah 6 tahun Loe melewati masa-masa gelap Loe, Gue tahu Loe nyesel, tapi bukan berarti Loe harus terus menerus terpuruk kaya gini. Loe harus bangkit, berubah jadi manusia yang lebih baik, kayak Gue ini, udah sebulan ini ceritanya Gue tobat nggak main ke Club"
Ucap Vano panjang lebar seraya menunjukkan cengiran kudanya. Bangga pada diri sendiri.
Axel menoleh kemudian tersenyum lemah.
"Tapi Gue tetep butuh waktu Van, Gue masih..."
"Gue tahu, Azizah masih menempati seluruh isi hati Loe, Gue nggak nyuruh Loe cepet-cepet cari gantinya, Gue cuma pengen Loe lebih semangat lagi menjalani hidup, menikmati hidup Loe yang sekarang. Jangan selalu terikat sama perasaan bersalah di masa lalu. Kalau Loe pengen sedikit lega, maka saran Gue Loe balik ke ruang pesta itu, temui Azizah dan orang tuanya untuk minta maaf secara langsung. Mereka orang baik, Gue yakin mereka bakal membuka pintu maaf buat Loe sebesar-besarnya. Lagian Azizah juga udah sama Abimana, jadi nggak ada yang perlu mereka khawatir kan"
__ADS_1
Axel mengangguk paham. Menerima kenyataan bahwa mantan istrinya sudah bahagia dengan Pria lain memang tidak semudah itu. Hatinya tetap sakit. Ia sungguh belum siap untuk menghadapi mereka berdua secara langsung. Menatap kemesraan mereka dari jauh saja membuat hatinya remuk.
"Tapi nggak sekarang Van, Gue belum siap"
Ucap Axel pelan. Wajahnya kembali mendung.
Vano mengerti dan Ia pun mengangguk paham.
"Ya udah, barang kali Loe mau menenangkan diri disini, Gue masuk ya, nggak enak sama Darren dan keluarganya"
Axel mengangguk sebagai tanda mempersilahkan Vano untuk meninggalkannya. Vano menepuk pundak sahabatnya itu kemudian berlalu meninggalkan Axel yang masih terduduk lesu.
Hingga menit demi menit berlalu...
Axel terkejut saat seseorang menyodorkan sebuah lolipop padanya. Tangannya sangat kecil. Axel menoleh, Seorang gadis kecil berambut keriting lucu tengan tersenyum lebar menatapnya. Gigi kecilnya berbaris rapi. Pipinya tembam dengan warna mata hijau gelap serupa dengannya?
"Uncle, apa Uncle sedang sedih? ini, Shiena kasih permen favorit Shiena buat Uncle!"
Ucap Shiena dengan riang, Axel tertawa. Lucu sekali anak ini.
"Terima kasih tapi Uncle tidak suka permen"
"Kenapa?"
"Oh iya? benarkah?"
"He'eumh"
Axel mengangguk seraya tersenyum, Pria itu dengan gemas mencubit lembut pipi gembul Shiena. Hatinya terasa menghangat.
"Non kecil .. Ya Ampun, si mbak cariin ternyata disini toh"
Mba Ira, Suster yang di tugaskan oleh Karina untuk menjaga Shiena selama di Indonesia lari tergopoh-gopoh menghampiri Shiena yang terkikik geli.
"Kamu... Anak nakal... Kenapa tidak izin sama mbak kamu kalau mau jalan-jalan?" Ucap Axel, membuat Shiena lebih tertawa lebar.
"Habisnya Shiena bosan Uncle didalam sana"
Cicit gadis kecil ini dengan bibir manyun. Axel benar-benar gemas melihatnya.
"Iya, tapi lain kali harus ijin ya, nanti kalau kamu di culik bagaimana? Kan orang tua kamu nanti sedih?"
__ADS_1
"Mmmm iya juga ya... Maaf ya sus Ira, Shiena janji nggak nakal lagi"
"Iya non kecil. Sekarang ayo masuk, dicariin Mimau"
"Okay... Bye Uncle"
Shiena melambaikan tangan tapi sesaat kemudian gadis kecil itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Axel.
Cup.
Shiena mendaratkan kecupan di pipi pria itu. Membuat si empunya terkejut.
"Ini Uncle, sekali-kali makan permen nggak apa-apa kok, nggak akan langsung ompong"
"Hahahah, Okay terima kasih ya .. Shiena?"
"Iya namaku Shiena, bye bye Uncle"
Shiena segera berlari menghampiri Sus Ira dan kembali masuk ke dalam hotel itu.
Axel memandangi permen di tangannya, Shiena... Nama yang cantik.
Tak lama kemudian Pria itupun bangkit dan kembali masuk ke dalam Hotel.
"Selamat atas pernikahannya Darren"
Tamara mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin itu, dibelakangnya menyusul Adhitama, sementara Axel masih duduk diantara tamu-tamu disana, masih mengumpulkan keberanian untuk sekedar bersalaman dengan keluarga mantan istrinya itu.
"Terima kasih Nyonya Tamara"
Ucap Darren dengan sangat formal, membuat Tamara sedikit salah tingkah. Ia pun berjalan menuju ke arah Karina dan Rheimon. Sedikit malu, tapi bagaimanapun Ia juga harus meminta plmaaf secara langsung kepada orang yang ternyata adalah mantan besannya itu.
"Selamat Karina, Rheimon atas pernikahan Putra Kalian.. Aku... Aku minta maaf atas..."
"Sudahlah Tamara, semua sudah berlalu. Tidak ada gunanya juga untuk Kita terus mengungkit masa lalu, Sekarang anggap saja Kita kembali ke masa-masa baik saat Kita menjadi partner bisnis sekaligus teman"
Ucap Karina yang kemudian memeluk Tamara yang terus menunduk. Mantan mertua Azizah itu benar-benar malu. Dia yang dulu sangat arogan dan angkuh. Berbanding terbalik dengan keluarga Rheimon yang sederhana dan rendah hati.
Apalagi Ia masih memiliki hutang budi yang mungkin tidak akan bisa Ia bayar pada Azizah. Ia bisa hidup seperti sekarang karena mantan menantunya itu merelakan satu ginjalnya untuk dirinya.
"Azizah..." Tamara menatap wanita yang masih bisa tersenyum tulus padanya setelah apa yang Ia lakukan di masa lalu.
"Maafkan Saya nak. Saya berdosa besar kepadamu, Ampuni Saya nak.."Tamara tiba-tiba menangis tersedu-sedu sampai para tamu yang menghadiri acara itu menatap ke arahnya, tak terkecuali Axel dan juga kedua sahabat Darren yang lain, Radit dan Vano.
Tamara nyaris menjatuhkan tubuhnya untuk mencium kaki mantan menantunya itu, namun dengan cepat Azizah dan Abimana menahannya.
"Nyonya... jangan seperti ini, Saya sudah memaafkan Nyonya Tamara sejak dulu. Lupakanlah, sungguh Saya sudah ikhlas"
Ucap Azizah dengan mata berkaca-kaca. Tapi Ia sungguh sudah memaafkan dan berdamai dengan masa lalunya. Sekarang Ia sudah mendapatkan kebahagiannya. Bertemu dengan keluarga kandungnya, memiliki suami yang sangat mencintainya serta memiliki putra putri yang cantik, ditambah akan segera mendapatkan kepercayaan lagi. Nikmat mana lagi yang akan Ia dustakan.
Semua kepahitannya di masa lalu sudah Ia ikhlaskan, Ia jadikan pengalaman hidup yang berharga.
"Maaf Nak, maafkan wanita tua ini.... Kamu pantas menghukum Saya, Saya sudah..."
"Nyonya sudah... Lupakanlah, Masa lalu adalah masa lalu, Semuanya sudah berlalu, sekarang saatnya Kita semua membuka lembaran baru"
Potong Azizah. Ia kemudian memeluk Tamara yang semakin tergugu karena rasa haru.
Diantara pemandangan itu, diam-diam Axel tersenyum pahit. Lihatlah, lihatlah wanita yang pernah Ia sia-siakan dulu. Ia adalah jelmaan malaikat, berlian yang berharga dengan kilauan yang terpancar dari kebaikan hatinya.
__ADS_1
Dan sekarang Ia telah kehilangan berlian itu, berlian yang kini sudah menjadi milik orang lain.
Bersambung.....