
"Kau masih punya nyali buat muncul di depanku!"
Desis Axel dengan wajah merah padam. Sementara oaean bicaranya yang tak lain adalah Alexa, sama sekali tak terpengaruh. Wanita itu dengan santai melenggang dan duduk di sofa ruangan itu dengan nyaman seperti rumah sendiri.
"Kenapa? Kaget? Kamu pikir Kamu bisa membuang ku begitu saja? setelah semua yang Aku alami?"
"Hahaha" Axel tertawa keras mendengar penuturan Alexa.
"Nona Alexa Sadewo, berhentilah bermain drama, jangan bertingkah seolah Anda yang menjadi korban. Kau tahu betul apa yang sudah Kau lakukan"
Alexa terdiam, menatap pria yang dulu sangat memujanya, mencintainya dan menuruti apapun keinginannya. Sekarang mata pria itu memancarkan bara api dendam serta kebencian yang sangat membara. Alexa merasa kecewa namun Ia tetap bertingkah acuh dan seolah tak terusik.
"Well... selama ini kita berhubungan dengan saling menguntungkan, Kau mendapatkan kepuasan dan Aku menginginkan uang. Tidak ada yang dirugikan Axel"
"Oh tidak Nona Alexa. Tentu saja Aku sangat dirugikan. Ibarat bisnis, Aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk investasi bodong. Aku kehilangan banyak hal, termasuk istriku karena pelacur sepertimu. Aku benar-benar di bodohi, bagaimana bisa Anda mengatakan hubungan kita sama-sama menguntungkan?? Anda pasti sakit jiwa"
Axel menatap rendah wanita di hadapannya. Sungguh ia benar-benar merasa jijik pada Alexa. Kenapa bisa dulu Dia tertipu oleh wajah ular ini??
Sementara Alexa mengepalkan tangannya kuat-kuat, wajahnya mengeras hingga giginya bergemelatuk. Ia tak menyangka akan mendengar kalimat kasar itu dari Axel. Karena dalam angannya, Axel masih sangat mencintainya. Tidak mungkin semudah itu Axel melupakannya bukan? pikirnya.
Namun ternyata dugaannya salah. Pria itu benar-benar membencinya.
"Well, terserah yang jelas Aku kesini untuk meminta pertanggungjawaban"
Ucap Alexa dengan tatapan menantang.
Sementara Axel malah terkekeh geli.
"Pertanggungjawaban?" Tanya pria tampan bermata abu kehijauan itu.
"I'm Pregnant. It's Your Baby" Jawab Alexa seraya menyeringai lebar.
Bukannya takut, Axel malah tertawa terbahak-bahak hingga ingin menangis.
"Kau tidur dengan ratusan pria, dan Kau meminta pertanggungjawaban padaku? Kuakui Kau memang sangat cerdas"
"Terserah Kamu mau percaya atau tidak, tapi... Jika Kamu tidak mau bertanggung jawab, maka Aku akan menyebarkan Video kita di seluruh sosial media. Kau ingat? Video percintaan Kita yang direkam langsung oleh... Istrimu"
"Bajingan" Axel menggeram rendah menahan diri untuk tidak menampar perempuan tidak tahu malu dihadapannya itu. Berani-beraninya Dia mengungkit perbuatan masa lalunya yang kini sangat Ia sesali.
Axel sama sekali tak peduli dengan Video itu. Dia dengan dingin berkata.
"Lakukan saja, Untuk pebisnis sepertiku, melakukan hal seperti itu bukanlah hal yang aneh. Orang tidak akan perduli. Jadi, jangan berfikir dengan menggunakan hal remeh seperti itu untuk mengancamku. Bukan reputasiku yang akan hancur, tapi Kau, ora gbakan menganggapmu tidak lebih dari seorang wanita ******. Hehe ingatlah Alexa, Kau bukanlah lawanku. Kau hanyalah udang rebon yang ingin melawan hiu megalodon"
Wajah Alexa yang tadinya di hiasi seringaian puas kini mendadak merah, malu sekaligus kesal.
"Kau akan menyesalinya Axel! Aku bersumpah!"
Seru Alexa lantang
"Bukan Aku, tapi Kau yang akan kubuat menyesal!"
Balas Axel tak kalah lantang. Akhirnya wanita itu pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah penuh amarah. Usahanya gagal total!
Axel benar-benar tidak mengerti kenapa Alexa bisa tiba-tiba muncul di kantornya. Ia pun menghubungi Vano.
Klik
"Halo Van, Low gimana sih. katanya Alexa udah aman nggak bakal muncul lagi di depan Gue. Barusan aja perempuan sundal itu pergi dari ruangan Gue"
"...."
"Brengsek! mereka emang pasangan ayah dan anak, sama-sama licik"
__ADS_1
"...."
"It's Oke Van, Thanks. selebihnya biar Gue yang atasin perempuan itu"
Tut. Panggilan berakhir.
"Loe salah besar karena cari perkara sama Gue Alexa Sadewo"
Desis Pria itu dengan tatapan murka.
****
Pukul 16.00 WiB
Seperti biasa, pada jam itu Maka pintu gerbang pabrik akan di penuhi oleh para karyawan dan karyawati yang hilir mudik, Ada yang baru datang untuk bekerja dan ada yang pulang.
Diantaranya Azizah dan Nayla. setelah Darren mengatakan bahwa Radit telah kembali ke Jakarta, Azizah sudah tidak lagi menggunakan bus jemputan pabrik saat pulang kerja. Ia lebih senang berjalan kaki dengan Nayla. Selain bisa melihat-lihat pemandangan jalan raya yang menyenangkan, bagus juga untuk ibu hamil sepertinya agar otot-otot tubuhnya lentur dan tidak kaku karena kurang gerak.
"Mba, gimana kalo kita beli makanan dulu"
Tanya Nayla, gadis itu memang sedikit lapar.
"Boleh... Aku juga pengen makan seblak lagi hehe "
"Iiih jangan seblak terus mba, nggak baik.. Seminggu sekali aja, jangan tiap hari"
"Oke, hari ini terakhir, besok enggak... janji "
ucap Azizah di sertai cengiran kudanya. Sementara Nayla hanya terkekeh sambil menggeleng pelan.
Lama mereka berjalan, sampai sebuah motor dengan suara yang sangat familiar mendekati kedua wanita itu.
"Aduhhhh.... jadi obat nyamuk lagi deh"
"Apa sih..."
Azizah menggeleng pelan melihat Nayla cekikikan. Sementara si Pria dengan binar bahagia yang menghiasi wajah tampannya mulai mendekat.
"Assalamualaikum, Hai..."
"Waalaikumsalam, Hai juga pak Abi"
"Waalaikumsalam..."
Beberapa detik Mereka bertiga saling terdiam karena bingung untuk memulai topik pembicaraan. Sampai Nayla berinisiatif untuk meninggalkan Abimana dan Azizah berdua saja.
"Ya udah mba, barang kaliau ngobrol, Nayla duluan aja, Oke Pak Abi??"
"Emmm.... Disini juga nggak apa-apa Nay"
Ucap Abi dengan tak enak hati. Yah... mau bagaimana lagi hampir 2 minggu Abimana baru bisa menemui Azizah setelah mendapat informasi dari Darren bahwa Radit telah kembali ke Jakarta.
Jadi dengan semangat '45 Pria berusia 32 tahun itu sengaja pulang cepat agar bisa menjemput pujaan hatinya.
"Iya Nay, pake acara kabur segala"
Sambung Azizah.
"Udah... nggak apa-apa... santuy aja mba..."
Sedetik kemudian Nayla pun benar-benar pergi meninggalkan Abimana dan Azizah berdua.
Abimana kemudian mengajak wanita yang nampak lebih gemoy dengan perut buncitnya itu untuk duduk di bangku taman yang tak jauh dari mereka.
__ADS_1
Jangan tanya perasaan laki-laki itu, Abimana sangat bahagia sampai rasanya ingin melompat-lompat. Ia merasa seperti suami yang menjemput istrinya pulang kerja. Romantis sekali bukan? batinnya.
"Duduk Zizah... Aku bawa sesuatu buat the twins"
Ucap Abimana bersemangat seraya menunjukkan sebuah paper bag.
"Apa itu mas?"
"Bentar Aku buka dulu..."
Abimana membuka sebuah box dengan perlahan, kemudian...
"Taraaa... Murotal Qur'an for Pregnancy"
Abimana tersenyum lebar, kemudian mengeluarkan headset berwarna merah itu.
Sementara Azizah kini tengah menatap haru pria yang duduk di hadapannya itu. Bagaimana ada laki-laki sebaik Abimana? Padahal Ia bukan Ayah dari anaknya, tapi Abimana ingat untuk membeli hal seperti itu yang bahkan tidak pernah terfikirkan oleh Azizah sendiri.
Sementara Ayah dari bayinya..
'Tidak boleh... Aku sudah tidak boleh mengingat Pria itu lagi. Aku harus melupakannya..."
"Kata Bu bidan, Audio phone ini bagus banget buat perkembangan bayi di dalam kandungan"
"Bidan?"
"Iya, Hehe maaf ya, Aku udah minta nomer hape bidan Ayu langganan Kamu itu, buat nanyain perkembangan dan kesehatan Kamu dan the twins"
"Mas..."
"Sssst.... Sini biar Aku bantu pasangin"
Abimana dengan cekatan memasangkan headset itu, perlahan dan sangat lembut. Azizah hanya bisa berkaca-kaca. Entah apa yang dirasakannya kini. Apa Ia sama sekali tidak bisa membuka hatinya untuk Abimana?? Kenapa rasanya sulit sekali???Azizah diam-diam menitikkan air matanya. Merasa bersalah pada Abimana.
Disisi lain,
Seorang Pria yang tengah memperhatikan interaksi sepasang pria dan wanita yang tak lain adalah Azizah dan Abimana dengan raut terkejut yang sangat kentara. Namun Pria itu kemudian kembali pada niat awalnya.
Ia telah menunggu sejak kemarin malam hanya untuk memastikan penglihatannya tidak salah, dan benar saja, Azizah ada di kota ini. Ia menghafalkan seragam yang dikenakan Azizah dan mencari tahu perusahaan itu yang tak lain adalah pabrik milih Ayah Darren.
Yups, Laki-laki itu adalah Raditya Rafa Benitez.
Radit segera meraih gawainya untuk menghubungi seseorang.
Klik
"Halo Xel. Gue ada kabar gembira buat Loe"
"...."
"Gue udah ketemu sama Azizah"
Bersambung....
Episode selanjutnya akan membuat pendukung Axel sakit hati... Maafkan yaa...
Suka boleh lanjut baca, tidak ya mohon doanya saja hehehe
terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️❤️
Jangan lupa like ya buat yang suka ceritanya biar Aku semangat up-nya hehehehe ❤️🌷🌹🌹
__ADS_1