
Akhirnya setelah menempuh perjalanan hampir 12 jam, Azizah dan keluarganya mendarat dengan selamat di Indonesia.
Begitu sampai, sudah ada mobil jemputan yang menunggu mereka untuk menuju Villa yang merupakan tempat tinggal sementara untuk mereka, Villa nya masih sama seperti Villa 6 tahun lalu.
"Istirahat, besok akan jadi hari panjang buat Kita,"
Ucap Rheimon begitu sampai di dalam ruang tamu, jangan tanya apakah mereka tidak bersih-bersih dan membereskan rumah?
Tentu saja sebelum mereka menginjakkan kaki di bumi Indonesia, Villa itu sudah di bereskan dan di bersihkan oleh orang-orang cekatan yang sudah dibayar oleh Rheimon. Bahkan saat sampai pun sudah ada pelayan yang membantu membawa barang-barang Mereka ke kamar masing-masing.
Itulah enaknya kalau Kita punya banyak fulus, Semua bisa diatur 🤣🤣🤣🤣.
"Terutama Kamu Sweetie, Inget kandungan Kamu masih sangat rentan, jadi sehabis ini minum vitamin dan langsung tidur. Anak-anak biar Mommy yang handle, okay?"
"Iya Mom, terima kasih"
"Ya udah Abi sama Zizah langsung ke kamar aja istirahat, Mommy sama Daddy masih mau ngobrol, terutama soal Kakakmu yang berandalan itu"
"Kakak mau kesini?"
"Iya, tapi Kamu nggak perlu tungguin Dia sayang, Karena Mommy sama Daddy mau masukin Dia ke ruang sidang"
Ucap Karina seraya mengerucutkan bibirnya.
"Hahaha, emang berat banget ya Mom, Dad, masalahnya?"
Tanya Azizah penasaran.
"Nanti Mommy ceritain, Sekarang Kamu sama Abi istirahat aja. Abi, ajak Azizah ke kamar. Kamu juga istirahat"
"Okay Mom"
Sahut Abimana sopan, kemudian merangkul istrinya dan melangkahkan kakinya menuju kamar mereka yang letaknya hanya beberapa langkah tepat di samping ruang tamu.
Sementara Shine dan Shiena sudah tertidur pulas semenjak dalam pesawat hingga sampai ke villa ini.
"Kamu tahu berapa umurmu sekarang, Son?"
Rheimon menatap tajam putranya yang menunduk dalam. Wajah kirinya sedikit lebam.
Disampingnya ada Nayla yang terpaksa ikut padahal mereka berdua sedang dipingit.
Ini gara-gara...
"Kenapa Kamu suka main hakim sendiri? Anak orang Kamu hajar sampai patah tulang? Ya Tuhan Darren..."
Karina ingin sekali menjewer telinga putranya itu sampai putus kalau perlu. Bagaimana bisa Darren seceroboh itu menghajar anak muda sampai babak belur hanya karena pemuda itu memeluk Nayla. Setelah diusut, ternyata pemuda itu adalah adik bungsu dari Ibunya Nayla, alias Paman kandung Nayla.
"Habisnya Dia peluk-peluk Nayla Dad, mana tempatnya gelap kan Darren jadi emosi"
"Ini nih, Udah dibilang, Kalian itu sedang dipingit, nggak boleh ketemu, kenapa Kamu malah ke rumah Nayla? Yang salah ya Kamu!"
"Kan Darren kangen Dad"
"Astaga... Liat tuh Mom kelakuan Anakmu, bikin malu aja. Lusa udah mau nikah malah masuk penjara gara-gara gebukin pamannya calon istri sendiri"
"Ya kan Darren nggak tahu"
"Makanya nanya dulu..."
__ADS_1
Sergah Rheimon kesal.
"Iya mas, Kamu nggak nanya Aku dulu, maen hajar aja"
Sahut Nayla seraya melirik Darren. Sebenarnya Ia kasihan melihat calon suaminya itu sejak tadi di hakimi oleh orangtuanya sendiri. Tapi, memang Darren salah, mengedepankan emosi daripada rasionalitas.
"Aku cemburu Sayang, Aku nggak suka kamu di sentuh Pria lain"
Pletak!
"Aduh...!"
Darren mengaduh kesakitan saat Karina pada akhirnya mendaratkan jitakan keras di kepalanya.
Hilang sudah kesabaran wanita itu. Anaknya ini... Tidak jauh beda dengan Daddy-nya dulu. Cemburu buta yang benar-benar buta.
"Kamu nggak boleh seperti ini terus Darren. Kalian akan menikah. Dan pondasi yang memperkuat ikatan pernikahan, salah satunya adalah rasa saling percaya. Kalau Kamu seperti ini terus, kasihan Nayla nanti tertekan karena Kamu terlalu posesif dan cemburuan"
Darren hanya terdiam, begitu juga dengan Nayla.
"Mommy benar Son, renungkan kesalahanmu, kalau Kamu merasa berat untuk berubah atau merasa tidak mampu maka batalkan saja pernikahan kalian"
"Dad!!!"
"Maka dari itu, berubahlah, Son"
Tegas Rheimon yang seketika membungkam aksi protes putranya itu.
"Nayla, udah malam, Kamu nginep disini aja ya, tidur sama Mommy dan anak-anak. Darren biar tidur sama Daddy-nya"
"What? Honey...".Tentu saja Rheimon ingin memprotes keputusan istri tercintanya itu.
"Ssttt, udah temani Darren. Nayla sama Mommy, Okay Dad? Bye!"
Karina segera menarik Nayla menuju Kamarnya sebelum suaminya mulai tantrum.
"Gara-gara Kamu ini..."
Sungut Rheimon sebal kemudian dengan kesal duduk di samping putranya.
__ADS_1
"Sabar ya Dad"
"Diem!!!"
Sentak Rheimon yang justru membuat Darren tertawa terbahak-bahak.
"Anak kurangajar" Desis Rheimon masih dengan wajah cemberut.
Akhirnya setelah drama yang diakibatkan oleh ulah Darren 2 hari lalu, hari pernikahan Darren dan Nayla pun tiba.
Sebuah gedung pernikahan yang telah di design sedemikian rupa, bernuansa serba putih dan sederhana namun tetap menawan hati para tamu yang melihatnya. Hiasan bunga Lily putih dipadu padankan dengan mawar putih menjadi pemandangan yang amat sedap di pandang mata.
"Masya Allah... Kakak Iparku cantiiik bangettt"
Azizah memeluk Nayla yang sudah didandani dengan cantik. Berbalut kebaya putih dengan design yang simple namun elegan, nampak sangat cocok di tubuh Nayla yang mungil namun berisi itu.
"Makasih mba..."
"Ih gimana sih, panggil Zizah aja dong, kan Aku sekarang adik ipar Kamu Nay..."
"Hihi, Iya mba, Aku belum terbiasa. Pelan-pelan ya, Aku belajar dulu"
"Hahaha Aku juga harus belajar dulu panggil Kamu kakak, Kak Nayla gkgkgkgk"
"Mba Zizah ih..."
Sementara di meja akad...
"Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Putri Amalia binti Abdul Hamid dengan mas Kawin seperangkat alat sholat, cincin berlian2 gram dan uang tunai sebesar 112.230.000 rupiah dibayar tunai!"
Dengan lantang dan sekali tarikan nafas Darren berhasil mengucapkan akad meski keringat dingin membasahi wajahnya.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Sahhh!!!!"
Jawab para saksi dan tamu yang hadir dengan suara bergemuruh seperti peserta demonstrasi membuat penghulu itu tersenyum lebar, kemudian berkata.
"Alhamdulillah... (Membaca doa setelah akad)"
"Dimohon untuk mempelai wanita untuk mendampingi Suami dan menandatangani buku nikah dan dokumen lainnya"
Ucap sang penghulu.
Karina pun dengan semangat menuju ke kamar Pengantin untuk menjemput Nayla.
Beberapa saat kemudian,
Nayla yang diapit oleh Azizah dan juga Karina tampak menunduk malu-malu seraya berjalan menuju meja akad tempat Darren berada, berbeda dengan Karina dan Azizah yang tersenyum sumringah.
Dibalik pemandangan itu, Ada seseorang yang tak lain tengah menahan air matanya melihat wanita yang sangat dirindukannya, siapa lagi jika bukan Axel.
Sudah 6 tahun tidak bertemu, Mantan istrinya itu terlihat semakin cantik dan bersinar. Matanya tak berkedip menatap kearah Azizah.
Senyumnya, tatapannya, sama sekali tidak berubah .Tetap tenang dan teduh seperti dulu.
Tatapan Axel terus mengekori langkah Azizah sampai wanita itu berhenti pada suatu tempat dan kemudian dirangkul mesra oleh seorang Pria...
Abimana???
Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatinya. Axel menganga melihat kemesraan dua insan yang berada cukup jauh darinya.
Hatinya semakin sakit dan sesak saat Abimana diam-diam mengecup pipi Azizah dan dibalas belaian mesra di pipi Abimana oleh mantan istrinya itu.
"Ya Tuhan... Mereka... Bersama?"
Ucap Axel lirih dengan bibir bergetar dan matanya yang memerah.
Bersambung....
__ADS_1