
Rahasia Kita
"Darren belum pulang, Honey?"
Rheimon menurunkan buku bacaannya dan menatap Istrinya yang tengah asyik merajut kaus kaki bayi.
"Seperti yang Kamu lihat Sayang..."
Jawab Karina sekenanya.
"Hmm, anak itu... Bisa kutebak Dia pasti sedang bersama teman-temannya yang berandalan itu"
"Maksudmu Vano dan Radit?"
"Yah, siapa lagi? Dulu masih ada satu lagi, mantan menantumu itu"
"Heyyy, dia juga mantan menantumu Tuan"
"Maaf Aku tidak Sudi mengakuinya"
"Ya sudah jangan membahasnya kalau begitu. Lagipula Darren sudah terbiasa pulang larut, Dia juga bukan anak kecil lagi Sayang, bisa menjaga diri"
"Aku tahu, tapi hari ini Aku memiliki firasat buruk"
Ucap Rheimon dengan wajah serius. Pria itu terus memandang ke arah pintu utama.
Karina yang mendengar ucapan suaminya seketika menghentikan kegiatan merajutnya dan ikut menatap ke arah pintu.
"Ada apa?"
Tanya Karina sedikit khawatir.
"Aku tidak tahu, Honey, tapi perasaanku mengatakan sesuatu yang tidak baik-baik saja sedang atau akan terjadi"
"Jangan membuatku takut sayang"
Karina mendadak cemberut. Kali ini ia benar-benar takut. Bukan apa-apa, setiap kali Rheimon memiliki firasat buruk, biasanya memang sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya.
Rheimon tersenyum. Ia mencoba menenangkan Karina. Pria yang masih terlihat gagah itu menghampiri istri tercintanya itu dan mengecup dalam keningnya.
"Sudahlah, jangan terlalu khawatir. Tidak semua firasat buruk itu nyata dan akan terjadi. Mungkin itu hanya rasa kekhawatiranku yang berlebihan.Bagaimana kalau kita hubungi saja anak bandel itu? Suruh dia pulang sekarang, hmn?"
"Yah, Aku setuju. Biar Aku yang meneleponnya"
Ucap Karina, Rheimon hanya mengangguk setuju...
Tuuut....
"Mommy?"
Darren terkejut melihat nama Ibunya di layar Handphone miliknya. Haiiish... Waktunya sangat kebetulan sekaligus tidak menguntungkan.
"Ada apa Darren?" Suara lembut wanita yang tak lain adalah Karissa membuat Darren yang tengah fokus berfikir sedikit terkejut.
"Oh!... Ini Tante... ini..."
Darren menjawab tergagap.
"Orang tuamu menelepon?"
__ADS_1
Karissa menebak dengan tepat.
"Mmmm.... Yups"
"Tidak masalah, angkatlah"
Pinta Karissa dengan suara tenang. Meskipun ragu pada akhirnya Darrenpun menurutinya.
Namun, karena takut ketahuan< Darren memilih untuk sedikit menjauh saat berbicara dengan ibunya di telepon.
Beberapa saat kemudian..
"Sudah...?"
"Udah Tante.... Mmm maaf Tante, tapi Darren harus pulang sekarang"
"Ouh... It's Oke Darren. Tante mengerti kok"
"Mmm... Tante... Tante kenapa sih nggak langsung ketemu Mommy aja? Kenapa kalian saling jaga jarak begini?"
"Kenapa Tante?"
Darren sungguh penasaran.
Seingatnya dulu, Ia mengetahui bahwa ibunya memiliki seorang adik dari Kakeknya kurang lebih saat itu Ia masih duduk dibangku SMA, Semenjak itu Karissa sering menemuinya secara diam-diam. Awalnya Darren merasa takut, tapi karena Karissa sangat baik padanya dan juga tidak pernah melakukan sesuatu hal yang aneh, Darrenpun akhirnya terbiasa.
Karisa selalu mengatakan untuk menutupi komunikasi yang mereka jalin selama ini. Wanita yang 90% mirip sekali dengan ibunya itu selalu mengatakan "ingat, ini rahasia kita".
Jadi Darrenpun tidak pernah mengatakannya pada Mommy dan Daddy-nya. Meskipun hati kecilnya sedikit merasa bersalah.
Sama halnya seperti pertemuannya kali ini. Darren sangat terkejut saat mendengar Karissa sudah berada di Indonesia, bahkan di wilayah yang sama dengannya. Kebetulan sekali bukan?
Tapi, wanita itu selalu memiliki alasan yang terlalu kuat dan logis untuk dibantah. Tante nya itu juga seorang pebisnis, lebih tepatnya investor. Jadi, hanya memiliki perusahaan pusat di Amerika. Selebihnya Ia hanya bermain saham dan investasi di perusahaan-perusahaan bonafit wilayah Asia, terutama Asia tenggara yang terkenal dengan daya jual belinya yang tinggi.
Jadi, wajar jika Tantenya itu bisa tiba-tiba melanglang buana sampai ke daerah ini.
"Sudahlah, pulanglah dulu. Suatu saat nanti Tante pasti menceritakannya"
__ADS_1
Tuh kan, jawabannya sudah bisa di tebak oleh Darren. Jawaban yang sama yang selalu Karissa ucapkan setiap Darren menanyakan alasan kenapa Tantenya itu tidakau bertemu dengan Mommy-nya secara langsung.
Seburuk itukah hubungan mereka?
Darren merasa sepertinya Dia perlu menyelidiki masalah ini.
Haah, lagi-lagi Ia lamban, bukankah seharusnya Ia mencaritahu tentang hal ini sejak dulu?
Mungkin karena wajah Karissa sangat mirip denga Mommy-nya,Karina. Jadi ada rasa tidak tega jika ingin mencurigainya.
"Kalau gitu, Darren pulang dulu Tante"
"Okay, keponakan Aunty yang ganteng. Hati-hati dijalan ya"
"Oke Tante, Tante juga ya... bye"
Darren dan Karissa berpelukan sesaat, setelahnya secepat kilat Darren meninggalkan tempat itu untuk pulang kerumah sebelum ayahnya mengeluarkan senapan dan menembak kepalanya.
"Jadi Kita mesti Gimana Bro?"
Radit sudah sangat frustasi menghadapi kedua sahabatnya yang kini bermusuhan. Beberapa kali ia masih berusaha membujuk Darren agar mau memaafkan Axel. Tapi usahanya bak menabur garam dilautan. Sia-sia.
"Makanya sekarang ini kita bagi tugas aja Bro. Loe bantuin Axel Gue bantuin Darren biar adil. Loe pikir Gue kagak puyeng?"
"Lagian ada-ada aja Ya Tuhan....?!!!"
"Kadang hidup itu emang selucu ini yah, bisa-bisanya Azizah itu adik kandungnya Darren"
"Itulah hidup. Penuh misteri ilahi. Makanya tobat loe. Sapa tau tiba-tiba loe mati kan?"
"Setan loe bangsat, doain temen yang bener kek!!"
Radit hampir saja melayangkan pukulannya ke kepala Vano, namun tangannya menggantung diudara saat melihat pemandangan yang tak jauh dari sana.
"Bro, bro... Itu bukannya om Bram??"
Vano seketika menoleh mendengar ucapan Radit. Iapun mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
"Sialan!!! Kejar kejar kejar!!!"
Vano segera melompat dari kursinya hingga hampir terjerembab, begitu pula dengan Radit yang langsung mengekor di belakang Vano. Mereka berlari cepat menuju arah Pria yang sangat mirip dengan Bram, memasuki pusat perbelanjaan di depan cafe tempat mereka nongkrong barusan.
"Gue telepon Darren sekarang"
"Jangan dulu Bro. Lebih baik sekarang kita ikutin si Bram itu, sebelum kehilangan jejak!"
"Loe bener! Ahhh sialan Loe Bram! Nambah-nambahin kerjaan Gue bangsat!"
Vano terus mengumpat sembari berlari memasuki Pusat perbelanjaan itu. Kali ini Ayah Alexa itu tidak boleh lolos. Karena Vano yakin kunci utama dari permasalahan yang terjadi saat ini adalah Bram.
Dia adalah narasumber dari segala teka-teki yang selama ini sulit di pecahkan. Jadi, sebagai sahabat yang baik, Vano dan Radit akan membantu Darren dan juga Axel semaksimal mungkin. karena sebenarnya, dua-duanya adalah korban dari kelicikan Bram dan komplotannya yang entah siapa mereka itu.
Bersambung....
Hai... Jangan lupa like, kasih rating dan commen di novel ini dan kirimkan buktinya di DM Instagram Aku ya @Izzah_maftukha. Biar teman-teman berkesempatan mendapatkan giveaway sebesar 250 ribu masing-masing untuk dua orang pemenang 💜🧁🧁
__ADS_1