Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Potret Sejuta Kenangan


__ADS_3

"Surabaya?"


Axel menyipitkan matanya pada lembaran kertas yang ada ditangannya kini.


Kertas berisi semua informasi tentang rival bisnisnya, Abimana aryasatya Dharmawangsa.


Entah kenapa setelah pertemuannya dengan pria itu di even lelang tender beberapa minggu yang lalu Axel dibuat sangat penasaran, apalagi jika bukan karena Ia mendengar Abi menyebut nama yang sangat mirip dengan nama istrinya. Ralat, mantan istri maksudnya.


"Abimana Dharmawangsa pindah ke Surabaya 6 bulan yang lalu bersama dengan anak haram adiknya, Avia Maya Dharmawangsa ?"


'Anak haram?' Axel mengernyit bingung. Namun segera mengusir rasa penasarannya, karena merasa itu bukan urusannya. Kemudian kembali membaca informasi yang tertulis selanjutnya. Berharap menemukan sesuatu yang ia harapkan, yaitu tentang Azizah.


Namun harapannya seolah karam. Tidak ada informasi apapun yang menyinggung wanita bernama Azizah disana.


Axel meraih gawainya. Kemudian menghubungi orang suruhannya itu.


"Hmn... Apa Loe yakin informasi ini udah sedetail mungkin?"


"....."


"Oke. Thanks"


Jawab Axel dengan nada kecewa setelah mendengar jawaban dari lawan bicaranya.


'Oh.. God...' Batinnya frustasi.


Sudah 5 bulan Ia mencari Azizah namun tidak ada petunjuk sedikitpun.


Pria itu kemudian menatap sendu potret yang terpajang diatas mejanya sejak beberapa bulan lalu, potret mantan istrinya, Azizah.


Yang Ia dapatkan dari Bu Surti. Untungnya, maid senior di mansion keluarganya itu masih menyimpan galery dimana ada beberapa foto Azizah bersama para maid yang lain.


Pria itu menggapai bingkai cantik itu. Menatapnya penuh rasa rindu, lebih dominan rasa bersalah dan penyesalan.


"Sayang... Berhentilah bersembunyi... Aku mohon, beri Aku kesempatan untuk menebus semua dosaku padamu dan bayi kita.."


Axel mengeratkan genggamannya pada potret itu, potret Sejuta kenangan yang seolah memiliki mata pisau, menghunus ke dalam jantungnya, menciptakan lara yang tak ada ujungnya.


"Bro? Sibuk?"


Suara pria tengil dan menyebalkan tiba-tiba muncul di ruangan Axel.


Axel melirik sebal ke arah makhluk yang tak lain adalah Radit.


"Loe beneran nggak punya etika, ketuk pintu dulu kek"


Sungut Axel sebal kemudian meletakkan kembali bingkai foto Azizah ke atas meja kerjanya.


"Iye Sorry! Gue mau pamit nih, dua Minggu kedepan Gue bakalan ada di Surabaya. Sapa tahu Loe bakalan kangen"


Ucap Radit seraya terkekeh.


"Najis. Emang mau ngapain Loe kesana?"


"Ada bisnis sama beberapa urusan"


"Oh..."


Axel hanya ber oh ria kemudian berjalan menuju lemari pendingin.


Mengambil minuman bersoda untuknya dan sekaligus untuk Radit.


"Thanks... By the way, Loe udah dapetin informasi tentang Abimana?"


Tanya Radit yang membuat Axel menoleh seketika.

__ADS_1


"Dari mana Loe tahu Gue nyari informasi tentang Dia?"


"Ya tahulah... Radit gitu lho"


"Ck...Huuuft, udah tapi nggak ada yang penting"


"Maksud Loe nggak nyerempet tentang Azizah gitu kan?"


"Hmn"


"Ya kan Gue udah bilang. Nama begitu tuh banyak"


"Ya udahlah... Yang penting Gue udah ngga penasaran"


"Hmn..."


"Kapan Loe berangkat?"


"Sore ini"


"Oke. Gue anter"


"Nggak usah. Gue ama si Yadi supir Gue"


"Hmn, Ya udah"


Selepas obrolan tentang Abimana, Radit dan Axel tidak membahas banyak hal hingga Radit Akhirnya pamit undur diri, meninggalkan Axel di ruangannya sendiri, terpenjara sepi.


***


Surabaya, 08.00 p.m.


"Holla, Brader ... Sorry tadi sempet delay"


Sapa Radit kemudian memeluk sahabatnya, Darren.


"Makanya beli jet pribadi biar nggak kaya orang susah"


Ledek Darren seraya membantu sahabatnya menarik koper kecil yang sepertinya kosong.


"Sialan Loe. Ogah ah ribet pajaknya hahaha"


"Bilang aja Loe pelit"


"Hahaha... Hemat bro hemat, Gue kan nggak sekaya Loe sama Axel"


"Ck... Ngomong-ngomong ni koper nggak ada isinya? Enteng bener!"


"Gkgkgk formalitas bro. Gue cuma bawa cangcut. Kan ada baju Loe"


"Huuh dasar, nggak modal banget Loe!"


Mereka terlibat perbincangan seru diselingi derai tawa hingga sampai di lobby dan memasuki mobil sport Darren yang sudah terparkir gagah di depan lobby bandara itu.


"Ngomong-ngomong, Loe ada bisnis apa disini? Lama amat sampe 2 Minggu?" Tanya Darren penasaran.


"Gue ada kerjaan, sama ada seseorang yang mau gue selidiki"


Radit berkata dengan tatapan menerawang.


"Siapa?"


"Abimana Dharmawangsa"


"Abimana Dharmawangsa?"

__ADS_1


"Iye... abangnya si Maya, yang punya skandal sama anak gubernur sampe bunting"


"Oh... Ya ya gue ingat, Abimana itu..."


Darren yang tengah manggut-manggut tiba-tiba menegang. Memori pertemuannya dengan laki-laki yang ia panggil si brewok pun berputar cepat seperti kaset rusak.


'Abimana Dharmawangsa??'


"Oh my God! what the fvck!"


Tiba-tiba mulutnya berseru, hingga membuat Radit yang ada di sampingnya terkejut.


"Ada apa ren??"


Tanya Radit. Darren menjadi salah tingkah karena gugup. Ia kemudian menjawab dengan gelagapan.


"Oh... Nggak... Em... Gue .. Gue lupa di suruh laporan sama bokap Gue, tapi belum Gue kerjain hehe"


Sahut Darren asal seraya nyengir kuda.


"Setan, kirain apaan, bikin kaget aja Loe"


Sungut Radit kesal.


"Iyee Sorry"


Darren segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukannta dengan kecepatan sedang, membelah jalanan malam di Surabaya di tengah pikirannya yang terfokus pada sosok Abimana?


"Ngomong-ngomong kenapa Loe mau nyelidikin Dia?"


Tanya Darren penasaran. Ia sungguh ingin tahu.


" Jadi gini, Loe inget kan 2 Minggu lalu ada lelang tender proyek jaringan internet? Dia juga ikutan seperti biasanya. Pokoknya waktu itu Abimana nyebutin nama Azizah, mantannya Axel waktu ngobrol sama pak Handoko. Jujur entah kenapa feeling Gue merasa bahwa itu memang Azizahnya Axel. Walaupun nih, Gue berusaha meyakinkan Axel bahwa nama kaya Azizah itu banyak di dunia ini. Itu karena Gue nggak mau Axel terlalu berharap. Jadi, pas kebetulan bokap gue ada bisnis di sini gue ambil, Gue mau nyelidikin masalah itu. Gue akan kasih tahu Axel kalo dugaan Gue emang bener. Gue kasian man sama Sohib kita itu. Udah kayak orang frustasi. Takut kalo tiba-tiba Dia bunuh diri"


Radit menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi. Sementara Darren sudah hampir copot jantungnya mendengar penuturan sahabatnya itu.


'Sial! Kok bisa kebetulan gini sih!!


Pantesan Gue nggak asing sama mukanya Dia, tapi kok penampilannya kayak orang susah gitu?? Gue mesti cari tahu! Sebelum Radit mengetahuinya lebih dulu'


Batin Darren bermonolog. Ia melirik Radit yang tengah asik mendengarkan musik.


"Loe bisa bantuin Gue nggak Ren?"


Tanya Radit tiba-tiba. Darren menelan ludah dengan kasar.


"Aduh.. Sorry Bro.. Gue sibuk banget ngawasin pabrik sumpah, bokap Gue emang nggak maen-maen kalo ngasih hukuman"


Darren berusaha mencari alasan untuk menolak Radit.


"Ya udah nggak apa-apa. Lagian Gue punya banyak kenalan detektif swasta disini"


Sahut Radit tersenyum lebar. sementara Darren hanya mengulas senyum tipis dan canggung.


'Sorry Dit, Gue harus hianatin Loe, Gue udah nggak bisa di pihak Axel. Gue harus jalanin kepercayaan yang di kasih sama Kakek Adhitama'


Batinnya bertekad.


Bagaimanapun Axel sudah bersalah telah banyak menyakiti mantan istrinya. Jadi tidak salah dong kalo Darren berpihak pada Azizah???


Lanjutnya dalam hati.


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️❤️

__ADS_1


Luvv banyak-banyak, jangan lupa like ya biar Aku semangat up nya!! hehehehe ❤️🌷🌷🌷🌹


__ADS_2