
Setelah kejadian di rumah sakit kemarin, Axel tak lagi datang menemui Azizah. Penolakan Azizah yang sangat gamblang membuat patah hati sekaligus frustasi.
Entah cara apa lagi yang harus Ia lakukan agar Azizah mau memaafkan dirinya dan kembali padanya demi anak-anak mereka.
Pria yang tampak lebih tirus itu kembali menenggak minuman keras yang sudah ia habiskan beberapa botol. Axel sudah sangat mabuk. Tapi ia seolah tak ingin berhenti minum. Berharap minuman itu setidaknya bisa membuatnya lupa akan rasa sakit hatinya kini.
Entah sejak kapan Ia mulai merasakan rindu itu, merasakan cinta yang datang sangat terlambat. Azizah sudah terlepas dari genggamannya, dan kini sangat sulit untuk meraihnya lagi.
Ditambah kedatangan Alexa yang lagi-lagi mengganggunya, membuat usahanya untuk kembali meluluhkan Azizah bertambah susah.
"Xel! Loe mau mati???"
Radit datang dengan wajah murka, merampas botol di tangan Axel kemudian melemparnya ke sembarang arah.
Axel tak menjawab, Ia kembali meraih botol lain yang masih terisi penuh.
"Stop Xel!!! Loe beneran bisa mati karena overdosis!!!"
"Gue emang mau mati!!! Mau mati Gue!!!"
Ucap Axel parau, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Gue udah putus asa Dit, Azizah sama sekali nggak mau ngasih kesempatan buat Gue, bahkan dengar satu kata dari Gue pun Dia udah nggak mau Dit... terus buat apa Gue hidup??? Arrrgh!!!"
Axel menyingkirkan semua botol diatas meja bar itu.
hingga berserakan di lantai. Untungnya suasana bar cukup sepi. Jadi hanya membuat terkejut beberapa makhluk yang masih disana.
"Gue ngerti, Tapi ingat Loe masih punya tanggung jawab sama perusahaan Bokap sama Kakek Loe Xel... Dan..."
"Persetan sama Perusahaan!!! Itu semua udah nggak ada artinya buat Gue.Gue hidup tapi nggak bernyawa Dit. Nyawa Gue udah ketutup sama penyesalan, penyesalan yang udah nggak bisa di perbaiki!!!"
"Dulu Gue berfikir dengan uang Gue bisa dapetin segalanya. Tapi sekarang, bahkan semua yang Gue miliki nggak akan bisa membayar semua kesalahan Gue dan bikin Azizah mau balik lagi sama Gue Dit. Dia bahkan nggak mengakui Gue sebagai ayah anak-anak nya??? Jadi perusahaan itu gunanya apa?? apa??? Nggak berguna Dit, semuanya nggak berguna..."
Suara Axel semakin melemah, Seiring kesadarannya yang mulai menghilang .
"Kita pulang, Xel"
Radit dengan sigap memapah sahabatnya itu keluar dari bar, menuju mobilnya yang sudah terparkir tepat di depan pintu masuk.
Sesampainya di Apartemen,
Radit membaringkan tubu Axel ke ranjang di kamar yang selama ini di tempati Axel. setelah memastikan semuanya sudah beres, Radit keluar dari kamar itu menuju ke ruang tamu.
"Kalau Azizah nggak mau dengerin Axel, mungkin Dia mau kalau Tante Tamara yang ngomong"
Radit pun menghubungi Tamara, setelah memberitahu kondisi Axel saat ini.
Sesuai dugaannya, Tamara langsung terbang ke Surabaya menggunakan Boeing pribadinya.
__ADS_1
*
*
Keesokan paginya,
Setelah mendapatkan informasi mengenai tempat tinggal Maya saat ini, Alexa segera bergegas menuju ke kediaman Keluarga Dharmawangsa yang berada di tengah kawasan elite Surabaya.
"Ternyata Abimana Dharmawangsa itu Kaya raya juga, Rumahnya sangat mewah"
Ucap Alexa tersenyum licik saat melihat kediaman Abimana bersama Maya.
Setelah menghabiskan waktu di dalam mobil selama hampir 20 menit akhirnya Ia melihat targetnya muncul dibalik gerbang. Gerbang berwarna gold yang terlihat sangat elegan.
Maya terlihat mengendarai sebuah mobil mini Cooper berwarna putih. Namun ada pemandangan yang tak biasa disana..
"Mommy... Mommy....!"
Seorang gadis kecil kira-kira berusia 7 tahunan berlari mengejar mobil yang di kendarai Maya, hingga bocah perempuan itu terjatuh.
Mobil Maya berhenti. Alexa memperhatikan setiap kejadian di hadapannya dengan seksama. Apa Papanya berbohong? Alexa mengernyit bingung saat melihat Maya berlari menghampiri gadis kecil yang sepertinya adalah putri dari Maya sendiri dengan wajah khawatir.
Namun, reaksi itu tak bertahan lama sampai...
"Mommy...."
"Stop panggil Gue Mommy, Gue bukan Emak Loe! Udah sana masuk! setiap Loe Dateng selalu aja bawa masalah!"
Maya kemudian berlalu meninggalkan anak perempuan yang kini menangis itu, Tak lama kemudian mobil berwarna putih itu melaju dengan cepat membelah jalanan perumahan yang lengang.
Sementara si anak perempuan itu juga telah di gendong masuk ke dalam rumah oleh gadis muda yang bisa Ia tebak sebagai Baby sitter nya.
Tak ingin tertinggal, Alexa segera melajukan mobilnya mengejar mobil Maya.
Hampir 30 menit berlalu, Akhirnya mobil Maya berhenti di sebuah Cafe, Sepertinya akan bertemu seseorang, lebih tepatnya seorang Pria. Dan tebak... Alexa mengenal pria itu. sangat mengenalnya.
"Ouh, Jadi mereka masih sering bertemu, luar biasa. perselingkuhan yang awet"
Alexa kemudian turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam Cafe itu. Namun belum juga duduk, Sang Pria terlihat sudah di usir oleh Maya.
"Please Maya, Semua tidak seperti yang Kamu bayangkan. Aku tidak pernah mencintainya, Aku hanya mencintaimu!"
Ucap sang Pria dengan tatapan memohon, Namun Maya malah tersenyum dingin.
"Pergi, jauhi hidupku atau Aku akan membunuh Anak kita"
"Maya... apa kamu gila?"
__ADS_1
"Yah! Aku gila semenjak bertemu bajingan sepertimu! maka enyahlah dari hidupku!"
Terdengar pertengkaran antara mereka berdua dan itu semua tak lepas dari perhatian Alexa.
Tak lama kemudian sang Pria pun melenggang pergi dengan langkah kesal. Maya terlihat menunduk...
"Hai Maya, Lama tak bertemu"
Suara Sexy yang cukup dikenalnya membuat Maya seketika mendongak menatap Alexa.
"Kamu... Nona Sadewo?"
"Yups..."
Maya memutar bola matanya jengah. Ia sangat mengenal Alexa. wanita yang terkenal materialistis dan licik. Dan, Maya sama sekali tidak berniat menjalin komunikasi apapun dengan wanita itu.
Maya pun bergegas untuk pergi namun ucapan Alexa menghentikan langkahnya.
"Bekerjasama lah denganku, menyingkirkan Azizah, Kekasih Kakakmu. Aku tahu Kau juga membencinya karena Dia dan kakakmu selalu melindungi putrimu bukan?"
Maya memicingkan matanya berusaha mencerna kata-kata Alexa. Hingga tak lama kemudian...
"Hahahahahaha! Anda lucu sekali Nona Sadewo"
Maya tertawa terbahak-bahak sampai ingin menangis mendengar omong kosong Alexa. Yang benar saja, Wanita itu bahkan tak mengenalnya dengan baik, tapi dengan bodohnya mengajak bekerja sama untuk berbuat kejahatan pada seseorang yang tak lain adalah guru ngaji putrinya??
"Apa maksudmu?"
Alexa tentu dibuat bingung oleh perkataan Maya, apa yang salah dari ucapannya hingga membuat wanita itu tertawa begitu keras??
"Anda tidak mengenalku dengan baik, Bisa-bisanya Anda mengajak saya bekerja sama untuk menyingkirkan Mba Azizah? Guru ngaji putri saya?"
"Tapi... Kau membenci putrimu kan? Semua orang tahu itu, bahkan Aku melihatnya sendiri tadi"
"Jadi... Anda membuntuti Saya?"
Tanya Maya dengan tatapan tajam.
"Ya, Karena Aku ingin menawarkan kerjasama ini denganmu"
"Dengar Nona Sadewo, Saya rasa Anda... salah target. Apa yang terlihat kadang tidak seperti realitanya. Jadi, pelajari lah situasi dulu sebelum mengajak seseorang menjadi kawan. Salah-salah malah jadi lawan"
Ucap Maya, kemudian berlalu meninggalkan Alexa yang cengo bin melongo....
Apa-apaan ini? Sebenarnya apa yang terjadi?? batinnya memekik kesal.
Bersambung...
Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️
__ADS_1