Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
AZIZAH HILANG (PART 1)


__ADS_3

Keesokan paginya.


Darren pergi pagi-pagi buta, bahkan sebelum orang tuanya bangun. Tapi, karena takut Mommy dan Daddy-nya khawatir, pemuda itu sudah lebih dulu melaporkan kegiatannya hari ini melalui pesan singkat kepada Mommy-nya.


Ia sengaja berangkat pagi-pagi karena Ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar bisa segera menemui sahabatnya, Vano.


Jujur saja Darren sangat penasaran. Karena Sahabatnya itu jika sudah mengeluarkan kata-kata mutiara 'penting' berarti hal yang akan disampaikannya bisa di pastikan 100 kali lipat lebih penting dari yang Ia duga.


Darren dengan segera melaju mengendarai mobilnya keluar dari halaman villa tempat Ia dan orangtuanya tinggal sementara waktu disini.


Tanpa Darren sadari...


"Ikuti Keponakan tercintaku itu"


Ucap Karissa pada supirnya.


"Baik Madam..."


Sahut sang supir dengan patuh.



Terik matahari membumbung tinggi, membuat cuaca hari ini menjadi sedikit panas, Namun tidak dengan kegiatan indah di dalam sebuah rumah...



"Alhamdulillah....."


Wajah Nayla berbinar-binar melihat banyaknya uang ditangannya...



Sebenarnya jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi untuk Nayla yang memang sangat mencintai uang (selama itu halal) jumlah itu sudah sangat banyak.



Azizah hanya bisa nyengir melihat wajah Nayla yang bersinar terang seperti lampu taman.



"Sayang ya nay, Mba nggak bisa ambil banyak orderan, udah susah gerak"



"Nggak apa-apa mbak, ini juga udah lumayan banget kok... Ntar kalo si kembar udah launching kita bisa gass buat nerima lebih banyak orderan lagi"



"He'eum... Semangat!!"



"Semangat!!"


Sambung Nayla antusias. Gadis muda itu kembali menghitung sisa uang yang ada di hadapannya kemudian menatanya dengan rapi.



Tiba-tiba...



"Assalamualaikum..."


Suara berat seseorang mencuri atensi kedua wanita yang tengah sibuk itu...



"Waalaikumsalam"


Jawab Azizah dan Nayla serempak.



"Tante Karina? Dan Om..."



Ucap Azizah setelah beberapa saat terkejut melihat kedatangan Rheimon dan Karina.



"Rheimon Nak"



"Oh iya Om Rheimon, hehe"



"Boleh kami masuk?"



"Oh iya Om, Tante.. silahkan masuk, maaf sampe lupa"


Ucap Azizah sembari berusaha berdiri dengan susah payah.


__ADS_1


"Ck.. udah duduk aja nak, nggak apa-apa kok, Om sama Tante ngagetin sih soalnya"



"Hehe... Enggak kok Tante"



Ucap Azizah seraya melirik Nayla yang tiba-tiba menjadi patung.



"Oalah, ada calon mantu kita Sayang"



Ucap Karina terkekeh begitu melihat penampakan Nayla yang diam membeku di sudut sofa.



"Mantu?"


Rheimon pun menoleh dan menatap Nayla, membuat gadis imut itu semakin salah tingkah. Sementara Azizah hanya bisa ikut terkikik melihat kelakuan sahabatnya itu.



"Maaf Tuan, Nyonya... Tapi saya..."



Nayla mencoba mengungkapkan penjelasan bahwa Dia dan Darren tidak memiliki hubungan apapun.



"Udah.. Nayla yah? Tante cuma bercanda kok hehe, Tapi kalo serius juga nggak apa-apa, ya nggak Dad?"



"Iya. Om sih oke-oke aja. Siapa tahu anak itu bisa jadi orang lurus kalo udah ketemu jodohnya ya Mom?"



"Yups!"



Bukannya senang, Nayla malah rasanya ingin menangis. Sungguh Dia dan Darren tidak sedekat itu. Lagipula Ia cukup tahu diri dengan perbedaan status mereka yang bagaikan bumi dan langit.



"Oh ya, Om sama Tante ada keperluan apa sampe repot-repot Dateng kesini?"



"Mmmm, ya... Ngomong-ngomong sebenarnya ada yang ingin Om sama Tante sampaikan, tapi... Gimana kalau kita bicarakan ini sambil makan siang? Kalian belum makan kan?"



Tawar Karina sambil menatap Azizah dan Nayla bergantian.



Nayla dan Azizah saling melemparkan pandangan. Seolah meminta pendapat masing-masing melalui telepati.



"Oke! berarti kalian setuju. Ayo kita makan siang di luar. Sahabat Om baru aja buka restauran baru. Katanya menunya enak-enak. Let's go!"



Tanpa basa-basi, Rheimon langsung menyuarakan aspirasinya itu, membuat ketiga wanita dihadapannya tertawa. Jadi, Azizah dan Nayla pun tentu saja tidak bisa menolak.



"Ya udah kita pergi sekarang?"



"Baik Tante"



"Oh ya, Bibi Kamu nggak sekalian diajak?"



"Ooh, bibi barusan pergi ke pengajian sama temen-temen satu gengnya Tante"


Sahut Nayla.



"Hahaha, geng? Kamu ini ada-ada aja Nay... Ya udah kalo gitu kita berempat saja"



"Oke Tante..."


__ADS_1


"Yuk, berangkat"



Rheimon dan Karina kemudian berjalan menuju mobil mereka, disusul oleh Azizah dan juga Nayla.



Merekapun pergi ke Restauran milik sahabat Rheimon untuk makan siang. Selain itu, Rheimon dan Karina berniat untuk mengatakan semuanya pada Azizah.



"Pak Darren yang terhormat, sampai kapan kita mau menunggu teman Anda itu?"


Abimana sudah lelah menahan gondok akibat ulah Kakak dari wanita yang ia cintai itu.


Bagaimana tidak, jam 5 pagi pria menyebalkan itu sudah menelepon dan menyuruhnya untuk datang menemuinya saat itu juga karena ada hal penting yang katanya ingin dikatakan tentang Azizah.


Tapi, sudah hampir Dzuhur, informan yang katanya sahabat Darren itu belum nampak batang hidungnya. Padahal, Abimana sudah terlanjur membatalkan semua rapat dan janji temu penting pagi ini.


Cinta... Cinta... Semua karena cinta... Kampret!!!


"Dia sudah dalam perjalanan Bung, tenanglah"


'Tenang tenang kepalamu!' batin Abimana memaki.


Tak lama kemudian...


"Haiiii..."


Seruan seorang pemuda yang tak lain adalah Vano, terdengar keras hingga membuat tak hanya kedua pria yang tengah duduk itu menoleh, namun juga beberapa pengunjung coffie shop yang lain juga ikut memperhatikan Vano yang tengah berlari kecil menghampiri Abimana dan juga Darren.


"Oh masih hidup loe? Gue kira Loe tiba-tiba mati"


Sarkas Darren dengan wajah sebal.


"Buset dah, jahat bener mulut Loe Ren!!"


Sahut Vano disusul dengan cengiran kudanya.


Kemudian dengan canggung duduk diantara dua pria yang kini memelototinya itu.


"Ya loe kira-kira dong, semalam ngomong ke Gue buat ketemu jam 7 pagi. Ini udah jam berapa Maliiih??"


"Iyee sorry, Gue kesiangan"


"Bangsat loe emang! Kan Gue jadi nggak enak sama bang Brewok yang ikut nungguin Loe"


sungut Darren seraya menunjuk ke arah Abimana yang kini memutar bola matanya jengah.


"Bang brewok?"


Vano secara otomatis menoleh ke arah Abimana yang terlihat garang...


'Buset serem banget nih orang' Batin Vano.


"Oh bukannya ini Abimana Aryasatya Dharmawangsa, Pengusaha Property saingan abadi Axel??


Ucap Vano dengan nada yang antusias.


"Udaah cepetan. Loe bilang mau ngomong penting"


"Oh iya!! Nih loe liat"


Seolah lupa dengan kekagumannya terhadap Abimana barusan, tanpa banya bicara Vano mengeluarkan foto-foto hasil jepretan Radit yang telah ia cetak. Semua foto itu menunjukkan gambar Karissa yang tengah bersama Bram dengan sangat jelas.


"Ini... Bukannya ibu Kamu?


Tanya Abimana saat melihat foto itu.


"Ini Tante gue, saudara kembarnya Mommy"


Jawab Darren jujur.


"What??"


Abimana Cukup Kaget mendengar penuturan Darren, saudara kembar?? Oh pantas saja Azizah bisa mengandung bayi kembar, rupanya ada genetik dari Ibunya sendiri.


"Tante Karissa sama Bram??"


Darren sangat kaget melihat foto-foto itu, tapi sejurus kemudian Ia mulai memahami, ternyata firasatnya selama ini tentang Tantenya itu benar adanya, Perasaan takut dan aneh itu ternyata adalah pertanda buruk. Tantenya tidak sebaik penampakannya.


Vano yang sudah memprediksi semua hal yang akan Darren tanyakan, memberanikan diri untuk bersuara.


"Sorry bro, mungkin ini agak terlambat. Tapi... Gue bakal cerita semuanya, tentang wanita jahat ini. Jujur Gue juga bingung, gimana mungkin Tante Karissa bisa sampai kesini, setelah melihat Bram, Gue udah nggak heran lagi"


"Wanita jahat??"


Darren menelan ludah dengan kasar. Yah, Dia juga lupa, bahwa Vano sekalipun tidak tahu bahwa Dia diam-diam sering berkomunikasi dengan Karissa.


Ya Tuhan...


Tiba-tiba perasaan bersalah merambat cepat ke dalam hatinya.


"Jadi... Awalnya...."


Vano mulai menceritakan tentang masa lalu antara keluarga Darren dan juga Karissa...


Darren dan Abimana dengan serius memperhatikan pemuda itu, Terutama Darren...

__ADS_1


__ADS_2