Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Akar Permasalahan


__ADS_3

Keesokan paginya...


Surabaya, 05.00 a.m


Darren mengerang kesal karena terbangun dari tidurnya mendengar suara bel pintu yang berbunyi nyaring dan beruntun seperti alarm.


"Damn it! Hantu mana yang bertamu pagi-pagi buta begini, aaargh!"


Seru Darren seraya melempar selimut yang menutupi tubuhnya.


Kemudian ia dengan kesal turun dari ranjang, mengenakan slipper Winnie the Pooh kesayangannya lalu keluar kamar dengan kondisi Shirtless.


Darren kembali mengumpat saat mendengar bel itu kembali meraung-raung. Tanpa pikir panjang, Ia melepas slippernya dan menggenggamnya dengan erat.


"Beneran cari mati Loe ya!!"


Darren membuka kunci pintu dengan keras dan nyaris melemparkan sandalnya pada tersangka pemencet bel yang durjana itu.


Namun seketika tangan Darren menggantung di udara setelah melihat penampakan tamu tak diundang itu.


"Maaf, Bapak siapa??"


"Cah gendeng!!!! Aku ini buapakmu!!! Berani-beraninya Kamu mau pukul Papamu heh!!"


Pletak! Rheimon meraih slipper di tangan Darren dan balik memukul kepala anaknya hingga Darren mengerang kesakitan.


"Ampun Pa, Sorry buddy, Darren cuma becanda elahhh!!"


Ucap Darren seraya mengusap-usap kepalanya yang terkena sabetan slipper dari Ayahnya sendiri.


"Kamu ini tambah tua bukannya tambah dewasa malah makin banyak tingkah Ren!!"


Ucap Rheimon sembari menggelengkan kepalanya dengan heran.


"Lagian Papa, mencet bel udah kayak polisi mau grebek bandar judi"


"Ya kalo nggak gitu kamu nggak bakalan bukain pintu"


"Terus papa juga kenapa deh datang ke Indonesia nggak ngabarin Darren, kan bisa Darren jemput..."


"Sengaja, soalnya Papa nggak kasih tahu Mama-mu"


"Lho... Jadi Mama nggak tahu Papa kesini?"


"Enggak... Hehe paling ngamuk nanti"


"Awas ya Pah, Darren nggak bisa nolongin kalo Papa di smackdown sama Mama"


"Hahaha, tenang saja, sebelum Mama Kamu melakukan itu, Papa smackdown duluan. Oke? Mama di kamar kan??"


"Hmn..."


Darren hanya be 'hmn' ria karena otaknya sudah kadung traveling mendengar ucapan Papanya.


"Bagus... Kalo gitu Kamu beresin koper Papa, Papa mau nyamperin Mama di kamar... Oke Son?"


Ucap Rheimon seraya berlalu begitu saja meninggalkan putranya yang hendak protes. Membuat Darren menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Emang Gue supir di suruh beresin koper... Papa emang durhaka banget sama anaknya"


Darren menggerutu sebal.


Darren pun dengan ogah-ogahan melangkah menuju mobil untuk menyeret koper yang terkurung di dalam bagasi dan membawanya masuk ke rumah.

__ADS_1


"Sweety...."


Rheimon membisikkan kalimat manis itu pada istri tercintanya yang tengah tertidur pulas. Pria itu tersenyum kemudian mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi Karina hingga membuat wanita itu mengeluh dengan mata terpejam.


Sayup-sayup Karina membuka matanya, dan betapa kagetnya Ia saat melihat sosok gagah suaminya kini tersenyum lebar di samping tubuhnya.


"Hai ..."


"Papaa???"


"Yups... Aku datang lebih awal karena Kamu tidak mau menyelesaikan pembahasan kita kemarin di telepon"


"What the..."


"Jangan mengumpat sayang, ini masih pagi"


Ucap Rheimon sembari memeluk istrinya dengan posesif.


"Apa Darren yang membukakan pintu?"


"Yah, dan dia hampir memukulku dengan sandal, anak durjana"


"Hmm, Kau memang harus kena pukul sayang"


"Jahat sekali...."


Rheimon merengek seperti bayi, membuat Karina seketika terkikik.


"Jadi... Bisa kita pergi menemui Princessaku?"


"Sekarang??"


"Ya, Sweetie jangan buang-buang waktu lagi. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya, memeluknya... Putriku yang malang...."


"Kalau begitu kita beritahu saja"


"Tidak semudah itu Sayang... Kita harus mencari akar permasalahan tentang bagaimana Putri kita bisa di asuh oleh Fauzi, anak buah Adhitama, sahabat Papa Kamu"


Karina menghela nafas, kemudian melanjutkan,


"Darren juga belum tahu, Aku masih takut memberitahunya karena Dia benar-benar tidak mengingat apapun di masa lalu. Kita akan memberitahu kedua anak Kita setelah kita berhasil mendapatkan informasi dari Tuan Adhitama"


Rheimon seketika murung mendengar ucapan Karina. Ia sudah terpisah lama dengan putrinya, tapi bahkan untuk mengtakan kebenarannya pada Azizah saja sulit??


"Sabar... Semua pasti ada penjelasannya. Dan kita akan mencaritahunya bersama-sama Sayang..."


"Ya, Kamu benar sweetie, Kita harus mencari tahu alasan dibalik Princessa ku masuk kedalam keluarga Djaja. Aku akan meminta orang-orangku disini untuk membantu mencari informasi, dan... kita harus pergi menemui Tuan Adhitama"


"Aku setuju..."


*


*


*


Sementara itu, di rumah Bibi Ani..


Azizah hampir tidak bisa tidur semalaman. Ia masih memikirkan kedatangan Tamara kemarin. Azizah pikir setelah pergi jauh Ia benar-benar bisa memulai hidup baru dan lepas dari masa lalunya.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya.


Kedua orang yang dulu bahkan selalu ingin menyingkirkan dirinya malah terus menerus muncul seperti teror.

__ADS_1


Azizah harus bertindak. Ia tidak mau melibatkan banyak orang dalam masalah pribadinya. Apalagi, Ia dan Axel sudah bercerai secara resmi. Jadi sebenarnya, Dimata hukum sekalipun Axel sudah tidak berhak untuk mengganggu hidupnya.


Azizah kemudian bangkit, meraih gawainya yang berada diatas nakas, Ia kemudian menghubungi Nayla...


Klik. Panggilan terjawab selang beberapa detik.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, Ya mba?"


Suara Nayla yang masih serak-serak banjir membuat Azizah tersenyum.


"Maaf ya, Aku ganggu ya Nay"


"Nggak apa-apa mba, itung-itung gantiin Ibu bangunin Aku... Hehe ngomong-ngomong ada apa mba?"


"Gini Nay, Kamu bisa datang ke rumah nggak? Aku mau minta tolong sama Kamu"


"Bisa mba... Minta tolong apa mba?"


"Nanti mba kasih tahu kalau Kamu udah di sini ya"


"Oh... oke deh, Aku mandi dulu ya tapi..."


"Oke... Aku tungguin ya..."


"Oke mba... Bye... Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam..."


Panggilan pun berakhir. Azizah ingin meminta di temani Nayla untuk bertemu dengan Axel. Ia ingin benar-benar mengakhiri segalanya dengan mantan suaminya itu.


Azizah pun ,dengan berdebar menghubungi nomer telpon Axel yang beberapa waktu lalu sempat menghubunginya sebelum Ia dirawat di Rumah Sakit.


Klik... Secepat kilat panggilan itu terjawab.


"Ha... Halo Azizah??"


Suara Axel terdengar gugup dari seberang telepon.


"Ya, Ini Aku... Bisa Kita ketemu?"


"Ap... Apa? Ketemu?"


Tanya Axel masih tergagap, suaranya terdengar lebih bersemangat.


"Ya, siang ini di Keong Racun Mall, jam 11"


"Kamu beneran mau ketemu Aku?"


Tanya Axel masih tidak percaya dengan pendengarannya.


"Iya mas, datanglah tepat waktu"


"Pasti.. pasti Aku datang tepat waktu"


"Terima kasih. Assalamualaikum"


Azizah segera mematikan panggilannya sepihak. Sebenarnya, Ia sungguh tidak ingin lagi berurusan dengan Axel. Tapi melihat banyaknya kejadian akhir-akhir ini, terutama pertengkaran antara Tamara dan Karina membuat Azizah merasa bersalah. Ia tak ingin orang-orang yang tidak ada hubungannya dengan permasalahannya dengan Axel ikut terlibat dan menyusahkan mereka semua.


Maka dari itu, Ia memutuskan untuk menyelesaikan sendiri. Semuanya.


Bersambung

__ADS_1


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❤️❤️🤩


__ADS_2