
PUKULAN BERAT
"Hahhhhh??????!!!!" Karina menjerit histeris seraya membekap mulutnya dengan kedua tangannya.
"Tidak Mungkin" Rheimon seketika menjadi lemas. Kakinya seolah berubah menjadi agar-agar...
Darren.... Darren....???
"Tidak!!! Anakku! Aku harus mencari Anakku...!!"
Karina mulai histeris dan nekat ingin memasuki bangunan tua yang ada dihadapannya itu. Namun Rheimon segera menahannya.
"Biar Aku dan polisi saja yang mencari Darren, Kamu harus mendampingi Rheina, Dia juga membutuhkan Kita..."
"Oh... Ya Tuhan... Cobaan apalagi yang Kau berikan pada keluarga Kami...."
Wanita itu menangis di pelukan suaminya, Ia merasa ujian untuk keluarga mereka tidak ada habisnya.
Tidak hanya anya Karina yang terpukul, Radit, Vani, Axel bahkan Nayla juga tak kalah terpukul menerima kenyataan ini.
Terutama Vano dan Radit, dinana mereka adalah yang terakhir kali bersama dengan Darren.
"Udah Mom, jangan nangis lagi. Darren nggak punya permen" Seru seseorang yang tak lain adalah Darren. Pemuda itu berjalan tertatih dengan senyuman lebar bertengger di bibirnya.
Semua orang menoleh kearahnya dengan berbagai ekspresi, ada yang kaget, ada yang bingung tapi yang jelas wajah lega mereka semua jelas tergambar secara nyata.
"Anak nakal!!! Kamu mau bikin Mommy jantungan! Huhh?? Bocah kurangajar!!!"
Karina memukul-mukul dada putranya seraya menangis. Tanpa menunggu lama, Darren memeluk Ibunya itu dengan penuh kasih. Selanjutnya Ia juga memeluk Ayahnya dan Kedua Sahabatnya. Termasuk juga Axel.
"Thanks"
Hanya itu yang terucap dari bibir Darren, dan ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Axel.
Sebenarnya Darren juga ingin memeluk Nayla, tapi Ia takut di gampar, jadi Dia mengurungkan niatnya.
"Maaf Pak, sebaiknya kita segera ke rumah sakit, keadaan kedua korban sepertinya semakin kritis"
"Astaga!!! Ya Tuhan kenapa kita bisa melupakan Rheina dan Abimana, Dad... "
"Ayo cepat, Kita ke rumah sakit yang paling terdekat dari sini"
"Baik..." Ucap salah seorang anggota kepolisian itu.
Mereka semua segera meluncur, Termasuk Darren yang tersenyum puas saat menoleh ke belakang.
'Lunas! Aku sudah membayar lunas semua kejahatanmu Tante Karissa'
***Flashback On***...
"***Kemarilah Kau sudah sangat tidak sabar untuk mati bersama Tante tercintamu ini***?"
***Ejek Karissa. Darren seketika berhenti melangkah***.
"***Aku tidak akan mati bersamamu***."
***Ucap Darren dengan mata membara***.
"***Benarkah***???"
"***Sudah kubilang, Aku yang akan membayar lunas semua penderitaan keluarga ku selama bertahun-tahun karena mu, perempuan iblis***!"
"***Ouh Aku takut sekali!! Hihihi***"
"***Tidak perlu takut, Kau yang mempersiapkan kematianmu sendiri, Aku hanya membantumu***"
__ADS_1
***Melihat tatapan Darren yang mengerikan, tiba-tiba Karissa merasa ngeri. Ini memang sudah Ia persiapkan tapi entah kenapa wajah pemuda yang tak lain adalah keponakannya itu membuatnya takut***.
"***Selamat Tinggal, Karissa Lyvia Khalid***"
***Darren terkekeh sebelum tubuhnya dengan ringan berlari ke arah Karissa. Bak harimau yang hendak menerkam mangsanya, Darren dengan mudah mendorong tubuh wanita itu yang sudah berada di ujung atap gedung itu***.
***Karissa hanya mampu melebarkan matanya bulat-bulat karena terkejut tak lama kemudian, Darren mengarahkan pistolnya ke tubuh Karissa yang melayang di hadapannya***..
***Syuuuuungggg... Duaaarrrr***...
***Tubuh Karissa meledak bersamaan dengan bom waktu yang menempel di tubuhnya, sementara Darren yang sudah berlari setelah meletupkan senjatanya juga terpental jauh hingga tertimpa puing-puing bangunan efek ledakan yang dahsyat itu***...
"***Uhuk! Uhuk! Uhuk***..."
***Suara seseorang yang tak lain adalah Darren yang tengah terbatuk. Ia tersenyum lebar kemudian berusaha untuk bangkit. Tubuhnya seperti remuk, terutama kakinya yang bisa di pastikan kini mengalami patah tulang itu, Ia berjalan terpincang-pincang, meninggalkan tempat itu, sekaligus meninggalkan dendamnya yang telah TERBAYAR***.
Flashback off
Di Rumah Sakit ...
Setelah menempuh perjalanan kilat yang memakan waktu hampir 30 menit, Akhirnya Azizah dan Abimana berhasil sampai di rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Keduanya sudah tidak sadarkan diri.
Jangan tanya perasaan Rheimon dan Karina. Kaki mereka bahkan seperti sudah menjadi bubur. Gemetar dan lemas
Darren juga segera mendapatkan penanganan karena kakinya yang terluka. Meski awalnya kakak kandung Azizah itu menolak keras, Namun setelah mendapat ancaman dari ibunya, pada akhirnya ia menurutinya.
Vano menawarkan diri untuk mendampingi Darren yang mendapatkan penanganan khusus dokter Orthopedi, sementara Azizah dan Abimana langsung di bawa ke ruang operasi setelah terlebih dahulu di periksa di IGD.
Menit demi menit berlalu...
Akhirnya Dokter yang menangani Abimana muncul terlebih dahulu.
"Keluarga pak Abimana Aryasatya Dharmawangsa"
"Kami pak"
Rheimon dan Karina segera berjalan menghampiri dokter tersebut, disusul oleh yang lainnya.
"Syukurlah operasi berjalan dengan lancar dan pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya, untungnya juga stok golongan darah beliau tersedia cukup banyak di Rumah Sakit ini"
"Syukurlah..."
Ucap mereka berbarengan.
"Pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat, untuk sementara hanya 2 orang yang diizinkan menunggu di dalam ruangan"
"Baik Dok...."
"Kalau begitu Saya permisi..."
Dokter tersebut undur diri dengan sopan dan ramah.
"Silahkan Dok, terima kasih banyak"
Ucap Rheimon dengan tulus.
"Sama-sama Pak"
Dokter itupun berlalu meninggalkan Rheimon dan Karina...
Kabar tentang Abimana membuat mereka lega. Namun disaat yang bersamaan Mereka masih dilanda kekhawatiran dan ketakutan tentang keadaan Azizah, Karena sampai detik ini Dokter dari dalam ruang operasi putri mereka itu belum juga muncul.
"Kenapa lama sekali Dad, Apa yang mereka lakukan didalam sana?"
Ucap Karina dengan wajah cemasnya. Wanita itu terus meremas jari jemarinya. Kebiasaannya jika tengah dilanda kecemasan.
"Tenanglah Sayang, daripada mengeluh seperti itu, lebih baik kita perbanyak do'a, semoga putri kita dan cucu kita baik-baik saja"
"Om benar Tante, sebaiknya kita berdoa untuk mba Azizah"
Timpal Nayla, Karina mengangguk. Mereka berdua benar, tidak ada gunanya mengeluh. Lebih baik Ia memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk keselamatan putri dan kedua cucunya yang masih dalam kandungan.
"Xel..."
Radit menatap Axel yang sedari tadi membisu seperti patung. Wajah pria itu lusuh sekaligus pucat. Radit bisa merasakan kecemasan yang amat dalam pada diri Axel. Ia sungguh prihatin melihat penderitaan sahabatnya itu akibat sebuah penyesalan dari masa lalu yang berbuntut panjang seperti ini.
"Kalau terjadi sesuatu dengan Azizah dan Anak-anak Gue, Gue juga bakalan mati Dit"
"Ssst... Ck! Ngomong apaan sih Loe!"
Radit kesal bukan kepalang mendengar ucapan ngawur dari sahabat karibnya itu.
Axel tidak menanggapi, tapi Atensi Pria itu segera berpindah saat melihat pergerakan dari arah ruang operasi mantan istrinya itu.
"Maaf, keluarga Nyonya Azizah Nur Aida?"
Axel ingin maju, tapi urung saat melihat Rheimon lebih dulu menghadap Dokter tersebut sambil mengatakan,
"Kami orang tuanya..."
"Mm... Baik, maaf sebaiknya saya bicara dengan Bapak terlebih dahulu..."
"Ada apa Dokter??? Saya ibunya, Saya berhak tahu!!"
Ucap Karina dengan marah.
__ADS_1
"Saya mengerti Bu, tapi sebaiknya Bapak terlebih dahulu yang mendengar informasi dari saya, Saya harap Ibu memahami keputusan Saya"
"Baik Dok, baik Dok... Saya yang akan berbicara dengan Anda, Istri Saya tetap disini"
Ucap Rheimon seraya menganggukkan kepalanya kearah Karina, mencoba meyakinkan istrinya itu agar menuruti ucapan sang Dokter.
Rheimon dan Dokter itu pun menuju ke ruangan yang tak lain adalah ruang kerja dokter itu.
"Jadi... Begini pak, Saya ingin menyampaikan kabar baik dan sekaligus kabar buruk..."
"Apa itu dokter??"
"Bayi nyonya Azizah...."
Rheimon dengan lemah kembali ke tempat dimana Karina dan yang lain menunggunya...
Karina yang sejak tadi mondar-mandir dengan sangat gelisah segera menghambur ke arah Suaminya...
"Bagaimana? Apa yang dokter katakan? Semuanya baik-baik saja bukan???"
Karina mencecar Rheimon dengan pertanyaan bertubi-tubi, namun suaminya itu malah menunduk dalam.
"Rheimon!!!!"
Jerit Karina yang tiba-tiba merasakan bahwa suaminya membawa berita buruk...
Rheimon mengedarkan pandangannya pada Karina, Nayla, Radit dan terakhir pada Axel. Tatapan Rheimon itu membuat mantan suami Azizah berdebar kencang.
'*Apapun itu, asal Azizah dan anak-anakku selamat Ya Tuhan*' Axel tiba-tiba membatin.
"Dokter bilang...."
Rheimon mulai bersuara...
Karina mengangguk dengan tidak sabar... Ia mencengkeram erat kedua lengan Suaminya.
"Cucu Kita... tidak bisa di selamatkan...."
"Hhhhhha... Ap- apa??? Apaaa? Rheimon jangan bercanda!!! Jangan bicara omong kosong! Apa yang Kau katakan huhuhuhu!!!"
Rheimon segera memeluk Karina yang hampir luruh ke lantai, sementara Nayla seketika terduduk di kursi tunggu. Pandangan matanya menjadi kosong.
'*Mba Zizah, nanti Si kembar mau dikasih nama siapa? Kan cowok cewek tuh... Yanto-Yanti, Agus sama Agustina atauu*...'
'*Ya Allah Nayla... Nggak ada yang lebih bagus gitu... Huuuh*'
'*Hahhaha canda mba... Elahhh*'
Tiba-tiba kenangan obrolan itu melintas di kepala Nayla...
"Ya Allah mba Zizah..."
Rheimon terus menatap ke arah Axel yang sudah seperti mayat.
Tentu saja, Apa yang didengar Axel barusan seperti petir yang menyambar tubuhnya, seperti pedang yang menusuk jantungnya. rasanya sakit. Sangat sakit.
Dua kali... Dua kali Ia tidak bisa melakukan apa-apa saat anaknya celaka, Dua kali.. Dua Kali...
Pria itu jatuh terduduk di lantai. Radit mencoba memeluk Axel, mencoba memberi kekuatan, Ia tahu sahabatnya itu sedang hancur...
'*Kenapa? Kenapa semuanya jadi seperti ini Tuhan? Apa Aku, Aku benar-benar tidak layak diberi kesempatan sampai harus kehilangan Anakku lagi??? Kenapa Tuhan*???'
Batin Axel menjerit meski mulutnya terkunci dan tatapan matanya kosong seperti raga yang telah ditinggalkan jiwanya.
BERSAMBUNG
__ADS_1
MARI BERPRASANGKA BAIK TERHADAPKU HEHEHE