Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
EMOSI DARREN


__ADS_3

"Jangan ikut campur! ini bukan urusan Anda"


Desis Axel tajam dengan tatapan membunuh.


"Apapun yang berhubungan dengan Azizah adalah urusan Saya. jadi, lepaskan!"


Balas Abimana tak kalah tajam.


"Nggak"


"Lepas!"


Bukkk!!!


Axel melayangkan tinjunya tepat di bibir Abimana hingga terjerembab, cairan merah mengalir dari sudut bibirnya.


"Aaaakh!!" Nayla dan Azizah memekik keras dengan wajah panik.


"Mas Axel stop!!! udah cukup!!"


Axel menoleh ke arah Azizah yang kembali memanggilnya "Mas".


Namun tanpa aba-aba Abimana membalas pukulan Axel dengan sama kerasnya. Hingga Axel hampir tersungkur.


"Brengsek!"


Kedua Pria yang sama-sama dihantam badai emosi itu terlibat perkelahian dan saling adu pukul.


"Ya Allah... Nay gimana ini"


"Aduh... Aku nggak tahu mba... Aku telepon pak Dirut aja ya mba"


"Iya udah nay, cepetan!"


Nayla segera meraih ponselnya kemudian mendial nomor telepon Darren.


"Stoop!!! Ya Allah, udah mas udaah.... jangan berantem disini!!"


Azizah berusaha berteriak sekeras mungkin, namun Axel dan Abimana masih asyik baku hantam di depannya.


"Mas udaahhh stoo... Auuuhhh!!!"


Tiba-tiba Azizah mengaduh kesakitan seraya memegangi perutnya. Ia merasakan keram yang hebat.


"Aduhhh... Nay!!!"


"Ya Allah mba... mba kenapa???"


Axel dan Abimana seketika menoleh, melihat Azizah yang tiba-tiba membungkuk kesakitan memegangi perutnya, membuat kedua pria itu sama-sama panik dan berlari ke arah wanita itu berbarengan.


"Azizah! Ucap Abimana dan Axel serempak.


"Aduuh... sakittt!" Azizah menggigit bibirnya kuat-kuat, Ia merasa sangat nyeri di perut bagian bawahnya.


"Kita ke rumah sakit!"


Lagi-lagi Axel dan Abimana mengucapkan kata yang sama. Apakah mereka berjodoh? 🀣


"Iya kita ke rumah sakit aja! kasian mba Azizahnya"


Respon Nayla dengan cepat seraya merengkuh kedua pundak Azizah.


"Oke, pake mobil saya saja Nay"


Ucap Abimana


"Mobil Aku aja"


Axel membantah.


"Mobil Saya aja Nay"


Kekeuh Abimana


"Mobil..."


"Udah Cukup!!! Kita cari taksi aja Nay!!"


Sentak Azizah keras sebelum Axel dan Abimana kembali berseteru.


"Oke fine. Pake mobil Anda saja"

__ADS_1


ucap Abimana seraya menunjuk kendaraan roda empat berwarna hitam milik Axel yang terparkir tidak jauh dari mereka.


"Ya udah, Ayo cepetan"


Nayla sengaja menuntun Azizah secara posesif agar kedua pejantan itu tidak kembali bertengkar karena berebut untuk memapah Azizah.


Kemudian Nayla membimbing Azizah untuk duduk di bangku belakang. Biarlah Abimana dan Axel di depan.


"Cepetan dong! malah pada bengong!!!"


Seru Nayla dengan raut wajah yang galak membuat kedua pria itu sontak gelagapan dan segera memasuki mobil.


Wusshhh... Mobil melaju dengan cepat menuju rumah sakit.


"Aduh.... Ibu... sakit...."


Azizah kembali mengaduh seraya memegang erat perutnya. Keringat dingin membasahi seluruh wajahnya. bahkan bajunya ikut basah.


Axel dan Abimana sama-sama menengok ke belakang. Wajah pria-pria itu menyiratkan kekhawatiran yang dalam terutama Axel.


Dulu Ia pernah terlibat mencelakai bayinya sendiri. sekarang, jika terjadi apa-apa pada bayinya lagi maka Ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Ibu... Sakit Bu..." Azizah memejamkan matanya rapat-rapat, tubuhnya bergerak gelisah.


"Mba.... sabar ya mba... huhu"


Nayla memeluk Azizah seraya menangis. Jujur Ia sangat ketakutan sekarang.


"Sakit banget Nay... aduh..." Ucap Azizah, Ia juga menangis. Ia juga di serang rasa takut akan terjadi sesuatu pada kedua bayinya.


Ditengah ketegangan itu, tiba-tiba gawai Nayla berbunyi.


"Halo Pak Dirut"


"Dimana Kamu sama Azizah sekarang?"


Tanya Darren dari seberang telepon.


"Kita di perjalanan menuju rumah sakit Pak, tiba-tiba mba Azizah perutnya sakitt huhuhu"


Jawab Nayla yang kemudian menangis sesenggukan.


"Iya pah, Rumah Sakit Mahmudah"


"Oke!"


Tut. Panggilan berakhir. Begitu juga dengan laju mobil yang kini sudah berada di depan instalasi Gawat darurat Rumah Sakit swasta itu.


"Ayo mba kita turun.. Mba Zizah bisa jalan nggak?"


Tanya Nayla khawatir.


Azizah mengangguk, Meski sangat sakit tapi Ia yakin masih bisa berjalan sendiri.


Sementara Dua pria itu sudah turun terlebih dahulu, Abimana membukakan pintu, sementara Axel berlari kedalam rumah sakit yang tak terlalu besar itu untuk memanggil petugas kesehatan.


"Pelan-pelan mba..."


"Iya Nay... Aduh Nay... sakit banget hiks hiks"


"Iyaa mba sabar ya... kita udah sampai kok"


Tepat saat Azizah baru keluar dari mobil, Axel datang dengan dua orang perawat pria yang membawa brangkar.


"Ayo Zizah Aku bantu


Abimana dengan sigap membopong tubuh Azizah dan meletakkannya di atas brangkar pasien.


Azizah tidak merespon karena sudah hampir kehilangan kesadaran.


Sementara Axel mengepalkan tangannya kuat-kuat, menahan emosi.


'Berani-beraninya Dia!' Batin Axel meledak menyaksikan pemandangan barusan.


Tanpa Axel sadari bahwa Nayla sejak tadi memperhatikannya. Sejujurnya Nayla kasihan pada Axel, tapi mengingat semua cerita Azizah selama menikah dengan pria tampan yang menjulang tinggi di hadapannya kini, Nayla bisa mengerti mengapa Azizah menolak dan begitu takut pada Axel.


"Pak... Ayo masuk, Mba Azizahnya udah di bawa ke dalam" Ucap Nayla seraya menutul-nutul lengan Axel yang kini masih mematung.


"Hmn?"


Axel sedikit tersentak saat ada seseorang menegurnya.

__ADS_1


"Ayo masuk, mba Azizahnya udah dibawa kedalam"


Ulang Nayla seraya mengulas senyum tipis.


"Oh... Thanks... Kamu..."


"Saya Nayla, teman kerjanya mba Zizah sekaligus tetangganya. Rumah kami cuma beda gang"


"Thanks Nayla"


Ucap Axel pada gadis yang bisa di tebak masih berusia dua puluhan itu.


"Sama-sama Pak"


Nayla kemudian berjalan mendahului Axel, menyusul Abimana dan Azizah yang sudah jauh masuk ke dalam rumah sakit itu, Sementara Axel mengekor di belakang Nayla dengan pikiran tidak karuan.


'Ya Tuhan, tolonglah, semoga Azizah dan bayiku baik-baik saja'


Batin Axel berdoa dengan penuh harap


"Pak Abi..."


Nayla menghampiri Abimana yang kini tengah duduk di kursi tunggu didepan ruang IGD.


"Nay... Dokter baru saja masuk untuk memeriksa Azizah"


"Alhamdulillah, semoga semuanya baik-baik saja ya Pak"


"Aamiin" Ucap Abimana. Ia kemudian melirik sinis ke arah Axel. Axel yang merasa sedang di pelototi pun membalasnya tak kalah tajam.


"Udah jangan ribut dulu. Inget ya kalian para bapak-bapak, mba Azizah begini gara-gara Kalian. Inget umur dong, udah pada bangkotan masa berkelahi kaya anak SD, malu dong sama brewoknya"


Ucap Nayla menceramahi kedua Pria yang jauh lebih dewasa daripada dirinya itu. Persis Ibu Guru yang sedang memarahi murid-muridnya.


Axel dan Abimana hanya saling membuang wajah. Mereka masih saling emosi satu sama lain.


Tak lama kemudian, Seseorang berlari ke arah mereka.


"Pak Dirut?"


Ucap Nayla yang kebetulan sudah melihat Darren dari kejauhan.


Axel dan Abimana secara impulsif ikut menoleh ke arah belakang mereka.


"Darren?" Axel terkejut bukan main.


Kenapa Darren bisa ada disini?? batinnya.


Radit memang belum menceritakan tentang Darren yang membantu menyembunyikan Azizah, bagaimanapun mereka adalah sahabat meski Darren tak mau lagi mengakuinya. Tapi Radit juga tidak ingin menambahkan bara ditengah kobaran api yang terjadi diantara Axel dan Darren.


Belum sempat bereaksi lebih Jauh, Darren tiba-tiba mencengkeram kuat kerah baju Axel.


"Bajingan! belum puas juga Low nyakitin Azizah, Hmn??"


Emosi Darren sudah mencapai ubun-ubun sejak mendengar Azizah di larikan kerumah sakit karena Axel dan Abimana berkelahi.


"Loe ngapain disini?" Desis Axel tajam.


"Bukan urusan Loe. Yang jelas Gue minta loe jauhin Azizah, karena loe cuma bikin Dia tambah menderita"


Rahang Axel mengeras hingga giginya bergemelatuk mendengar ucapan Darren.


Saat Axel ingin membalas ucapan itu, tiba-tiba pintu ruangan tempat Azizah mendapatkan penanganan terbuka,


"Ada suami dari Ibu Azizah?"


"Saya" Jawab ketiga pria yang tak lain adalah Darren, Abimana dan Axel secara bersamaan. Membuat wanita yang berprofesi sebagai dokter bersama dengan Asistennya menganga lebar.


'Warbiasah, suaminya ada tiga??? benar-benar suhu' Batin Bu dokter itu dan mungkin asistennya pun membatin seperti ituh.


Sementara Nayla, jangan tanya lagi. Rasanya Ia ingin pingsan saking kagetnya.


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman semoga terhibur dan cerita gaje ini dapat dipahami ya ☺️❀️❀️❀️


Maaf bagi yang kecewa dengan jalan ceritanya, boleh di skip dan semoga menemukan bacaan lain yang pastinya lebih bagus. Aku masih belajar dan benar-benar amatir, jadi harap dimaklumi yaa...


semoga yang masih setia baca, di lancarkan rezekinya, dimudahkan segala urusannya. Aamiin


luv πŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ’žπŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2