
Darren berjalan mondar-mandir di kamar apartemennya. Ia sungguh tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Azizah dan juga.. Kakek Adhitama.
"Arrrrgh Brengsek" Darren menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi. Harusnya Ia tidak sebodoh itu percaya begitu saja pada Radit.
Ia terlalu percaya diri ternyata. Radit dan dirinya memiliki kelicikan yang sama. Harusnya Setelah kejadian hari itu saat Radit melihat Azizah, Ia lebih berhati-hati.
Tapi, Nasi sudah menjadi bubur. Menyayangkan semuanya pun sudah terlambat.
Sejurus kemudian, Darren memutuskan untuk tidak memberitahu Azizah. Wanita itu sedang hamil dan Ia khawatir jika Azizah tahu bahwa Axel mungkin sudah mengetahui keberadaannya, Darren yakin Azizah pasti akan sangat terkejut dan bisa jadi stress. Dan mungkin akan berpengaruh pada kesehatan bayinya juga. Darren tidak ingin itu terjadi.
Pria yang kini hanya bertelanjang dada itu lalu menghubungi Adhitama. Seperti dugaannya, Adhitama terdengar sangat terkejut mendengar informasi yang disampaikan olehnya.
"Semuanya sudah terlanjur Kek, tapi Kakek tenang saja, meskipun nanti Axel berhasil menemukan tempat tinggal Azizah sekarang, Aku tidak akan membiarkan Axel mengganggu Azizah Kek"
"Baiklah nak, Kakek percaya padamu. Sejujurnya, Kakek kasihan pada Axel, tapi apa yang sudah dilakukannya sungguh kelewat batas, Kakek tidak mau Azizah harus jatuh ke lubang yang sama, karena Kakek sendiri belum sepenuhnya percaya kalau Axel benar-benar tulus dalam waktu secepat itu"
"Kakek benar. Tenang saja Kek, Darren yang akan menjaga dan melindungi Azizah. Anggap saja ini janji seorang kakak"
Deg...
Kedua orang yang sedang bercakap di telepon itu sama-sama terdiam. Kata-kata Darren biasa saja tapi seperti ada sesuatu makna yang berat di dalamnya.
Sementara Di sisi lain...
Axel yang sudah mendarat di Surabaya sejak jam 23.00, kini tengah bersama Radit, Di depan sebuah tempat yang Radit yakini ada Azizah didalamnya. Rumah Bibi Ani.
"Gue udah cari tahu dan memastikan, selama ini Azizah tinggal disini sama Bibinya, namanya Ani. Cuma identitas Ani ini masih buram. Menurut informan Gue, Bu Ani ini masih adik sepupu Ayahnya Azizah. Tapi Gue udah telusuri silsilah keluarganya nggak sama sekali ada hubungan sama keluarga Azizah"
Ucap Radit dengan gamblang.
"Jadi, Maksud Loe?"
Tanya Axel dengan kening berkerut.
"Sepertinya Bu Ani emang suruhan seseorang buat pura-pura jadi Saudara dari Ayahnya Azizah. Sorry nih Xel, tapi Gue rasa ini ada hubungannya sama Kakek Loe"
Mendengar pernyataan Sahabatnya, Axel hanya menghela nafas berat. Jika dulu Kakeknya mati-matian menyatukannya dengan Azizah. Kini Kakeknya mati-matian untuk menjauhkannya dari mantan istrinya itu.
"Terus rencana Loe apa selanjutnya?"
"Belum tahu Dit, tapi... Gue belum berani ketemu sama Azizah"
"What?? Terus gunanya Loe kesini buat apa?"
Tanya Radit dengan kesal.
"Mungkin sementara waktu Gue cukup melihatnya dari kejauhan"
Jawab Axel seraya menyandarkan kepalanya disandaran Jok mobilnya.
"Elah... Kayak di sinetron Loe sumpah. Tinggal temuin aja terus ajak balikan. Gue yakin Azizah masih ada rasa sama Loe walaupun nggak sebesar dulu"
Sahut Radit dengan entengnya yang seketika membuat Axel berdecak pelan.
"Loe pikir segampang itu Dit? apa yang udah Gue lakuin ke Azizah itu tingkatannya udah parah. keterlaluan. Gimana bisa dengan mudahnya Dia mau balikan sama Gue? Nggak se-simple itu Bro!"
"Ya terus gimana? lambat dikit Loe bakal kesalip sama Abimana. Gue jamin. Liat aja nanti"
"Loe kok malah doain Gue kaya gitu, bukannya doain yang baik-baik"
Sungut Axel sebal.
"Ya abisnya Loe gitu sih. Lamban"
"Gue butuh waktu buat ngumpulin keberanian Gue. Gue pasti akan menemui Azizah, Tapi nggak sekarang"
"Ya udah terserah Loe deh. Terus Kita mau nungguin Dia disini?"
"Hmn"
"Okelah, Hari ini Azizah masuk Shift pagi, berarti kita masih punya waktu 2 jam ke depan"
Yup, Axel dan Radit sudah mengintai rumah Bibi Ani bahkan dari jam 4 pagi. Sungguh niat sekali yah bestieeeh.
Akhirnya setelah menunggu 1 jam lebih, ada pergerakan dari rumah Bibi Ani. Dua orang wanita dengan seragam soft blue nampak keluar dari rumah sederhana yang dihiasi banyak bunga itu.
Salah Satunya adalah wanita yang selama ini Axel cari, Axel rindukan dan Axel ucapkan ribuan maaf di setiap harinya.
Jantungnya berdebar-debar, bahagia jelas, tapi lebih dominan rasa sedihnya, karena wanita itu bukan lagi miliknya. Senyumnya sedikit mengembang saat Azizah terlihat mengelus lembut perutnya kemudian berbicara sesuatu seolah sedang mengobrol dengan bayi di dalam sana.
__ADS_1
'Andai saja....' Bathin Axel kembali di serang sebuah rasa yang di sebut penyesalan. Matanya mengembun, rasa perih dan sesak memenuhi hatinya.
Ada perasaan ingin turun dan memeluk Azizah tapi rasa malunya mengalahkan keinginannya itu. Ia cukup sadar diri jika mungkin Azizah kini sangat membencinya.
Belumlah sadar dari keterkejutannya, Nampak ada sebuah motor Yamaha grand zaman old dengan seorang pria yang memakai helm batok kelapa menghampiri kedua wanita itu. Apa itu Abimana?
***
preketekteketekkk (Bunyinya emang gitu shayy dilarang protes ๐คฃ๐คฃ)
"Assalamualaikuuuum..." Ucap Abimana dengan penuh semangat, persis tukang roti keliling.
"Waalaikumsalam..." Jawab Bibi Ani dan Azizah kompak.
"Ya udah Nduk, Bibi duluan aja ya"
"Mmmm, Iya Bi, Maaf ya bi..."
"Ck... Nggak apa-apa... Mari Nak Abi, Bibi duluan"
"Oh ya Bi, makasih ya Bi..."
Ucap Abimana yang disambut senyum lebar oleh BI Ani. Wanita berusia 45 tahun itu kemudian berlalu dari sana, meninggalkan kedua pasangan itu.
"Makasih buat apa mas?"
"Makasih lah, udah pengertian, jadi kan aku bisa berduaan sama Kamu"
"Idih... pagi-pagi pikirannya udah eror..."
Ucap Azizah seraya menggelengkan kepalanya pelan. Sementara Abimana hanya terkekeh geli. Ia sendiri tak mengerti kenapa sekarang ini Ia merasa seperti remaja gila.
"Aduhhhh aduh..."
Abimana tiba-tiba berseru seraya mengucek kedua matanya, membuat Azizah sedikit terkejut.
"Eh kenapa mas??" Tanya Azizah dengan ekspresi khawatir.
"Aduh mataku silau! Karena kecantikan kamu bertambah hari ini!!"
"Astaghfirullah!!!"
Azizah memukul keras lengan Abimana yang mengenakan jaket hitam.
"Dih Kamu kayaknya mulai gila mas...."
"Iya kan Aku tergila-gila sama kamu Hahahaha"
"Ya Allah ya Rabbi... Udah ah Aku berangkat sendiri aja kalo gitu!"
"Diiih, kaya gitu aja ngambek... Jangan ngambek dong nanti tambah gemoy!!"
"Amit-amit mas, Kamu kenapa sih mas Abi, jadi alay begini??"
"Hahahaha si Malik nih ngajarinnya begini!"
"Malik??"
"Oh... itu... teman kerja Aku"
"Oooh... Ya udah, jadi nganterin enggak?"
"Jadi lah, Udah siap-siap dari jam 2 malam masa nggak jadi!"
"Hihihi Kamu siap-siap jam segitu mau jemput Aku atau mau ngepet mas?"
"Hahahaha, oh gimana kalo kita ngepet berdua? kalo dapet banyak kan bisa buat nikah, eaaakk"
"Ya Allah sumpah mas Abi, Aku geli banget kamu jadi begini...."
"Sekali-kali Zizah, Jangan serius terus nanti cepet mati"
"Hehehe iya sih"
Abimana pun mulai melajukan motornya dengan Azizah membonceng di belakangnya.
Pemandangan indah kedua pasangan itu tanpa sadar telah menghancurkan hati seseorang yang sedari tadi memperhatikan keduanya tanpa jeda sedikitpun.
"Xel, Are you Okay?"
__ADS_1
"Ikuti mereka"
"No way, Love bakalan lebih sakit lagi, mendingan nggak usah"
"Gue bilang ikutin mereka"
"Are you sure?"
Axel hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Radit.
"Oke..."
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di pabrik tempat Azizah bekerja.
"Makasih ya mas..."
"sama-sama, Ya udah sana masuk"
"Hmn... Assalamualaikum, Dah..."
"Dah...."
Baru beberapa langkah, Azizah berhenti, Ia melupakan sesuatu.
"Mas Abi!"
Panggil Azizah, membuat Abimana yang hendak menaiki kembali motornya menoleh ke arah wanita hamil itu.
"Aku lupa, tadi pagi Aku masak banyak. Ini buat Kamu sama Tasya, Aku bikin 2 lunch box, Biar hemat jadi Kamu nggak usah beli makan siang"
Ucap Azizah seraya tersenyum lebar. Abimana speechless. Ia memandangi Dua box makan siang itu dengan penuh haru (Dih babang brewok sekarang lebay banget dah! ๐คฃ).
"Mas? dih malah bengong"
"Oh, Ya! Zizah sorry, Aku terharu"
"Apa sih... udah, nih ambil, jangan lupa bawain buat Tasya juga ya"
"Oke, Makasih ya..." Ucap Abimana yang masih sulit berkata-kata saking Senangnya dibuatkan makan siang oleh Azizah.
"Sama-sama, Ya udah Aku masuk dulu, daah..."
Azizah berlalu dari sana dengan Abimana yang masih melongo seraya tersenyum lebar.
Sejurus kemudian,
"Uhuuuuyyyy!!! Yes!! Oh my God. Aku dibikinin makan siang sama Azizah!!! Yuhuuu!!!"
Pria itu melompat gembira, kemudian menciumi lunch box itu berkali-kali bahkan memeluknya.
"Aku akan menjaga kamu dengan sepenuh jiwa dan raga. Aku harus hati-hati naroh kamu, jangan sampai lecet"
Ucap Abimana, seolah-olah itu adalah harta karun yang sangat berharga.
Setelah menggantungkan lunch bok itu di bagian depan motornya dengan sangat hati-hati, Abimana melaju pergi dari sana.
Lagi-lagi pemandangan menyakitkan itu disaksikan oleh Axel.
Mata pria itu memerah. Membuat Radit yang ada di sampingnya ikut sakit.
Melihat betapa bahagianya Abimana mendapatkan makanan itu, Axel jadi teringat masa lalunya dengan Azizah, Pria itu selalu memaki jika Azizah membawakannya kotak makan siang.
"Nggak usah sok baik! Gue nggak biasa makan makanan sampah!"
Jikapun terpaksa Ia harus membawa makanan pemberian Azizah karena paksaan Kakeknya, Maka Axel akan membuangnya di tengah jalan atau memberikannya pada siapapun yang kebetulan ia temui di jalan.
"Ambil ini, makanan ini nggak akan cocok di perut saya"
Begitu salah satu ucapannya saat memberikan bekal itu pada security di kantor pusat Djaja Group.
Dan sekarang Axel sungguh menyesalinya. Jika bisa mengulang waktu maka Ia akan memakan makanan itu dengan penuh kebahagiaan.
"Maafkan Aku Zizah...."
Gumam Axel seraya memejamkan matanya yang terasa perih.
Bersambung....
Terima kasih atas kunjungannya teman-teman
__ADS_1
Mohon maaf belum bisa double up ya soalnya waktu Aku akhir-akhir ini sangat terkuras. Apalagi semenjak anak majikanku (momonganku) udah download game di hapeku, Aku seolah bukan pemilik hape ini lagi. dimainin dia terus huhu, umurnya 8 tahun, cowok, jadi emang bandel gitu... harap maklum ya kalo upload cuma 1 episode tiap harinya ๐๐๐๐นโค๏ธ
Luv banyak-banyaaaak โค๏ธ๐น๐คฉ