Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
PERTARUNGAN SENGIT


__ADS_3

Masih flashback on.


"Apaan tuh?"


Radit mendekati benda yang tersembunyi di balik meja usang di hadapannya.


"My God.... Bom!!"


Hampir melompat keluar bola matanya saat melihat bom waktu yang aktif ada di hadapannya.


Radit baru saja akan mengatakannya pada ketiga temannya sampai Ia sadar di tempatnya berpijak kini hanya tersisa dirinya seorang, Merana sendirian.


"Emang yah itu tiga tiang listrik kagak ada perasaan banget, tega bener Gue di tinggalin bertaruh nyawa sendirian"


Radit mendengus sebal. Memang benar kata pepatah, tidak ada teman yang bisa diandalkan saat kita sedang dalam keadaan mblangsak.


"Untung Gue penggemar film Akang Shahrukh Khan, makanya jago jinakkan bom, coba kalo nge-fans sama Pak Haji Rhoma, jagonya metik gitar asmara nggak Gue?"


Radit terus ngedumel seraya mulai mempelajari rakitan kabel warna warni bom tersebut. Saat sedang fokus mengotak-atik dengan penuh kehati-hatian dan perhitungan yang matang, Pria itu merasakan sesuatu menempel di kepalanya.


"Angkat tangan"


'Nah lho!' Radit membatin.


Pria itu perlahan menoleh ke belakang.


"Eh... Ada Om botak!"


Ucap pria ganteng sekaligus imut itu dengan cengiran kudanya.


Flashback off


"Hahahaha, Aduh Tante... Tante... Makanya kalau nyewa orang tuh yang nyalinya setebal harapan orang tua. Jangan yang mentalnya tempe, kena gertak pistol kosong aja udah terkencing-kencing, ember pula! Nggak bisa jaga rahasia, Kan saya jadi tahu dimana semua bombay nya"


Pemuda itu kembali terkekeh, Darren, Abimana dan Axel ikut tersenyum lebar sekaligus bangga, ternyata manusia prik satu itu ada gunanya juga.


Sementara Azizah tetap terlihat tegang, bagaimanapun selama mereka masih di tempat ini maka selama itulah bahaya masih mengintai mereka.


Karissa sudah tidak tahan lagi, Ia merasa dipermainkan. Tak lama kemudian Perempuan itu bertepuk tangan beberapa kali.


"Saatnya pertunjukan dimulai para bedebah! Kalian semua akan mati mengenaskan!!!"


Tuk tuk tuk....


Suara langkah kaki yang nyaring mulai terdengar bermunculan, bukan hanya satu atau dua orang, jumlahnya lebih banyak dari yang mereka hadapi sebelumnya. Sungguh mengejutkan, mereka lebih dari.... 50 orang?"


"Buset... Gue lagi maen film action apa pegimane nih?"


Radit berceloteh meskipun dalam hatinya sama sekali tidak takut. Ayolah, Dia dan ketiga sahabatnya (Axel, Darren, Vano) adalah petarung hebat, mereka bahkan belajar menjadi agent khusus. Tidak tahu kalau tentang Abimana Aryasatya Dharmawangsa itu.


Jadi, 50 orang... Entenglah, asal tanpa senjata.


Tapi kenyataannya, mereka semua bersenjata.


"Xel, Dit, dan Anda... Bapak Abimana, Azizah juga... Maap nih, Kalian punya pesan terakhir nggak sebelum Kita semua bertemu Yang Maha Kuasa?"


"Loe mending diem Dit, Daripada Loe duluan yang Gue bunuh" Ucap Axel berang bukan main. Disaat-saat begini sahabatnya itu masih sempat-sempatnya bicara omong kosong.


Radit langsung mode mengheningkan cipta begitu mendengar ucapan Axel.

__ADS_1


"Abi, Loe mundur aja, bawa Azizah pergi dari sini Gerombolan Coro itu biar Gue, Radit sama Axel yang habisin"


Abimana mengangguk, Ia bisa menyusul untuk membantu, yang terpenting Azizah bisa selamat terlebih dahulu.


"Kak..."


Azizah menggenggam erat pergelangan tangan Kakaknya, Darren. Wajahnya mengisyaratkan bahwa Ia tak ingin pergi meninggalkan ketiga pria itu hanya supaya dirinya selamat.


"Rheina dengerin Kakak, Semuanya akan baik-baik saja, Percaya sama Kakak"


Azizah masih terdiam, tapi kemudian berfikir , Jikapun Ia disini bukankah malah akan menyusahkan Kakaknya?


"Inget, Kakak masih mau ketemu keponakan-keponakan Kakak ini!"


Ucap Darren tersenyum lebar, Azizah juga tersenyum dengan air matanya yang ikut mengalir. Wanita itu mengangguk cepat, kemudian dengan sigap Abimana memapahnya pergi dari sana.


Sedetik kemudian, Tatapan Azizah bertemu dengan Tatapan elang Axel, mantan suaminya. Tiba-tiba wanita itu reflek berkata,


"Hati-hati Mas"


Azizah kemudian berlalu, Sementara Axel yang mendengar ucapan itu seperti baru saja mendapat siraman air hujan ditengah padang pasir yang panas dan tandus, terasa sejuk dan indah sekali meski hanya mendengar tiga kata sederhana itu.


"Ooouh, Sayang sekali tidak semudah itu Kau membawanya pergi. Kalian jangan diam saja. Habisi bedebah-bedebah itu!!"


Syuuuuung darrrr!!


Bunyi tembakan menggema,


Axel, Radit, Darren melompat sembarangan berlindung dibalik dinding dari serangan orang-orangnya Karissa.


Begitu juga dengan Abimana dan Azizah. Pria itu berusaha semaksimal mungkin agar bisa membawa pergi Azizah dari ruangan itu dan keluar dari tempat ini.


Sementara baku tembak masih ramai terdengar.


Umpat Radit.


"Ren, peluru Loe masih penuh?"


Tanya Radit pada Darren yang bersembunyi tepat di hadapannya.


Sayangnya Darren menggeleng cepat.


"Hemmm, mampus udah Gue"


Ucap Radit Frustasi.Tiba-tiba Handphone miliknya berdering. Vano!!!


Tanpa pikir panjang, jemarinya dengan lincah menggeser layar Handphone itu dan menjawab panggilan dari sahabatnya yang membawa harapan hidupnya kembali.


"Dit nggak usah takut, Gue sama Om Rheimon udah di bawah, Kita mau naik ke atas"


"Bagus Van, Kita udah kehabisan peluru"


"Oke Loe tunggu disana, sebisa mungkin jangan sampai ada yang terluka"


"Okay Okay, tapi Loe cepetan dong! Keburu otak guwe yang encer ini ketempelan peluru!"


"Bentar lagi bangsat! Elahhh kagak sabaran banget Loe pikir ini demo bisa sembarangan nimbrung"


"Kalo sabar terus keburu wassalam Gue"

__ADS_1


Vano enggan menanggapi ocehan sahabatnya itu, dengan cepat Vano mengakhiri panggilannya.


"Siap Nak?"


Tanya Rheimon dengan pistol yang sangat berkelas di tangannya.


"Banget Om, tapi.. Om yakin mau ikut keatas? Biar Vano aja Om sama orang-orang Kita"


"Enggak bisa Van, Om harus ikut. Dulu Om nggak bisa berbuat apa-apa waktu Rheina dan Darren dalam bahaya di tangan orang yang sama. Kali ini Om harus bertindak untuk menyelamatkan anak-anak Om"


"Hmn, Oke Om, Vano ngerti... Ayok!"


"OK Go!"


Kedua pria itu dengan anak buahnya beserta anak buah Radit dan Axel dengan tangkas menyebar seperti pasukan perang khusus, lincah dan gesit. Bisa berpindah tempat dengan sangat cepat seperti bayangan. Benar-benar terlatih dengan sempurna.


"Arrrrgh!???!??" teriakan yang nyaring mencuri atensi Darren, Radit dan Axel serta Abimana yang sama-sama sedang berlindung secara terpencar di balik dinding.


Sementara itu, Karissa yang merasa ada yang tidak beres, kini menjadi lebih agresif.


"Cepat, bereskan Mereka semua. Jangan lamban!! Aku membayar mahal Kalian bukan untuk bersantai"


Hardik Karissa pada orang-orangnya.


Bak kerbau di cucuk hidungnya, Mereka dengan patuh bergerak cepat berpencar ke segala penjuru untuk menyerang kelompok Darren.


Tentu saja Darren dan yang lainnya menegang, mengingat mereka tidak memiliki cukup amunisi saat ini.


Syuuung Dorrrr!!!


Orang-orang itu secara keroyokan terus melancarkan tembakan tanpa henti. Sebisa mungkin Darren yang lainnya berusaha melindungi diri mereka agar tidak terhindar dari serangan itu.


"Gimana ini mas?"


Ucap Azizah dengan suara bergetar. Jantungnya berpacu dengan cepat. Setiap mendengar suara letusan peluru Ia menutup telinganya rapat-rapat.


"Kita berdo'a Zizah, semoga Kita semua dilindungi oleh Allah SWT"


Abimana mencoba menenangkan hati wanitanya itu. Azizah hanya mengangguk lemah dan kembali menenggelamkan dirinya disudut dinding tempatnya berlindung kini.


Abimana melihat Senjaya, Ia berfikir Ia pistolnya masih terisi penuh. Pria itu melihat beberapa orang-orang Karissa tak jauh dari tempatnya kini. Ia pun membidik dan...


Snapppp!!!


"Arrrrgh!!!" Salah satu dari mereka memekik keras dan tumbang kemudian.


Tak lama, Salah seorang dari mereka membalas serangan Abimana, jadilah mereka saling baku tembak,


Sniiipp... Dorrr


Syunnnng... Cetarrrr...


Suara nyaring bersahut-sahutan itu terdengar mengerikan sampai...


"Aughhhh!!!! Huh huh"


"Aaaaakh!!! Mas Abii!!!!"


Azizah memekik kaget, saat melihat Abimana bersimbah darah tepat di dadanya....

__ADS_1


Bersambung


Note : Cerita ini Aku buat sesuai kemampuan berfikir dan imajinasi saya. Yang merasa kurang suka, kurang sreg, aneh, jelek dan lain-lain Saya persilahkan untuk membaca karya author lain yang lebih bagus. Bukan belagu tapi Saya hanya ingin tetap menulis bersama dengan pembaca yang menerima tulisan Saya apa adanya, sambil mengasah diri agar bisa membuat cerita yang lebih baik lagi tanpa harus tertekan dan memaksakan diri. Jadi, Saya nulis saat ini sesuai dengan kemampuan Saya saja... Terima kasih yang tetap support 💜💜💜


__ADS_2