Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
TIDAK ADA KESEMPATAN LAGI


__ADS_3

Tidak, tidak bisa. Axel ternyata belum bisa menerima jika Azizah benar-benar meninggalkannya. Tidak, Dia tidak siap. Tidak sekarang...


'Tuhan, tolong... Tolong beri Aku kesempatan. Sekali saja Tuhan...'


Batin Pria itu berdoa, tangan dan kakinya gemetar karena takut. Takut kehilangan satu-satunya wanita yang Ia harapkan kembali menjadi pendamping hidupnya...


"Dit, coba Loe ambil hape Gue, telepon Darren sekarang"


Ucap Vano di tengah kegiatannya menyetir mobil.



"Oh, Iya... Okay okay" Sahut Radit dengan semangat.



Tuuttt tuuut....



Tuuuut... Tuuut...



"Nggak diangkat gengs"



"Coba lagi coba lagi..."


Seru Vano dan Axel bersamaan.



Kedua pria itu sedang dilanda kepanikan. Mungkin dalam benaknya merasakan firasat yang sama. Rheimon membawa pergi Azizah, entah kemana. Yang jelas itu akan menjadi tempat yang sulit untuk di temukan atau bahkan tidak akan bisa terdeteksi.



Keahlian Rheimon dalam menutup akses tentang keluarganya dari deteksi musuh atau rival bisnisnya sangatlah rapi dan canggih. Jangankan Axel yang masih tergolong pengusaha muda, Kakeknya saja tidak mampu melawan keluarga Atmaja jika sudah berurusan tentang IT.


Itu sebabnya, perusahaan Djaja dan Atmaja bisa bekerja sama dengan baik selama bertahun-tahun karena pada dasarnya kedua perusahaan itu saling membutuhkan dan saling melengkapi.


Tapi entahlah, setelah identitas Azizah terungkap, kerjasama itu akan tetap terjalin atau tidak, Axel sendiri tidak tahu.



'Tuuuuttt'


Nada panjang itu pada akhirnya mengakhirinya usaha terakhir Radit untuk menghubungi Darren. Nomernya tiba-tiba di nonaktifkan.



"Udah nggak aktif bro"



"Aaarghhh, Sialan!!!"


Umpat Axel frustasi.



"Tenang dulu Xel, kita ke villa mereka dulu aja. Nggak mungkin kalau iya mereka udah pergi, pasti harus packing dulu dong, semalam aja masih ada di rumah sakit. Ya kali mindahin pasien yang baru selesai operasi bisa secepat kilat gitu"


Ucap Vano mencoba menenangkan Axel. Meskipun Dia sendiri tidak meyakini ucapannya. O'come on, yang sedang dia bicarakan itu Bapaknya Darren. Sepak terjangnya sudah tidak diragukan lagi.



"Loe jangan bego Van, selama Loe punya duit, Loe punya kuasa. Om Rheimon bukan anak kemarin sore"



"Ya terus gimana dong"



"Kita puter haluan, Kita ke rumah Bi Ani"



"Okay...."


Sahut Vano cepat, Ia kemudian mengambil jalan kanan untuk putar arah, menuju rumah Bi Ani.



Sementara Disisi lain...



"Nayla sama Bi Ani, terima kasih ya sudah bersedia ikut Kami, maaf merepotkan... Untuk sementara saja kok, Kalau sudah beres semuanya, Kami pasti akan antar kalian kembali..."



Ucap Rheimon yang kini sudah dalam private jet miliknya. Azizah dan bayi-bayinya berada di ruang belakang pesawat canggih ini. lengkap dengan segala peralatan rumah sakit yang terpasang di tubuh mereka.



"Sama-sama Pak"



"Nggak usah balik juga nggak apa-apa Nay, tinggal sama Aku"


Sahut Darren diiringi dengan cengiran kudanya.



"Matamu...."


Ucap Nayla spontan.



"Eh... maaf pak... Maksud Saya..."



"Nggak apa-apa Nay, mau kamu cekek anak ini juga saya Ikhlas kok"


Ucap Rheimon terkekeh. Cuma Nayla yang berani memaki putranya. Biasanya semua wanita akan tunduk dengan mudah pada putranya yang berandal itu.



"Dih... Tega banget Daddy"


Sungut Darren dengan wajah cemberut. Rheimon terkekeh geli.



"Inget Son, Kamu jangan sampai memberitahu tentang keberadaan Rheina pada kedua temanmu itu, atau... Daddy pecat Kamu jadi anak"



"Enggak Dad, tenang aja... Rheina kan adik Darren, masa iya Darren tega mau bikin Dia menderita lagi sama si kunyuk Axel, Biarin, biar Axel nyesel. Dan akhirnya menyerah terus ngelanjutin hidupnya deh dengan pasangan barunya. Jadi, mereka nggak akan saling menyakiti lagi kan"



"Mmm... Tapi... Maaf pak kalau saya lancang, biar bagaimanapun kan Pak Axel adalah ayah kandung si kembar, bukannya beliau.... berhak... untuk..."



Nayla ragu-ragu ingin melanjutkan ucapannya, takut menyinggung perasaan Ayah dari Azizah yang sekarang menjadi Rheina itu.



"Tidak apa-apa nak, Saya mengerti... Untuk masalah itu, Kamu benar, Dia adalah ayah kandungnya. Jadi... Biar alam semesta dan takdir saja yang mempertemukan mereka suatu saat nanti, untuk saat ini biarlah seperti ini. Untuk keselamatan Rheina dan cucu-cucuku. Inget, Bram dan Alexa masih belum ditemukan keberadaannya. Mereka bisa membawa bahaya untuk Rheina dan anak-anaknya"



Jelas Rheimon panjang lebar. Nayla pun mengangguk paham, di ikuti oleh Bi Ani dan Darren.



"Terus, sekarang Kita mau pergi kemana Pak?"



"Ke tempat yang Saya jamin sangat aman dan jauh dari jangkauan semua orang yang mengenal keluarga kami"


__ADS_1


"Hmm..."



"Hmmmn, Kasian juga Abimana ya... bangun2 crush nya udah ngilang"


Darren berkata dengan wajah yang penuh ironi.



"Kata siapa? Daddy udah kasih tahu adiknya kok kemana kita pergi kalau Abimana siuman"



"Serius Dad??? Jangan bilang kalau Daddy setuju Rheina sama Si brewok?"



"Why not? Dia pria yang baik. Dan Daddy bisa merasakan Abimana sangat tulus sama Rheina. Jadi, Daddy tidak punya alasan menolak Dia"



"Ah Daddy nggak seru"



"Halah... Bilang aja Kamu seneng kan? Kalau Kamu jadi kakak iparnya bukannya Dia bakal nurut sama Kamu?"



"Ckk... Mana lah mungkin, yang ada kita bisa berantem sampe bakar rumah kalo ketemu"



"Hahahaha... Enggak lah, Dia itu baik... Percaya sama Daddy. Ngomong-ngomong Daddy mau lihat si kembar dulu yah"



"Saya ikut pak..."



"Boleh... Kalau begitu kita liat sama-sama"


Ajak Rheimon pada semuanya..



Beberapa saat kemudian, mereka melihat kedua bayi kembar yang masih dalam inkubator itu, tampak sangat kecil...



![](contribute/fiction/5154657/markdown/23644518/1690973734058.jpg)



"Ya Ampun, udah bestie banget keponakan Uncle sampe rangkulan gitu hahahaha"



Celetuk Darren yang disambut tawa dari yang lainnya juga.



"Kecil banget ya Pak..."



"Iya... Syukurnya kata Dokternya usia kandungan Rheina sudah memasuki 8 bulan lebih jadi kondisi bayinya bisa dikatakan baik, hanya pernafasannya yang terganggu dan juga sempat keracunan air ketuban jadi harus mendapatkan perawatan lebih lanjut"



Jelas Rheimon. Nayla hanya mengangguk pelan seraya mengagumi dua makhluk kecil yang ada dihadapannya itu.



"Lucu ya Nay, bikin yuk"



Pletak!!!




"Kalau ngomong disaring Son, jangan bikin Nayla malah ilfil sama Kamu, hih!"



Darren mengerucutkan bibirnya seraya mengusap kepalanya yang baru saja di getok oleh Daddy-nya itu.



Tanpa disadarinya, Nayla sebenarnya tersenyum kecil.



'*Keluarga Pak Darren baik banget*' Batin Nayla


Kembali kepada Axel yang kini sudah berada di depan rumah Bi Ani yang gelap gulita dan sunyi sepi tak berpenghuni.


"Gila, Om Rheimon gercep banget kek kurir JNT Express"


Ucap Radit seraya menggelengkan kepalanya.


Sementara Axel dan Vano masih terdiam.


Axel terdiam karena perasannya sangat kacau, Ia kehilangan harapannya. Tidak ada jejak sama sekali.


Sementara Vano terdiam karena merasa kecewa pada Darren, kenapa Dia tidak di beritahu sama sekali. Tidak perlu memberitahunya tentang kemana mereka pergi. Cukup pamit saja, apakah sesulit itu?


Ia bahkan rela meninggalkan pekerjaannya untuk membantu sahabatnya itu, tapi Darren bahkan tidak cukup mempercayainya. Vano tertunduk, merenung bersama kekecewaannya.


"Bahkan Nayla aja rumahnya kosong. Kata tetangganya mereka tiba-tiba pindah, Astaga... Gue nggak bisa percaya ini"


"Terus apa rencana Loe selanjutnya Xel?"


Tanya Vano yang tak kunjung mendengar suara ataupun pergerakan dari sahabatnya yang duduk tepat di belakangnya itu.


"Gue mau balik"


"Ke Jakarta?"


"Apartemen"


"Serius Loe? Gue temenin ya?"


Tawar Vano yang diangguki oleh Radit juga.


"Gue lagi pengen sendiri, Sorry"


"Xel.. Lo jangan macem-macem ye..." ucap Radit dengan raut curiga.


"Di apartemen ada nyokap Gue. Gue nggak akan ngapa-ngapain"


"Awas Loe, Kalau Loe sampai nglakuin sesuatu yang bodoh, Gue bakalan musuhin Loe seumur hidup"


Axel tidak menanggapi. Pria itu tetap diam tanpa ekspresi apapun di wajahnya. Hanya mendung dan kabut hitam yang tergambar nyata.


"Xel!!!"


"Please, anter Gue ke Apartemen. Gue capek banget..."


Ulang Axel dengan suara yang lebih lemah dari sebelumnya.


Radit dan Vano saling melempar pandangan. Tapi kemudian, Mereka setuju untuk mengantar Axel kembali ke apartemennya yang tak jauh dari lokasi mereka saat ini...



"Axel... Baru pulang Nak?"



Tamara menghampiri putranya yang sudah beberapa hari tidak kembali ke apartemennya ini. Meski saat dihubungi Axel masih menjawabnya, namun sebagai seorang Ibu, Ia tetap merasa khawatir.



"Ada apa Sayang.. Kamu baik-baik saja kan?"


__ADS_1


"Mom... Axel lagi pengen sendiri, Axel capek mau istirahat"



"Mmmh, baiklah. Tapi Kamu sudah makan nak?"



Axel mengangguk, bohong. Padahal dari pagi perutnya belum terisi apapun.



Sesampainya di kamar. Pria itu langsung luruh ke lantai, Ia terbaring dengan posisi miring. Air mata yang sedari tadi Ia tahan tumpah sudah.



Dadanya sesak. Hatinya sakit. Hancur... Hancur sudah harapannya. Tidak ada lagi kesempatan untuknya kembali pada Azizah yang kini sangat di cintainya.



Ia bersalah, sangat bersalah Ia tahu itu...



Flashback On



"***Haloo \*\*\*\*\****!!!"



"***M-mas Axel***?"



***Azizah terkejut melihat suaminya datang. Tapi untuk saat ini Kelihatannya suaminya itu tidak mabuk seperti biasanya***.



"***Kenapa? Kaget***?"



"***Mmm mas Axel nggak bilang mau kesini***?"



"***Kenapa? Loe lagi main ranjang sama satpam komplek ya***?"



"***Astaghfirullah mas... Kamu kok ngomong gitu***??"



"***Aaah udahlah, Gue ke sini karena Gue punya kejutan buat Loe***"



"***Kejutan apa***?"



***Meski sempat sedih mendengar ucapan suaminya, Azizah tiba-tiba berbinar mendengar Axel membawakannya kejutan***.



"***Ini Dia***...."



"***Hai***.... "



***Suara lembut nan licik menyapa Azizah yang seketika menganga, binar di wajahnya musnah sudah***.



"***Jadi, Gue punya tugas buat Loe. Sekali-kali biar Loe ada gunanya jadi istri***"



"***M-maksud mas***?"



"***Gue sama Alexa mau shooting adegan panas disini, Gue tugasin Loe jadi kameramennya***"



"***Astaghfirullah mas... Istighfar... Itu Dosa mas***"



"***Dosa??? Apa itu? Gue cuma ngasih tugas ke Is-tri Gue biar ada gunanya, nggak cuma numpang idup sama Gue***"



***Azizah menunduk, Ia sungguh terluka dengan ucapan Axel. Belum sepenuhnya sadar dengan apa yang sedang terjadi, Pria berstatus Suaminya itu melemparkan sebuah ponsel dan meletakkannya dengan kasar di tangannya***.



"***Rekam, jangan sampai blur, atau Loe gue abisin***"



***Ucap Axel dengan wajah merah karena marah. Kebencian terlukis jelas di wajah tampannya***.



***Jadilah malam itu menjadi malam yang sangat menyiksa dan menyakiti Azizah. Dengan bodohnya wanita itu merekam kegiatan panas pria berstatus suaminya itu. Ia sungguh ingin berhenti dan menyerah tapi rasa tanggung jawab pada janjinya terhadap Kakek Adhitama selalu menghalanginya untuk menyerah pada pernikahan ini***.



***Kayakinannya bahwa Axel akan berubah dan menyadari ketulusan cintanya membuatnya kuat untuk tetap bertahan***.



***Tapi di titik ini... Azizah benar-benar merasa ragu, apakah Dia masih sanggup***?



***Akhirnya Ia tidak sanggup setelah mengarah semuanya dan memilih pergi***.



***Flashback off***



"Mas jahat banget sama Kamu Azizah... Mas emang nggak pantas dimaafin, apalagi di beri kesempatan... Maaf... Maaf mas terlambat menyadari semuanya... Maaf..."



Axel terus menangis, bayangan dosa dan kesalahannya pada mantan istrinya bak ribuan anak panah yang satu persatu menusuk tubuhnya.



Pria itu menutup matanya... Ia terus merapalkan maaf dalam hati, Ia juga merasa tidak ada keinginan sama sekali untuk hidup... Ia ingin mati....



Tamara terus berdiri di luar kamar Putranya... Sudah lebih dari 2 jam Tamara tidak mendengar apapun dari sana, Ia kemudian mencoba mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban...


"Axel, Sayang.... Mommy masuk yah?"


Tamara mencoba membuka pintu, namun terkunci. Tiba-tiba perasannya menjadi buruk, jantungnya berdegup kencang. Untungnya Ia memiliki kunci cadangan semua ruangan di apartemen ini. Iapun segera mengambil kunci itu dari kamarnya.


Dengan berdebar Tamara membuka pintu kamar Axel dan....


"Axeeeeelllll... Haaaaahhhhh???? Axeellll!!! Nak!!! Apa yang Kamu lakukan!!! Axeeeeelllll huhuhuhu"


Tamara merangkak menghampiri putranya yang sudah bersimbah darah. Axel memotong pergelangan tangannya sendiri.


"Tolooooong... Toloooong!!!


Karina segera berlari keluar apartemen itu untuk meminta pertolongan. Pikirannya kosong. Ia hanya berteriak meminta tolong, pada siapapun, siapapun itu. Agar bisa menolong Putranya yang kini sekarat....


TAMAT SEASON 1

__ADS_1


SEASON 2 UPDATE HARI JUMAT 🫂🫂🫂🫂🫂


__ADS_2