
Rheimon memandangi sepasang sejoli yang tengah menikmati makan malam dengan ekspresi jelek. Bibirnya mengkerut tidak puas. Tampak sangat cemburu.
Karina terkekeh memperhatikan mimik wajah suaminya yang lebih buruk dari boneka Anabel. Jemari lentiknya kemudian menggenggam punggung tangan suaminya dengan lembut, Karina berusaha menghibur dengan lembut,
"Sudahlah Sayang, Putrimu sudah menjadi wanita dewasa, sudah sewajarnya Dia bersama dengan seorang Pria yang menyukainya"
Mendengar perkataan Istrinya, wajah Rheimon semakin masam. Dengan enggan ia berkata,
"Terakhir kali bertemu dengan Princessa, Aku masih memakaikan pita di rambutnya yang panjang, bagaimana bisa aku merelakannya bersenda gurau dengan pria lain"
"Kamu ini Papanya Rheina, bukan pacarnya, berhentilah bersikap posesif seperti itu"
Karina menggeleng pelan. Sikap posesif Rheimon terhadap putrinya ternyata tidak berubah. Ia masih ingat dulu ada kejadianyang cukup mengerikan. Saat itu suster yang mengasuh Rheina sedikit lalai hingga Rheina terjatuh dari ayunan. Meskipun Rheina baik-baik saja, tapi nyawa suster itu hampir melayang karena Reymond yang tempramennya sangat buruk hampir menembak kepala sang suster hingga perempuan muda nan malang itu jatuh pingsan karena shock dan dilarikan ke rumah sakit.
Benar-benar seorang Ayah yang berlebihan.
"Kamu benar sayang, maka dari itu, ayo katakan padanya kalau kita adalah orang tuanya,hmn?"
Kini wajah Karina yang muram, Setiap mendengar kata 'pengakuan' rasa takut selalu datang menyerang seperti melihat ratusan pedang yang akan dihunuskan ke dadanya.
"Tidak bisa Sayang, Aku masih sangat takut kalau Rheina malah salah paham dan menjadi benci padaku"
"Kenapa?"
Karina menarik nafas dalam-dalam,
"Bagaimanapun selama bertahun-tahun kita tidak pernah ada untuknya, bahkan saat badai penderitaan selalu menyerangnya Kita tidak berada disampingnya untuk mendukungnya dan memberinya kekuatan, sekarang tiba-tiba kita datang dan mengaku-ngaku bahwa kita adalah orang tua kandungnya? Menurutmu Dia akan serta merta menerima kita dengan lapang dada?"
Ucap Karina panjang lebar membuat Rheimon ikut menghela nafas berat.
"Kita temui Tuan Adhitama dulu. Kita harus mendapatkan apapun itu, petunjuk tentang Fauzi dan bagaimana dia bisa bersama dengan Rheina"
Lanjut Karina, Ia melayangkan tatapan sungguh-sungguh untuk meyakinkan suaminya.
Rheimon mengangguk, kemudian menyahuti,
"Menurutmu kapan kita harus pergi?"
"Malam ini, Aku akan meminta orang-orang kita menjaga Rheina selama kita pergi, lagipula Darren akan tetap disini"
"Apa... Kita juga tidak akan memberitahu Darren?"
"Akan. Tapi tidak saat ini. Sepulang dari bertemu Tuan Adhitama kita ceritakan semuanya, apapun resikonya, Darren harus tahu kalau Dia... Memiliki adik yang dulu selalu Ia jaga"
"Hmn... Aku lupa memberitahumu Sayang, Putri Bram yang bernama Alexa, Aku sudah menemukan tempat persembunyiannya, lebih tepatnya tempat merek di rawat saat ini"
"Benarkah? Dimana?"
"Masih di kota ini, orang-orang kita sudah mengawasinya. Mereka akan segera melaporkan padaku jika ada gerakan mencurigakan dari dua rubah itu"
__ADS_1
"Baguslah, setelah menyelesaikan urusan kita dengan Tuan Adhitama, kita juga harus menyelesaikan urusan kita dengan kecoa-kecoa itu"
"Tentu saja, lagipula sudah lama Aku tidak meledakkan kepala seseorang"
"Hhuh... Kau ini"
Rheimon dan Karina pun memutuskan untuk menghampiri Abimana dan Azizah yang sedang menikmati makan malamnya untuk pamit pergi ke Jakarta.
Azizah hanya bersalaman ala kadarnya karena merasa tidak begitu akrab dengan suami Karina tersebut tanpa menyadari raut kesedihan dan kekecewaan dari wajah Rheimon. Ia rindu memeluk putri kesayangannya. Namun sekuat tenaga ia menahan keinginannya itu.
Disisi lain....
Alexa dan Bram yang kini berada di kursi roda telah menaiki mobil Maybach hitam dan melaju dengan terburu-buru. Sementara mobil sedan yang tak lain adalah orang-orang suruhan Rheimon segera mengikutinya dari belakang. Didalamnya, seseorang yang tengah mengemudikan mobil sedan itu meraih gawainya dan menghubungi sang pimpinan.
"Bos, sepertinya seseorang berniat membantu mereka, Saya melihat beberapa orang menjemput mereka dari rumah sakit"
"...."
"Baik, Saya sudah meminta bantuan anak-anak Black Mamba untuk segera menyusul kesini"
"...."
"Siap laksanakan"
Tanpa membuang waktu, Pria itu mempercepat laju mobilnya yang sedikit tertinggal dari mobil yang ditumpangi Alexa.
*****
Di rumah sakit....
Maya mulai mengerjapkan matanya perlahan, membiarkan cahaya masuk kedalam iris cokelat terang miliknya.
"Maya?"
Suara berat seorang pria yang sangat dikenalnya membuat Maya pelan-pelan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.
"Kakak?"
Maya mengulas senyum tipis melihat Abimana yang nampak sedikit lusuh dengan wajah yang terlihat sangat lelah. Pasti kakaknya selalu menjaganya sepanjang hari hingga tidak tidur.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?"
Tanya Abimana dengan lembut, Maya menggeleng. Tanpa sengaja ia menangkap bayangan seseorang yang tengah meringkuk di sofa tunggu ruangan itu.
"Mba Azizah juga disini?"
"Hmn... Dia memaksa untuk tetap tinggal karena mengkhawatirkan Kamu"
"Terimakasih"
__ADS_1
Maya berucap dengan tulus. Abimana tersenyum lalu berkata.
"Seharusnya Kami lah yang berterima kasih, sekaligus... aku berhutang maaf padamu"
"Sudahlah kak, Aku melakukannya dengan ikhlas"
"Tapi... Bagaimana Kamu bisa datang tepat waktu? Sedangkan kakak yang sudah mengikuti Alexa sejak di perjalanan malah terlambat"
Maya memejamkan matanya, Ia kembali mengingat kejadian lalu,
"Aku tidak sengaja menabraknya saat keluar dari mall itu. Tapi sebenarnya, Aku tidak begitu mengenalinya karena penampilannya yang sangat tertutup"
Abimana mendengarkan Maya dengan seksama,
"Tapi setelah di parkiran Aku menyadari bahwa Aku sepertinya benar-benar tidak asing dengan perempuan yang ku tabrak tadi. Dan kebetulan Aku melihat mobil milik Alexa di parkiran. Aku semakin penasaran dan akhirnya memutuskan kembali masuk ke mall itu, mengikutinya"
"Oh jadi begitu...."
"Yah, Dan saat melihat ia berdiri tak jauh dari sebuah kafe memperhatikan seseorang yang ternyata adalah mba Azizah, Aku segera mengerti dan bergerak cepat saat Alexa akan melakukan aksinya"
"Kenapa?"
"Hmn? Apanya yang kenapa?"
"Kenapa Kamu bersedia berkorban untuk menolong Azizah?"
"Kakak... Jangan keterlaluan menilaiku. Bagaimanapun adikmu ini masih manusia"
"Heheheh, ya ya, baiklah maafkan Aku. Tapi... aku bangga padamu"
"Terimakasih, Aku lebih senang jika rasa banggamu berwujud mobil baru"
"Hishhh kau ini!"
Merekapun tertawa bersama,
"Kakak, seperti perkataanku sebelumnya, sebaiknya mba Azizah pergi jauh, Aku yakin Alexa tidak akan berhenti, apalagi setelah kejadian ini, Aku yakin Dia akan semakin menjadi-jadi"
"Aku akan menanyakannya pada Azizah dulu. Sekarang makanlah, lalu minum obat"
"Hmn, baiklah, terima kasih"
"Jangan berterima kasih, seperti orang lain saja"
Maya tersenyum lebar, entah kapan terakhir kali mereka berdua bicara baik-baik seperti ini seperti kakak adik pada umumnya, Ternyata rasanya sangat indah.
Bersambung
Terimakasih yang masih setia membaca. Aku bisa update semampuku, seluangnya waktuku. karena sungguh nggak mudah buat aku menulis disaat waktunya sama sekali tidak ada 🙂🙏🙏
__ADS_1