Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Aku Akan Selalu mendukungmu


__ADS_3

Radit masih setia memperhatikan Axel yang sedari tadi membisu. Hampir 1 jam mereka menghabiskan waktu tanpa suara di dalam mobil yang kini terparkir di pinggir jalan dekat dengan taman kota.


"Xel, Loe sebenarnya kenapa? Semenjak keluar dari ruangan Azizah Loe jadi murung kayak gini, emang Azizah ngomong apaan, hmn?


Radit yang sudah tidak tahan dengan kesunyian diantara mereka akhirnya bertanya.


"Gue ditolak Dit. Azizah nggak butuh Gue! Dia ga butuh Gue!!!" Axel berteriak frustasi, membuat Radit yang berada di sampingnya terkejut.


"Xel...."


"Gue nyesel Dit, Gue nyesel, tapi apa sama sekali nggak ada kesempatan buat Gue? Azizah bahkan mengancam akan bunuh diri kalau Gue masih deketin Dia"


"What???"


Jujur Radit terkejut mendengar penuturan sahabatnya itu, meskipun Ia tak begitu mengenal Azizah, tapi Ia yakin Azizah tak akan seberani itu mengancam seorang Axel. Ini bisa jadi pertanda bahwa Azizah benar-benar sudah tidak mencintai Axel lagi, bahkan mungkin sudah tidak mengharapkan kehadirannya sama sekali.


Tapi, sebagai sahabat, Radit tidak mungkin menambah beban mental Axel dan membuatnya semakin terpuruk, meski harapannya tipis, Radit akhirnya memberikan sedikit saran agar Axel tidak menyerah.


"Well, Sepertinya untuk saat ini emang sebaiknya Lie menghindar dulu. Kasih Azizah waktu, mungkin Dia masih shock karena kejadian hari ini yang hampir mencelakai bayinya. Gue akan bantu Loe buat dapatin informasi apapun itu selama Dia di Rumah Sakit, Okey?"


Ucap Radit yang kemudian diangguki oleh Axel.


"Thanks, Dit, Loe selalu ada buat Gue"


"Harus. Karena Gue tahu rasanya dikurung penyesalan dan kehilangan kesempatan untuk menebus kesalahan Kita"


Axel menoleh, Ia tahu apa yang dimaksud Radit. Pria itu tersenyum getir, mengingat Ia juga dulu pernah menyakiti hati seseorang namun terlambat untuk sekedar meminta maaf.


"Well, Kita pulang ke Apartemen Gue, Loe butuh istirahat. Berjuang untuk mendapatkan maaf juga butuh tenaga dan badan yang sehat Xel"


Radit berucap seraya tersenyum lebar. Rupanya senyuman itu menular pada Axel yang ikut menyunggingkan senyumnya meski sangat tipis setipis dompet Aku.


***


"Nay, Kamu pulang aja, Biar Aku yang jagain Azizah"


Ucap Abimana pada Nayla yang terlihat sangat kelelahan. Pria dengan brewok sexy itu kemudian menoleh ke arah Darren yang masih cemberut karena dicuekin terus menerus oleh Nayla.


'Gara-gara si kadal Radit nih, Nayla jadi ilfeel sama Gue!' Batin Darren menggerutu.


"Weh Begal... Malah ngelamun Dia"


"Apaan sih Loe, ah!"


Sungut Darren sebal. Abimana tekikik kemudian berkata seraya mengedipkan sebelah matanya.


"Anterin Nayla, Biar Aki yang jagain Azizah"


"Nggak usah Pak, Nggak apa-apa"


"Udah, jangan nolak, pulang dulu, istirahat. Besok pulang kerja kesini lagi"


"Pak Abi sendiri gimana?"

__ADS_1


Tanya Nayla yang seketika membuat Darren berseru keras.


"Cieee, saling perhatian... sweet banget sih!!"


Sarkas Darren dengan wajah mendung, kepulan asap seperti muncul dari belakang punggungnya.


"Ciee... cembokir Dia Nay!! hahahaha"


"Nggak usah ketawa Loe brewok! jelek tau nggak, kaya boneka jelangkung!".


"Ya udah, Mau nganterin Nayla pulang nggak?"


Ucap Nayla seraya menunduk malu.


"Mauuu!!" Jawab Darren bersemangat.


"Huuh giliran begini aja sumringah!"


"Iri bilang bos!!"


"Dih, Aku mah tetep Azizah selawase"


"Tai!"


Nayla mendesah kesal melihat dua bapack-bapack tidak ingat umur di depannya. Ia pun berlalu dari hadapan keduanya dengan langkah kesal.


"Lho, Nay mau kemana"


"Yah, jangan dong Nay, Saya anterin!"


Darren segera berlalu mengejar Nayla setelah sebelumnya memaki Abimana.


"Gara-gara Loe sih, brewok gila!"


Abimana hanya terkekeh melihat tingkah kekanakan Darren. Ia kemudian beranjak dari kursi tunggu, melongok ke dalam ruangan untuk melihat Azizahnya yang kini tengah terlelap.


Ia sungguh sedih melihat kondisi wanita itu. Harusnya kehamilan menjadi momen yang paling membahagiakan bagi seorang wanita, yang sudah menikah tentunya.


Tapi, Azizah malah mengalami kebalikannya.


Ia ingin sekali menjadi seorang yang bisa Azizah andalkan kapanpun, dimanapun. Tapi, saat ini Abimana merasa Ia masih belum mempunyai hak. Karena mereka tidak memiliki ikatan apapun.


Meskipun Abimana telah menyatakan perasaannya, tapi Ia tahu bahwa Azizah pasti belum siap. Ditambah, saat ini mantan suaminya yang brengsek itu kembali mengganggunya.


Jadilah, langkahnya yang ingin kembali meminang Azizah semakin terasa jauh.


Terlebih, Abimana juga belum jujur kepada Azizah mengenai identitasnya yang sebenarnya.


Kalau Azizah tahu, apakah Ia akan kecewa??


"Permisi Pak"


Suara lembut seseorang membuat Abimana terhenyak dari lamunannya.

__ADS_1


"Ya, Suster?"


"Bapak keluarga Bu Azizah?"


"Ya, Suster"


"Oh, baiklah. Tolong kalau Bu Azizah sudah bangun, tolong berikan vitamin dan penambah darah ini untuk diminum segera ya Pak, setelah makan malam"


"Oh Oke Sus, sini Biar Saya yang antar makan malam dan obatnya"


"Baiklah, terima kasih kalau begitu pak"


"Sama-sama"


"Kalau begitu Saya permisi"


Suster itu tersenyum ramah kemudian berlalu meninggalkan Abimana dengan nampan berisi makanan dan obat untuk Azizah.


Ceklek...


Perlahan, Abimana melangkahkan kakinya mendekati ranjang pasien. Samar-samar Ia mendengar dengkuran halus dari Azizah. Pria itu tersenyum, kemudian meletakkan nampan itu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara.


Abimana pun duduk di kursi kecil yang berada di sisi ranjang pasien itu.


Ia memandangi lamat-lamat wajah cantik yang sedikit pucat itu. Wajah Azizah sangat teduh hingga mampu membawa ketenangan ke dalam batinnya.


"Apapun yang terjadi, Aku akan selalu mendukungmu Zizah. Aku akan selalu berada di belakangmu, dengan atau tanpa status"


Pria itu kemudian menyentuh jemari lentik Azizah. Ia tersenyum saat melihat cincin yang pernah Ia berikan tengah dikenakan oleh wanita pujaannya itu.


"Semoga suatu saat, Aku bisa menyematkan cincin pernikahan dijari manis mu. Aamiin...


I Love You, more than You know..."


Tanpa Abimana sadari, sebenarnya Azizah telah terbangun. Wanita itu menitikkan air mata mendengar ucapan pria berdarah Indonesia-Turki itu.


Entah kenapa, tapi Azizah merasa Ia tak pantas untuk Pria sebaik Abimana. Ia hanya seorang janda dengan calon bayi di dalam perutnya.


Azizah bertekad, Jikapun Ia berjodoh dengan Abimana atau siapapun itu. Azizah harus sudah menjadi sesuatu. Menjadi wanita yang memiliki pijakannya sendiri. Ia ingin lahir menjadi Azizah yang baru. Azizah yang kuat dan bermartabat. Bukan lagi wanita lemah, cengeng dan mudah di tindas seperti di masa lalu. Yah, Ia harus merubah dirinya, agar tidak ada lagi orang yang bisa dengan mudah menyakitinya!


Bersambung


Terima kasih atas kunjungannya teman-teman


Maaf, episodenya pendek dan sedikit. Buat selingan biar nggak tegang terus, takut kena struk hehe...


Semoga masih betah ya baca cerita Aku ini,


Yang suka boleh like, yang kurang sreg boleh skip...


kebebasan membaca adalah hak segala bangsa, hehehe


Terima kasih ❤️❤️❤️ luv banyak-banyaaaak buat pembacaku tercinta 💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2