Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Aku Akan Memohon....


__ADS_3

20 Januari 2021


Aku tak tahu sampai kapan


rasa ini terus tumbuh di dalam dada


rasa yang begitu bergemuruh


rasa yang begitu indah


yang membuatku


selalu tersenyum sendiri


memeluk sepi


setiap malam


Bayangmu,


selalu hadir


saat hari beranjak gelap


Bersama dengan rindu


yang datang menyergap


bagai hawa dingin kala subuh


Kepadamu dambaan hati


cinta ini adalah cinta yang sepi


cinta yang bisu


yang tak sanggup kusampaikan kepadamu


Entah


sampai


kapan ~Anonim~


Axel membaca setiap bait itu dengan air mata yang kian membanjiri wajahnya. Azizah yang menderita karenanya...


25 Februari 2021


Kau adalah harapan


kau adalah impian


yang tak sanggup kukatakan


Kasih


seandainya kau tahu


apa yang kurasakan setiap malam


seandainya kau tahu


bagaimana perasaanku


saat kau lewat di depanku


Namun sayang


terlalu rapat kupendam perasaan ini


Kau tak akan mungkin tahu


Aku takut mengucap satu kata


yang selama ini aku rasakan


Aku hanya mampu berpuisi


mengadu pada rembulan


di kejauhan


juga pada bantal


tempat kusandarkan kepalaku


Kau terlalu istimewa bagiku


hingga perasaanku berkata


kau tak mungkin kugapai


Hanya doa

__ADS_1


disertai lelehan air mata


berharap Tuhan


menolong hamba


dari derita cinta


yang tak bisa


diungkapkan


dengan


kata-kata


---Anonim---


28 Februari 2021


Kukira Aku mampu mengukir pelangi di wajahmu


Namun yang kuberikan selalu awan hitam yang menjadi mendung disorot indahmu


Aku berharap bisa menjadi mawar yang membuatmu berbunga..


Namun Aku hanyalah pohon duri yang membuatmu terluka..


Kamu adalah keindahan yang luar biasa yang di kirimkan Sang Maha Rakhim untukmu


Maafkan tulang rusukmu ini yang tak mampu menjadi penenang saat gundahmu


Menjadi pengobat saat sakitmu


Menjadi cahaya dalam gelapmu


Nyatanya, Aku hanyalah badai ya g merusak kedamaian hidupmu...


Maafkan Aku...


Maafkan Aku suamiku...


"Tidak.... aku yang bersalah Zizah... Aku yang bersalah"


Axel menutup buku itu, merasa tak sanggup membacanya saat ini, meski masih tersisa beberapa lembar lagi untuk Ia baca.


Sakit... Ia sungguh sakit membacanya, wanita yang Ia kira rubah, ternyata malaikat tak bersayap yang begitu tulus mencintainya.


Axel berteriak, memaki dirinya sendiri. Memaki kebodohannya karena terlambat mengenali istrinya sendiri.


Axel menangis tersedu-sedu seraya memukuli dadanya sendiri. Penyesalannya tidak akan pernah terobati jika Ia tak bisa menemukan Azizah.


"Aku akan memohon sama Kakek, Bahkan bila perlu aku akan mencium telapak kakinya, Asal Kakek bersedia memberitahu keberadaan Kamu Zizah...Tolong beri Aku kesempatan"


Ucap Axel, Ia memeluk erat buku harian itu, menangis sepanjang malam hingga tanpa terasa lelah menghampiri dan membuatnya terlelap dengan posisi meringkuk di lantai.


***


"Huuuft.... Kenapa setiap menit rasanya seperti ribuan tahun"


Abimana memonyongkan bibirnya. Baru 2 hari di Singapura tapi baginya serasa sudah ribuan tahun Ia disana.


'Lebay!' batin Malik menggerutu, namun bibirnya selalu tersenyum.


Bosnya benar-benar dimabuk cinta.


"Maaf Pak, bukankah ada handphone? Kenapa Bapak tidak melakukan Video call saja? Lagipula mba Azizah juga sekarang pasti sedang bersama Tasya"


Abimana manggut-manggut seraya tersenyum lebar.


"Kamu benar Malik. Haah kenapa Aku tidak terfikirkan tentang Video call sama sekali"


Abimana menepuk ringan dahinya, kemudian dengan penuh semangat meraih gawainya.


Tanpa membuang waktu, pria yang nampak selalu ganteng dengan brewoknya itu mencari sebaris kata bertuliskan nama pujaan hatinya kini, Azizah.


Klik... Calling....


"Halo... Assalamualaikum"


Suara yang sangat dirindukan itu terdengar sangat merdu di pendengaran Abimana, wajah Azizah yang memenuhi layar membuatnya salah tingkah.


Dug dug dug, Ya Tuhan kenapa jantungku tidak bisa kooperatif saat ini. Abimana merutuki kinerja jantungnya yang tiba-tiba menggila tidak tepat pada waktunya.


"Ehem... Waalaikumsalam, Ha... Halo Azizah"


"Ya mas? Mas Abi mau ngomong sama Tasya?"


Tanya Azizah, sama sekali tidak melihat perubahan wajah Abimana yang memerah.


Ya iyalah wong ketutupan brewok! hahaha.


"I-iya... Tasya nggak merepotkan kan di rumah B-Bi Ani?"

__ADS_1


Tanya Abimana tergagap. Malik yang berdiri di sampingnya sampai tersenyum geli.


Abimana adalah ahlinya presentasi, makanya hampir selalu berhasil memenangkan tender-tender besar.


Tapi lihatlah, di depan Azizah bahkan sampai kesulitan berkata-kata. Lucu sekali!


"Enggak kok mas... Maaf ya sebelumnya, Aku nggak bisa tinggal di rumah Mas Abi, soalnya kejauhan dari pabrik"


"Emmm... Iya nggak apa-apa"


"Mas Abi berapa lama di Singapura?"


Tanya Azizah.


Abi hampir melompat bahagia karena senang, Apa Azizah merindukannya??


"Kira-kira sebulan"


"Oh... mudah-mudahan lancar ya mas pekerjaannya, Biar bosnya senang dan bisa naik pangkat, Aamiin"


"Hahaha Aamiin, terima kasih doanya Azizah"


Abimana selalu merasa lucu saat Azizah mendoakannya naik pangkat. Sementara ini biarlah Ia tetap berpura-pura sebagai karyawan biasa. Ia tak mau Azizah menjaga jarak jika tahu Ia adalah seorang pemimpin perusahaan besar.


Karena Abimana tahu, Azizah bukan wanita super materialistis seperti pada umumnya.


Tidak-tidak, Wanita menyukai uang tentu saja, laki-laki pun sama, hanya kadarnya yang berbeda.


Selama ini banyak wanita yang mendekatinya selain karena fisik, juga karena hartanya, kekuasaannya.


Hanya Azizah, yang pertama kali menjalin pertemanan dengannya sebagai orang biasa. Dan itu adalah salah satu mimpinya...


"Maaf mas.. Tasya nya lagi sibuk main sama Nayla, nggak mau ngomong"


Azizah menyampaikan dengan tidak enak hati, Ia melihat ke arah Tasya yang sedang asyik bermain puzzle bersama Nayla.


"Oh nggak apa-apa, yang penting bisa ngomong sama kamu"


Ucap Abimana keceplosan.


"Apa mas?"


"Eng- enggak, Aku bilang yang penting Aku udah tahu kabar Tasya"


"Oh.. Iya... Insya Allah Aku jagain dengan baik mas..."


"Terima kasih"


"Oh ya mas, tadi mama nya Tasya kesini"


"Maya??"


"Iya..."


"Ngapain? Dia nggak marah-marah kan sama Tasya?"


"Emmm... Nganterin baju, tapi ya... begitulah sambil marah-marah. Kalo boleh tahu kenapa mba Maya seperti itu mas? Tasya kelihatan sedih banget soalnya tadi"


"Nanti kalau Saya sudah kembali ke Indonesia, Saya akan ceritakan..."


"Oke, kalau mas Abi nggak keberatan, Aku siap mendengarkan"


"Terima kasih. Kalau begitu Saya lanjut kerja lagi"


"Oke... Jaga kesehatan, jangan telat makan, Jangan lupa sholat juga"


"Siap... Makasih udah ngingetin"


"Sama-sama... Assalamualaikum"


Tutt... Panggilan berakhir...


"Waalaikumsalam..."


Abimana tiba-tiba menciumi gawainya dengan gemas. Membuat Malik menggelengkan kepalanya.


'Ckckck... wongedan' Batin Malik


"Aaaah, Kamu dengar Malik? Azizah perhatian sekali sama Saya. Jangan lupa makan dan jaga kesehatan, jangan lupa sholat katanya"


Abimana mengulang kata-kata Azizah dengan girang. Malik hanya tersenyum kaku.


"Ibu-ibu komplek di sekitar rumah saya sering ngomong begitu pak kalau ketemu saya dijalan"


Sahut Malik enteng.


Senyum yang tadinya bertengger manis di bibir Abimana tiba-tiba raib.


"Keluar Kamu!"


Ucap Abimana sengit. Malik hanya menahan tawa kemudian membungkuk hormat dan berlalu meninggalkan ruangan Abimana.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2