Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Aku Akan Menunggu


__ADS_3

"Udah nieh? Mau pandang-pandangan terus?"


Darren bersungut-sungut sebal.


"Seenggaknya kalian punya rasa empati gitu lho sama Gue yang jomblo ini" Imbuh Darren kemudian.


"Ck... Berisik banget Loe!"


Sergah Abimana tak kalah sebal. Sementara Azizah hanya tersenyum tipis.


"Eh tapi tunggu, Gue kayaknya pernah lihat Loe deh... Tapi dimana ya? Wajah Loe tuh nggak asing gitu buat Gue"


Ucap Darren seraya memandangi Abimana lekat-lekat. Ia yakin betul bahwa pernah melihat pria itu, dan bukan cuma sekali.Tapi sialnya, Darren benar-benar lupa.


Abimana bukannya tidak cemas, Dia tentu khawatir Darren akan mengatakan siapa Dia sebenarnya. Dan Ia belum siap. Namun Abimana berusaha tetap tenang dan berkata.


"Nggak usah sok kenal, muka Gue emang pasaran. Di dunia ini satu orang memiliki 7 kembaran wajah, jadi bisa aja cuma mirip"


"Iya juga sih..." Gumam pria yang juga memiliki brewok tipis itu seraya mengangguk setuju.


"Azizah... Mmm... Bisa kita bicara sebentar?"


Abimana mengalihkan pandangannya pada wanita yang sejak tadi hanya diam saja semenjak Ia kelepasan bicara beberapa saat lalu.


Azizah melirik Darren, kemudian mengangguk dan berkata,


"Kita bicara diluar mas..."


"Oke..."


Sementara Darren mendengus kasar. Menyebalkan sekali berada diantara dua orang yang sedang dimabuk cinta.


"Jadi, Gue ditinggal sendirian nih?"


Azizah terkekeh kemudian menyahuti,


"Aku udah kirim WA ke Nayla. Bentar lagi Dia kesini mas"


"Serius Loe?"


"Heum..."


Wanita berhijab itu tersenyum saat melihat Darren mengepalkan tangannya keatas.


"Yes!!" Seru Darren kemudian kembali berkata.


"Loe baik banget! Gue bakal balas kebaikan Loe ini"


****


"Ada apa mas?"


Azizah melihat sekilas Abimana, kemudian kembali menunduk. Perasaan canggung memenuhi benaknya.


"Mmm, Zizah soal tadi.... Aku.... Bersungguh-sungguh"


"Soal yang mana?"


"Tentang perasaanku, Aku serius. I love You. I love you so much"


"Mas..."


"Aku tahu, kita belum kenal lama dan Aku nggak ingin memaksa kamu. Kamu nggak perlu jawab sekarang..."


Manik cokelat terang pria blasteran Indonesia-Turki itu menatap Azizah dengan penuh harap. Ia tak ingin di tolak tentu saja, tapi juga tak ingin membuat Azizah tertekan dengan pernyataan cintanya.


"Aku... Hanya wanita yang bercerai dan sedang mengandung anak laki-laki lain mas Abi. Masih banyak perempuan yang lebih pantas untuk Kamu"


"No!"


Tegas Abimana mantap.


"Aku sudah pernah mengatakan, Kamu adalah perempuan istimewa, Kamu membawa kebahagiaan yang belum pernah Aku rasakan selama ini, Kamu membuat hidupku dan Tasya yang tadinya gelap menjadi terang. Kamu berbeda dan Aku sama sekali tidak mempermasalahkan tentang anak Kamu, Aku akan mencintainya lebih daripada mencintai diriku sendiri. Seperti Aku mencintai Tasya"


Jelas Abi panjang lebar, membuat Azizah berkaca-kaca.

__ADS_1


"Mas Aku..."


"Stop! Tidak perlu terburu-buru menjawab. Aku hanya ingin Kamu tahu perasaanku. Aku akan menunggu sampai kamu siap Zizah, jadi... Izinkan Aku tetap disampingmu dan menjagamu"


Ucap Abimana sungguh-sungguh. Dan kesungguhan itu bisa dilihat oleh Azizah. Namun, hatinya tetap belum siap. Rasa takut akan membina rumah tangga masih menghantuinya.


"Terima kasih mas... Tapi, Aku butuh waktu untuk memikirkannya"


"Tidak apa Zizah, sungguh, Aku sangat mengerti"


"Terima kasih.


"Sama-sama, jadi... Kita tetap berteman?"


"Tentu saja..."


Kedua insan itu saling melemparkan senyuman tulus. Abimana sangat baik, hanya saja Azizah merasa tidak ingin gegabah. Ia ingin meminta petunjuk dari Yang Maha Rakhim agar mendapatkan jawaban yang tepat, Insya Allah.


Tanpa disadari, pembicaraan mereka berdua di dengar oleh Darren yang sedari tadi menguping.


Pria itu tersenyum lebar,


"Gue akan dukung si brewok, kayaknya Dia emang beneran sayang sama Azizah. Kakek Adhitama harus tahu tentang ini"


Darren kemudian meraih ponselnya untuk menghubungi Adhitama.


Tak berselang lama...


"Mba Zizah..."


Nayla datang dengan muka bantalnya setelah beberapa saat lalu Azizah menghubunginya dan memintanya datang ke rumah.


"Nayla, Maaf ya ganggu istirahat.. Ada yang nyariin Kamu"


"Hah? Siapa? Bukan tukang kredit kan?"


Tanya Nayla dengan mata melotot, membuat Azizah dan Abimana terkikik geli.


"Memangnya kamu hutang kreditan Nay?"


Tanya Abimana disela-sela tawanya.


Sahut Nayla cengengesan kemudian melanjutkan pertanyaannya pada Azizah.


"Mba... Siapa sih yang nyariin? Jadi takut Aku"


"Pak Darren"


Jawab Azizah yang seketika membuat Nayla menganga lebar.


"Pak Dirut nyariin Aku? Kenapa?"


"Udah temuin aja... Kalo Dia kurang ajar bilang sama Saya biar saya laporin ke polisi"


Jawab Abimana, yang kemudian di timpuk seseorang.


"Sembarangan Loe, Gue itu pemuda baik-baik!"


Darren tiba-tiba menyela dan menghampiri ketiga orang di hadapannya itu.


"Halo Nayla..."


"Bapak... Nyariin Saya?"


"Iya..."


Jawab Darren seraya tersenyum semanis mungkin.


"Mau ngapain? Mau order skincare pak?"


"Hahaha, iya Di mau order skincare Nay, biar mukanya nggak sangar gitu"


Ledek Abimana yang mendapat hadiah cubitan dari Azizah serta tatapan seram Darren yang justru membuatnya semakin tertawa keras.


Azizah yang merasa tak enak kemudian menarik Abimana agar menyingkir dari sana dan membiarkan Darren serta Nayla untuk berbicara berdua.

__ADS_1


Semoga saja Darren memang tidak berniat jahat pada sahabatnya itu.


"Ada apa pak?"


Nayla mulai sebal melihat Darren hanya membisu seperti patung.


"Gue..."


Pria itu benar-benar bingung ingin mencari alasan apa.


'Haduh... Mikir Darren mikir!!' Darren mencari ide dalam diam.


"Duh pak, kalo nggak ada yang penting Aku mau pulang"


Sembur Nayla galak. Ia benar-benar tidak mempunyai waktu dan tidak berminat meladeni pria di hadapannya yang sialnya adalah bos tertinggi di pabrik tempatnya bekerja.


"Gue mau order kue buat acara ulang tahun"


"Hah?? Serius??"


Nayla yang wajahnya suram seperti kuburan tiba-tiba berbinar.


"Iya... 1000 pcs!!"


Ucap Darren dengan senyum puas melihat wajah gadis di hadapannya terlihat senang. Dia benar-benar polos. Batin Darren.


"Bapak nggak lagi ngeprank dong?"


"Enggak, saya bersumpah"


"Sungguh??? Alhamdulillah...!! Kalo gitu ayo kita ke rumah pak. Daftar kue dan harganya ada dirumah soalnya"


Ucap Nayla dengan riang. Gadis itu memang pecinta uang, asalkan halal maka Dia akan sangat bersemangat.


"Oke!!"


Sahut Darren tak kalah senang. Sekarang Dia memiliki cara untuk mendekati Nayla.


Ting.... Beberapa saat kemudian ponsel pria itu berdering.


"Darren, Gue mau ke Surabaya besok. Jemput Gue!"


Radit.


"Brengsek! Kok Radit tahu Gue di Surabaya??"


Gumam Darren...


"Pak! Ayo..."


Seru Nayla yang melihat Darren melamun.


"Oh! Ya... Ayo..."


Darren pun memasukkan ponselnya kembali ke saku dan mengekori langkah Nayla.


Namun pikirannya tetap melayang ke permasalahan Radit yang akan datang ke Surabaya.


Kalau Radit sampai melihat Azizah, Dia pasti ngasih tahu Axel. Tapi, kemungkinannya kan kecil. Asal Darren tidak menemui Azizah maka semuanya aman kan? batinnya.


Sambil berjalan Darren kembali meraih ponselnya dan membalas pesan sahabatnya itu?


"Loe sendiri kan? Berapa lama Loe di Surabaya?"


"Sendiri lah. Gue ada urusan bisnis, mungkin 2 Mingguan"


'Sial!' Bathin Darren.


"Oke, Jam berapa Loe mendarat di bandara?"


"14.20"


"Oke!"


Darren sedikit lebih tenang. Untuk sementara Ia tidak memikirkan tentang kedatangan Radit. Karena resiko Radit akan melihat Azizah sangat kecil.

__ADS_1


Ia pun kembali pada misinya untuk pedekate dengan Nayla.


Bersambung.


__ADS_2