Azizah, Istri Rasa Simpanan

Azizah, Istri Rasa Simpanan
Rezeki Anak


__ADS_3

Sejak pertemuannya yang terakhir kali dengan Adhitama, Kakeknya. Axel tak lagi menanyakan tentang keberadaan wanita yang kini telah menjadi mantan istrinya, Azizah.


Seperti saat ini, Ia datang menemui Adhitama namun hanya membahas tentang perkembangan dan sedikit permasalahan Perusahaan.


Axel benar-benar berubah. Ia yang tadinya memang sudah memiliki sikap dingin dan cuek sekarang kadarnya bertambah 1000%.


Adhitama bahkan sampai dibuat tak bisa berkomentar mendengar Axel menjabarkan tentang perusahannya yang mengalami peningkatan laba yang cukup signifikan tahun ini.


Cucunya benar-benar menjalankan bisnis keluarganya dengan sungguh-sungguh. Dan itu menimbulkan rasa bangga tersendiri dalam benak Adhitama. Hanya tentang perusahaan. Kalau tentang Azizah keputusan Adhitama tetap seperti semula. Tidak akan membiarkan Axel menemukan mantan cucu menantunya itu.


"Terima kasih, Kakek tidak salah jika menyerahkan perusahaan Djaja Group kepadamu, Axel William Djaja. Kamu benar-benar memiliki insting bisnis yang brilian seperti Daddy-mu"


Ucap Adhitama seraya terkekeh.


Axel hanya memberi senyum ala kadarnya sebagai tanggapan. Selebihnya, wajahnya kembali kaku seperti es batu.


"Jadi, Minggu ini kamu akan mengikuti pertemuan untuk mendapatkan tender pembangunan jaringan internet untuk wilaya Indonesia Timur?"


"Ya, Dan Axel akan kembali bertemu dengan Dharmawangsa, perusahaannya sedang naik daun, bulan lalu kita bahkan kalah tender software Singapura"


"Hmn, Kakek pernah mendengar tentangnya. Jadi, apa Kamu sudah pesimis?"


"Tentu saja tidak Kek, Axel yakin kali ini Djaja Group yang akan memenangkan tender ini"


"Bagus... Itu baru namanya cucu Adhitama Djaja"


Adhitama kembali terkekeh. Axel ikut tersenyum lembut. Setidaknya Ia bisa membuat Kakeknya tersenyum saat ini setelah semua yang telah dia lakukan selama ini.


Setelah dirasa cukup, Axel mengakhiri pertemuannya dengan Kakeknya, Adhitama dan pamit untuk kembali ke Kantor. Karena masih banyak pekerjaan yang harus Ia selesaikan.


Ia sudah berjanji pada dirinya untuk bekerja keras, demi masa depan anaknya kelak, walaupun Ia belum menemukan keberadaannya dan tidak mengetahui sama sekali keadaannya, tapi Axel yakin mereka akan bertemu suatu saat nanti, cepat atau lambat selama Ia tak menyerah untuk mencari.


Tiba-tiba, pria berjenggot itu tersenyum mengingat kejadian kemarin. Pertemuannya dengan seorang tukang bakso yang Ia tabrak. Tapi justru memberikan pelajaran hidup yang pada akhirnya membuatnya banyak berubah seperti sekarang ini.


Flashback on


"Gue mau nyetir sendiri" Kekeuh Axel. Pria itu bersikeras untuk menyetir sendiri mobilnya meski sudah mabuk berat.


"Jangan nekad Loe Xel, mau bunuh diri jangan gini dong caranya, Loe bisa mencelakai orang lain juga!. Kalo mau mati beneran mending Lo minum Baygon 3 botol"


Seru Vano yang selalu ada saat Axel lagi-lagi tenggelam dalam minuman keras. Sungguh merepotkan.


"Gue nggak mabuk, Gue masih sadar 2000%"


'Pala Loe peyang' batin Vano menggerutu.


Axel merebut kembali kunci mobilnya dari tangan Vano, kemudian berjalan sempoyongan menuju mini Cooper convertable kesayangannya.



Vano yang tak bisa berbuat apapun, akhirnya memutuskan untuk mengikuti mobil sahabatnya yang brengsek itu dari belakang.


Benar saja... Baru saja 5 menit mereka meninggalkan bar itu tiba-tiba...


Brakkkk

__ADS_1


Mobil Axel yang berkecepatan tinggi menabrak sesuatu. Kepulan asap memenuhi jalanan yang lengang itu. Wajar jika kondisinya sangat sepi, mengingat malam sudah hampir menyambut pagi, pukul 2 dini hari.


"Mampus..." Gumam Axel yang dengan sisa-sisa kesadarannya melihat orang tersungkur di depan mobilnya beserta.. gerobak??"


Axel yang panik segera turun dari mobil menghampiri korbannya itu, disusul dengan Vano yang tak kalah panik dari Axel.


"Gue nyesel tadi bilang begitu, Loe bener-bener nyelakain orang lain kan!"


Gerutu Vano yang kini sudah berjongkok di samping Axel.


"Masih hidup nggak kayaknya?"Tanya Vano yang dihadiahi lirikan tajam Axel.


"Kita bawa ke rumah sakit"


Ucap Axel singkat, Vano pun mengangguk mantap. Kemudian kedua pria tampan itu bersama-sama membopong pria yang tak sadarkan diri itu.


Axel dan Vano menunggu hampir setengah jam, hingga kemudian dokter klinik kesehatan yang letaknya tak jauh dari lokasi Ia menabrak korban.


"Alhamdulillah, hanya shock dan luka ringan pak. Setelah siuman bisa langsung pulang"


"Syukurlah" ucap Axel dan Vano kompak.


Setelah dokter pergi, Axel dan Vano pun masuk ke dalam ruang rawat korbannya yang merupakan tukang bakso keliling.


"Untungnya masih hidup Xel..."


"Sumpah Loe berisik banget Van kaya ibu-ibu. Bisa diem nggak sih Loe?" Desis Axel penuh tekanan.


Di tengah perseteruan kedua sahabat itu, tukang bakso yang menjadi korban tabrakan Axel mulai sadarkan diri.


Pria itu bergumam seraya memijit pelipisnya.


"Udah siuman Xel"


Ucap Vano yang diangguki oleh Axel. Mereka pun mendekati pria itu.


"Pak...?"


Mendengar seseorang memanggilnya, pria itu pun menoleh ke arah sumber suara.


"S-saya dimana mas?"


Tanya pria itu dengan wajah cemas.


" Di rumah sakit pak, maaf...tadi saya yang menabrak bapak"


Ucap Axel jujur.


"Alhamdulillah, jadi saya masih hidup mas?"


"Masih... Hehehe


Sekali lagi Saya mohon maaf ya pak"


Ucap Axel lagi, entah kenapa mendengar Axel berkali-kali meminta maaf membuat Darren tiba-tiba tersenyum.

__ADS_1


Axel yang dulu tidak akan pernah meminta maaf meskipun Dia yang bersalah. Apakah ini benar-benar Axel William Djaja sahabatnya?? Daren bermonolog dalam hati.


"I-iya mas... Tidak apa-apa, namanya juga musibah. Mas sudah mau bertanggung jawab saja Saya sudah sangat berterima kasih"


"Enggak pak enggak, ini memang tanggung jawab saya yang lalai"


"Hemmm... Anu... Mmm.. ge-gerobak saya bagaimana mas? Selamat juga?"


Tanya Pria itu dengan tidak enak hati.


"Gerobaknya rusak parah pak. Tapi tenang saja, Saya akan ganti plus Saya akan sewakan tempat untuk Bapak, gratis seumur hidup"


Tambah Axel


"Masya Allah.... Be-benar mas mau melakukan itu?"


"Iya... Bapak bisa pegang janji saya. Setelah ini Kita ke rumah Bapak"


"Alhamdulillah ya Allah... Terima kasih mas, terima kasih"


"Sama-sama..."


Ucap Axel yang ikut merasa senang melihat senyum merekah dari bibir pria itu, begitu juga dengan Darren.


"Mungkin ini yang namanya rezeki anak ya mas.."


Ucap pria itu. yang seketika membuat Axel mengeryit.


"Maksud Bapak?"


"Istri Saya sekarang lagi hamil mas, kami sudah menikah 15 tahun dan baru mau di kasih momongan. Alhamdulillah diberikan rezeki melalui mas-nya, saya jadi punya kios nanti, Alhamdulillah "


Senyum Axel seketika berubah sendu, pikirannya langsung melayang pada Azizah dan... calon bayinya.


"Mas?? Maaf apa saya terlalu berlebih-lebihan?"


"Ah.. ya?? Oh... Nggak pak, nggak. Saya ikut senang kalau Bapak merasa terbantu"


"Iya mas, sekali lagi terima kasih"


"Hmn... Kalau Bapak sudah merasa lebih baik, Saya antar pulang"


Vano dan Axel pun mengantar Pria yang di ketahui bernama Sarto itu ke rumahnya. Dan benar saja, saat sampai disana, Istri Sarto yang tengah hamil tua menyambut kedatangan suaminya dengan suka cita. Terlihat jelas jika wanita itu sangat khawatir.


Flashback off


Dari sanalah Axel berbincang banyak dengan Sarto, Ia mendapatkan pelajaran yang tidak akan pernah Ia lupakan.


"Daddy akan bekerja keras untuk masa depan Kamu, biarpun Daddy belum bisa menemukan kamu sayang. Tapi Daddy tidak akan menyerah sampai bisa berhasil menemukan kamu dan Mommy-mu"


Ucap Axel penuh keteguhan di tengah kegiatannya mengemudikan mobilnya menuju kembali ke kantor pusat Djaja Group.


Bersambung


Yaaah Pak Axel telat pakk Mon maap Aku mah milihnya pak Abi Hahahaha

__ADS_1


__ADS_2