BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Guru Les


__ADS_3

"Hei anak muda, apa kau tidak menyadari statusmu dengan Sarah sangat berbeda, seperti bumi dan langit."


"Apa kau bisa mempunyai sebuah perusahaan? Hei kau harus tau, bahkan untuk bekerja dan masuk disebuah perusahaan itu tidak akan mudah jika tidak memiliki orang dalam."


"Anak miskin sepertimu cari saja upik abu yang setara denganmu, jangan kau mencari seorang putri raja dengan segala kemewahannya."


"Arghhh." Raja terbangun dari tidurnya saat bermimpi buruk, penghinaan Yuda terus saja membayangi hidupnya. Bagaimanapun caranya, Raja harus sukses. Bukan lagi untuk mendapatkan Sarah, namun Raja ingin balas dendam pada Yuda dengan membuktikan bahwa dirinya akan menjadi orang yang sukses melebihi Yuda.


Raja meraih ponsel yang berada diatas nakas, dia melihat ada sebuah notifikasi dari media sosialnya. Setelah sekian lama, selama satu tahun lebih, Sarah baru membalas pesan Raja.


"Maaf Raja, aku rasa hubungan kita harus aku akhiri, aku tidak bisa menunggumu. Jangan ganggu aku lagi, berhentilah mengirimi aku pesan, karna pacarku disini sangatlah posessif, semoga kamu bahagia dan menemukan wanita yang sesuai dengan mu." ~Sarah~


Raja menghela nafas, kemudian Raja melihat media sosial milik Sarah, Sarah memposting Story sedang berciuman dengan seseorang, meskipun diarea penyatuan bibir itu ditutup oleh sebuah gambar emotion.


"Baiklah Sarah. Kamu menyerah, dan aku akan tetap membuktikan bahwa aku bisa sukses." Gumam Raja.


Raja keluar dari kamarnya hendak kekamar mandi, namun dirinya berpapasan dengan Regan yang akan kekamar mandi juga.


"Silahkan duluan Bang." Ucap Regan.


"Thanks Re." Jawab Raja.


Setelah dari kamar mandi, Raja tidak kembali kekamar, melainkan dirinya ke teras dilantai dua, dia menyesap rokok dan mendinginkan pikirannya, entah sejak kapan perasaan Raja untuk Sarah sudah menguap entah kemana, namun ambisi untuk meraih kesuksesan akan tetap ia perjuangkan.


"Kopi Bang." Suara Regan memecah lamunan Raja.


"Thanks Re. Rokok?" Tawarnya.


"Gue gak ngerokok Bang." Tolaknya halus sambil meletakan cangkir berisikan kopi diatas meja.


Raja tersenyum tipis.


"Tumben lu disini Bang? lagi putus cinta ya?" Tebak Regan asal.


Regan memberanikan diri untuk mengakrabkan diri dengan Raja, dalam pikirannya, mereka hidup dalam satu atap dan sudah menjadi satu keluarga, tidak baik jika harus terus berselisih.


"Sok tau lu." Raja sedikit tertawa.


Hening kembali.


Raja masih setia menyesap rokonya.


"Jangan banyak merokok Bang, gak baik untuk kesehatan."


"Calon dokter ngerti banget."


Mereka sedikit tertawa.


"Kenapa belum tidur?" Tanya Raja berbasa basi.


"Gak bisa tidur." Jawab Regan sambil sesekali melihat ponselnya.


"Mikirin cewek?" Tebak Raja.


Regan diam dan pandangannya lurus kedepan. "Cewek.." Gumam Regan yang terdengar oleh Raja.


"Kenapa? ditolak cewek?"


"Bukan ditolak juga sih Bang, cuma susah digapai aja." Jawabnya cengengesan. "Ah udah gak usah bahas cewek Bang."


"Rumit ya." Sahut Raja.


"Ya begitulah." Regan nenghela nafas. "Gue masuk duluan Bang, besok sekolah pagi."


Raja hanya mengangguk.


Regan kembali masuk kekamarnya, melihat foto Nanda diponselnya. "Kelulusan nanti, aku akan nembak kamu Nan." Gumamnya sambil mengusap layar ponselnya.


***


Drrtt.. drttt


Ponsel Nanda bergetar.


"Mau mulai les jam berapa hari ini?" -Raja-


"Pulang sekolah aja Mas, gimana?" -Nanda-

__ADS_1


"Pulang sekolah jam berapa?" -Raja-


"Jam dua sampai rumah sih." -Nanda-


"Kalo gitu jam empat aja ya, gimana?" -Raja-


"Jam tiga aja Mas." -Nanda-


"Kamu gak istirahat dulu?" -Raja-


"Biar capek sekalian, Mas 😁" -Nanda-


"Oke kalo gitu." -Raja.-


Nanda tersenyum setelah berbalas pesan dengan Raja.


"Senyum-senyum Nan, ada apa?" Tanya Ayla.


"Eh engga Ay." Nanda memasukan ponselnya kesaku seragamnya.


"Pulang main kerumah aku yuk." Ajak Regan.


"Tumben Re, biasanya ga boleh kalo kita mau kerumah." jawab Nanda.


"Iya bener Nan, udah setahun lebih kita gak boleh kalo mau kerumah Regan." Sahut Ayla.


"Ya elah, sekarang diajak malah banyak nanya."


"Tapi hari ini aku gak bisa, aku mulai les, Papa udah datangin guru privat." Ucap Nanda hati-hati.


"Les Nan?" Tanya Regan meyakinkan.


Nanda mengangguk.


"Gak belajar bareng kita lagi dong?"


"Maaf Re, Ay.. Tapi ini mau Papa."


Regan menghela nafasnya, ia menyadari waktu kebersamaanya dengan Nanda semakin berkurang.


***


Nanda tidak pernah menyebut kata Panti dan slalu menyebut kata Rumah untuk tempat pulang Ayla.


"Iya Nan, tenang aja sih. Kapan pernah aku turunin Ayla dijalan." Jawab Regan.


"Dan langsung pulang, Jangan nongkrong dulu diwarung es kepala muda." Protes Nanda.


Regan dan Ayla tertawa.


"Kalo kita gabut, aku pasti bawa Ayla mampir dulu Nan."


"Ishh curang.." Nanda merengut kesal.


"Cup.. cupp Nona muda jangan marah dong, kan jadi gak tenang kitanya." Ayla merangkul pundak Nanda.


"Iya iya.. ya Udah aku duluan ya.." Nanda masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh supirnya. "Dah Regaan, daaahhh Aylaa." Teriak Nanda dari dalam mobil yang kacanya terbuka sambil melambaikan satu tangannya.


"Tumben tuh anak semangat banget mau les, biasanya maunya belajar sama kita terus Ay." Ucap Regan sambil menunjuk mobil Nanda yang sudah berlalu dengan dagunya.


"Iya Re, mungkin karna Om Aryo iming-imingin Nanda sebuah mobil dan Nanda boleh nyetir sendiri kalo Nanda dapat nilai bagus, makanya dia semangat ikut Les "


"Bisa jadi sih." Regan berjalan menuju parkiran motor dan memberikan satu helm untuk Ayla.


Diperjalanan.


"Ay makan bakso kayaknya enak nih."


"Ditambah es teler Re."


Dan Regan dan Ayla pun tertawa diatas motor, merekapun memutuskan untuk mampir diwarung bakso pinggir jalan.


"Nanda kalo tau marah nih." Ucap Ayla sambil mulai mengaduk bakso nya, mencampur dengan racikan saus, kecap dan sambal bersamaan.


"Engga lah, tadi kan Nanda bilangnya gak boleh mampir ke warung es kelapa muda, bukan ke warung bakso." Regan tertawa karna bisa mencari alasan.


"Ishh kamu Re, bisa aja jawabnya."

__ADS_1


"Ya emang bener Ay, tadi kan Nanda bilang jangan mampir ke warung es kelapa, terus aku jawab ya kalo gabut mau ajak kamu mampir, salahnya dimana? yang penting bukan ke warung es kelapa kan."


Regan tertawa sementara Ayla hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


***


Nanda dengan semangat menunggu Raja, entah mengapa jantungnya berdegup dengan kencang.


"Oh tuhan, perasaan apa ini." Gumam Nanda pada dirinya sendiri.


Nanda turun dari kamarnya dan menghampiri dapur.


"Bi.. Tolong buatkan aku coklat hangat dong."


"Iya Non."


Nanda menikmati secangkir coklat hangat diruang televisi sambil menunggu kedatangan Raja, tak berselang lama Raja pun datang dan diantar oleh asisten rumah tangganya menuju ruang televisi.


"Siap belajar?" Tanya Raja berbasa basi.


"Siap Mas." Jawab Nanda.


"Kita belajar apa hari ini Mas?" Tanya Nanda kemudian.


"Kita?" Raja menatap mata Nanda sambil mengernyitkan keningnya.


"Iya."


"Tepatnya kamu, bukan kita." Ucap Raja santai.


Nanda hanya nyengir, lalu menyeruput coklat hangat yang masih penuh.


"Minum sendiri aja." Sindir Raja.


"Eh.."


"Mas Raja mau?" Tanya Nanda seraya menyodorkan mug berisikan coklat hangat miliknya.


Raja menerima mug berisikan coklat hangat milik Nanda lalu meminumnya.


Mata Nanda membola sempurna, "Ya ampun Mas, itu bekas aku."


Raja tersenyum sinis, "Lagi kamu yang kasih kan?" Tanyanya penuh jebakan.


"Maksud aku nanti dibuatin Bibi yang baru."


"Telat."


"Udah, ayo belajar. Tadi disekolah belajar apa? diulang aja." Raja berkata tanpa memberikan kesempatan berbicara untuk Nanda.


Degg..


deggg...


deeggg..


"Oh tuhan kenapa jantungku berdegup kencang."


Raja membuka buku pelajaran Nanda, ia melihat bagaimana Nanda mengerjakan tugas-tugasnya.


"Ini dikerjakan sendiri apa nyontek?" Tanya Raja berhasil membuyarkan lamunan Nanda.


"Enam puluh persen kerjain sendiri, empat puluh persen dibantuin Ayla." Jawab Nanda.


"Harusnya, kamu menjawab, seratus persen kerjain sendiri."


Nanda tertawa, "Kalo seratus persen aku kerjain sendiri, aku pinter dong? gak akan manggil guru les."


Raja mengangguk, "Iya harusnya sih gitu."


Nanda menengok kearah Raja dan Raja pun sama, lalu mereka tertawa bersama.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2