BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Kubawa luka ini sejauh mungkin


__ADS_3

"Penculik itu adalah Ramli, asisten sekaligus kaki tangan pemilik perusahaan ARDA KARYA GRUP yang datanya sulit kami lacak."


Degg.. Deg... Deggggg.


"Nanda adalah pewaris ARDA KARYA GRUP." Batin Irwan.


Irwan memang menyukai Nanda, bahkan Irwan menginginkan Nanda untuk jadi menantunya.


Irwan begitu menyukai kepribadian Nanda, terlebih setelah mengetahui Nanda yang diselingkuhi oleh suaminya dan diculik oleh adik ipar juga selingkuhan suaminya, membuat Irwan begitu iba pada Nanda.


Namun Irwan merasa kecewa saat mengetahui bahwa Aryo adalah pemilik ARDA KARYA GRUP yang merupakan otak dari penculikan Hana.


Ia merasa geram karna perbuatan Aryo yang bukan hanya menculik, bahkan menghilangkan jejak serta menyembunyikan dan merubah identitas Hana menjadi Ayla.


Mata Irwan tertuju pada seseorang, "Ramli Hidayat."


"Apa kabar Pak Irwan Budianto yang terhormat? masih ingat denganku?" Tanya Ramli sinis.


"Kau..." Irwan mengepalkan tangannya.


"Selamat karna putimu sudah kembali. Berterimakasihlah pada bos ku karna sudah merawat dengan baik putrimu." Ucap Ramli, "Ah aku lupa, Bos ku baru saja menghembuskan nafas terakhirnya dihari ini, dan itu karna Pak Aryo begitu merasa bersalah pada Ayla."


"Aku rasa dia takut menghadapiku, karna itu dia memilih mati." Jawab Irwan geram, yang belum bisa menerima kenyataan ini.


"Ingat Pak Irwan, masalah ini anda lah yang memulai, tanpa mendengar penjelasan Pak Aryo, anda memutuskan kontrak sepihak dan membuat Pak Aryo rugi besar bahkan hampir bangkrut. padahal saat itu kondisi Pak Aryo baru saja ditinggal mati oleh istrinya dan membesarkan putrinya seorang diri."


"Apapun alasannya, dia tetap seorang kriminal."


"Cih, anda memang slalu melihat dari sisi jeleknya tanpa mau berfikir positif. Bisa saja Pak Aryo membuang anakmu ditempat lain, namun ia masih memiliki hati yang baik, sehingga ia tetap menjaga bahkan merawat putrimu sama seperti dengan dengan putrinya sendiri."


Irwan menatap tajam Ramli, "Akan aku pastikan, anaknya mendapatkan hukuman atas perbuatan ayahnya."


Ramli mendekat pada Irwan dan berbisik, "Jangan sentuh Nanda, berani kau menyentuhnya sedikit saja, maka aku akan bertindak. Pak Aryo dilindungi oleh orang-orang kuat yang bisa kapan saja menghancurkan keluargamu bahkan bisnismu."


"Jangan mengancamku." Gertak Irwan.


"Cukup jauhkan anak-anakmu dari Nanda, dan jangan mengganggu Nanda, maka urusan kita selesai."


"Jangan khawatir, tentu saja aku tidak akan membiarkan anak-anakku dekat dengan anak penculik itu." Irwan kembali masuk dan mengajak Linda pulang. Tetapi ia tetap membiarkan Pras dan Ayla menemani Nanda hanya untuk hari ini.


"Kenapa kita pulang, Pap? Kita belum bertemu Nanda."


"Kepala Papi pusing, Mam. Kita pulang saja." Kilahnya berbohong.


***


Nanda menatap gundukan tanah yang bertabur bunga segar dan papan nisan bertuliskan nama Aryo Darmawan. Makam Aryo beresebalahan percis dengan makan istrinya yang sudah lama meninggal.


"Papa pasti bahagia udah sama-sama Mama." Lirihnya sambil mengusap papan nisan itu.


"Nanda, ayo kita pulang." Ajak Haris.


"Nanda masih mau disini Yah." Jawab Nanda pelan.


"Nanda, Papa pasti sedih melihat Nanda seperti ini."


"Gak apa-apa Yah. Biar Papa dan Mama lihat Nanda, lalu mereka juga menjemput Nanda."


"Nanda..." Panggil Ayla yang juga merasakan kesedihan itu, namun Nanda tidak perduli.


Regan beralih mendekat pada Nanda. "Kita pulang ya." Ajak Regan.


Nanda menggelengkan kepalanya.


Pras kembali mendekati Nanda. "Aku akan menjagamu." Ucapnya.


"Aku hanya mau sendirian." Jawab Nanda tanpa menoleh kearah Pras.


"Nanda ayo kita pulang. Aku dan Regan akan menemanimu." Bujuk Ayla.


"Kalian pergilah. Aku bisa hidup sendirian." Nanda tetap keras kepala.


Robi mendekat pada Nanda. "Aku akan mengantarmu Nan."


Nanda mengangguk, namun ketika Nanda berdiri, ia kehilangan keseimbangannya, dan Brukkkk, Nanda pingsan karna terlalu lelah, ia pun belum memakan apapun, makanan yang terakhir masuk kedalam perutnya adalah semangkuk bakso yang ia makan bersama Regan kemarin siang.


"Biar Nanda dibawa kemobil saya." Ucap Pras pada Robi.


"Biar saya yang membawanya pulang." Robi tidak mau membiarkan Nanda dibawa oleh Pras.


"Kak Robi, biarkan Nanda bersama kami. Besok kami yang akan mengantarkan Nanda pulang skalian aku dan Regan juga akan tinggal bersama Nanda." Pinta Ayla.


"Ay, gak bisa." Ucap Robi.


"Hanya malam ini Kak, kalo Nanda dibawa pulang, ia pasti sangat sedih karna masih terbayang-bayang Papa Aryo." Bujuk Ayla.


Namun Robi tidak bisa menahannya, "Baiklah, tapi hanya untuk malam ini saja, dan Heru ikut bersama kalian." Ucap Robi memberi syarat.

__ADS_1


Ayla menyetujuinya, karna Ayla berfikir, Heru memanglah orang yang disiapkan Aryo untuk menjaga dan melindungi Nanda dimanapun dan kapanpun.


Nanda dibawa pulang kerumah Pras,


"Kenapa kalian membawa dia kerumah ini?" Tanya Irwan yang melihat Pras membaringkan Nanda diata sofa panjang.


"Nanda pingsan Pap, kami membawanya kesini dulu hingga Nanda baikan."


Regan segera memeriksa Nanda, tak lama kemudian Nanda tersadar dari pingsannya. Ia melihat sekelilingnya.


"Kenapa kalian membawaku kesini?" Tanya Nanda lemah.


"Kamu disini dulu Nan, besok aku dan Regan akan tinggal bersamamu dirumah Papa." Ucap Ayla yang terdengar oleh Irwan.


"Apa-apan ini Hana? Kamu mau pindah dari sini? Papi tidak akan mengijinkannya." Ucap Irwan tegas.


Heru yang mendengar keributan itu segera memberitahu Robi.


"Papi, hanya Ayla dan Regan keluarga Nanda saat ini." kata Ayla


"Kamu Hana, bukan Ayla. Berhenti menggunakan nama itu. Papi tidak menyukainya." Bentak Irwan.


"Papi, kenapa Papi seperti itu?" Tanya Pras.


"Kamu juga Pras, hentikan hubunganmu dengan dia." Ucap Irwan sambil menunjuk Nanda.


Nanda mengerti dengan sikap Irwan. Pikirnya pasti Irwan sudah mengetahui semuanya.


"Papi, ada apa dengan Papi." Sahut Linda.


"Dengarkan Papi, dari sekarang, jauhi dia. Dia adalah anak dari orang yang tlah menculik Hana dua puluh lima tahun yang lalu."


Semua terkejut mendengar ucapan Irwan, "Apa maksud Papi?" Tanya Pras.


"Aryo Darmawan yang ternyata pengusaha kontruksi pemilik ARDA KARYA, dia menyimpan dendam pada Papi, dan menculik Hana, mengganti identitas Hana menjadi Ayla dan menjadikannya Anak angkat. Licik sekali dia, bahkan dia memilih mati dari pada harus mengakuii perbuatannya." Ucap Irwan berapi-api.


"Papi.." Kali ini Regan mencoba membela Nanda.


"Ini gak benar Pap, Papa Aryo adalah orang yang sangat baik, bahkan Papa Aryo memperlakukan aku sama dengan Nanda." Ayla mulai sedikit histeris.


Irwan menatap tajam Nanda, "Sepertinya kamu sudah mengetahuinya? Bukankah begitu?" Tanya Irwan sinis.


"Nanda, katakatan itu tidak benar. Katakan apa yang dikatakan Papi itu salah."


Nanda hanya diam, matanya masih terasa panas akibat banyak menangis, tubuhnya masih terasa lemas, bahkan ia tidak mampu berkata apa-apa.


"Nanda, bicaralah. Aku mohon." Pinta Ayla.


Robi berjalan kearah Nanda dan merangkulnya. "Kamu baik-baik saja?" Tanya Robi, namun Nanda tidak menjawab, tubuhnya gemetar dan sangat lemas.


"Wajahmu tidak asing, apa kau anak si tua Ramli, kaki tangan ARDA KARYA?" Tanya Irwan.


Robi menatap tajam Irwan. "Harusnya anda berkaca, masalah hari ini ada karna anda yang memulainya, tuan Irwan Budianto yang terhormat."


"Berani sekali, kau."


"Ayah saya sudah memperingatkan anda untuk tidak menyentuh Nanda."


"Kak, sudah.." Suara Nanda yang lemah mencegah Robi membalas perkataan Irwan.


"Aku mau pulang." Lirih Nanda lagi.


"Ayo kita pulang." Robi memapah Nanda, namun Nanda menghentikan langkahnya saat didepan Ayla.


"Maafkan Papaku, Ay." Ucap Nanda dengan suara lemah yang hampir tidak terdengar.


"Ini bohong, Nan." Ucap Ayla.


"Ini kenyataan. Maafkan Papa, biarkan Papa tenang disana." Pinta Nanda yang membuat Ayla memantung.


"Nanda, tunggulah kami dirumah, aku akan segera kerumah bersama Ayla." Ucap Regan sebelum Nanda melangkahkan kakinya.


Nanda tersenyum, "Aku menyanyangi kalian." Ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar.


Pras juga masih terdiam, ia begitu shock mendengar kenyataan ini, hingga alam sadarnya kembali, Pras segera mengejar Nanda keluar, namun sayang, mobil Nanda sudah melesat pergi keluar.


Pras berjalan gontai kembali masuk kedalam rumahnya.


"Kenapa Papi lakukan ini?" tanya Pras.


"Kenapa kamu menyalahkan Papi, Pras? Jelas mereka yang salah, mereka sudah menculik Hana."


"Aku bukan Hana, aku Ayla." Lirih Ayla.


"Hana!!" Bentak Irwan.


Ayla berdiri dari duduknya. "Apa yang Papi lakukan pada keluarga Nanda? Aku tau betul Papa Aryo adalah orang yang baik, tidak mungkin ada asap jika tidak ada api."

__ADS_1


"Ay..." Regan mencoba menenangkan Ayla.


"Kita pergi dari sini Re. Aku kira, aku akan bahagia jika bertemu dengan keluarga kandungku, ternyata aku tidak bahagia. Aku lebih bahagia menjadi anak angkat Papa Aryo dan saudarinya Nanda." Ucap Ayla.


"Hana.. Jangan pergi, Mami mohon." Saut Linda yang ketakutan melihat Ayla pergi meninggalkannya.


"Maaf, Mami. Tapi jujur aku lebih menyukai diriku tetap menjadi Ayla."


"Tidak apa jika kamu mau tetap memakai identitas Ayla, tapi Mami mohon, jangan tinggalkan Mami lagi." Linda menangis sambil memegang tangan Ayla.


"Mami jangan begini, aku mohon."


"Tidak, Hana.. Mami tidak mau kamu pergi. Mami tidak menyalahkan Nanda. Mami juga menyayangi Nanda, Nanda tidak tau apa-apa, Nanda tidak bersalah." Ucapan Linda begitu tulus, ia memang tidak pernah mempersalahkan siapa Nanda.


"Kamu keterlaluan Pap, Nanda hanyalah korban. Lagi pula ini terjadi karna kesalahanmu dimasa lalu. Lihatlah Hana, ia dibesarkan dengan begitu baik, aku rasa itu adalah sebagai penebus kesalahan Aryo Darmawan."


Irwan hanya terdiam, ia mencerna kata-kata istrinya itu, meskipun marah, harusnya Irwan bersyukur, Aryo tidak membuang Hana atau mengirimnya ke tempat perdagagan organ tubuh anak.


Irwan berdiri dan masuk kedalam ruang kerjanya, ia berfikir kembali setiap kejadian antara dirinya dan Aryo dimasa lalu.


Ayla ingin sekali menyusul Nanda, namun Linda menahannya, Reganpun menenangkan Ayla dan berjanji bahwa esok ia akan menyetujui pindah kerumah Nanda, karna saat ini sudahlah malam dan Ayla harus memikirkan Ryu.


"Aku kecewa Mas, karna Mas tidak membela Nanda sama sekali. Itukah yang Mas bilang cinta? Aku rasa Mas Pras sama sekali tidak pernah mencintai Nanda." Ucap Ayla pada Pras sebelum akhirnya Ayla masuk kembali kekamarnya.


"Pras, jika kamu ragu akan Nanda, lebih baik jauhi Nanda dari sekarang. Dari pada kamu menyakitinya dikemudian hari. Nanda pernah merasakan pahitnya dalam berumah tangga, jangan sampai kamu mengulangi apa yang pernah Nanda rasakan bersama mantan suaminya dulu, apa lagi kini Nanda hidup sebatang kara." Ucap Linda bijak.


Didalam kamar, Ayla dan Regan hanya saling terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Sementara dimobil Robi.


"Bukankah malam ini harusnya aku dan Papa berangkat ke Amsterdam?" Tanya Nanda masih dengan suara yang lemah.


Robi yang sedang menyetirpun mengangguk.


"Aku akan tetap pergi, jam berapa pesawatku berangkat?"


"Kamu serius, Nan?" Tanya Robi khawatir.


"Aku tidak pernah seserius ini, sebelum Papa meninggalkanku, Papa bilang kalau aku harus tetap pergi menjauh dari mereka." Ucap Nanda dengan tatapan kosong kedepan.


"Lebih baik kamu istirahat dulu, kita atur jadwal kepergianmu nanti." Kata Robi.


"Tidak Kak, aku ingin pergi malam ini juga."


"Pesawatnya dua jam lagi, Nan."


"Keburu Kak, aku hanya pulang mengambil dokumen keberangkatanku dan membawa koperku yang sudah aku siapkan. Kita langsung berangkat."


"Nanda..."


"Aku harus pergi sesuai keinginan Papa, menjauh dari mereka, aku tidak ingin Papa melihatku tersakiti."


"Kakak tidak akan membiarkanmu disakiti siapapun, Nan."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Papa yang memintaku untuk tetap pergi Kak, aku ingin Papa tenang disana."


Robi pun mengingat amanat terakhir dari Aryo, yang meminta untuk tetap membawa Nanda pergi jauh.


Nanda hanya pulang mengambil dokumen dan kopernya, sebelunya ia juga masuk kedalam kamar Aryo dan memeluk bantalnya.


"Nanda pergi, Pa.. Terimakasih telah menjadi Papa yang hebat untuk Nanda."


Robi mengantar Nanda kebandara, Heru akan mendampingi Nanda hingga tiba di negara tujuan. Di bandara, sudah ada Ramli dan Tedy yang akan melepas kepergian Nanda.


"Om akan merindukanmu, Om juga akan menyuruh Robi untuk sering mengunjungimu." Ucap Ramli sambil melerai pelukannya.


"Terimakasih, Om sudah setia sama Papa."


"Om yang berterimakasih pada Papamu, percayalah pada Om, Papa mu adalah orang yang sangat baik, Om bersaksi untuk itu."


Nanda mengangguk, kemudian beralih pada Robi. "Titip perusahaan ya Kak, tetap lanjutkan apa yang sudah berjalan."


"Tenang saja, Nan. Kakak akan melanjutkan apa yang sudah berjalan." Jawab Robi.


Nanda bersiap untuk keberangkatannya, sebelum pesawat lepas landas, Nanda melihat kearah jendela pesawat.


"Ayla, Regan, selamat tinggal, Aku pergi."


"Mas Pras, maafkan jika aku mengecewakanmu."


"Disya, Ryu, tumbuhlah jadi anak yang baik, Mommy akan slalu mendoakan kalian."


"Kubawa luka ini sejauh mungkin, semoga kalian bahagia."


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2