BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Pelarian Nanda


__ADS_3

Sarah mendapatkan pesan masuk di grup lingkungan kerjanya, ia memang belum keluar dari grup perusahaan. Berita soal rapat pemegang saham itu akhirnya ia ketahui.


"Bagaimana ini Liv? Raja pasti tidak akan menghadiri rapat itu, meski Raja ambisius, namun Raja orang yang tidak tegaan." Ucap Sarah pada Olivia.


"Kita harus pulang untuk bujuk Bang Raja, justru ini kesempatan bagus jika Bang Raja jadi pemimpin sementara, akan banyak lagi yang bisa kita dapatkan." Ujar Olivia.


Mereka memutuskan untuk kembali ke kota dan meninggalkan Nanda divila diperbukitan, Nanda dijaga oleh penjaga villa, sepasang suami isttri.


Sarah dan Olivia tiba dirumah Regan malam hari, Olivia terus-terusan membujuk Raja agar Raja mau kembali keperusahaan.


"Stop, Liv!! Abang gak akan kembali keperusahaan Nanda." Tegas Raja.


"Abang, ini kesempatan bagus untuk kita mengambil lebih banyak lagi, Bang." Bujuk Olivia.


"Raja, setidaknya jika kamu kembali, maka rahasia kita akan aman, kamu bisa menghilangkan bukti-bukti. Apa kamu ingin kita bertiga masuk penjara? Apalagi Ayla sangat teliti." Kali ini Sarah yang berbicara.


"Ini semua karna kamu, Sar!! Harusnya dari awal aku tidak menuruti semua kelicikanmu menggelapkan dana perusahaan."


"Sudahlah Raja, jangan menyesali apa yang sudah kita perbuat, sekarang kamu harus kembali kerperusahaan dan memegang kendali perusahaan, dari pada ketahuan lalu masuk penjara."


Raja menggusar rambutnya dan duduk. "Dimana kamu, Nan." Lirihnya yang terdengar oleh Olivia dan Sarah.


"Istrimu itu pasti sedang bersenang-senang, Bang." Sahut Olivia.


"Diam Oliv!! Kenapa dari dulu kamu tidak menyukai Nanda? Hidup kita banyak berubah karna Nanda, kamu bisa menyelesaikan kuliahmu juga karna Nanda." Raja mengeluarkan emosinya dan masuk kekamarnya seraya membanting pintu.


"Bagaimana ini Liv?" Tanya Sarah.


"Tenang aja Kak, yang penting Nanda ditangan kita, Bang Raja pasti tetap jadi pemimpin perusahaan slama Nanda masih ditangan kita."


Pagi hari, Ayla tlah bersiap untuk menghadiri rapat didampingi oleh Robi, Ayla bersiap dari rumah sakit, ia tidak beranjak dari sisi Aryo dan dengan telatennya slalu merawatnya.


"Papa, doakan Ayla hari ini. Semoga Ayla bisa membanggakan Papa dan menjaga semua apa yang Papa dan Nanda tlah perjuangkan." Ucap Ayla pada Aryo sembari menggenggam tangan Aryo dipipi Ayla.


Aryo tidak menanggapai karna tubuhnya terlalu lemas, ia hanya mendengar tanpa bisa membuka mata.


Regan mengusap pundak Ayla, "Papa pasti bangga sama kamu, Ay." Ujar Regan menguatkan Ayla.


Ayla berdiri dan menghadap Regan. "Doakan dan dukung aku terus ya Re." Ucap Ayla sendu.


Regan memeluk Ayla dan mengusap kepalanya, "Aku akan mendoakanmu disini, maaf jika aku tidak bisa menemanimu."


"Tidak apa Re, aku titip Papa ya."


Regan mengangguk sambil mengendurkan pelukannya, lalu mencium kening Ayla dan mengecup bibirnya sekilas.


Sementara Raja, dia masih bingung dengan apa yang akan ia lakukan, disisi lain ia tidak ingin menjadi pimpinan perusahaan, ia cukup tau diri untuk tidak merebut kekuasaan Nanda. Namun disisi lain, ia harus menduduki kursi pemimpin itu atau tetap menjadi ceo, agar perbuatannya slama ini tentang penggelapan dana perusahaan tidak ketahuan dan tetap tertutupi.


Sarah tetap mendampingi Raja menjadi sekertaris, ia tidak perduli dengan tatapan sinis para karyawan lain.


Rapat pemegang saham dimulai, namun Raja tetap memegang saham tertinggi setelah sahamnya dan saham Nanda digabungkan.


Mau tidak mau, Raja akan tetap memimpin perusahaan sementara sampai Nanda kembali, tetapi saat akan pengesahan, pengacara perusahaan masuk dengan memperlihatkan saham milik Aryo yang sudah diberikan semuanya kepada Ayla. Semua menatap tak percaya termasuk Ayla sendiri. Bagaimana bisa Aryo memberikan seluruh sahamnya kepada anak angkatnya itu.


Dalam hati Ayla menangis terharu, Robi menguatkan Ayla dan meyakininya bahwa Ayla harus menerima dan menjalankan apa yang sudah Aryo percayakan padanya.

__ADS_1


Rapatpun berakhir dengan keputusan, Ayla akan menjadi presdir sementara dan Raja tetap menjadi ceo hingga Nanda kembali pulang.


Ayla memutuskan tidak akan membuka dulu kejahatan Raja soal penggelapan Nanda, ia ingin Nanda sendiri yang nanti akan mengambil keputusannya. Tetapi Ayla terus mengawasi gerak gerik Raja dan memecat manager keuangan sebelumnya dan mengganti nya dengan orang yang lebih setia kepada perusahaan.


Ditempat lain, malam hari di villa perbukitan.


Nanda terus memikirkan cara untuk keluar dari villa ini.


Ceklek


pintu terbuka memperlihatkan sepasang suami istri yang membawakan makanan untuk Nanda.


"Pasangan suami istri ini kelihatan baik. Tapi kenapa mau ikut kedalam urusan penculikan." Batin Nanda.


"Taro aja makanannya disitu Pak, Ibu mau ngelap dulu nona ini, kelihatan lusuh sekali." Ucap Bu Amir.


"Iya Bu, dilap aja badannya. Ikatan nya jangan dilepas nanti kita kena marah sama nona Oliv." sahut Pak Amir.


"Kenapa kalian mau disuruh Olivia? Bagaimana jika kalian nanti masuk penjara?" Tanya Nanda.


"Maaf Non kami terpaksa. Non Olivia mengancam kami akan melaporkan kami pada pemilik Villa jika kami tidak menuruti kemauan Nona Olivia. Kami takut dipecat, kami tidak punya tenpat tinggal lain." Ucap Bu Amir.


"Memangnya siapa pemilik Villa ini?" Tanya Nanda.


"Tuan Yuda Non, kekasihnya Nona Olivia." Jawab Pak Amir ragu-ragu.


"Kekasihnya?" Tanya Nanda meyakinkan.


"Anu Non, sebetulnya Nona Olivia itu simpanan Tuan Yuda. Dan Vila ini diberikan Tuan Yuda untuk Nona Olivia. Tuan Yuda sudah memiliki istri dan tiga orang anak, juga punya satu cucu."


"Apa??" Nanda terkejut mendengarnya.


"Kalian mau menolong saya?" Tanya Nanda.


Pak Amir dan Bu Amir saling memandang lalu menatap Nanda.


"Kalian hanya perlu melepaskan ikatan saya, kalian membiarkan saya lari dari sini. Jika kalian dalam kesulitan, kalian bisa datang kerumah saya, keluarga saya memiliki banyak Villa, saya akan menempatkan kalian disalah satu Villa milik keluarga saya untuk menjaganya." Ucap Nanda memelas.


Pak Amir seperti berfikir.


"Bahkan saya akan menggaji kalian dengan layak, Saya tidak akan melupakan kebaikan kalian jika kalian mau menolong saya. Jika Olivia pulang, dan kalian dipecat, kalian datang saja kekota menemui keluarga saya."


Pak Amir masih berfikir, ia ingin sekali keluar dari Villa ini dan mencari kehidupan yang lebih layak.


Bu Amir melepaskan ikatan tangan Nanda.


Nanda melepas kalung yang melingkar dilehernya lalu memberikannya pada Bu Amir.


"Datanglah ke kota, ke jalan Berlian lima nomer lima, bawalah kalung ini sebagai bukti, ini adalah kalung saya, Papa saya dan Ayla pasti mengenali kalung ini. Jika saya sudah kembali duluan, saya pastikan akan menerima kalian, tetapi jika saya belum kembali, tolong ceritakan pada keluarga saya tentang apa yang menimpa saya. Saya yakin keluarga saya tetap akan berterimakasih pada kalian." Ucap Nanda memelas seperti sudah kehabisan kata-kata.


"Pak bagaimana ini?" Tanya Bu Amir.


"Lepaskan saja Bu, Bapak inget sama anak kita yang sedang jadi TKW, Bapak takut karma nya nanti keanak kita, dia mendapat kesulitan dinegri orang." Jawab Pak Amir.


"Lalu bagaimana jika Non Olivia marah?"

__ADS_1


"Kita pergi dari sini dan pulang kampung saja." Jawab Pak Amir.


"Jangan, kalian bilang tidak punya tempat tinggal. Kalian datang saja kekota, dan bawa kalung ini kekeluarga saya, saya yakin mereka akan membantu kalian." Ucap Nanda.


"Tapi bagaimana jika mereka tidak mempercayai kami dan malah melaporkan kami?" Tanya Ibu Amir khawatir.


Nanda tampak berfikir. "Carikan saya kertas dan pulpen." Pinta Nanda.


Tak lama kemudian, Pak Amir membawa Pulpen dan kertas, lalu diberikan pada Nanda.


Dear Ayla dan Papa.


Ay, Papa.. Ini aku, Nanda.


Ayla, Kamu pasti mengenali tulisanku ini.


Olivia dan Sarah menculikku, mereka membawa dan menyekapku di villa diperbukitan, villa ini milik tuan Yuda yang tak lain ada kekasih Olivia. Kedua orang ini bernama Pak Amir dan Bu Amir, mereka membantuku untuk keluar dari villa dan membiarkanku melarikan diri. Jika aku belum sampai kerumah, tolong cari aku diperbukitan sini dan beri pekerjaan yang layak pada pak Amir dan bu Amir ini, mereka sudah menolongku. -Nanda-


Nanda melipat kertas itu dan memberikannya pada Pak Amir. Pak Amir membacanya sekilas dan melipatnya lalu menyelipkannya didompetnya bersama kalung milik Nanda sebagai bukti.


"Non makan dulu biar ada tenaga, atau tunggu esok hari, ini sudah malam." Ucap Bu Amir.


"Tidak perlu, Bu. Saya hanya ingin segera keluar dari sini, saya takut jika menunggu besok, Olivia keburu kembali kesini." Jawab nanda.


"Berapa jauh jalan utama dari villa ini?" Tanya Nanda.


"Sekitar lima kilometer Non." Jawab Pak Amir.


"Non, hanya perlu mengikuti jalan menuju ke jalan utama, disini masih sepi Non, hanya ada beberapa Villa yang dihuni oleh penjaganya saja."


"Apa ada hewan buas disekitar sini Pak?" Tanya Nanda.


"Tidak ada Non, hanya ada jalan yang curam, disisi kanan dan kiri juga masih tanah yang curam, Non hati-hati saat jalan takut tergelincir walaupun jurangnya tidak dalam dan masih ada villa dikaki bukit." Jawab pak Amir.


Nanda mengangguk, "Bapak dan ibu tau dimana tas dan ponsel saya?" Tanya Nanda.


Pak Amir dan Bu Amir menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu Non."


Nanda segera bersiap untuk keluar, Bu Amir memberikan uang untuk Nanda. "Non, barangkali Non butuh untuk naik kendaraan atau membeli makanan dijalan."


Hati Nanda terenyuh ia menerima dua lembar uang berwarna biru itu. "Akan saya ingat kebaikan Ibu dan Bapak. Saya mohon, segera temui keluarga Saya, doakan Saya agar bisa selamat sampai kerumah." Ucap Nanda sendu.


Nanda mulai pergi meninggalkan villa, penjaga villa hanya membantu untuk melepas ikatan dan memberinya arahan, selanjutnya Nanda sendiri yang harus mencari jalan keluar.


Nanda menyelusuri jalanan yang cukup gelap dan hanya disinari oleh lampu temaram, sisi kanan dan kiri adalah jurang yang curam, namun terlihat lampu-lampu yang merupakan villa dibawah jalan curam itu.


"Tuhan, lindungi aku." Nanda berdoa dalam hati, menguatkan dirinya sendiri didalam ketakutannya. Sungguh, Nanda merasa takut.


Hujan turun begitu deras, Nanda merasa sedikit lelah karna tadi tidak mau makan yang tlah disiapkan oleh Bu Amir dan kini Nanda menjadi lemas, hujan yang menguyur bumi begitu deras, bahkan petir begitu menggema apa lagi didaerah perbukitan, tidak ada tempat berteduh, membuat Nanda kehilangan pandangan karna terus-terusan terguyur oleh hujan, tubuhnya semakin melemas dan hilang keseimbangan, Nanda tergelincir hingga jatuh berguling-guling, seketika pandangannya semakin gelap setelah kepala nanda membentur pohon dengan begitu keras.


"Papa, Ayla, Nanda disini, tolong temukan Nanda." Batinnya sebelum kehilangan kesadarannya.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2