BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Amnesia


__ADS_3

"Papa.. Ayla, Nanda disini, tolong temukan Nanda." Batinnya sebelum kehilangan kesadarannya.


***


Raja terduduk ditepi tempat tidur seorang diri. Ia memutuskan akan menceraikan Sarah jika bayinya tlah lahir, Raja menyesali segala perbuatannya pada Nanda, ia berjanji akan memperbaiki hubungannya pada Nanda dan mengakui perbuatannya slama ini. Raja yakin, jika Nanda akan memaafkannya.


Sarah merasa kesal karna Raja terus mengabaikannya, terlebih kini Raja melarang Sarah memasuki kamarnya, Sarah hanya boleh tidur dikamar khusus tamu bersama Olivia.


"Oliv, sepertinya kamu harus segera kembali ke villa itu, aku takut Nanda kabur dan menceritakan semuanya pada Raja."


"Kak Sarah tenang saja, Nanda tidak mungkin kabur penjaga Villa itu akan menjaganya, jika Nanda kabur maka mereka akan aku pecat, mereka akan jadi gelandangan karna mereka tidak punya tempat tinggal." Jawab Olivia.


"Mengapa kamu yang memecatnya? Bukannya penjaga villa itu pekerja yang dikerjakan oleh temanmu?" Tanya Sarah menyelidik.


"Oh iya Kak. Maksudku, temanku yang akan memecatnya, akan kubilang bahwa penjaga Villa itu tidak becus menjaga villa hingga membuat barangku hilang." Kilah Olivia berbohong.


Sarah menganggukan kepalanya, namun otaknya yang licik menaruh curiga pada Olivia.


"Jadi kita akan membiarkan Nanda disana sendiri?" Tanya Sarah.


"Lusa aku akan kembali ke villa, besok aku masih ada urusan disini Kak. Dan kakak tidak usah ke villa lagi, kakak harus terus jadi sekertaris Bang Raja dan menghasutnya untuk mengambil lebih banyak aset milik Nanda." Ucap Olivia yang diangguki oleh Sarah.


Dirumah sakit, Ayla masih setia menjaga Aryo, ia tidak pernah pulang ke apartemen kecuali untuk mengambil perlengkapannya saja.


Regan yang baru saja selesai jam praktik dipolinya segera naik kelantai atas, tempat dimana Aryo dirawat.


"Ay, makanlah dulu." Ucap Raja sambil memberikan sekotak nasi goreng yang ia bawa dari kantin rumah sakit.


"Terimakasih Re, kamu sudah makan?" Tanya Ayla.


Regan mengangguk, "Sudah."


"Maafkan aku, Re. Aku tidak bisa menunaikan tugasku sebagai istri, melayanimu dan-"


Cupp


Regan mengecup sekilas bibir Ayla.


"Jangan dipikirkan, Ay. Nanda sahabat kita, Papa Aryo adalah orang tua kita, kita akan menjaganya, kita juga akan terus mencari Nanda. Jangan kamu pikirkan hubungan kita, aku akan slalu menjaga dan mendukungmu." Ucap Regan.


"Terimakasih, Re. Aku sangat mencintaimu." ucap Ayla.


"Aku juga sangat mencintaimu, Ay." Jawab Regan.


Regan menyuapi Ayla dengan telaten.


Dari brankar, diam-diam Aryo memperhatikannya.


"Aku harus segera sehat kembali, kasian Ayla harus mengurus perusahaan dan menjagaku juga." Batin Aryo.


***


Sinar mentari terbit dengan begitu indah, udara pagi hari diperbukitan begitu segar, terlebih semalam hujan terus turun membasahi bumi diarea perbukitan.


"Daddy, Disya mau main dihalaman." Ucap seorang anak kecil bernama Adisya.


"Sebentar, Sayang. Daddy habiskan dulu sarapan Daddy." Ucap sang Ayah yang tak lain adalah Pras.


"Disya tunggu dilual ya Dad." Ucap Disya dengan ciri khas cadelnya.


"Oke Sayang, jangan jauh-jauh dari villa ya." Ucap Pras.


Disya berjalan-jalan disekitar Villa, ia berlari-lari kecil tertawa gembira dengan diperhatikan oleh pengasuhnya.


Disya tengah berlibur bersama Pras di Villa milik Pras, ia slalu senang diajak ke Villa karna udaranya yang masih sejuk.


"Sya.. kamu dimana?" Teriak Pras yang baru saja keluar dari Villa dan tak menemukan keberadaan putri kecilnya itu.


"Disya disini Dad, cali Disya ya." Teriak Disya.


Disya berjalan mundur sambil mengamati Pras agar tidak menemukannya.


Dug,


Awshh.


Disya tersandung dan jatuh terduduk, seketika matanya menangkap sesuatu.


"Aaahhhhh Dadddyyyy" Teriak Disya histeris.

__ADS_1


Pras segera berlari kearah sumber suara. Matanya melihat seseorang tergeletak dengan tubuh penuh luka terutama dibagian kepala, dia adalah Nanda.


"Ya Tuhan." Pekik Pras lalu menggendong Disya menjauhi tubuh Nanda.


Disya segera diambil alih oleh pengasuhnya setelah pengasuhnya ikut mendengar teriakan Disya.


Pras yang merupakan seorang dokter segera memeriksa kondisi Nanda.


"Masih ada Nadinya." Gumam Pras saat memegang pergelangan tangan Nanda.


Pras menggendong tubuh Nanda masuk kedalam villa, Pras juga menyuruh pengasuh Disya untuk membersihkan luka dan mengganti pakaian Nanda yang basah dengan meminjam pakaian milik pengasuh Disya.


Pras mulai mengobati luka-luka Nanda, sebagai dokter, Pras selalu membawa perlengkapannya dan disimpan didalam mobil.


"Gadis ini lemah sekali, tubuhnya penuh dengan luka, dan dibagian pergelangan tangannya terdapat jejak seperti ikatan yang kencang, sudut bibirnya juga berdarah. Apa dia korban penculikan?" Gumam Pras yang memeriksa berbagai luka tak wajar pada Nanda.


"Daddy, siapa dia? apa dia Mommy?" Tanya Disya dengan polosnya.


"Bukan Sya, dia bukan Mommy. Dia pasien yang harus Daddy rawat." Jawab Pras.


"Apa dia akan jadi Mommy Disya?" Tanya Disya lagi.


Pras hanya tersenyum sambil membelai lembut rambut Disya. Kini pandangannya menatap Nanda.


"Wajahnya tidak asing, apa aku pernah bertemu dengannya?" Batin Pras sambil terus memperhatikan wajah Nanda.


Menjelang siang, Nanda tersadar. Perlahan ia mengerjapkan matanya.


"Aghh" pekik Nanda yang sudah terduduk sambil memegang kepalanya yang kini ditutup perban.


Pras yang mendegar dari luar kamar Nanda segera menghampiri Nanda.


"Kamu sudah sadar?" Tanya Pras yang kemudian duduk di kursi dekat tepi tempat tidur.


"Kamu siapa?" Tanya Nanda seolah takut.


"Tenang dulu, aku Pras, putriku menemukanmu dihalaman villa kami." Ucap Pras.


Nanda diam seolah berfikir.


"Kamu siapa? dan rumahmu dimana? biar saya antarkan kamu pulang." Ucap Pras.


Nanda menatap mata Pras,


Jantung Pras berdebar kencang.


"Aku siapa?" Tanya Nanda.


Pras terkesiap ketika Nanda balik bertanya dan segera menetralisir perasaannya kemudian mengangguk. "Iya, kamu siapa? dimana rumahmu?" Tanya Pras lagi.


"Arghhh." Pekik Nanda lagi ketika mencoba mengingat sesuatu.


"Aku tidak tau, siapa aku? kenapa aku disini?" Ucap Nanda.


"Ya Tuhan, sepertinya benturanmu sangat keras sekali, kamu pasti mengalami amnesia, aku harus membawamu kerumah sakit untuk diperiksa lebih pasti."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Aku takut, aku tidak mau. Tolong lindungi aku." Ucap Nanda histeris.


Pras menenangkan Nanda. "Kamu tenang ya, disini tidak ada yang menyakitimu, aku pastikan itu."


Nanda memeluk lututnya seperti orang yang ketakutan.


"Sepertinya benar, dia korban penculikan dan mengalami gangguan psikis ringan." Batin Pras.


"Daddy.." Panggil Disya lalu duduk dipangkuan Pras.


"Apa pasien Daddy sudah sembuh?" Tanya Disya.


"Belum sayang, kita akan mengobatinya ya." Ucap Pras lembut.


"Hai, namaku Disya." Ucap Disya sambil mengulurkan tangan mungilnya.


Nanda menyambut uluran tangan Disya, namun ia hanya diam.


"Daddy, kenapa dia tidak bicala?" Tanya Disya polos.


"Auntie ini sedang sakit kepalanya, jadi lupa siapa namanya." Ucap Pras menjelaskan.


"Disya panggil Auntie aja ya, atau Disya boleh memanggilnya Mommy?"

__ADS_1


Pras menjadi gugup, ia bingung bagaimana melarang Disya.


"Hai gadis kecil." Sapa Nanda dengan tersenyum.


Perasaan Pras menghangat tatkala melihat senyum Nanda.


"Boleh, Disya panggil Mommy?" Tanya Disya dengan mata berbinar.


Nanda tanpa berfikir langsung mengangguk, ia juga mengusap wajah mungil Adisya.


"Maafkan putriku. Dia kehilangan Mommynya satu tahun yang lalu, saat itu Disya belum mengerti apa-apa." Ujar Pras menjelaskan.


Nanda mengangguk.


"Kamu sungguh tidak ingat sesuatu?" Tanya Pras lagi memastikan.


Nanda menggelengkan kepalanya.


"Dilihat dari pakaian saat ia ditemukan tadi pagi, sepertinya dia bukan orang biasa, luka-lukanya menunjukan seperti korban penganiayaan. Lebih baik aku rawat dulu dan membawanya pulang kekota sampai ingatannya pulih." Batin Pras.


"Maaf Pak, bolehkah aku meminta sesuatu?" Lirih Nanda.


"Iya, Katakan saja." Ucap Pras.


"Bolehkan aku meminta makanan? aku sangat lapar."


Pras tersenyum, sungguh ia merasa lucu dengan kepolosan wanita yang ditemukan tidak sengaja oleh anaknya itu.


"Tunggulah disini, aku akan meminta penjaga Villa untuk membawakanmu makanan." ucap Pras,


"Disya, ayo keluar, biarkan Auntie istirahat dulu." Ajak Pras pada Disya.


"No Daddy, Disya mau disini nemenin Mommy." Ucap Disya polos.


"Biarkan saja dia disini, dia tidak mengangguku." Ucap Nanda.


Pras tersenyum, ia segera keluar untuk meminta penjaga villa menyiapkan makanan untuk Nanda.


Saat makanan sudah siap, penjaga villa akan mengantarkan makanannya yang sudah disiapkan dalam satu nampan, namun Pras segera meraihnya, ia cukup penasaran karna sedari tadi ia mendengar gelak tawa Disya dari kamar Nanda.


Pras masuk kekamar Nanda, sambil membawa nampan berisikan makanan.


"Makanlah." Ucap Pras pada Nanda sambil meletakan nampannya dihadapan Nanda.


"Terimakasih." Ucap Nanda.


Pras memperhatikan cara Nanda makan, sungguh menunjukan bahwa Nanda bukanlah orang dari kalangan biasa.


Selesai makan, Pras mengajak Nanda berbicara, Disya tetap berada disebelah nanda, seolah enggan untuk menjauh.


"Hem begini, besok kami akan kembali pulang kekota. Aku tidak tau kamu siapa, dan dimana kamu tinggal. Aku juga ragu membawamu. Sekarang aku menyerahkan semuanya sama kamu, apa kamu mau tetap tinggal divilla ini hingga ingatanmu kembali, atau kamu mau ikut kami pulang kekota." Ucap Pras hati-hati.


Nanda tampak diam,


"Daddy, bolehkah jika Mommy ikut kita pulang?" Tanya Disya.


Pras tersenyum, "Disya tanyakan sama Auntie ya."


"Mommy, Momny ikut kita pulang aja." Ajak Disya.


"Menurutku, lebih baik kamu ikut kami kekota, disana aku akan membawamu kerumah sakit untuk memeriksamu lebih lanjut, setidaknya sampai ingatanmu pulih kembali."


"Jika bapak tidak keberatan, saya ingin ikut saja. Entah mengapa saya merasa asing ditempat ini." Ucap Nanda sopan.


Pras tersenyum, entah mengapa ia merasa senang Nanda memutuskan untuk ikut pulang kekota.


"Apa disana ada pekerjaan untukku?" Tanya Nanda.


Pras mengeryitkan dahinya. "Kerja?" Tanyanya memastikan.


Nanda mengangguk, "Saya tidak ingin merepotkan anda Pak."


Pras tampak berfikir, "Sebenarnya saya butuh orang untuk menjadi pengasuh Disya, karna kebetulan minggu depan pengasuhnya akan pulang kampung untuk menikah dan tidak kembali lagi."


"Saya mau Pak menggantikan pengasuhnya dan jadi pengasuhnya putri bapak." Ucap Nanda yang membuat Pras dan Disya tersenyum lebar.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2