BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Kontak Batin


__ADS_3

"Siapakan ruang operasi, hubungi keluarganya" Titah Pras pada perawat.


Regan baru saja selesai membantu seorang passien melahirkan secara normal, langsung menghampiri Pras.


"Ada apa dokter Pras?" Tanya Regan.


"Pasien atas nama Sarah, tekanan darahnya tinggi, kondisinya lemah, dan stock air ketubahnya sudah hampir habis. Harus operasi, sedangkan tidak ada keluarga untuk tandatangan."


"Tadi pasien kesini dengan siapa sus?" Tanya Regan pada suster.


"Tidak tau dok, pasien kiriman dari IGD, kata suster disana datang sendiri."


Yuda menyuruh Toni hanya mengantar Sarah sampai IGD dan segera meninggalkannya disana.


Regan menghela nafas, "Saya coba telpon suaminya dulu dok." Ucap Regan yang diangguki oleh Pras.


Regan menelpon Raja, dering ketiga Raja menerima panggilannya.


"Bang." -Regan-


"Ada apa Re?" -Raja-


"Sarah dirumah sakit, harus operasi, tidak ada keluarga yang mendampingi. Bisakah Abang kerumah sakit untuk tanda tangan?" -Regan-


"Gue gak bisa." -Raja-


"Bang, asal lu tau, gue juga gak mau ngurusin istri simpanan lu ini karna Nanda, tapi karna profesi gue, demi nama kemanusiaan, gue kepaksa hubungin lu." -Regan-


"Baiklah, gue kesana." -Raja-


Sambil menunggu Raja, Regan mendatangi kafetaria untuk menemui Ayla.


Regan menarik kursi didepan Ayla.


"Sudah selesai Re?"


"Sudah Ay, tapi Sarah ada disini, dia pasiennya dokter Pras."


"Sarah? apa dia akan melahirkan sekarang?"


Regan menangguk, "Ya, dia akan melahirkan anak Bang Raja."


"Raja, apa disini juga?"


"Bang Raja tidak mau mendampingi, tapi udah aku telpon dan dia mau datang kesini."


Ayla mengusap punggung tangan Regan, seolah tau apa yang dipikirkan Regan.


Regan pun menatap wajah sendu Ayla.


"Raja benar-benar mengkhianati Nanda." Ayla menghela nafas.


"Ay, are you okay?" Tanya Regan khawatir.


Ayla mengangguk, "Aku berharap Nanda segera pulang dan mengambil keputusan."


Satu jam kemudian Raja datang dan menandatangani surat persetujuan operasi.


"Bang." Panggil Regan.


"Re, gue minta tolong, kalau bayinya Sarah lahir, segera lakukan test DNa." Pinta Raja.


Regan mengernyitkan dahinya,


"Gue ragu anak itu adalah anak gue." Kata Raja seolah tau apa yang ingin Regan ketahui.


Regan menghela nafas, "Silahkan lu urus prosedurnya kebagian administrasi, rumah sakit ini bukan punya gue, semua harus sesuai prosedur." Regan meninggalkan Raja.


Sarah melahirkan bayi perempuan dengan selamat, Namun hal itu tidak membuat hati Raja tersentuh, Raja tetap dingin terhadap Sarah.


Sesuai permintaan Raja, bayi mungil tak berdosa itu diambil sample darahnya untuk kepentingan hasil DNA.


Regan dan Ayla pulang kerumah Aryo, selama perjalanan mereka diam seolah tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Regan sudah menceritan pada Ayla soal keinginan Raja yang akan melakukan tes DNA kepada anak yang Sarah lahirkan.


Saat tiba dikamarpun, pikiran Ayla masih melayang jauh, memikirkan nasib rumah tangga sahabat tersayangnya itu. "Re, apa tidak sebaiknya kita kasih tau Ayah Haris soal rumah tangga Raja dan Nanda, juga kelakuan Olivia." Ayla membuka suara saat mereka bersiap akan tidur.


"Jangan dulu, Ay. Kita gak punya bukti lebih untuk menarik Sarah dan Olivia dalam penculikan itu, dan soal rumah tangga Bang Raja dan Nanda, biar mereka sendiri yang memberi tahu."


"Ayah pasti marah dan kecewa ya Re."


Regan merangkul Ayla, "Ayah pasti akan merasa bersalah sama Nanda."


***


Dirumah Pras,


Nanda tiba-tiba saja merasakan sakit dibagian kepalanya.

__ADS_1


Sejak siang ia tertidur dan bermimpi tentang masa lalunya.


"Nanda." Gumam Nanda.


"Apa namaku adalah Nanda?" Tanya Nanda dalam hatinya.


Pras masuk kedalam kamar Nanda setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk oleh Nanda sendiri, terlihat Nanda yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Pras yang kini duduk ditepi tempat tidur Nanda.


"Aku bermimpi, tapi aku tidak tau apa itu bagian dari masa laluku atau memang hanya mimpi semata." Ucap Nanda.


"Apa yang kamu mimpikan?" Tanya Pras mendalam.


Nanda menyipitkan matanya, seolah menerawang mimpinya kembali. "Kami bertiga memakai seragam sekolah, satu orang lelaki dan satu orang perempuan, mereka memanggilku Nanda." Gumamnya lirih.


"Mungkinkah namamu Nanda?" Tanya Pras.


"Siapa nama orang yang ada dalam mimpimu? kamu mengenalinya?" Tanya Pras lagi.


Nanda menggelengkan kepalanya, "tidak ada suara lain selain mereka memanggilku Nanda, wajah mereka juga samar, tidak begitu jelas."


Pras menggenggam tangan Nanda,


Deg..


Nanda merasakan jantungnya berdebar dengan cepat.


"Itu awal yang baik, perlahan ingatanmu akan kembali, Han. Besok aku akan minta dokter untuk memeriksamu kesini." Kata Pras sambil tersenyum.


"Akankah ingatanku pulih lagi, Mas?"


Pras mengangguk, "Dokter bilang amnesiamu bukan permanen, kamu hanya terlalu takut mengingatnya karna traumamu yang dalam, itu yang membuatmu lama untuk mengingatnya kembali."


"Terimakasih untuk semuanya Mas." Lirih Nanda.


Tanpa sadar tangan Pras masih menggenggam tangan Nanda.


"Han, bolehkah aku bicara?" Tanya Pras hati-hati.


"Bukankah kita sedang bicara, Mas?" Nanda tersenyum, senyum yang membuat Pras jatuh hati.


Pras menghela nafas, "Jika suatu saat ingatanmu kembali, apakah kamu akan tetap menyayangi Disya?"


"Pertanyaan macam apa itu, Mas. Tentu saja aku akan tetap menyayangi Disya. Berbulan-bulan aku bersama Disya, aku sudah menganggapnya bagian dari hidupku." Jawab Nanda.


"Kenapa?" Tanya Nanda.


"Aku ingin kamu menjadi Mommy yang sesungguhnya untuk Disya."


Deg.. Degg.. Deggg


Jantung Nanda semakin berdegup kencang.


"Maaf Mas, aku tidak bisa memberi kepastian, aku tidak tau masa laluku, apakah aku mempunyai kekasih, atau bahkan sudah menikah."


Pras menunduk, menyembunyikan raut wajah kecewanya dengan senyum yang samar.


***


Dua minggu berlalu, Bayi Sarah diberi nama Queen Audrey, hasil DNA Raja bersama Audrey pun tlah keluar dan menunjukan bahwa semua hasil sample menunjukan kesamaan.


Raja menghela nafas saat membaca hasil test DNA itu.


"Dia putriku." Lirih Raja.


"Maafkan aku, Nanda. Aku menyesal." Raja menangisi penyesalannya.


Sebenarnya Raja berharap, bahwa Audrey bukanlah anaknya, dengan begitu ia meyakini Nanda akan memaafkannya. Namun semua harapannya sirna, Audrey adalah benar anak dari hasil perselingkuhannya, dan jika Nanda mengetahuinya maka Nanda tidak akan memaafkan Raja.


Untuk sementara, Sarah tinggal bersama Olivia karna Raja tidak menerimanya kembali dirumahnya. Tetapi Raja tetap memberikan nafkah untuk Audrey.


Sebulan berlalu, kini giliran Ayla yang menantikan kelahiran putranya.


Ayla sudah jarang kekantor dan urusan pekerjaan diurus sepenuhnya oleh Robi, Ayla hanya memantau dan memberikan tandatangannya diberkas yang Roby bawa kerumah Aryo.


Semenjak Sarah resign dari kantor pun, Ayla tidak pernah lagi melihat gelagat mencurigakan dari Raja, dan tidak ada lagi data-data yang dimanipulasi.


Raja hanya menjalankan perusahaan dengan baik, ia ingin menebus kesalahamnya dan berharap diberi kesempatan kedua oleh Nanda dan Aryo.


Ayla merasakan panas dipunggungnya, ia tidak tega membangunkan Regan, pasalnya Regan baru tiba dirumah jam sebelas malam karna ada passien dadakan yang akan melahirkan.


"Sabar ya Dek, tunggu Papa bangun dulu." Ucap Ayla sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit itu.


Namun Ayla tidak bisa menahan rasa sakit lebih lama lagi, ia pun dengan terpaksa membangunkan Regan.


"Re.." Lirih Ayla.

__ADS_1


Regan masih tertidur dan tidak merespon karna telalu mengantuk.


"Re, perutku sakit." Ucap Ayla.


Regan membuka matanya dan terlihat Ayla yang duduk disampingnya sambil meringis menahan sakit dengan tangan yang sedang mengusap perutnya.


"Ay.." panggil Regan dengan suara berat khas bangun tidur.


"Perutku sakit." Ucap Ayla, "Punggungku terasa panas." Ucapnya lagi.


Regan membaringkan ayla ditempat tidur, memeriksa bagian intinya dengan memasukan jari tangannya.


"Pembukaan tiga, Ay. Ayo kita kerumah sakit." Regan segera membasuh wajahnya dan berganti pakaian, Regan juga menggantikan pakaian Ayla lalu memapahnya menuju mobil.


Regan memberikan pesan pada ART untuk menyampaikannya pada Aryo saat Aryo bangun Nanti, pasalnya ini masih jam empat dini hari.


Ayla langsung dibawa menuju ruangan bersalin karna akan melahirkan secara normal. Untuk pertama kalinya, Regan merasakan gugup saat membantu persalinan passien, dikarnakan saat ini ia akan memegang sendiri persalinan sang istri.


"Nanda, Re." Irih Ayla disela-sela menunggu pembukaannya yang belum sempurna.


"Nanda ada, Ay. Nanti kita cari sama-sama ya."


"Aku ingin Nanda disini, Re." Ucap Ayla.


"Sstt.. Ada aku, Ay. Aku akan mendampingimu terus."


Ayla mengangguk, slama menunggu pembukaannya sempurna, ia terus berdoa untuk kelancaran persalinannya, ia juga berdoa dalam hati, semoga Nanda ditunjukan jalan pulang kembali.


Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi, pembukaan Ayla sudah masuk kepembukaan delapan.


Regan terus membaca doa sebelum melakukan tindakan, ia mengecup kening Ayla dan menguatkannya, lalu mengambil posisi untuk menggenggam tangan Ayla sebelum memulai tugasnya nanti.


Ditempat lain, Nanda tengah membangunkan Adisya, pagi ini Disya sangat sulit sekali dibangunkan, membuat Nanda sedikit ekstra merayunya. Padahal dari semalam Nanda merasakan sakit yang luar biasa dikepalanya, dan akhir-akhir ini mimpi mimpi dimasa lalunya sering muncul.


"Disya, mau bangun atau Mommy panggilkan Daddy?" Tanya Nanda mulai sedikit tegas.


Disya akhirnya bangun dan duduk dengan mata terpejam. "No Mommy, Disya sudah bangun."


Nanda sedikit tertawa melihat tingkah lucu polos Disya, ia lalu mengangkatnya dan membantu memandikannya.


Selesai mandi dan berpakaian, Nanda dan Disya segera turun menuju ruang makan untuk sarapan, namun Disya yang sedikit usil, mengerjai Nanda dengan melepas ikat rambut yang sedang Nanda gunakan, lalu Disya berlari menuju anak tangga untuk turun.


"Disya, kembalikan kunciran rambut Mommy." Ucap Nanda.


"Kejar Disya, Mom." Ledeknya yang dilihat oleh Pras dari area ruang makan.


Nanda mengejar Disya, namun naas kakinya melewati satu anak tangga membuat Nanda tergelincir saat sudah berada ditengah tangga.


"Akhhh." Teriak Nanda.


"Mommy." Disya histeris.


"Hana." Pekik Pras yang langsung menghampiri Nanda yang sudah tergeletak dibawah.


"Mommy. Hiks..." Disya menangis karna melihat Nanda tidak sadarkan diri.


Pras segera menggendong Nanda kearah ruang televisi dan membaringkan tubuh Nanda disofa panjang.


Linda dan Irwan pun segera keluar dari kamar setelah mendengar suara keributan, terlebih mendengar suara Disya yang menangis histeris.


"Ada apa ini Pras?" Tanya Irwan.


"Hana jatuh dari tangga Pap." Ucap Pras yang masih memeriksa kondisi Nanda.


"Koq bisa?" Tanya Linda.


Nanda mulai membuka matanya saat Pras memberikan aroma minya kayu putih didekat hidungnya, ia memegang kepalanya, sekelebat tentang dirinya dimasa lalu perlahan kembali.


"Ayla, Papa." Gumamnya lirih.


Seperti kontak batin, Ayla yang sedang berjuang melahirkan dan mengingat Nanda membuat ingatan Nanda kembali mengingat semuanya.


Mata Nanda melihat sekelilingnya, "Han, kamu tidak apa-apa?" Tanya Pras.


Mata Nanda tertuju pada Disya yang terus menangis didekat dirinya. Nanda menarik Disya lalu memeluknya.


"Mommy tidak apa-apa. Jangan menangis, Okay?" Ucap Nanda menenangkan Disya.


"Han." Panggil Pras.


Nanda menatap dalam mata Pras, "Namaku Nanda, Mas. Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat siapa aku sebenarnya." Ucap Nanda.


.


.


Kencengin dong Likenya, bagi othor hadiah bunga atau kopi gitu,

__ADS_1


Siapa tau ada yang mau vote juga, boleh banget, Love u readers 😘


__ADS_2