BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Perasaan Bersalah


__ADS_3

"Regan akan menikah."


Semua terkejut mendengarnya kecuali Ayla yang sedari tadi hanya menunduk, namun Raja memperhatikannya.


"Menikah? bulan lalu saat Ayah mengunjungimu, kamu tidak bilang apa-apa. Dengan siapa?" Haris sungguh terkejut mendengar pengakuan dari Regan.


Regan menggenggam tangan Ayla dan menatap mata Ayla yang kini mendongakan wajahnya untuk melihat wajah Regan. "Dengan Ayla, Regan akan menikah dengan Ayla."


Senyum tersungging dari bibir Haris. "Benarkah itu? Ayla, katakan pada Ayah kalau Regan tidak sedang bercanda." Ucap Haris.


"Ay, ini serius?" Sahut Nanda yang tidak kalah terkejutnya.


"Iya Yah." Jawab Ayla pada Haris.


"Maaf Nan, aku mau cerita tapi Regan bilang nanti untuk kejutan hari ini."


"Aylaaa.." Nanda memeluk Ayla. "Akhirnya aku bisa tenang melepas kamu, Papa harus tau ini." Ucap Nanda tulus walau dihatinya seperti ada sesuatu yang berat.


"Maafin aku Nan karna gak cerita soal ini." Lirih Ayla.


Nanda perlahan melepaskan pelukannya, "Kamu ga salah, dasar Regan aja ngeracunin kamu buat gak terbuka sama aku."


Nanda menatap sinis pada Regan, "Awas ya, kalo abis nikah nanti kamu gak bahagiain Ayla, aku culik Aylanya bawa ke Papa." Ucap Nanda mengancam.


Regan tertawa, "Tenang aja Nan, aku udah janji ke diri aku sendiri, akan bahagiain Ayla." Regan kini merangkul Nanda dan Ayla, percis seperti tujuh tahun yang lalu.


Raja yang melihatnya hanya biasa saja, ia memang tidak pernah cemburu kepada Nanda.


Disisi lain Olivia memandang tak suka pada Ayla dan Nanda. Terlebih Regan yang slama ini diam-diam ia sukai akan menikah dengan Ayla.


Acara dirumah Haris sudah selesai, Raja dan Nanda berpamitan, meski berat untuk Nanda karna masih rindu kepada Ayla dan Regan, namun pada akhirnya mereka harus tetap pulang.


"Yah, Regan dan Ayla juga pamit ya?" Ucap Regan pada Haris.


"Kamu hanya mengantar Ayla pulang kan? lalu baik lagi kesini." Tanya Haris.


"Maaf Yah, Regan tidur diapartemen Ayla." Jawab Regan tanpa malu.


"Re.." Pekik Ayla.


"Aku hanya tidur diapartemenmu, Ay. Tidak lebih." Jawab Regan santai.


"Re tidak baik kamu tidur diapartemen Ayla, resmikan dulu hubungan kalian, baru tinggal bersama." Nasihat Haris Bijak.


Regan menghela nafas, "Banyak yang harus Regan urus bersama Ayla, Yah. Lusa Regan udah harus kembali ke kota B."


"Kak Ayla gimana sih, kalau perempuan baik-baik pasti gak akan mau diinepin laki-laki."


"Olivia, diam!! dan masuk kekamarmu." Bentak Haris yang sudah jengah dengan prilaku Olivia.


Olivia merengut kesal dan kembali kekamarnya.


"Nak Ayla, maafkan Olivia ya." Pinta Rini.


"Iya bu, tidak apa-apa." Jawab Ayla tulus.


Pada akhirnya Haris memaklumi keinginan Regan yang tinggal diapartemen Ayla, dan mereka kembali ke apartemen Ayla.


"Re, pakai bajumu di dalam kamar mandi." Ucap Ayla saat melihat Regan keluar dari kamar mandi didalam kamarnya hanya memakai handuk yang melingkar dipinggangnya.


Regan hanya cuek sambil mengeringkan rambutnya dengan satu phanduk kecil ditangannya.


"Nanti juga lihat semua, Ay." Ucapnya menggoda.


"Regan!!" Pekin Ayla.


"Apa, Sayang." Regan menjawab sambil menggoda Ayla.


Regan kembali masuk kekamar mandi dan keluar kembali dengan memakai kaos oblong dan celana santai ala rumahan.

__ADS_1


Regan merangkak naik keatas tempat tidur dan masuk kedalam satu selimut bersama Ayla.


"Jadi lusa kamu pulang lagi?" Tanya Ayla.


Regan nengangguk, "Jadwal operasi beberapa pasien sudah menantiku, Ay." Jawabnya kemudian meraih Ayla masuk kedalam dekapannya.


"Kesini lagi kapan?"


"Dua minggu sekali aku usahakan kesini, sampai nanti aku pindah kesini aku akan bolak balik Kota J dan ke kota B."


Hening sejenak.


"Kalau kamu ada waktu, bantu aku cari rumah Ay, untuk nanti kita tempati bersama."


"Harus aku?" Tanya Ayla.


"Ayla sayang.. jelaslah harus kamu. Aku ingin kamu nyaman dirumah kita nanti, Ay."


"Kamu kerja dirumah sakit mana nanti? biar aku carikan yang dekat."


"Rumah sakit H Medika."


"Lho itu dekat kantorku, Re. Hanya berjarak dua kilometer dari kantorku."


"Benarkah?"


Ayla mengangguk, "Besok aku harus kekantor, ada klien yang ingin bertemu. Kamu bisa mengantarku sambil melihat rumah sakit tempat nanti kamu kerja."


"Besok kamu mau kekantor?"


Ayla mengangguk, ada tiga klien yang akan bertemu denganku, membahas konsep acara."


"Baiklah, sekarang kita tidur, Ay." Regan tetap mendekap Ayla seolah sudah terbiasa dengan aroma tubuh Ayla yang kini Regan sukai itu. Dan Ayla pun sudah tampak terbiasa, menelusupkan wajahnya didada Regan yang kini tidak lagi kerempeng.


Sementara dirumah Raja.


"Ish Mas, kamu apaan sih? cemburu sama Regan?" Tanya Nanda.


"Aku masih mikir, Regan masih suka sama kamu."


Nanda merangkum wajah Raja dan mengecupnya sekilas.


"Regan itu dari dulu sukanya sama Ayla, udah jelas kan waktu dulu dia bilang begitu."


Raja mengingat kejadian tuuh tahun lalu, "Tapi kenapa dulu Regan ninggalin Ayla?" Tanya Raja.


"Mungkin karna Regan ingin fokus mengejar dulu impiannya."


"Ya, itu masuk akal."


Sebenarnya Raja cukup tenang saat mengetahui Regan yang akan menikahi Ayla, itu pertanda pengakuan Regan tujuh tahun lalu benar adanya, Regan menyukai Ayla dan bukan menyukai Nanda, meski benar pada kenyataanya, dulu Regan menyukai Nanda.


"Sayang, aku ingin..." Ucap Raja ambigu.


Nanda berfikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk. Sementara Raja langsung mengeksplore leher jenjang Nanda dan mencumbuinya.


***


"Cium aku, Ay." Ucap Regan saat tiba didepan komplek ruko yang dijadikan Ayla sebagai kantornya.


"Apa sih Re, mesum sekali kamu ini." Wajah Ayla sudah bersemu merah.


"Biasakan, Ay. Kita akan menikah." Perlahan Regan membuka seat beltnya.


"Baru akan Re, dan belum menikah."


Regan menarik tengkuk Ayla dan menciumnya secara rakus. Bukan hanya itu, Regan juga menarik Ayla hingga duduk diatas pangkuan Regan.


Ayla yang awalnya terkejut dan berusaha menolak, kini terbawa masuk kedalam permainan Regan.

__ADS_1


Regan melepas pagutannya saat Ayla hampir kehabisan nafas.


"Re kamu gila!!" Ucap Ayla yang berusaha pindah duduk disebelah Regan namun Regan menahan pinggang Ayla.


"Kamu yang buat aku gila, Ay." Regan masih melingkarkan tangannya dipinggang Ayla.


"Lepas Re!! Kenapa kamu berubah jadi mesum begini sih." Kesal Ayla.


"Maaf, Sayang." Regan membantu Ayla untuk pindah duduk disebelah Regan.


"Lihat tempat, Re. Ini dimobil."


Regan tertawa kecil, "Kalo dikamar, aku takut kebablasan, Ay."


"Makanya mulai malam ini tidur dikamar satunya. Apartemenku kan dua kamar, Re."


"Ishh, ogahh. Aku udah biasa tidur peluk kamu."


"Ya udah, Re. Aku turun dulu ya. Harus siapkan berkas sebelum klien datang." Jawab Ayla.


"Apa Klienmu seorang pria?" Tanya Regan mencoba menelisik kehidupan Ayla.


"Ya. Klien ku banyak sekali seorang pria, asisten CEO diperusahaan yang rata-rata menemuiku. Tapi sekarang karna aku melebarkan sayap ke wedding, yang menemuiku jelas sepasang kekasih yang akan menikah."


"Apa pernah ada yang mendekatimu?" Tanya Regan mendalam.


"Pernah." Ayla beralih menatap mata Regan. "Tapi mereka menjauh dengan sendirinya setelah tau asalku dari sebuah panti." Ayla tersenyum kecut.


Regan mengusap puncak kepala Ayla. "Jangan bersedih, Ay. Aku yang akan menjagamu seumur hidupku."


Ayla meraih tangan Regan yang berada dipuncak kepalanya lalu menggenggamnya. "Terimakasih, Re."


Regan mengecup kening Ayla. "Turunlah, aku akan menjemputmu pulang nanti."


"Kamu mau pulang?" Tanya Ayla yang merapihkan pakaiannya yang sedikit berantakan akibat ulah Regan.


"Aku mau ada perlu, lalu kekantor Ayah untuk makan siang bersama."


"Baiklah, aku turun Re."


***


Sementara dirumah Nanda,


Raja masih tertidur pulas, padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan pagi.


"Mas.." Nanda membangunkan Raja dengan memercikan air dari rambutnya yang basah.


Raja perlahan mengerjapkan matanya dan melihat wajah polos Nanda, wajah yang slalu dipenuhi kebaikan.


"Sayang, jam berapa ini?" Tanya Raja.


"Jam delapan lewat, Mas. Kamu gak kekantor?" Tanya Nanda.


Raja duduk memijat pangkal hidungnya, "Aku ada rapat jam sepuluh nanti."


"Bangunlah Mas, sudah aku siapkan pakaian kerjamu."


Raja memeluk Nanda sekilas.


Entah mengapa, Raja merasa malas untuk berangkat kekantor, ia menghindar dari Sarah dan entah kenapa Raja merasa bersalah dengan Nanda karna menemui Sarah dikontrakannya.


"Haruskah aku memecat Sarah dan tidak perduli akan masalah yang sedang menimpanya?" Batin Raja.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2