
"Ahhh sh*it!!" Teriak Sarah saat dirinya sadar tlah berada disebuah rumah yang asing.
"Lepaskan aku Toni!!" Bentak Sarah pada asisten kepercayaan Yuda.
"Maaf Nona Sarah, saya hanya menjalankan perintah Pak Yuda."
Selepas keluar dari dalam apartemen, Toni berpura-pura akan mengantarkan Sarah kerumah Raja, Sarah yang pikirannya sedang kalut pun begitu percaya pada Toni. Namun saat Sarah duduk dikursi depan, tiba-tiba ada orang lain yang ternyata sudah duduk dikursi belakang dan langsung membekap Sarah dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Membuat Sarah langsung tidak sadarkan diri, dan Toni membawa Sarah kembali kekota B namun kerumah milik Yuda yang lain.
***
Tiga bulan berlalu.
Sarah tidak pernah kembali kerumah Raja. Dan Raja pun tidak ambil pusing untuk mencari dimana Sarah, ia berfikir Sarah kabur meninggalkan dirinya bersama Audrey. Rini sang ibu membantu Raja dalam mengurus Audrey, Haris pun tidak keberatan karna menganggap bahwa Audrey hanyalah korban keegoisan orang tuanya. Raja pun kini bekerja diperusahaan asuransi, ia memulai dari nol kembali dengan penghasilan yang kecil, rumah dan mobil mewahnya sudah terjual, ia mengembalikan semua uang perusahaan yang dulu ia gelapkan bersama Sarah. Sisa uangnya ia belikan rumah kecil bergaya minimalis yang hanya terdapat dua kamar.
Sementara Olivia, semenjak peristiwa hari itu, ia juga sudah tidak pernah berhubungan kembali dengan Yuda, beruntung Yuda sudah membeli apartemen yang Olivia sewa atas nama Olivia, dan Yuda pun sempat membelikan Olivia sebuah mobil. Olivia pun tutup mulut dan pura-pura tidak tau menau kemana Sarah yang dibawa oleh Yuda.
Olivia langsung menjual unit apartemennya dan juga mobilnya, lalu ia belikan kembali apartemen digedung lain, juga membeli mobil yang lain, Olivia juga mengganti nomer ponselnya yang lama. Ia menghilangkan jejak jika suatu saat nanti Yuda mencarinya kembali, ia tidak ingin berurusan kembali dengan Yuda dan mulai mencari mangsa baru.
Ayla kembali mengurusi usahanya dibidang Event dan Wedding organizer setelah sekian lama usahanya itu dipercayakan sementara pada Tias dan Doni.
Nanda mulai fokus untuk memegang penuh perusahaan milik Aryo. Sebagai Presdir, Nanda mengangkat Robi sebagai CEO, dan hal itu disetujui oleh para pemegang saham mengingat kinerja Robi yang slalu memuaskan.
Nanda menjadi workaholic, ia menyibukkan diri dalam bekerja, ia mengabdikan hidupnya untuk bekerja dan menutup hatinya. Memulai hidup baru hanya dengan bekerja.
Nanda pun sudah tidak pernah berhubungan dengan Disya kembali, kesibukannya membuat Nanda mengalihkan kerinduannya saat mengingat Disya.
Ayla dan Regan tetap tinggal dirumah milik Aryo, karna Ayla tidak ingin Nanda merasakan kesepian terlebih kini Nanda menyandang status barunya.
Setiap hari selasa dan Kamis, Ayla dan Nanda sepakat untuk tidak masuk kerja dan menghabiskan waktu dirumah atau sekedar jalan-jalan ke Mall bersama Aryo dan Ryu. Hal itu didukung oleh Regan yang memang sangat mencintai Ayla dan menghormati Aryo dan juga Nanda sebagai sahabat dan keluarga Ayla.
"Nan, hari ini aku mau kerumah sakit, sudah jadwalnya imunisasi Ryu." Ucap Ayla pada Nanda.
"Ya udah aku antar."
"Nanti Papa sama siapa?" Tanya Ayla.
"Papa mau pergi main golf sama Haris. Kalian pergi saja jangan khawatirkan Papa." Sahut Aryo.
Haris yang kini sudah pensiunpun lebih sering bertemu dengan Aryo, mereka lebih sering bermain golf atau naik kapal boat milik Aryo untuk sekedar main catur dan menikmati suasana laut, tak jarang mereka juga pergi memancing bersama.
Bang Heru tetap menjadi supir sekaligus bodyguard Nanda. Aryo mencabut ijin Nanda untuk mengemudi seorang diri, ia takut jika Sarah ataupun Olivia menyimpan dendam dan kembali menculik Nanda.
Hingga kini Nanda tak juga melaporkan kasus penculikan itu, Nanda hanya tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.
"Regan sudah ditelpon, Ay?" Tanya Nanda.
"Sudah, dia bilang langsung aja ke poli anak, soalnya dia masih ada praktik di poli Obgyn." Jawab Ayla.
Ayla dan Nanda membawa Ryu langsung ke poli anak, mereka duduk sambil menunggu antrian. Mata Nanda tertuju pada sosok seorang pria yang sedang berjalan menuju lift.
"Papi Irwan." Lirih Nanda yang terdengar oleh Ayla.
Mata Ayla mengikuti arah pandang Nanda. "Kamu kenal, Nan?" Tanya Ayla.
Tanpa menjawab pertanyaan Ayla, Nanda bangkit dan berjalan cepat menyusul Irwan.
"Papi.." Panggil Nanda.
Irwan menghentikan langkahnya kemudian menoleh kearah sumber suara, "Nanda."
Nanda mencium punggung tangan Irwan. "Papi apa kabar?" Tanya Nanda menyapa.
"Papi baik, Nan." Irwan menjada ucapannya, "Kamu sedang apa disini?" Tanya Irwan.
"Aku mengantar Ayla untuk imunisasi anaknya. Papi tumben kerumah sakit? Tidak kekantor?" Tanya Nanda, Pasalnya Irwan bukanlah seorang dokter, namun ia mempunyai pabrik Farmasi dan rumah sakit diberbagai daerah.
__ADS_1
"Disya sakit dan dirawat disini, sudah tiga hari dan kondisinya tetap belum membaik."
"Disya?" Tanya Nanda tak percaya.
"Disya demam tinggi, diagnosa nya Disya kena Typhus, Namun sudah tiga hari demamnya masih belum turun."
Nanda terdiam, dirinya begitu merindukan Disya. Namun Nanda ingin menjaga jarak dengan Pras. Ia tidak ingin Disya maupun Pras berharap lebih pada Nanda yang kini menutup hatinya.
"Nan, Disya menjadi anak yang tidak percaya diri." Ucap Irwan hati-hati.
Nanda mengernyitkan dahinya. "Maksud Papi?"
"Sudah dua bulan ini, Disya dibawa ke psikiater anak karna Disya tidak mau bersekolah. Disya mengalami tingkat kepercayaan diri yang minim berawal dari saat Disya mulai bersekolah, Disya melihat teman-temannya bersama ibunya, tapi tidak untuk Disya." Irwan tidak banyak bicara soal Disya, ia hanya menjelaskan singkat soal Disya.
Hati Nanda terenyuh mendengar cerita Irwan soal Disya, ia tidak menyangka selama tiga bulan ini Disya tidak baik-baik saja.
"Nanda mau jenguk Disya, boleh Pap?" Tanya Nanda.
Irwan tersenyum. "Ikutlah bersama Papi." Ajaknya.
"Nanda.." Panggil Ayla yang sedang menghampiri Nanda.
"Wajah itu? Kenapa begitu mirip dengan Linda semasa muda. Wajah teduh yang membuatku jatuh cinta pada Linda." Batin Irwan.
"Ay.. Ya ampun maaf Ay. Aku tadi buru-buru nyamperin Papi Irwan." Ucap Nanda tidak enak pada Ayla.
Mata Ayla menatap sekilas wajah Irwan lalu menyapanya dengan tersenyum.
"Satu lesung pipi di pipi kirinya, sama dengan lesung pipi milik Linda." Batin Irwan lagi. "Siapa wanita ini? Mungkinkah dia?......"
"Tidak apa Nan, tadi sudah selesai koq imunisasinya." Ucap ayla pada Nanda.
"Ay, aku mau jenguk Disya dulu, Disya sakit dan dirawat disini."
"Ryu bagaimana?" Tanya Nanda.
"Ajak sebentar gapapa koq Nan, nanti aku telpon Regan biar nyusul keruang perawatan Disya.
"Maaf, ini siapa, Nanda?" Tanya Irwan mencoba mencari tau soal Ayla.
"Oh iya Pap, ini Ayla, dia Sahabat dan keluargaku." Jawab Nanda.
Ayla hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda hormat.
Irwan membawa Nanda dan juga Ayla keruang perawatan Disya.
"Nanda." Panggil Linda yang sedang menjaga Disya yang masih tertidur.
"Mami, maafkan Nanda. Nanda tidak tau soal Disya." Lirih Nanda.
"Papi sudah menceritakannya sedikit, Mam." Sahut Irwan.
Mata Nanda tertuju pada Disya dan segera menghampirinya, sementara mata Linda, tertuju pada Ayla. Ayla hanya tersenyum saat menyadari Linda menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Linda pada Ayla.
"Mungki kita pernah berpapasan secara tidak sengaja, Bu." Jawab Ayla sopan disertai senyuman.
"Kamu memiliki satu lesung pipi dikiri, sama dengan lesung pipi milikku." Ucap Linda.
"Senangnya bisa sama seperti ibu yang masih cantik diusia ibu sekarang." Jawab Ayla.
"Apa Linda merasakan hal yang sama?" Batin Irwan, kemudian Irwan memfoto Ayla diam-diam dengan kamera ponselnya.
Irwan lalu mengirimkan foto Ayla pada seseorang. "Cari informasi tentang wanita ini, dia bernama Ayla dan tinggal dirumah bersama Nanda Alifia Darmawan. Cari info hubungan mereka berdua dan asal usul Ayla."
__ADS_1
"Semoga firasatku tidak salah." Batin Irwan.
"Mommy..." Panggil Disya pelan saat terbangun dari tidurnya.
"Hai, Sayang." Nanda mencium kening Disya.
"Mommy disini?" Tanya Disya yang kini duduk dibrankarnya.
"Ya, Mommy disini dan Mommy tidak akan pernah lagi meninggalkan Disya."
Mata Disya berbinar. "Mommy.." Disya memeluk Nanda dan Nanda membalas pelukan Disya.
Ceklek,
Pintu ruang perawatan Disya terbuka, terlihat Pras dan Regan masuk kedalam ruangan. Saat Regan akan menyusul Ayla keruang perawatan Disya, ia berpapasan dengan Pras, lalu Regan bercerita soal Nanda dan Ayla yang kini berada dikamar prawatan Disya.
Jantung Pras slalu berdetak kencang saat melihat Nanda, dan kini Pras melihat Nanda kembali dengan status Nanda yang baru.
"Bolehkan aku mulai mendekati Nanda kembali?" Batin Pras.
"Mommy, nginep disini?" Tanya Disya.
"Ya Momny akan menginap disini menjaga Disya." Sahut dokter Pras yang membuat Nanda membulatkan kedua matanya.
Regan dan Ayla hanya tersenyum melihat Pras yang sepertinya akan mulai berjuang kembali mendekati Nanda.
Linda dan Irwanpun juga mengulas senyum dan berharap Pras bisa mendekati Nanda kembali juga segera menjadikannya istri.
"Kalau begitu, Ayla aku bawa pulang ya Nan." Ucap Regan seperti sedang menggoda Nanda.
"Memangnya kamu sudah selesai, Re?" Tanya Nanda.
"Sudah, dilanjut nanti sore aku balik lagi kesini sekalian bawa baju ganti kamu." Regan semakin meledek Nanda.
Nanda menyipitkan matanya menatap Regan, ia ingin mengelak dari omongan Regan namun menjaga sikapnya didepan kedua orang tua Pras.
Reganpun membawa pulang Ayla, tak lama Irwan pun mengajak Linda juga berpamitan pulang dan meninggalkan Nanda bersama Pras diruang perawatan Disya.
"Mommy, kenapa Mommy balu datang?" Tanya Disya manja.
"Maafkan Mommy, Sya. Mommy sedang banyak pekerjaan." Jawab Nanda sambil menyisir rambut Disya.
"Mommy dengar dari Opa, Disya sudah sekolah ya?"
Disya menggelengkan kepalanya, "Disya gak mau sekolah lagi, Mom."
"Why?" Tanya Nanda lembut.
"Disya malu, kalna cuma Disya yang gak punya Mommy."
Nanda meraup Disya kedalam pelukannya, "Kalau Disya sembuh, Mommy janji akan sempatkan waktu untuk menjemput Disya sekolah."
"Benalkah?"
Nanda mengusap kepala Disya. "Ya Mommy janji. Tapi Disya harus mau sekolah diantar Daddy ya, pulangnya Mommy yang jemput."
Disya bersorak, "Yeayy Disya udah gak dijemput sama Mbak lagi, Disya dijemput Mommy." Ucapnya riang.
Pras tersenyum melihat Disya yang riang kembali, semenjak Nanda datang, Disya mau makan dan tidak susah minum obat, membuat demamnya reda dan tak lagi tinggi.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1