
Nanda terbangun saat matahari sudah meninggi, ia melihat Pras yang tengah membereskan koper kedalam lemari Nanda.
Nanda melihat jam di dinding kamarnya, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Aku kesiangan." Gumam Nanda."
Pergerakan Nanda ditempat tidur memancing perhatian Pras, ia langsung mendekati Nanda dan membantunya untuk duduk.
"Aku kesiangan Mas." Ucap Nanda.
Pras tertawa, "Bukan kesiangan lagi, tapi memang sudah siang, bahkan kamu melewati sarapanmu."
"Maaf, ini hari pertamaku menjadi istrimu, tapi aku malah kesiangan." cicit Nanda.
Pras mencium kening Nanda, lalu menangkup wajahnya, "Aku tau kamu baru merasa tidur nyenyak, jangan khawatir, aku tidak akan mungkin marah padamu."
Nanda mengangguk, "Dimana Disya?"
"Pagi tadi Disya berangkat kesekolah, mungkin sebentar lagi pulang."
"Oh my God, harusnya aku mengurus Disya, aku memberi contoh tidak baik pada putriku."
Perasaan Pras menghangat, meskipun kini Nanda tengah hamil anak kandungnya sendiri, tetapi Nanda tetap menyayangi Disya layaknya putri kandungnya juga.
Pras menyadari satu hal, Nanda dan Ayla sama-sama memiliki hati yang tulus, Pras berpikir mungkin ini adalah warisan terbesar Aryo, putri-putri nya memiliki hati yang baik sama seperti dirinya. Meski kesalahan Aryo sangat fatal, namun kebaikannya mengalahkan satu kesalahan terbesarnya.
"Bersiaplah, aku akan membawamu kerumah sakit, aku ingin memeriksa langsung kondisi anak kita." Ucap Pras.
"Kamu tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?"
Pras mengerdikan bahunya, "Aku dokter Obgyn, aku akan tau langsung tanpa harus diberitahu."
Nanda tersenyum, "kamu juga yang akan membantu persalinanku?" Tanya Nanda.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkanmu ditangani oleh dokter lain."
"Termasuk oleh Regan?"
"Ya, termasuk Regan sekalipun meski dia adalah sahabatmu."
"Tapi Papa permah menyuruh Regan untuk membantuku melahirkan jika aku hamil."
Pras mengangguk, "Itu karna dulu Papamu tidak tau jika suamimu juga seorang dokter Obgyn."
***
Pras membawa Nanda untuk diperiksa, ia memberi gel diatas perut Nanda dan menempelkan alat transducer.
"Laki-laki." Gumam Pras berbinar ketika menempelkan alat itu diatas perut Nanda.
Pras mengalihkan kemonitor empat dimensi. "Wajahnya, lihatlah Honey, itu wajah putra kita."
"Apa dia baik baik saja, Mas?"
"Iya, dia sehat, bahkan dia sangat lincah didalam sana." Lalu Pras menyalakan suara yang ternyata adalah suara detak jantung janin Nanda.
"Kamu dengar suaranya?" Tanya Pras yang diangguki oleh Nanda membuat Nanda merasa takjub.
"Detak jantung anakku, Mas." Lirih Nanda terharu.
"Anak kita, Honey."
Selesai memeriksa kandungan istrinya, Pras membawa Nanda duduk disofa.
"Akan ada yang mengambil sampel darah dan urinmu Honey, kita periksa HB dan yang lainnya."
"Perlukah?"
Pras mengangguk, "Tentu saja perlu, untuk memastikan bahwa kamu sehat dan tidak mengalami anemia."
Nanda hanya mengangguk pasrah, ia menyerahkan semuanya pada Pras, ada kebanggaan tersendiri pada diri Nanda saat Pras menjelaskan panjang lebar tentang kehamilannya.
***
Nanda berjalan-jalan disekitar rumah sakit sambil menunggu Pras yang sedang praktik dan akan pulang bersamanya.
Bughh
Nanda bertabrakan dengan seseorang.
"Nanda..." Gumam orang itu.
Nanda mendongakan wajahnya dan melihat seorang pria yang tengah menggendong gadis kecil seumur Ryu.
"Mas Raja." Ucap Nanda.
__ADS_1
Mata Raja tertuju pada perut buncit Nanda. "Kamu....." Raja tidak menyelesaikan perkataannya.
Nanda menangkap maksud apa apa yang ingin dikatakan oleh Raja, lalu Nanda mengusap perutnya yang membuncit.
"Aku hamil." Ucap Nanda tersenyum.
"Kamu sudah menikah lagi?" Tanya Raja yang merasa heran, pasalnya mereka belum satu tahun bercerai namun Nanda sudah hamil tujuh bulan.
Nanda mengangguk. "Maaf Mas aku pergi duluan." Nanda berjalan melewati Raja yang masih diam membeku.
"Mungkin kita memang tidak berjodoh Nan, kamu bisa mengandung anak orang lain, tapi tidak satupun benih milikku bertumbuh dirahimmu." Batin Raja.
Seorang wanita paruh baya menepuk bahu Raja. Dia adalah Rini ibu kandung Raja, mereka sedang membawa Audrey untuk berobat karna Audrey demam.
"Sudahlah Raja, tidak ada yang perlu kau sesali. Nanda sudah bahagia dengan hidupnya sekarang. Kamu harus berjuang demi Audrey dan menjalani hidupmu."
"Iya Bu, semangat Raja sekarang adalah Audrey, meski Raja membenci ibunya tapi Audrey adalah nyata anak Raja."
Dari kejauhan Regan memperhatikan Nanda yang tidak sengaja bertemu dengan Raja, Lalu Regan menyusul Nanda yang kini berada dikafetaria.
Regan menarik kursi didepan Nanda, "Biasanya yang gratis itu enak, gantian traktir dong." Ledek Regan.
"Ishhh Papa Ryu nyebelin." Ucap Nanda.
Regan memesan secangkir kopi dan cemilan untuk menemaninya mengobrol dengan Nanda.
"Kamu bertemu Mas Raja?" Tanya Regan menyelidik.
"Kamu melihatnya?"
Regan nengangguk, "Bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Lega, aku memaafkan semua orang yang sudah mengecewakanku."
"Kamu mencintai dokter Pras?" Tanya Regan.
Nanda mengernyitkan dahinya, "Pertanyaan macam apa itu, mana mungkin aku mau pulang hingga menikah dengannya jika aku tidak mencintainya."
Tetiba Pras merangkul Nanda dan mengecup puncak kepalanya, membuat Nanda terkesiap ketika lengan Pras merangkul bahunya.
"Ishh kalian jebak aku ya." Nanda mengerucutkan bibirnya.
"Trimakasih dokter Regan, udah bikin Nanda mengakui perasaannya." Ucap Pras sumringah.
"Kalian formal sekali." Cibir Nanda.
"Kamu gak jadi praktik dipoli?" Tanya Nanda heran.
Pras menggelengkan kepalanya, "Aku masih cuti, tadi cuma cek laporan rumah sakit aja." Jawabnya santai.
Pras duduk disebelah Nanda, "Jadi tadi ketemu mantan?" Tanyanya.
"Ishh apa sih Mas, cemburu?" Tanya Nanda.
"Engga lah, ngapain cemburu sama orang gak mutu. Toh hati kamu juga udah ke aku." Kata Pras dengan pedenya.
Nanda tersenyum, Regan juga ikut tersenyum ia bahagia melihat Nanda yang akhirnya juga menemukan kebahagiaannya.
Percakapan ringan dan sesekali diselingi tawaan membuat mereka menjadi pusat perhatian di kafetaria, termasuk Irwan yang yang kebetulan sedang berada di rumah sakit untuk meeting bersama beberapa pejabat penting pemegang saham dirumah sakit.
"Nanda sedang hamil." Gumamnya dalam hati.
"Cucuku akan bertambah." Lalu Irwan segera pergi sebelum ada yang menyadari kehadirannya.
Irwan kembali kerumahnya dan disana sudah ada Ayla yang datang berkunjung membawa Disya juga Ryu.
"Opaaa." Teriak Disya.
"Cucu Opa masih pakai seragam sekolah?" Tanya Irwan yang kini menggendong Disya.
"Disya pulang sekolah langsung kesini sama Auntie Ay, gak sempet ganti baju." Ucapnya polos.
"Disini juga kan ada baju Disya." Kata Irwan.
"No Opa, Disya mau ganti baju dirumah Mommy aja."
Irwan hanya tersenyum menanggapinya. Terlihat Ayla dan Linda yang sudah bersiap akan pergi juga.
"Kalian mau kemana?" Tanya Irwan.
"Aku mau menjenguk Nanda dan membawakannya puding kelapa kesukaannya." Jawab Linda.
Irwan hanya mengangguk.
"Apa Papi tidak akan ikut bersama kami?" Tanya Ayla.
__ADS_1
"Papi baru pulang dan masih lelah, kalian pergi saja." Jawab Irwan kemudian menurunkan Disya dan masuk kedalam kamarnya.
"Mami rasa, Papimu ingin sekali ikut dengan kita, Han."
"Gengsinya Papi terlalu besar, Mam." Jawab Ayla.
"Iya, kamu benar. Keras kepala sekali dia. Biarkan saja, nanti juga luluh sendiri. Ayo kita pergi, nanti keburu sore." Ajak Linda.
Sementara itu, Pras dan Nanda baru saja tiba dirumah.
"Sepi, Mas." Ucap Nanda.
"Hana tadi nelpon, katanya kerumah Mami untuk jemput Mami."
"Mami mau kesini?"
"Iya, mami bilang bikin puding kelapa kesukaanmu."
"Benarkah? Ahh Mami tau sekali aku menginginkan itu." Ucap Nanda berbinar.
"Karna Mami menyayangimu, sewaktu kamu pergi, Mami sering melamun, terlebih saat meyakini bahwa kamu sedang hamil, setiap hari Mami memarahiku karna kebodohanku."
Nanda hanya tersenyum, lalu masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
Pras memeluk Nanda dari belakang membuat Nanda terkesiap.
"Kita melewatkan malam pengantin kita." Bisik Pras menggoda.
"Ada Disya, Mas."
"Tapi sekarang, Disya sedang tidak ada, aku merindukanmu, merindukan bayi kita, aku belum menjenguknya." Pras menelusuri leher jenjang Nanda.
Nanda tertawa, "Aku masih lelah sekali, Mas."
"Bohong, katakan jika kamu tidak merindukan sentuhanku." Ucap Pras yang kini tangannya mulai bergrilya.
"Akhhh Mas.." Pekik Nanda saat tangan Pras bermain dipangkal paha Nanda.
Pras menggiring Nanda ketempat tidur. Menidurkan Nanda dengan lembut. "Kamu cantik sekali." Bisik Pras lembut.
"Kamu mencintaiku?" Tanya Nanda.
"Sangat. Aku sangat mencintaimu Nanda alifia Darmawan."
Nanda mengecup sekilas bibir Pras, "Jangan lagi mengecewakanku."
"Never, ever."
Pras mulai melucuti pakaian Nanda dan pakaian dirinya, ia mulai memberi rangsangan dititik-titik bagian sensitif Nanda.
"Mas,, Akhhh.." Nanda mendesssah nikmat.
"Aku merindukanmu, Honey." Bisik Pras.
"Mulailah, Mas."
"Kamu sudah tidak tahan?" Tanya Pras menggoda.
Nanda mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
"Baiklah, aku mulai ya sayang." Bisiknya.
Pras mulai mengarahkan juniornya kedepan bagian sensitif Nanda, namun saat ingin memasukinya...
Tokk.. Tokkk.. Tokkk
"Daddy,, Mommy,, Disya sudah pulaaaaang." Teriak Disya dari depan pintu kamar.
Nanda membulatkan matanya dan mendorong Pras secara refleks, Pras menutup wajahnya dengan bantal.
"Disyaaaaa." Geram Pras gemas.
"Kamu samperin Disya, Mas. Aku mau mandi dulu." Ucap Nanda kemudian memunguti pakaian yang tercecer dan masuk kedalam kamar mandi dikamarnya.
Pras hanya bisa pasrah, kemudian segera berpakaian kembali dan membuka pintu.
Didepan pintu Disya tengah berkacak pinggang sambil menatap tajam Pras. "Hayo Daddy lagi ngapain? Kenapa lama sekali buka pintunya."
"Maafkan Daddy Sya, Daddy ketiduran dan Mommy berada dikamar mandi." Kilah Pras.
.
Satu Bab lagi tamat ya..
Pleaseee mumpung senin, bagi votenya dong..
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....