BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Ingat Kembali


__ADS_3

"Han." Panggil Pras.


Nanda menatap dalam mata Pras, "Namaku Nanda, Mas. Aku sudah mengingat semuanya. Aku ingat siapa aku sebenarnya." Ucap Nanda.


Semua mata memandang kearah Nanda. Tiba-tiba saja Pras merasakan ketidak nyamanan, Pras takut Nanda kembali kekehidupan nyatanya.


"Kamu ingat namamu?" Tanya Linda memastikan.


"Aku Nanda, Nanda Alifia Darmawan" Jawab Nanda.


"Dimana kamu tinggal Nak? Apa keluargamu masih ada?" Tanya Irwan.


"Aku tinggal di jalan berlian lima nomer lima, Aku memiliki Papa dan satu saudari yang sudah menikah, dan..." Nanda tidak melanjutkan lagi ucapannya karna ragu.


"Dan apa Han?" Tanya Linda yang masih ingin memanggil Nanda dengan panggilan Hana.


Mata Nanda menatap mata Pras, "Aku sudah menikah." Ucapnya lirih.


Pras tersenyum mendengar hal itu, mau tidak mau ia harus merelakan Nanda karna Nanda sudah terikat pernikahan dengan orang lain.


"Bisa pinjam ponsel?" Tanya Nanda yang diangguki oleh Pras.


Pras memberikan ponselnya pada Nanda, dalam pikirannya, ia ingin menelpon Ayla, Nanda mengingat jelas nomer ponsel Ayla. Namun ponsel Ayla tidak aktif. Nanda ingin menelpon Aryo, namun ia ingin memastikan keadaan Aryo dulu, Nanda takut jika langsung menelpon Aryo akan membuatnya shock lalu drop kembali, Nanda memberikan ponselnya kembali pada Pras.


"Selain saudarimu dan Papamu, nomer siapa lagi yang kamu ingat, kamu ingat nomer ponsel suamimu?" Tanya Pras.


"Nanda mengangguk, "Tapi aku tidak ingin menelponnya, mereka bersekutu untuk mencuri asetku dan menculiku." Lirih Nanda.


"Apa maksudmu Nak?" Tanya Irwan tak mengerti.


Nanda mengingat dan perlahan menceritakannya, "Suamiku berselingkuh, lalu selingkuhannya dan adik dari suamiku menculikku, mereka menginginkan aset-aset milikku untuk dialihkan pada suamiku. Mereka membawaku ke Villa dibukit itu, hingga akhirnya aku bisa membujuk penjaga Villa melepaskanku, saat itu sudah malam dan hujan turun sangat deras, aku terpeleset hingga jatuh dan kepalaku membentur sesuatu." Itu yang aku ingat.


"Berarti kamu dalam bahaya, kami tidak bisa mengantarmu pulang hingga ada keluargamu yang menjemput kesini." Ucap Irwan.


"Aku ingin menghubungi Regan, tapi aku tidak hapal nomer ponsel Regan."


Pras mendengar nama Regan dan tampak tak asing, "Siapa Regan?" Tanya Pras memastikan, apa yang Nanda maksud itu adalah Regan yang Pras kenal.


"Dia sahabatku, suaminya Ayla, saudariku"


"Ayla?" Tanya Pras lagi untuk benar-benar memastikan.


"Ayla dan Regan. Mereka sahabatku yang slalu datang dalam mimpiku."


"Apa Regan yang kamu maksud itu seorang dokter?"


Nanda mengernyitkan dahinya menatap Pras. "Mas Pras kenal Regan?"


"Jika yang kamu maksud Regan Aditya, dia rekanku dirumah sakit, kami satu divisi, Istri Regan juga bernama Ayla." Ujar Pras.


"Iya, Regan Aditya adalah sahabatku, suaminya Ayla. Apa Mas punya kontaknya?"


Pras mengangguk, kemudian ia membuka layar ponselnya dan mendial nomer Regan.


Regan yang masih menunggu pembukaan Ayla segera mengangkat ponselnya saat berdering.


"Iya Dokter Pras?" -Regan-


"Dokter Regan, maaf menganggu pagi-pagi. Bisakah dokter Regan dan istri dokter Regan kerumah saya pagi ini? Ada hal penting yang ingin saya bicarakan" -Pras-


"Maaf dokter Pras, tanpa mengurangi rasa hormat, pagi ini saya tidak bisa memenuhi panggilan dokter, istri saya akan melahirkan dan sedang menunggu pembukaannya sempurna." Ucap Regan hati-hati.


"Maaf, saya tidak tau. Baiklah saya yang akan kerumah sakit." -Pras-


"Bagaimana Pras?" Tanya Linda.


Pras menatap Nanda, "Bersiaplah Nanda, kita akan kerumah sakit. Regan ada dirumah sakit, Ayla akan melahirkan."


"Ayla hamil?" Tanya Nanda.


"Dia bahkan akan melahirkan, dan sedang menunggu pembukaannya sempurna."


Mata Nanda berkaca-kaca. "Antar aku kesana Mas." Pinta Nanda yang diangguki oleh Pras.


Jarak rumah sakit dengan rumah Pras tidaklah jauh, dalam waktu sepuluh menit, Pras sudah tiba dirumah sakit bersama Nanda.


Pras langsung mengajak Nanda keruang bersalin, didepan ruang bersalin, Regan terkejut melihat Nanda.


"Nanda." gumam Regan.


Nanda memeluk Regan dan Regan membalasnya.


Regan perlahan mengendurkan pelukannya, "Kamu baik-baik aja? kemana kamu selama sembilan bulan ini?" Tanya Regan bertubi-tubi.

__ADS_1


"Nanti aku ceritakan, dimana Ayla?" Tanya Nanda.


Regan membawa Nanda ke brankar yang tetutup tirai.


"Ay.." Lirih Nanda.


Ayla juga terkejut melihat Nanda yang menyibak tirai dan mendekat kebrankar.


"Nanda." Ayla terisak, airmatanya terjun bebas keluar membasahi pipinya.


"Kamu akan menjadi seorang ibu." Nanda mengusap kepala Ayla.


"Temani aku Nan, aku takut." Lirih Ayla.


Regan dan Pras menatap haru pertemuan kedua sahabat itu.


Nanda mengangguk dan tersenyum.


Nanda mendampingi Ayla dan menggenggam tangan Ayla, Regan bersiap karna pembukaan Ayla sudah sempurna.


"Sakit Re.." Lirih Ayla.


"Tahan, Sayang.. sedikit lagi."


Ayla merasa dirinya kehabisan tenaga, "Ay, ayo kamu kuat, Ay.. Dorong terus." Kata Nanda menyemangati.


Karna tenaga Ayla yang mulai melemah, Regan mengambil tindakan dengan cara vakum, dalam hitungan detik, Bayi mungil Regan dan Ayla terlahir kedunia.


Regan mengangkat bayinya dan menciumi bayi yang belum dibersihkan itu. Ia menjadi orang pertama yang menyentuh bayi itu dan menciumnya, "Terimakasih sudah hadir dihidup Papa dan Mama, Sayang." Bisiknya lalu menciumnya kembali sebelum ia berikan pada perawat yang akan membersihkannya.


Nanda terus setia mendampingi Ayla, sementara Regan menjahit bagian inti Ayla yang robek karna melahirkan putra mereka.


Setelah selesai, Ayla dipindahkan keruangan VVIP.


"Nan, kamu kemana aja?" Tanya Ayla.


"Ay, istirahatlah dulu, nanti aku ceritakan." Pinta Nanda.


"Jangan pergi lagi ya Nan, kasian Papa."


Nanda tersenyum dan mengangguk, "Istirahatlah Ay."


Regan masih diruang bersalin bersama Pras. Pras menceritakan awal ia bertemu dengan Nanda hingga membawa Nanda kerumahnya dan tentang kondisi Nanda selama berbulan-bulan ini.


Pikiran Pras melayang saat pernikahan Regan dan Ayla, saat itu Pras tidak sengaja menabrak seorang wanita. "Jadi wanita itu adalah Nanda." Gumam Pras dalam hatinya yang baru menyadarinya.


Slama ini Pras meyakini pernah bertemu Nanda sebelumnya, namun ia lupa bertemu dimana hingga ia sadari bahwa pertemuan pertama dengan Nanda adalah saat dipernikahan Regan.


"Nan." Panggil Regan yang baru saja masuk kekamar perawatan Ayla bersama Pras.


Nanda menoleh kearah Regan.


"Dokter Pras sudah menceritakan semuanya padaku." Ucap Regan.


Lalu mereka mengambil posisi duduk disofa.


"Bagaimana kabar perusahaan, Re?" Tanya Nanda pada Regan yang diperhatikan oleh Pras.


"Perusahaan aman, Ayla ambil alih jadi presdir sementara. Sahammu diambil oleh Raja, dan Papa Aryo memberikan sahamnya pada Ayla agar Ayla bisa tetap mengendalikan perusahaan."


Nanda menghela nafas, "Papa tau ini?"


"Sehari saat kamu tidak pulang, Papa Aryo mencarimu kerumah Raja, dan Robi terpaksa menceritakan semuanya."


"Papa..." Lirih Nanda.


Regan mengenggam tangan Nanda. "Papa baik-baik aja Nan, meski awalnya Papa sempat drop, tapi sekarang Papa benar-benar sehat."


Ceklekk


Pintu ruangan terbuka, terlihat Aryo memasuki ruang perawatan Ayla, semua mata tertuju pada Aryo.


"Papa." Gumam Nanda.


Aryo yang mendengar suara Nanda langsung melihat kearah Nanda. "Nanda."


Nanda langsung berdiri dan berhambur memeluk aryo.


"Papa.. Maafin Nanda." Nanda menangis dalam pelukan Aryo.


Aryo yang masih terkejut, hanya diam dan membalas pelukan Nanda juga mengusap punggung Nanda, tanda mengisyaratkan semua akan baik-baik saja.


Ayla terbangun dan melihat Nanda yang masih menangis dalam pelukan Aryo.

__ADS_1


Setelah tenang, Nanda menceritakan semuanya pada Aryo, Ayla dan juga Regan soal apa yang dialaminya tentang rumah tangganya, perselingkuhan Raja, dan juga pencurian dana perusahaan oleh Sarah dan Olivia.


"Sekarang apa yang mau lakukan Nan?" Tanya Ayla.


Nanda menatap Aryo, mencari kekuatan untuk memastikan. "Pa.. Maafin Nanda buat Papa kecewa, maafin Nanda yang gagal membina rumah tangga, Papa pasti malu karna ulah Nanda." Nanda terisak, sungguh dalam hatinya ia merasa Aryo sangat kecewa kepadanya.


"Nanda tidak bahagia bersama Raja? Nanda sudah tidak mencintai Raja?" Tanya Aryo.


"Mungkin dari awal Nanda salah, Pa. Mungkin dari awal Nanda memang tidak mencintai Mas Raja, hanya rasa kagum karna Mas Raja slalu menemani Nanda belajar. Jauh sebelum Mas Raja selingkuh, Nanda sudah tidak bahagia, Pa." Jawab Nanda masih dengan terisak.


Aryo menghela nafas, sungguh ia telah salah menitipkan Nanda pada Raja, Aryo bersyukur dirinya masih diberi kesehatan untuk terus mendampingi putri satu-satunya itu.


"Apa yang mau Nanda lakukan?" Tanya Aryo bijak.


"Sebelum pernikahan Nanda dan Mas Raja selesai, Nanda mau ambil saham Nanda lagi yang kini berada di Mas Raja, Nanda mau bekukan rekening pribadi Mas Raja, dan bukti-bukti yang sudah terkumpul akan nanda berikan pada polisi. Nanda ingin Mas Raja, selingkuhannya dan juga adiknya masuk penjara Pa. Apa Nanda jahat, Pa?"


Aryo mengusap punggung Nanda, "Papa akan mendukung semua keputusan Nanda."


"Tapi Regan bilang, selingkuhan Mas Raja sudah mempunyai anak dari Mas Raja Pa, Nanti kalau Nanda masukan mereka kepenjara, bagaimana dengan anaknya?" Tanya Nanda yang masih mempunyai sisi baiknya.


Pras menatap kagum pada Nanda, Ayla memperhatikan Pras yang terus saja memperhatikan Nanda.


"Nan, ada Ibu Rini yang akan mengurusnya." Ucap Regan.


"Kasian Ayah Haris, Re, kalau Ibu Rini mengurus bayi itu."


"Nan, bayi itu bukan urusanmu." Ujar Regan.


"Re, aku dibesarkan tanpa seorang Ibu, Ayla juga dibesarkan tanpa orang tua, aku dan ayla pasti merasa kasihan pada bayi itu, bayi itu tidak berdosa."


"Ayah yang akan mengurusnya." Sahut seseorang yang tiba-tiba saja mendorong pintu yang tidak tertutup rapat. Haris mendengar semua cerita Nanda.


"Ayah." Ucap Regan, Ayla dan Nanda bersamaan."


Haris yang baru saja akan masuk kekamar perawatan untuk menjenguk Ayla, tiba-tiba saja mengurungkan niatnya saat mendengar cerita Nanda. Ia benar-benar tidak menyangka perbuatan anak-anak tirinya itu kepada Nanda. Haris juga merasa kecewa pada Regan, Ayla dan Nanda yang tidak menceritakan masalah sebesar ini padanya.


"Kenapa kalian tidak menceritakan hal ini pada Ayah?" Tanya Haris.


"Yah, kami hanya tidak ingin membebani pikiran Ayah." Jawab Regan.


Haris duduk disofa, "Maafkan aku, Aryo, kedua anak tiriku tlah menyakiti Nanda." Sesal Haris.


"Haris, ini bukan salah anda. Biarlah ini jadi pelajaran untuk Nanda agar lebih berhati-hati untuk jalan selanjutnya." Jawab Aryo bijak.


Setelah berbicara serius, Aryo dan Haris keluar untuk meneruskan obrolan mereka di kafetaria rumah sakit sekalian makan siang.


Tanpa Nanda sadari, sedari tadi Pras masih berada dikamar perawatan Ayla.


Nanda mendekat pada brankar Ayla dan duduk disamping Ayla.


"Lain kali jangan pendam sendiri Nan." Ucap Nanda.


"Maafin aku, Ay. Aku cuma gak ingin bebanin kamu dan Regan."


"Apa kita pernah merasa dibebanin oleh kamu, Nan?" Sahut Regan.


"Iya Re, iya.. Aku salah." Jawab Nanda dengan sifat asalnya.


"Udah, Re.. Jangan salahin Nanda terus." Sahut Ayla.


"Terus hari ini kamu pulang kemana, Nan?" Tanya Ayla mengalihkan pembicaraan.


Pertanyaan Ayla baru membuat Nanda sadar akan keberadaan Pras yang masih disana.


Nanda berdiri dari duduknya.


"Ay, aku keluar dulu sebentar ya, nanti aku kesini lagi." Ucap Nanda yang kemudian menghampiri Pras.


"Mas, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Nanda pada Pras.


Pras yang sedang duduk mendongakan wajahnya, kemudian berdiri dihadapan Nanda.


"Baiklah, kita keluar ya." Ajak Pras yang diangguki oleh Nanda.


.


Senin, adakah yang mau berbaik hati menyumbangkan Votenya untuk novel ini?.


*


terimakasih Readers, karna dukungan kalian othor jadi semakin semangat untuk Up terus.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2