
Dua minggu berlalu.
Hari ini hasil test DNA Ayla akan keluar, tidak ada yang mengetahui hal ini kecuali Pras, Regan dan Irwan.
Kini mereka bertiga berada diruangan Pras, Sania membawakan hasil tes DNA itu.
Irwan menerimanya, sesaat sebelum membuka amplop putih berisikan hasil test, Irwan menatap pada Pras dan Regan bergantian. Regan hanya duduk dan menunduk sambil mentautkan jari-jari tangannya, sementara Pras menganggukan kepalanya memberi kode untuk sang ayah agar segera melihat hasilnya.
Sreekkk
Amplop perlahan terbuka dan Irwan membuka kertasnya. Ia membuka lipatan kertas dan mulai membacanya. Tangannya bergetar dan air matanya bercucuran saat ia membaca hasil testnya.
"Dia Hana, anakku." Lirihnya dengan suara bergetar. "Dia Hana kita, Pras. Hana yang slama ini hilang."
Pras menutup wajahnya dengan telapak tangannya, dia bersyukur karna adiknya tlah ia temukan.
Regan pun tak kalah terharu, "Aku menemukan keluargamu, Ay." Batin Regan.
Pras meraih kertas ditangan Irwan dan melihatnya untuk meyakinkan dirinya, semua benar. Hasilnya cocok. Hana adalah adiknya yang slama ini menghilang.
"Mami pasti bahagia Pap. Apalagi Hana sudah menikah dan memiliki seorang anak. Mami memiliki cucu lain selain Disya." Lirih Pras.
Irwan mendekat kearah Regan dan memeluknya. "Terimakasih dokter Regan, karna tlah menjaga Hana kami slama ini."
Regan membalas pelukan Irwan. "Sama sama Pak, saya dan Ayla bersama sedari SMP, Keluarga Nanda lah yang slama ini menjaga Ayla."
Irwan melepaskan pelukannya. "Panggilah saya Papi, kamu adalah menantu dikeluarga kami." Irwan menjeda kalimatnya, "Bantulah saya untuk bertemu dengan Pak Aryo sebelum hal ini kita sampaikan pada Hana."
Regan mengangguk, "Saya akan segera mengusahakannya."
Pras pun menghampiri Regan, masih terlihat jelas jejak air mata dikeduanya. "Adik ipar." Pras memeluknya dan Regan pun membalasnya. "Kaka Ipar."
Ruangan yang penuh ketegangan itu kini menjadi penuh haru.
Regan kembali keruangan praktiknya karna pasien nya sudah banyak yang menunggu.
Irwanpun kembali kerumahnya dan akan menjelaskannya pada Linda.
Sementara Pras tengah menunggu Nanda yang akan datang bersama Disya karna hari ini jadwal Disya bertemu dengan psikiaternya.
"Hai anak Daddy, sudah datang." Pras menggendong Disya yang bergandengan tangan dengan Nanda.
"Sudah Dad, tadi Disya kekantor Mommy dulu sebentar, Mommy keren deh Dad." Ucar Disya yang kini bisa mengucapkan huruf R disetiap kalimatnya.
"Ohh benarkah? Apa Mommy didekati pria lain?" Tanya Pras sambil melirik kearah Nanda.
"Mas, kamu apa-apaan sih?" Nanda sedikit mencubit perut Pras.
"Mommy kerja bareng dengan Om Robi." Jawab Disya.
"Ohh berarti Mommy nakal ya, harus Daddy hukum sepertinya." Mata Pras mengerling nakal.
"No Daddy, Daddy tidak boleh menghukum Mommy." Protes Disya.
Pras tertawa melihat Disya yang begitu membela Nanda, "Baiklah, Daddy tidak menghukum Mommy." Lalu Pras berbisik pada Nanda. "Siapkan dirimu, karna aku akan tetap menghukummu nanti, Honey."
Nanda membulatkan kedua matanya. Bisa-bisanya Pras berbicara hal itu pada Nanda didekat Disya meskipun Disya tidak mendengarnya.
Pras mengantar Disya keruangan psikiater anak untuk teraphy, dan meninggalkannya disana bersama suster pendamping.
"Kita gak nemenin Disya?" Tanya Nanda.
"Disya akan lebih cepat berinteraksi dengan teman seteraphynya jika tidak kita dampingi. Lagi punya hanya sembilan puluh menit. Tidak lama." Jawab Pras yang menggandeng tangan Nanda menuju ruangannya.
"Dokter Pras." Panggil Sania.
Pras dan Nanda menoleh kearah Sania yang sedang berjalan kearahnya bersama dua orang suster.
"Ini salinan hasil test DNA tadi." Sania memberikan dua amplop putih.
Pras memang meminta salinan test DNA untuk dirinya satu, karna akan diberikan pada Nanda dan Aryo. Satunya lagi untuk Regan saat ia akan membeitahunya pada Ayla. Karna yang salinan yang pertama sudah dibawa Irwan untuk diperlihatkan pada Linda.
"Ah iya, terimakasih." Pras menerimanya.
"Kami mau ke kafetaria, dokter mau gabung?" Tanya Sania.
Pras tersenyum, sekilas melihat wajah Nanda yang tanpa ekspresi lalu melingkarkan tangannya dipinggang Nanda. "Silahkan duluan, saya mau makan siang bersama istri saya." Jawab Pras.
Kedua suster tampak berbisik-bisik. Mereka berfikir tidak mengetahui jika Pras ternyata sudah menikah lagi.
"Ah baiklah dokter Pras, kami duluan." Ucap Sania sopan.
Pras pun kembali berjalan menuju ruangannya, tangannya masih setia melingkar dipinggang Nanda.
__ADS_1
"Sepertinya dia menyukaimu." Ucap nanda dengan nada sebal.
Pras tertawa, ia menutup pintu ruangannya dan menguncinya.
"Tapi aku menyukaimu, bahkan aku tergila-gila padamu, Nanda Alifia." Pras mencium bibir Nanda, mellu*mat nya sedikit lama.
Nanda mendorong tubuh Pras lalu duduk disofa. "Nyebelin.. Main nyosor aja."
Pras mengikuti Nanda dan duduk disebelahnya lalu menggengam satu tangannya dan menciumnya. "Jangan meragukan aku, Disya sangat menyayangimu, Mami dan Papiku juga sangat menyukaimu."
"Lalu kamu?" Tanya Nanda.
"Aku sangat mencintaimu." Pras mencium kembali genggaman tangan Nanda.
Nanda mengusap pipi kiri Pras. "Kamu akan menyesal menikah denganku."
"Kenapa?" Tanya Pras.
"Karna aku sangat possesif."
"Aku suka dipossesifin kamu." Pras kembali memagut bibir Nanda, dan Nanda membalasnya.
Lama mereka saling berpagutan, dan Pras perlahan melepasnya, "Ada yang ingin aku bicarakan serius sama kamu."
Nanda mengernyitkan dahinya, "Apa?"
Pras mengambil satu amplop putih yang ia letakan tadi di atas meja.
"Apa ini?"
"Ayla adalah adikku."
Nanda begitu terkejut. "Maksud Mas, Ayla itu Hana?"
Pras mengangguk, sudah lama aku menaruh curiga padanya, Ayla memiliki beberapa kesamaan dengan Mami, dan ada satu ciri-ciri yang menjurus bahwa Ayla adalah Hana, Regan sudah memastikannya dan ia mengambil sampel rambut Ayla, aku cocokan dengan sampel rambut Papi dan hasilnya cocok."
"Regan tau ini?" Tanyanya tak percaya.
Pras mengangguk.
Nanda masih shock, ia mengingat betapa Ayla sangat ingin memiliki keluarga.
"Ayla slalu beranggapan, bahwa dia dibuang dan tak diinginkah. Ternyata Ayla adalah Hana yang diculik." Gumam Nanda.
"Aku dan Papi ingin berbicara pada Papa mu. Bisakah membantu meyakinkan Papa mu?"
"Papi mencari data soal Ayla, tapi data Ayla dilindungi dan tidak bisa dibobol hacker." Ucap Pras.
Nanda menatap tajam Pras, "Jelas saja tidak bisa, Kak Robi IT handal, belum pernah ada hacker yang bisa membobol data-data perusahaan maupun keluarga Papa."
"Jadi mau membahas Robi? Aku belum menghukummu."
"Mas Pras!!" Pekik Nanda. "Apaan sih."
Pras menarik Nanda kepangkuannya.
"Mas!!"
"Aku mau menghukummu." Ujar Pras.
"Jangan Mas, nanti kebablasan, nanti saja kalau kita sudah menikah." Jawab Nanda.
"Kapan?"
"Ya terserah kamu, Mas." Nanda berucap malu.
"Sudah menerimaku? Sudah membuka hati untukku?"
Nanda mengangguk,
"Katakan, katakan kalau kamu mencintaiku." Ucap Pras sedikit berharap.
Nanda menatap wajah Pras, tangannya ia lingkarkan dileher Pras. Nanda mengecup sekilas bibir Pras.
Pras tersenyum, ia memahami karakter Nanda yang sulit mengungkapkan perasaanya.
"Selesai masalah Hana, aku akan segera melamarmu." Pras mengusap pipi Nanda.
Tok.. tokk.. tokk
Suara pintu ruangan Pras terketuk dari luar.
Nanda segera turun dari pangkuan Pras dan membetulkan pakaiannya, lalu ia masuk kedalam kamar mandi yang berada didalam ruangan Pras. Sementara Pras membuka pintu dan ternyata Regan yang masuk untuk mengambil salinan hasil test DNA.
__ADS_1
"Masuklah Re." ajak Pras.
"Terimakasih Mas." Jawab Regan.
Nanda keluar dari dalam kamar mandi dan Regan menatapnya seolah ingin meledeknya.
"Biasa aja kali Re lihatnya." Ucap Nanda asal.
Regan tertawa, "Lah emang aku biasa aja ngelihatnya, baperan banget Mommy nya Disya." Cibir Regan.
Pras hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat calon istri dan adik iparnya itu.
"Jadi kamu tau ini, Re? Kebangetan!! gak kasih tau aku." Ucap Nanda sebal.
"Maaf Nan, aku cuma takut ini salah, aku gak mau terburu-buru menyimpulkan."
Nanda duduk disebelah Pras, "Lalu langkah selanjutnya?"
"Kita berdua yang akan menyampaikannya." Jawab Regan.
"Gak kamu aja Re? kamu kan suaminya."
Regan menggelengkan kepalanya, "Engga Nan, untuk saat ini aku merubah posisiku sebagai sahabat Ayla, kita berdua sahabat Ayla, kita yang sedari dulu slalu setia mendengar kesedihan Ayla yang begitu ingin tau keluarganya."
Nanda tampak berfikir, "Kamu benar Re, kita berdua sahabat Ayla dari Remaja hingga kini. kita yang akan memberitahunya."
Pras hanya diam menyimak percakapan antara Nanda dan Regan, ia sangat bersyukur karna Hana dikelilingi oleh orang-orang yang baik dan tulus. Pras pun tidak menyangka jika wanita yang ia cintai ternyata sahabat baik dari adiknya yang slama ini ia cari.
***
Nanda mendatangi Aryo diruang kerjanya. Aryo sedang menatap keluar dari jendela diruang kerjanya.
"Pa..." Nanda memeluk Aryo dari belakang.
"Anak Papa sudah pulang." Tanya Aryo sambil membalikan tubuhnya dan memeluk Nanda.
"Pa.. apa hari ini Papa merasa sakit?" Tanya Nanda.
Aryo menggelengkan kepalanya, "Tidak, Papa justru merasa sehat sekali." Aryo membawa Nanda untuk duduk disofa. "Ada apa? Ada yang mau kamu bicarakan?" Tanya Aryo.
Nanda mengangguk, "Ada yang ingin Nanda bicarakan, tapi Nanda takut Papa kecewa."
Aryo membelai rambut Nanda, "Ada apa Nanda, ceritakan pada Papa."
Nanda mengeluarkan amplop putih dari tasnya, "Regan sudah menemukan keluarga Ayla, ini bukti test DNA nya dan hasilnya cocok." Ucap Nanda hati-hati pada Aryo.
Aryo menghela nafas, sesungguhnya ia sudah tau bahwa hal ini akan terjadi suatu saat nanti, dan inilah waktunya.
Aryo membuka amplop putih itu dan membaca hasilnya. "Irwan Budianto." Gumam Aryo. Tidak ada ekspresi diwajah Aryo, Aryo tampak datar membaca hasil test DNA itu.
"Pa... Apa Papa baik-baik saja?" Tanya Nanda.
"Papa baik-baik saja. Ayla memang harus bertemu dengan keluarganya, Papa ikut senang." Aryo tersenyum, tentunya senyum yang dipaksakan.
"Apa kita akan kehilangan Ayla, Pa?" Tanya Nanda.
"Bukankah kalian bersahabat? Papa Rasa kalian tidak akan berpisah. Dimana ada Ayla disitu ada Nanda, begitupun sebaliknya." Jawab Aryo.
Nanda tersenyum, lalu mencium pipi Aryo. "Nanda dan Regan sepakat memberitahu Ayla besok."
"Papi Irwan dan Mas Pras ingin bertemu dengan Papa."
Aryo hanya mengangguk sambil tersenyum, Nanda merasa jika sang Papa pun berbahagia karna keluarga Ayla sudah ditemukan. Nanda meninggalkan Aryo di ruang kerjanya.
"Waktunya sudah tiba." Gumam Aryo setelah Nanda menutup pintu dari luar, ia memegang dadanya yang terasa sedikit sakit.
Aryo meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Irwan Budianto telah menemukan Ayla." -Aryo-
"........"
"Tidak apa, aku sudah siap menghadapi ini, jagalah Nanda jika terjadi sesuatu padaku." -Aryo-
.
.
Ada yang bisa tebak misterius apa kali ini?
Apa yang disembunyikan Aryo?
Bagaimana reaksi Ayla nanti?
__ADS_1
Kencengin yuk Like, koment dan Votenya biar Othor makin semangat bikin ceritanya.
Terimakasih Readersku.. 😘