
Ayla berangkat ke kota B dengan menggunakan kereta api, sementara tim nya sudah berangkat sehari sebelumnya dengan menggunakan mobil kantor.
Di stasiun kereta api, Ayla dijemput oleh timnya yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Miss, mau langsung ke hotel atau mau melihat lokasi dulu?" Tanya Tyas.
"Kita tinjau lokasinya dulu ya, lalu ketemu EO rekanan disini untuk memastikan semua persiapannya matang."
Tyas mengangguk.
"Don, kamu udah atur jadwal meeting dengan EO rekanan hari ini?" Tanya Ayla pada Doni, salah satu pegawainya saat sudah berada didalam mobil
"Sudah Miss, semua sudah okey." Jawab Doni sambil mengemudikan mobilnya.
Ayla meninjau lokasi didampingi oleh Tyas dan Doni.
"Miss ini photographer dari rekanan EO kita, namanya Mas Fathir." Tyas memperkenalkan Ayla pada seorang photographer.
Mereka saling berjabat tangan sambil memperkenalkan diri.
"Ayla."
"Fathir."
"Mohon kerjasamanya Mas." Ucap Ayla.
"Iya Mbak, sama-sama."
"Jangan panggil mbak, panggil aja Ayla, sepertinya anda lebih tua dari saya." Ucap Ayla diselingi tertawa kecil.
Fathir tertawa, "Berarti wajah saya boros ya, padahal umur saya masih dua puluh delapan tahun dan belum menikah."
"Apa ini sebuah pemberitahuan?" Ayla balik tertawa.
"Mungkin pengumuman, Miss, biar Miss mau daftar jadi istri Mas Fathir." Celetuk Tyas.
Ayla mendelik kearah Tyas, "Hust Yas, kita lagi kerja, bukan lagi ngomongin cari jodoh." Ucap Ayla.
Tyas hanya nyengir, "Ya udah Miss, saya kesana dulu ya, mau kordinasi lagi sama Doni."
Ayla mengangguk, dan Tyas meninggalkan Ayla bersama Fathir.
Cukup lama Ayla dan Fathir mengobrol soal konsep, hingga membuat mereka menjadi akrab.
"Jadi boleh ya main ke kota J lalu mampir kekantormu?" Tanya Fathir setelah mereka selesai membicarakan pekerjaan.
"Ya.. Bolehlah, kantorku terbuka untuk umum koq." Jawab Ayla santai.
"Kalo mampir untuk urusan pribadi, boleh?" Tanya Fathir menggoda.
"Ishh apa sih Mas, Koq jadi kesana ngobrolnya."
Fathir tertawa, "Kamu lucu kalo baper." Fatrhir tertawa, sementara Ayla hanya menggelengkan kepalanya.
Mereka akhirnya menyudahi acara bincang-bincangnya, Fathir pun harus meninjau lokasi lain untuk project selanjutnya, sementara Ayla kembali kehotel dengan menaiki taxi, karna Tim nya belum selesai kordinasi dengan EO rekanan.
"Miss gak akan nyasar kan?" Tanya Doni, "Apa mau saya antar dulu." Tawarnya.
"Gak usah Don, kasian yang lain masih kordinasi, tinggal naik taxi mana mungkin kesasar." Jawabnya.
"Kalau begitu hati-hati Miss."
__ADS_1
Setelah turun dari Taxi, Ayla mampir ke mini market disebrang hotel untuk membeli cemilan ringan, sudah menjadi kebiasaan Ayla setiap malam sebelum tidur slalu makan cemilan, namun hal itu tidak membuat postur tubuh Ayla berubah, Ayla tetap memiliki berat badan yang ideal diusianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun.
Saat ingin menyebrang menuju hotel, tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kencang dari tikungan, Ayla tidak sempat menghindar karna kejadian nya sangat cepat.
Brakkk..
Tubuh Ayla terpelanting di aspal, kepalanya membentur trotoar, sang pengendara bukannya berhenti dan malah melarikan diri.
Ayla korban tabrak lari.
Sontak hal itu membuat orang berkerumun, sebagian berusaha memberhentikan mobil yang lewat dan membawanya kerumah sakit terdekat.
Ayla dilarikan segera kedalam Instalasi Gawat Darurat untuk mendapatkan pertolongan.
"Coba kamu buka ponselnya, mungkin pasien korban tabrak lari, Ayla Putri menghubungi keluarganya dipanggilan terakhir." Ucap suster dibagian administrasi.
"Gak bisa, ini ponselnya pake password pola." Jawab teman sesama suster itu.
Tanpa mereka sadari, sosok Regan yang sedang memeriksa beberapa file di tempat administrasi mendengar percakapan mereka.
"Ayla Putri." Gumam Regan. Regan segera menghampiri kedua suster itu.
"Sus, siapa nama korban tabrak lari yang sedang di IGD?" Tanya Regan memastikan.
"Ayla Putri dok, di kartu identitasnya namanya Ayla Putri dan beralamat di Kota J."
"Coba saya lihat KTP nya."
Suster memberikan KTP Ayla, dan betapa terkejutnya Regan saat membaca nama dan tanggal kelahiran Ayla sesuai dengan Ayla yang Regan kenal, terlebih foto di KTP itu memang itu foto Ayla.
"Ayla." Gumam Regan yang masih terkejut dan terdengan oleh kedua suster itu.
"Dokter Regan kenal?" Tanya Suster.
Ponsel Ayla berdering dan menunjukan nama Nanda memanggil.
Mata Regan beralih pada ponsel Ayla yang masih saja terus berdering.
"Jangan diangkat Sus!!" Seru Regan.
"Tapi dok, pasien butuh keluarganya untuk urusan medis dan administrasinya."
"Saya yang bertanggung jawab, segala urusan pasien bernama Ayla Putri, masukan ke tagihan saya." Regan meraih tas Ayla beserta ponsel dan kartu identitas milik Ayla. Ia membawanya untuk menyimpannya diruangannya dan setelahnya ia segera ke IGD untuk melihat kondisi Ayla.
"Dok bagaimana kondisi pasien Ayla Putri?" Tanya Regan pada dokter Mutia, dokter jaga di IGD.
"Kondisinya cukup parah, passien kehilangan banyak darah, sementara data keluarganya belum ada info lebih lanjut." Ucap dokter Mutia menerangkan.
"Biar saya jadi donornya Dok, golongan darah pasien sama dengan golongan darah saya." Ucap Regan.
Regan mengingat masa lalu, saat remaja di sekolahnya, saat itu sedang ada kegiatan donor darah dan diketahui bahwa golongan darah dan Ayla sama, sedangkan Nanda beda sendiri.
"Ay, bertahanlah." Lirih Regan saat selesai mendonorkan darahnya pada Ayla.
Ayla dipindahkan keruang perawatan VVIP oleh Regan, Regan begitu setia menunggu Ayla hingga sadar. Dirinya terus menatap wajah Ayla yang teduh, Ayla yang tanpa sengaja pernah ia sakiti, Ayla yang ia tolak secara halus sebelum Ayla mengungkapkan perasaanya dan Regan meninggalkannya tanpa pamit, tanpa kabar selama tujuh tahun lebih lamanya.
Ponsel Ayla berdering kembali, masih dengan nama Nanda yang terpampang dilayar ponsel.
"Nandaa." Gumam Regan sambil menatap terus layar ponsel milik Ayla hingga deringan itu berhenti.
Regan kembali memegang tangan Ayla, "Maafkan aku, Ay. Aku mohon bertahanlah, cepatlah sadar."
__ADS_1
Beberapa pesan, masuk kedalam ponsel Ayla. Regan yang sangat mengetahui pola kunci yang Ayla buat dengan mudah membuka ponsel itu.
"Masih sama kayak waktu sekolah pola kuncinya." Gumamnya tersenyum saat berhasil membuka kunci ponsel milik Ayla.
Regan membaca beberapa pesan masuk dan membalas layaknya ia seperti Ayla agar tim nya tidak khawatir. Matanya tertuju pada sebuah pesan bernamakan Mas Fathir.
Regan mengernyitkan dahinya, dengan penasarannya Regan membuka pesannya.
"Hai Ay, udah sampai dihotel? aku mau ajak kamu makan malam, sekalian ajak kamu jalan-jalan di kota ini. Semoga kamu mau ya, dan jangan ada kata penolakan. Aku tunggu jawabbanmu." -Fathir-
"Rupanya orang yang pedekate sama Ayla." Gumam Regan setelah membaca pesan singkat itu.
Pikiran Regan melayang, sedang apa Ayla dikota ini, bukankah harusnya Ayla bekerja diperusahaan Aryo bersama dengan Nanda. Lalu untuk apa Ayla ada dikota ini, sedang liburankah? Atau ada hal lain?" Regan terus berspekulasi dalam dirinya sendiri.
Hingga dirinya lelah dan tertidur di ranjang khusus penunggu passien.
***
Mentari pagi menembus gorden kamar Nanda, perlahan Nanda mulai mengerjapkan matanya.
Nanda duduk dan meregangkan otot-ototnya, lalu ia melihat kesamping, Raja tidur tanpa terusik, Nanda melihat sekilas suaminya itu lalu beranjak kekamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Nanda melihat Raja masih bergelung dalam selimutnya, lalu Nanda turun kedapur untuk sarapan.
Nanda melihat ponselnya sambil sarapan, sejak kemarin ia menghubungi Ayla namun tidak ada respon. "Apa Ayla sibuk?" Gumamnya yang kemudian menutup kembali ponselnya.
Cupp..
Satu ciuman mendarat dipuncak kepala Nanda.
"Mas Raja."
"Kenapa tidak ngebangunin aku?" Tanya Raja dengan suara berat khas bangun tidur.
"Maaf, Mas. Tadi aku lihat Mas klihatan pulas sekali." Jawab Nanda.
Raja manarik kursi dan mendudukinya percis didepan Nanda.
"Kamu sudah rapih, mau kemana?" Tanya Raja.
"Kamu lupa Mas, ini tanggal berapa?" Tanya Nanda.
"Tanggal tiga." Jawabnya, lalu berfikir sejenak seperti mengingat sesuatu. "Oh ya Ampun, maaf Sayang, hari ini mau ke makam Mama ya?" Tanya Raja merasa bersalah.
Nanda hanya diam tidak menjawab dan masih asik dengan sarapannya.
"Maaf, Sayang. Tapi aku tidak bisa menemanimu. Ada meeting pagi ini." Ucap Raja.
"hem." Jawab Nanda datar.
"Jangan marah, Sayang. Please." Raja memasang wajah melas.
"Iya Mas, iya." Nanda menghela nafas, "Aku sudah biasa kemana-mana sendiri."
"Nan, jangan mulai deh. Kamu tau sendiri pekerjaanku banyak."
"Aku tau Mas, sangat tau!! Karna dulu juga Papa sibuk seperti kamu, tapi Papa selalu meluangkan waktu setiap tanggal tiga untuk menemaniku ziarah kemakam Mama."
Raja ingin menjawab, namun Nanda menyudahi sarapannya dan berdiri. "Aku sudah selesai sarapan, pakaian kerja Mas sudah aku siapkan, dasinya aku gantung bersama kemeja, kaus kaki sudah aku selipkan disepatu yang akan Mas pakai." Nanda beranjak dari kursinya tanpa berpamitan terlebih dahulu. Sedangkan Raja hanya bisa menghela nafas menghadapi istri yang dianggapnya masih labil itu."
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....