BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Tertangkap Basah


__ADS_3

Raja mendatangi apartemen Olivia dengan perasaan marah, ia menekan bel pintu unit dengan tidak sabar.


Olivia yang baru saja bangun dari tidurnya, dengan kesal membuka pintu.


Raja langsung masuk tanpa permisi.


"Ngapain Abang kesini? ini belum jam makan siang." Ucap Olivia sambil menguap.


"Kembalikan uang perusahaan yang pernah Abang transfer ke rekening kamu Liv." Titah Raja.


"Lho, bukannya sudah abang tarik semua? Aku sudah tidak ada uang lagi direkening itu Bang." Ujar Olivia.


"Jangan mencoba membohongi Abang, Abang tau kamu memindahkan kerekening pribadimu yang lain."


Olivia memutar malas bola matanya. "Terserah Abang, yang jelas aku juga tidak punya uang."


Sarah keluar dari kamarnya, ia baru saja menidurkan Audrey yang kini berusia hampir dua bulan.


"Raja." Panggil Sarah lalu menghampiri Raja.


"Ada apa ini?" Tanya Sarah kemudian.


"Ini semua karna kamu, Sar. Kamu yang meracuni pikiranku untuk mencuri dana perusahaan. Sekarang Nanda meminta semuanya dikembalikan atau kita bertiga masuk penjara." Jelas Raja.


"Nanda?" Tanya Sarah dan Olivia bersamaan.


"Nanda sudah kembali, dia menggugat cerai dan meminta mengembalikan dana perusahaan dalam waktu satu minggu." Raja duduk dan menggusar rambutnya frustasi, ia menopang kepalanya dengan kedua tangannya.


Olivia dan Sarah saling melirik satu sama lain, mereka takut Nanda melaporkan soal penculikan itu.


"Bantu aku carikan uang untuk mengembalikan dana perusahaan yang sudah kalian nikmati." Lirih Raja.


"Maaf, Bang. Tapi aku sendiri sedang kesulitan, sewa apartemenku ini juga tidak akan diperpanjang dan aku akan kembali kerumah Ayah Haris." Kilah Olivia beralasan.


"Apa Liv? Lalu aku tinggal dimana?" Tanya Sarah.


"Kak Sarah bisa kembali kerumah Bang Raja. Lagi pula Bang Raja belum mentalak kakak kan." Jawab Olivia enteng.


"Tidak bisa, rumahku akan kujual untuk menutupi hutangku pada perusahaan, bahkan mobil abang dan mobil yang pernah abang berikan padamu akan abang tarik untuk abang jual."


Olivia terperanjat mendengar ucapan Raja, "Mana bisa begitu Bang, mobil itu sudah abang beri untukku, mana bisa abang tarik lagi."


"Tidak bisa begitu, Ja. Lalu kita akan tinggal dimana, bagaimana dengan Audrey?"


"Hanya ini jalan satu-satunya agar kita tidak masuk penjara, apa kamu mau jika kita bertiga masuk penjara lalu Audrey diserahkan kepanti asuhan?"


"Tidak, aku tidak mau." Pekik Sarah.


Dengan terpaksa Olivia memberikan kunci mobilnya pada Raja, ia tidak mau jika sampai masuk penjara. Olivia berfikir nanti ia akan meminta mobil yang baru kepada Yuda.


Hari itu juga, Sarah ikut bersama Raja kembali kerumahnya, entah jika rumah itu terjual, mereka akan tinggal dimana, Olivia sudah mengatakan bahwa apartemennya akan habis kontrak dan tidak diperpanjang, mau tidak mau Sarah harus keluar mumpung ada Raja diapartemen Olivia.


Tiga hari kemudian,


Nanda pulang dari kantor siang hari dengan bodyguardnya.


"Bang Heru, antar saya ke baby shop yang ada dijalan pertigaan ya." Ucap Nanda pada Heru, bodyguard pribadi Nanda.


Nanda berencana ingin membelikan sesuatu pada Ryu, mengingat ia belum memberikan kado apapun untuk kelahiran Ryu.


Nanda memilih banyak mainan dan pakaian untuk Ryu.


Ia melihat kostum peri tinkerbell, lalu pikirannya mengingat Disya. Sudah tiga hari ini Disya tidak menelponnya, sepulang Disya dari rumah Nanda, Nanda tidak berhubungan lagi dengan Disya.


Masalah yang sedang Nanda hadapi membuatnya sibuk dan sedikit melupakan Disya, namu disela-sela waktunya, Nanda mengingat bahkan merindukan anak kecil yang kini berusia empat tahun itu.


Nanda membelikan sayap dan tongkat ala peri tinkerbell, ia berencana akan mengunjungi Disya hari ini juga, mengingat ini masih jam dua siang dan masih banyak waktu.


"Bang, kita kerumahnya dokter Pras ya." Titah Nanda.


"Maaf Non, rumahnya dimana ya?" Tanya Heru.


Nanda melupakan satu hal, ia belum pernah kembali kerumah Pras sejak ingatannya kembali.


"Jalan kesehatan nomer sebelas." Jawab Nanda.


Tiba dirumah Pras, Nanda segera turun dan membawakan paper bag untuk Disya.


"Mommmyyyy." Seru Disya saat melihat Nanda turun dari mobil, saat itu Disya sedang mewarnai gambar diteras dengan ditemani oleh pengasuhnya yang baru.


Nanda menangkap Disya yang berlari kearahnya. "Mommy sangat merindukan Disya." Ucap Nanda sambil membelai kepala belakang Disya.


"Daddy bilang, Disya gak boleh seling ganggu Mommy lagi." Ucap Disya sedih.


Entah mengapa ada perasaan kecewa didiri Nanda saat mendengar Disya berkata seperri itu.


"Maafkan Mommy, Sya." Lirih Nanda.


"Nanda.." Panggil Linda.

__ADS_1


Nanda menoleh kearah Linda dan segera menghampirinya.


"Mami merindukanmu, Nak." Ucap Linda dan memegang tangan Nanda.


"Mami apa kabar?" Tanya Nanda.


"Mami baik, Disya yang tidak baik, Disya sering merindukanmu namun Pras..." Linda tidak meneruskan perkataannya.


Nanda tersenyum, "Tidak apa, Mam. Mas Pras berhak membuat Disya menjaga jarak dengan Nanda, karna Mas Pras adalah Ayahnya Disya." Kata Nanda dengan nada sedikit bergetar.


Linda membawa Nanda masuk dan mereka mengobrol bersama, Disya sangat senang senang dengan kostum tinkerbell yang Nanda belikan.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Linda.


"Aku baik, Mam. Maafkan Nanda yang baru sempat datang kesini." Ucap Nanda.


Linda tersenyum, "Mami mengerti posisimu Nan, kamu tengah menghadapi masalah dan menyelesaikannya."


"Non Disya, ayo mandi sore dulu." Aja suster pengasuh Disya.


"Tidak Mba, Disya maunya mandi sama Mommy." Ucap Disya.


"Sya, bukannya Mommy tidak mau, tapi Mommy harus segers pulang." Ucap Nanda.


"Kenapa Mommy tidak tinggal sama Disya lagi?" Tanya Disya manja.


Nanda hanya bisa membelai rambut panjang Disya, "Maafkan Mommy."


Dengan perasaan kecewa, Disya ikut bersama Suster untuk mandi sore.


Nanda sedih melihat Disya yang tidak menampilkan senyumnya saat berpamitan dengan Nanda.


Setelah Disya pergi kekamarnya, Nanda pun segera berpamitan dengan Linda untuk pulang.


Disepanjang jalan, Nanda hanya melamun dengan menatap luar jendela kaca mobilnya.


Pras pulang saat Disya sudah tertidur, Pras slalu menyempatkan diri untuk melihat Disya.


"Pras." Panggil Linda saat Pras menutup pintu kamar Disya.


"Mami belum tidur?" Tanya Pras.


"Tadi Nanda kesini, untuk melihat Disya." Ucap Linda.


Pras merasa terkejut, "Benarkah Mam?"


Pras menghela nafas, "Pras hanya tidak ingin, jika Nanda merasa terbebani oleh Disya."


"Bukan itu alasannya, Pras. Mami tau, kamu sendiri pasti menjaga jarak dengan Nanda kan." Tebak Linda.


"Pras ingin Nanda menyelesaikan dulu masa lalunya, baru Pras akan mendekati Nanda dengan perlahan."


Linda tersenyum, "Mami kira, kamu benar menyerah Pras."


"Doakan saja yang terbaik untuk Pras, Mam. Biarlah Nanda menyelesaikan dulu masalahnya, Pras tidak ingin Disya menjadi beban Nanda."


***


Mau tidak mau, Raja membawa pulang Sarah kerumah bersamanya. Hal itu Raja lakukan demi Audrey.


"Apa rencanamu saat ini, Ja?" Tanya Sarah.


"Yang jelas aku sudah keluar dari perusahaan Nanda, dan aku harus segera menjual rumah ini untuk menutupi kekuarangan uang perusahaan yang harus aku kembalikan." Jawab Raja.


"Lalu kita bagaimana?" Sarah semakin panik mendengar Raja yang tidak merubah pendiriannya dan tetap akan menjual rumah mewah namun minimalis itu.


"Hasil penjualan rumah ini masih ada lebihnya, aku akan membeli rumah yang lebih kecil dan kendaraan yang biasa saja."


Sarah berdiri dari duduknya lalu beranjak kekamar.


Hari bergabti hari,


Hari ini jatuh tempo pengembalian Dana perusahaan, Raja mengembalikan setengahnya dari sisa uang yang masih ada direkening ditambah hasil penjualan dua mobil miliknya dan milik Olivia, Raja juga meminta waktu untuk mengembalikan sisanya karna menunggu pembayaran hasil menjual rumahnya.


Nanda pun mengijinkannya melalui Robi. Ia menerima itikad baik Raja.


Nanda merasa puas, setidaknya rumah yang penuh kenangan dirinya bersama Raja lalu tercoreng oleh pengkhianatan Raja sendiri akhirnya akan terjual.


"Kamu mau kemana?" Tanya Raja saat melihat Sarah sudah berpakaian rapih tanpa membawa Audrey.


"Aku mau ke apartemen Olivia, laptopku tertinggal disana, sebelum Olivia pindah dari apartemen, aku mau mengambilnya untuk mulai melamar kerja kembali." Jawab Sarah.


"Jika kamu bekerja, siapa yang akan mengurus Audrey?"


Sarah memutar malas bola mata, Tentu saja Kamu, Ja. Kamu kan Ayahnya. Lagi pula kamu tidak bekerja." Jawab Sarah sedikit merendahkan.


Raja hanya bisa diam, pada kenyataannya memang begitu, Raja kini tidak memiliki pekerjaan.


Sarah menaiki taksi online untuk menuju apartemen Olivia. Sarah berencana akan mulai mencari pekerjaan lagi, dia tidak lagi memikirkan soal Audrey, baginya kehidupan bebas adalah hidupnya.

__ADS_1


Sarah tidak memberitahu Olivia soal kedatangannya, ia pikir tidak perlu mengabari Olivia, toh ia hanya akan mengambil laptopnya kemudian kembali pulang. Jika Olivia masih tidur, ia tidak akan membangunkannya, dan jika Olivia tidak ada, juga tidak masalah karna Sarah masih mengingat kode akses pintu untuk masuk ke apartemennya.


Sarah menekan kode akses dan Blipp Seketika pintu terbuka, Sarah mengernyitkan dahinya saat melihat ruangan aprtemen begitu berantakan, ada botol minuman dan begitu bau asap rokok, juga jendela yang dibiarkan terbuka.


"Apa Olivia sudah pindah dan unit ini sudah ganti penghuninya?" Batin Sarah.


Namun Sarah masih melihat beberapa foto Olivia masih terpajang, menandakan bahwa penghuninya masih dengan orang yang sama.


"Akkhhh, terus Om.. Teruss."


Terdengar suara sensual dari kamar Olivia yang tidak tertutup rapat. Sarah mendekat pada pintu kamar Olivia.


"Kamu enak sekali Liv, Om begitu puas bercinta denganmu." Racau seorang pria.


"Suara itu??" Batin Sarah yang kemudian perlahan mengintip dan.....


Brakkkk


"Papaaaa!!" Pekik Sarah.


Olivia terperanjat dan mendorong Yuda dari atasnya. Sarah memalingkan wajahnya.


"Menjijikan sekali kalian!!" Ucap Sarah.


"Kak, sedang apa Kakak disini?" Tanya Olivia yang menutup tubuhnya dengan selimut tebal.


Yuda yang sudah memakai celananya pun mendekat pada Sarah, menarik tangannya,


Plakkk


Satu tamparan mendarat dipipi Sarah.


"Papa!!" pekik Sarah sambil memegang pipi yang sudah Yuda tampar.


"Beraninya kau mengganggu kesenanganku!!" Teriak Yuda.


"Pa!! Papa sudah khianatin Mama dengan Olivia. Asal Papa tau, Olivia tuh adiknya Raja." Ucap Sarah berapi-api.


Sarah mendekat pada Olivia dengan wajah penuh amarah. Sarah menarik rambut Olivia. "Jadi kamu ja*lang piaraan Papaku!!"


"Kak hentikan, sakit Kak, aku tidak tau kalau Om Yuda Papa Kak Sarah." Olivia mencoba melepaskan diri dari Sarah yang menyerangnya memba*bi buta namun tidak berhasil.


"Anak kurang a*jar!!" Teriak Yuda kemudian menarik Sarah dari Olivia dan melemparkannya kepojokan.


"Papa belain wanita ja*lang itu?" Tanya Sarah.


"Pergi kau. Akan kupastikan kau berpisah dari Raja!!"


"Oliv, akan kuadukan ini pada Raja." Ucap Sarah kemudian pergi, tidak lupa ia membawa laptopnya yang tertinggal.


Yuda mengambil ponselnya lalu menelpon Toni, asistennya. "Sarah disini, dia baru saja keluar, cegat dan bawa dia kembali ke kota B, kurung hingga aku pulang, pastikan dia tidak pulang kerumah dan membuat onar."


"........."


"Tidak usah perdulikan anaknya, fokus saja pada Sarah."


Yuda mematikan sambungan telponnya.


"Om, pulanglah." Ucap Olivia.


Yuda mendekat pada Olivia dan mencapit kedua pipinya. "Kamu berani mengusirku?"


"Om, Sakitt!!"


Yuda melepaskan capitannya dengan kasar.


"Om, aku takut Kak Sarah akan mengadukannya pada Abangku. Aku tidak tau kalau Om adalah Papa nya Kak Sarah."


"Sudah!! Jangan dibahas lagi. Aku pastikan Sarah tidak akan bertemu lagi dengan Abangmu!!"


"Ta.. Tapi kasian Bang Raja, Om. Dan anaknya juga."


"Aku tidak perduli sama mereka." Bentak Yuda.


Olivia hanya terdiam, ia merasa takut jika semua ini akan terbongkar.


Yuda kembali naik keatas tempat tidur, "Urusan kita tadi belum selesai, cepat tuntaskan hasratku yang tertunda." Perintah Yuda.


Olivia hanya diam. "Jika kau tidak memuaskanku, aku akan meninggalkanmu!!"


"Ja.. Jangan Om." Olivia akhirnya menurut untuk menuntaskan hasrat Yuda kembali.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2