BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Aku Sendirian


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Nanda hanya termenung, hatinya merasakan sakit karna harus meninggalkan orang-orang terdekatnya demi melindungi sang Papa.


"Non.. Pikirkan kembali keputusan Non." Tiba-tiba saja Heru bersuara tanpa dimintai pendapat.


"Kalau Bang Heru ada diposisiku, apa yang akan Bang Heru lakukan?" Tanya Nanda lirih.


Heru terdiam, ia juga merenung.


"Didunia ini, Aku hanya punya Papa. Ayla sudah bahagia bersama Regan dan juga keluarga yang baru saja ia temukan. Aku tidak ingin Ayla membenciku jika tau Papa lah penyebab ia terpisah dari keluarganya." Nanda menjelaskan dengan nada pelan.


"Maafkan saya, Non. Tapi saya berfikir. Nona Ayla tidak akan mungkin membenci Nona Nanda. Saya sangat tau betapa baiknya Nona Ayla."


"Akupun berfikir begitu. Tapi bagaimana dengan keluarganya? Bagaimana jika mereka ingin mengangkat kasus penculikan Ayla kembali dan memasukan Papa kepenjara? Aku hanya ingin melindungi Papa."


***


Malam hari, Robi datang kerumah Aryo untuk melengkapi dokumen keberangkatan Nanda dan Aryo.


Nanda mengantar Robi keruang kerja Aryo.


"Papaaaa..." Seru Nanda saat membuka pintu dan melihat Aryo yang sudah tergeletak dilantai.


Robi segera mengecek nadi Aryo. "Masih berdenyut, kita bawa kerumah sakit."


Dengan sigap, Robi dan Heru segera mengangkat Aryo kemobilnya dan membawanya kerumah sakit.


"Papa, bertahanlah Pa.. Nanda mohon jangan tinggalkan Nanda Pa." Tubuh Nanda gemetar, ia sangat takut terjadi sesuatu pada Aryo.


Heru segera memarkirkan kendaraanya di IGD, Robi masuk untuk mencari suster dan membawa brangkar.


Nanda terus menangis, sementara Robi mengurus administrasi.


Regan yang kebetulan akan pulangpun melihat Heru yang sedang duduk diparkiran rumah sakit.


"Bang Heru, sedang apa disini?" Tanya Regan.


Heru segera berdiri dan menjawab pertanyaan Regan. "Non Nanda menemukan Pak Aryo dalam kondisi tidak sadarkan diri diruang kerjanya."


"Papa pingsan? Bagaimana dengan Nanda?" Tanya Regan yang mulai panik.


"Non Nanda masih menunggunya didalam."


Tanpa berkata lagi, Regan meninggalkan Heru dan segera berlari ke IGD, ditemukannya Nanda yang sedang duduk didepan ruangan sambil menangis dengan kedua tangan menutupi wajahnya.


Tanpa berfikir, Regan segera menarik Nanda kedalam pelukannya. "Papa akan baik-baik saja. Kamu jangan takut."


Sementara Nanda hanya terus menangis. Nanda tidak mampu berkata apa-apa lagi, pikirannya kalut, ia hanya ingin sang Papa sembuh dan membawanya untuk segera pergi meninggalkan negri ini.


Regan terus memeluk Nanda, mengusap punggungnya, menenangkan Nanda. Ia sangat mengerti perasaan Nanda yang takut kehilangan Aryo karna hanya Aryo keluarga yang Nanda miliki.


Robi juga duduk dengan menopang kepalanya, ia sangat tau kondisi Aryo yang mulai drop setelah jati diri Ayla ditemukan, Aryo terlalu memikirkan Nanda, Aryo takut Nanda akan menjadi sasaran akibat kesalahannya.


Aryo dipindahkan keruangan ICU dan tidak boleh ditunggui. Aryo dirawat secara intensif dalam pengawasan dokter 24jam.


Nanda dengan setia menunggu Aryo didepan ICU.


"Aku ingin lihat Papa, Re." Kata Nanda dengan suara hampir tidak terdengar.


"Papa baik-baik saja didalam, Nan. Tunggu dokter ahli untuk mengijinkanmu masuk ya." Bujuk Regan dengan suara lembut.


Nanda hanya diam dengan tatapan kosong, memandang pintu ruang ICU yang tertutup rapat, ia berharap Aryo keluar dari pintu itu dengan keadaan sehat.


"Nan, makanlah dulu." Ucap Robi yang memberikan bungkusan berisikan roti dan air mineral.


Nanda hanya menggelengkan kepalanya. Walaupun perutnya snagat lapar, tapi Nanda tidak memperdulikannya, ia hanya berfikir Aryo harus sehat dan membawanya pergi dari sini.


Regan berdiri untuk kembali keruangannya, mengambil jacket untuk Nanda. Regan pun menelpon Ayla dan memberitahu kondisi Aryo.


Ayla yang baru saja selesai makan malam pun langsung bersiap untuk kerumah sakit.


"Mam, Aku titip Ryu ya." Ucap Ayla sebelum meninggalkan rumah.


Sebelum pergi Ayla menjelaskan pada Linda dan Irwan tentang kondisi Aryo, ia pun pergi untuk menemani Nanda, Ayla pun sangat takut terjadi sesuatu pada Aryo. Dalam hati Ayla, Aryo adalah pahlawan dihidupnya. Sementara Linda langsung menghubungi Pras dan menceritakan soal Nanda dan Papanya. Pras yang sedang istirahat dikamar hotelnya, langsung memutuskan pulang lebih cepat ke kota J.


Dirumah sakit, Aryo ingin bicara pada Nanda, dokter memperbolehkan Nanda untuk masuk melihat Aryo.


"Papa..." Nanda mendekat dan segera menggenggam tangan Aryo.

__ADS_1


"Maafkan Papa." Ucap Aryo dengan nada yang lemah.


Nanda menggelengkan kepalanya, matanya terus saja berurai air mata. "Bertahanlah Pa, kita akan pergi dari sini."


"Pergilah Nan, pergilah walau tanpa Papa. Papa tidak ingin kamu tersakiti dan menanggung kesalahan Papa dan mendapat kebencian dari mereka nanti." Ucap Aryo terengah-engah.


"Kita akan pergi bersama, Pa."


"Papa tidak bisa menemanimu, tapi pergilah Nan, Papa tidak ingin Irwan Budianto menyakitimu karna kesalahan Papa. Papa takut kamu menjadi sasaran balas dendamnya."


Ayla tiba dirumah sakit dan langsung memeluk Regan dan menangis, "Papa bagaimana, Re?" Tanya Ayla.


"Papa masih didalam, sedang bicara dengan Nanda."


"Aku ingin melihat Papa."


"Tidak bisa, Ay. Papa diruang ICU, hanya satu persatu yang bisa melihatnya."


"Nanda Re, Nanda pasti sedih sekali."


"Kita semua akan menguatkan Nanda." Ucap Regan menguatkan.


Nanda keluar dari ruang ICU, "Kak Robi, Papa ingin bicara." Ucapnya pelan.


Robi segera berdiri dan masuk kedalam ruang perawatan Aryo.


Ayla memeluk Nanda dan Nanda menumpahkan tangisnya didalam pelukan Ayla. "Maafkan Papa, Ay. Apapun yang terjadi jangan salahkan Papa." Ayla tidak mengerti apa yang dibicarakan Nanda, namun ia tidak terlalu memikirkannya.


"Papa pasti akan baik-baik aja Nan, kamu harus kuat." Ucap Ayla.


"Kekuatanku hanya Papa, Ay." Kata Nanda tersedu-sedu.


Sementara diruang perawatan Aryo, Aryo meminta pada Robi untuk meneruskan rencananya, membawa Nanda pergi jauh dari keluarga Irwan Budianto dan tidak membiarkan siapapun menyakitinya juga menemukan keberadaan Nanda.


Robi yang sangat setia pun nenyanggupi dan berjanji pada Aryo untuk slalu menjaga dan melindungi Nanda.


Robi juga memberitahu Aryo jika Ayla berada diluar, Aryo pun meminta untuk bertemu dengan Ayla.


Robi keluar untuk menemui Ayla dan memintanya masuk.


Aryo tersenyum dibalik selang oksigennya.


"Apa Papa tetap tampan dengan kondisi seperti ini?" Tanya Aryo dengan nada lemah.


"Papa tetap tampan dan gagah." Jawab Ayla sambil sesekali mengusap air mata di pipinya.


"Apa Papa pernah menyakitimu, Ay?"


Ayla menggelengkan kepalanya, "Papa adalah Pahlawan untukku. Aku sangat menyayangi Papa."


"Maafkan Papa, Papa banyak bersalah padamu."


Ayla bingung apa yang dibicarakan oleh Aryo, "Papa tidak pernah menyakitiku."


"Apapun yang terjadi, jangan membenci Nanda. Papa sangat menyayangi kalian berdua."


Nanda tersenyum. "Kami juga sangat menyayangi Papa."


Tengah malam, Pras yang baru saja tiba dikota J langsung mendatangi rumah sakit. Pras memberi satu ruangan khusus dirumah sakitnya itu untuk Nanda agar nyaman menunggui Aryo dirumah sakit. Namun Nanda enggan beranjak dari depan ruang ICU, ia ingin slalu berada dekat dengan Aryo.


Ayla pun terus menemani Nanda, ia hanya memompa asinya untuk dikirimkan pada Ryu, jarak rumah sakit dengan rumah Pras tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu sepuluh menit sehingga memudahkan Ayla mengirim asinya untuk Ryu.


"Makan Nan." Bujuk Pras.


Nanda hanya diam dengan tatapan kosongnya.


"Nan, kamu harus kuat demi Papa." Bujuk Ayla.


Namun Nanda tetap diam, ia tidak menjawab siapapun yang berbicara padanya.


Ayla menatap sedih sahabatnya itu, Nanda terlihat seperti orang yang kehilangan arah, hanya diam dengan tatapan kosong. Airmatanya yang jatuh slalu cepat Nanda usap.


"Nanda, jangan seperti ini. Aku mohon." Ayla menangis sambil memeluk nanda yang hanya diam.


Robi menatap sedih Nanda dan Ayla, ia sungguh tidak tega melihat Nanda yang tidak memiliki semangat hidup. Robi juga takut, jika Ayla tau yang sebenarnya, ia akan membenci Nanda.


Dokter berjalan tergesa-gesa kearah ruangan ICU, Nanda semakin takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

__ADS_1


"Aku ingin masuk, aku ingin mendampingi Papa." Ucap Nanda lemah.


Pras menatap Ayla dan Regan, lalu mereka mengangguk memberi tanda iya. Pras meminta dokter khusus untuk mengijinkan Nanda masuk, akhirnya dokter mengijinkan hanya Nanda yang bisa masuk.


Nanda yang baru masuk melihat Aryo yang tengah mengalami sesak nafas, Nanda segera berlari kearah Aryo dan menggenggam tangannya lalu membisikkan sesuatu ditelinga Aryo, "Jika Papa tidak kuat, Nanda tidak akan menghalangi Papa, Nanda akan merelakan Papa pergi. Papa pasti sudah rindu Mama." Ucap Nanda tegar dengan nada gemetar.


Aryo menggenggam sangat erat tangan Nanda, Nanda mencium kening Aryo, "Nanda sayang Papa, Nanda bangga jadi anak Papa."


Nitttt... Niiittt.. Nittttt


Terlihat garis panjang dilayar bedside monitor, Menandakan jantung Aryo behenti berdetak.


"Sembilan tiga puluh menit" Ucap dokter yang menandakan waktu berhentinya detak jantung Aryo. Suster pelahan melepaskan alat bantu ditubuh Aryo.


Ingin rasanya Nanda berteriak, menangis histeris dan meluapkan kesedihannya, namun suaranya tercekat begitu saja ditenggorokan, ia hanya menangis dengan mata terus memandang pada Aryo yang mulai terbujur kaku.


Dokter ahli menjelaskan pada Pras dan Regan jika Aryo sudah tiada.


Ayla langsung masuk keruangan dan memeluk Aryo.


"Papa...." Ayla menangis diatas tubuh Aryo. Regan segera menenangkan Ayla.


Pikiran Ayla langsung beralih pada Nanda, saat ini Nanda lah yang paling merasa kehilangan.


Ayla langsung memeluk Nanda yang hanya diam dengan tatapan kosong, Regan memeluk Nanda juga Ayla.


"Aku sendirian." Lirih Nanda.


"Engga Nan, kamu tidak sendirian. Ada aku dan juga Regan. Kami akan terus bersamamu."


Robi mengurus kepulangan jenazah Aryo. Nanda dengan setia slalu disisi Aryo hingga kembali kerumah.


Nanda hanya terus terdiam, matanya tidak lepas memandang Aryo, ia tidak perduli dengan siapapun. Bahkan saat Raja datang melayat pun, ia tidak menyadarinya, tatapannya kosong.


Ingin rasanya Raja terus berada disamping Nanda, namun ia tau poisisinya kini, terlebih Heru yang terus mengawasi gerak geriknya dan menjauhkannya ketika Raja berdekatan dengan Nanda. Sesuai perintah Robi, Nanda tidak boleh didekati oleh mantan suaminya itu.


Pras dengan setia berada disamping Nanda meski Nanda tidak menyadari keberadaan Pras. Pras merasakan kepedihan Nanda yang mendalam.


"Aku akan menjagamu, aku berjanji." Ucap Pras pada Nanda.


Namun ucapan Pras tak Nanda masukan dalam hati. Nanda berpikir, Pras berbicara seperti itu karna Pras tidak mengetahui bahwa Nanda adalah anak dari orang yang menculik adiknya bertahun-tahun lamanya. Jika Pras mengetahuinya, mungkin perasaan Pras berubah menjadi membencinya. Itu yang ada dalam pikiran Nanda.


Irwan dan Linda pun datang kerumah Aryo. Ini adalah pertama kalinya Irwan menginjakan kakinya dirumah Aryo.


Irwan dan Linda pun masuk, kini Linda sudah bisa berjalan meski dengan bantuan tongkat ditangannya.


"Keluarga Nanda benar-benar menyayangi Dan menganggap Hana adalah keluarganya sendiri Pap." Ujar Linda saat melihat foto keluarga yang memperlihatkan kebersamaan Ayla dengan Nanda juga Aryo dan Regan.


"Ya, bahkan kita belum sempat mengucapkan terimakasih karna mereka telah merawat Ayla dengan baik." ucap Irwan, kemudian mata Irwan tertuju pada wajah Aryo didalam foto itu.


"Dia.. Dia kan pemilik ARDA KARYA GRUP, yang pernah aku putuskan kontraknya sepihak karna kesalah pahaman."


Tiba-tiba tubuh Irwan membeku, ia mengingat betul perlakuannya pada pemilik perusahaan kontruksi itu.


"Aku tidak memgetahui namanya, apa ARDA itu diambil dari nama Aryo Darmawan?" Batinnya.


Seketika ponsel Irwan berdering, dan Irwan keluar untuk mengangkatnya ketika melihat nama orang suruhannya yang menelponnya.


"Penculik itu adalah Ramli, asisten sekaligus kaki tangan pemilik perusahaan ARDA KARYA GRUP yang datanya sulit kami lacak."


Degg.. Deg... Deggggg


.


.


Mumpung senin, othor bagi dukungannya dgn vote dan likenya dong..


trimakasih yg masih slalu setia sm novel receh othor ini..


karna kalian, othor masih bersemangat meskipun blm banyak yg lirik..


Love U All, Readers


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2