BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Mengagumi Nanda


__ADS_3

Dua jam sudah Nanda fokus pada pelajaran yang dibimbing oleh Raja.


Raja benar-benar profesional, dia tidak menanggapi candaan Nanda disela-sela bimbingannya. Hal itu membuat Nanda merasa malu sendiri dan akhirnya mengikuti apa yang diarahkan Raja.


"Delapan puluh." Ucap Raja saat selesai mengkoreksi latihan soal yang Raja berikan.


"Lumayan." Sahut Nanda santai sambil meregangkan kekakuan ditangannya.


"Tapi tidak sempurna, harusnya seratus."


"Tapi itu kemajuan yang luar biasa Mas, biasanya kalo gak dibantu Ayla, aku dapat enam puluh aja. Ini aku kerjain sendiri bisa dapat delapan puluh." Nanda berbicara dengan bangganya.


"Harusnya, kamu punya sifat jangan cepat puas Nan, dan jadikan temanmu yang pintar sebagai motivasi untuk pintar bersama."


Nanda hanya menganggukan kepalanya.


"Kamu punya pacar?" Tanya Raja.


"Hah? Pacar? Engga!!" Jawab Nanda.


"Kenapa emangnya Mas?" Tanya Nanda balik.


Raja membereskan buku-buku yang berada diatas meja. "Kalo punya pacar, harusnya bisa jadi motivasi juga untuk kamu."


"Ohh gitu.. Kirain Mas.." Ucap Nanda ambigu.


"Kirain apa?"


"Kirain Mas mau jadi pacar aku." Ucap Nanda asal dan sambil tertawa.


"Boleh, kalo kamu mau." Jawab Raja dengan niat membalas mengerjai Nanda.


"Kita sekarang pacaran dong." Nanda semakin menjadi menggoda Raja.


"Bukannya udah ya dari semalam." Raja membalas menggoda Nanda.


"Ishh Mas, apaan sih." Wajah Nanda bersemu merah.


Raja tertawa. "Belajar dulu yang pinter Nan, jangan mikirin pacaran dulu." Ucap Raja sedikit bijak.


"Mas punya pacar?" Tanya Nanda.


Raja diam dan pandangannya lurus kedepan. "Udah jadi mantan sekarang." Jawabnya lirih.


"Kayanya Mas cinta banget ya, putusnya kenapa?"


"Karna gak jodoh." Jawabnya ambigu, padahal Nanda ingin tau lebih jauh soal Raja.


"Pasti cantik ya mantannya?" Nanda terus saja mencoba mengorek soal Raja.


"Cantik sih relatif ya, Yang jelas dulu aku suka karna.. She's smart." Jawab Raja seadanya.


"Yahh.. Aku gak bisa dong jadi pacar Mas Raja." Goda Nanda.


Raja tersenyum tipis, dirinya masih trauma berpacaran dengan gadis anak orang kaya, ia berfikir, semua orang kaya itu sama, Raja masih trauma akan mendapatkan penghinaan yang slalu berbekas hingga kini.


Raja tidak berfikir, tidak semua orang kaya itu sama, contohnya seperti Aryo yang mempunyai hati dermawan bahkan cenderung membantu orang-orang yang berada dibawah, bahkan Aryo tidak melarang Nanda bergaul dengan siapa saja.


"Mas.. koq bengong sih."


"Hah.. Kenapa Nan?" Tanya Raja pura-pura lupa akan pertanyaan Nanda.


"Ishh Mas bengongin apa sih?"


"Gak apa-apa.. Ya udah, udah selesai kan, aku pulang ya." Raja mulai mengemasi barang-barangnya.


"Mas, diluar masih hujan deras." Ucap Nanda.

__ADS_1


Raja melihat kehalaman belakang rumah Nanda yang terlihat dari ruang televisi, dan dirinya baru menyadari bahwa diluar sedang hujan deras.


"Kebanyakan bengong sih." Ledek Nanda.


Raja hanya tersenyum tipis.


Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, sudah dua jam dari selesainya bimbingan belajar dan hujan pun masih tak kunjung berhenti.


"Mas, makan yuk." Ajak Nanda.


"Engga Nan, makasih."


"Ishh ayo Mas, dari siang belum makan kan?"


Raja memang sedari tadi menahan lapar, sepulang kuliah, dirinya langsung bekerja sebagai driver ojek online dan dilanjut kerumah Aryo untuk memberikan bimbingan belajar pada Nanda. Namun dirinya masih mempunyai rasa malu jika harus makan dirumah Aryo untuk yang kedua kalinya.


Raja menghindari jika dirinya direndahkan kembali, sungguh trauma Raja sangat sulit dilupakan.


"Yahh bengong lagi." Ledek Nanda.


"Pak Aryo belum pulang?" Tanya Raja mengalihkan pembicaraan.


"Kalo hari kamis, biasanya Papa pulang agak malam."


"Horor dong?"


"Horor gimana?" Tanya Nanda.


"Kamis itu berartikan malam jumat."


"Ish Mas Raja.." Nanda merengut kesal.


Raja tertawa berhasil mencandai Nanda.


Pada akhirnya, Raja mau ikut makan bersama Nanda, dan mereka saling mengenal lebih dalam setelah mengobrol sambil makan.


Raja sedikit terkejut, Nanda mempunyai sahabat yang tinggal dipanti asuhan, Nanda bukanlah anak sembarang orang, Aryo Darmawan Papanya adalah pemilik ARDA Karya, usaha dibidang kontruksi dan termasuk kedalam sepuluh besar orang terkaya dinegaranya.


Nanda mengangguk, "Ayla sahabat aku dari kecil. Dan aku menyayanginya." Jawab Nanda sambil sesekali menyendok makanan kemulutnya


"Pak Aryo tidak membatasi pergaulanmu?" Tanya Raja, sepertinya Raja tertarik mendengar cerita Nanda.


Nanda menggelengkan kepalanya, "Dari kecil, Papa ngajarin aku berbagi sama mereka yang tidak mampu, Papa sering ajak aku ke panti asuhan, Papa donatur tetap disana, aku berteman dengan Ayla sedari kecil. Sebenarnya Papa udah ngajak Ayla tinggal disini, tapi Ayla menolak, jadi Papa menyekolahkan Ayla bareng aku terus."


Raja mengangguk-anggukan kepalanya. Raja benar-benar takjub, ada orang yang kekayaannya melebihi Yuda, tapi sikapnya tidak sesombong Yuda.


Hujan berhenti bertepatan dengan Aryo yang baru saja tiba dirumah, Raja pun tengah bersiap memakai jacket yang tadi ia simpan diteras rumah Aryo.


"Sudah malam Nak Raja, kenapa tidak menginap saja?" Tanya Aryo.


"Terimakasih Pak, tapi saya biasa koq pulang malam. Biasanya kalau malam suka banyak orderan masuk." jawabnya.


"Ya ampun, kamu rajin sekali Nak."


Raja hanya tersenyum.


Raja berpamitan pada Aryo dan mencium punggung tangan Aryo.


Aryo dan nanda masuk kedalam rumah setelah motor yang Raja bawa menghilang dari pandangan mereka.


Tangan Aryo merangkul pundak Nanda.


"Gimana bimbingan belajarnya?"


"Ya gitu deh." Jawab Nanda ambigu.


"Mau diteruskan atau disudahi aja?"

__ADS_1


"Ya diterusin dong Pa.. Baru satu kali pertemuan."


Aryo tertawa, "Biasanya baru satu kali pertemuan udah gak mau nerusin les lagi dan lebih milih belajar sama Ayla dan Regan." Ledek Aryo.


"Iya Papa sayang.. Tapi kan sekarang Nanda kelas tiga Pa, harus mulai fokus ujian kelulusan."


Aryo tertawa, "Fokus ujian atau fokus sama guru lesnya." Goda Aryo.


"Ishh Papa, apa sih.. Lagian seleranya Mas Raja tuh, cewek pinter Pa, Mungkin kalo ketemu sama Ayla, Mas Raja bisa suka sama Ayla."


Aryo hanya mengerdikan bahunya. "Jodoh mana tau, sayang."


***


Malam hari, seperti biasa Raja tidak bisa tidur, dia memilih untuk menyelesaikan tugas-tugasnya, sesekali melihat dan merangkum pelajaran untuk ia jadikan bahan saat membimbing belajar Nanda.


"Nanda alifia." Gumam Raja dan tanpa disadari, Raja tersenyum mengucap nama Nanda.


Raja benar-benar kagum akan pribadi Nanda dan Aryo yang begitu baik memperlakukan orang-orang yang jauh berada dibawahnya.


Entah mengapa ada perasaan ingin mengenal Nanda lebih dalam lagi, Raja merasa nyaman saat mengobrol bersama Nanda, Raja juga merasa percaya diri dan tidak minder saat berhadapan dengan Aryo.


"Andai Sarah dan Papanya seperti Nanda dan Pak Aryo, aku tidak akan sesakit ini dan membuatku trauma untuk membuka hati." Batin Raja.


Tok.. Tokk.. Tokk


Terdengar ketukan di pintu kamar Raja.


"Masuk." Ucap Raja.


Seseorang membuka pintu, dan ternyata Regan.


"Bang, maaf ganggu." Ucap Regan.


"Oh ya Re, ada apa?" Tanya Raja yang melihat kearahnya. "Masuk sini." Ajaknya.


"Punya carger Bang? pinjem dong, carger gue rusak." Regan sambil berjalan kearah Raja.


"Ada, sebentar." Raja beranjak dari duduknya dan mengambil carger di tasnya.


Arah mata Regan tertuju pada layar laptop Raja, terlihat bahwa Raja sedang mengerjakan bahan-bahan untuk bimbingan pelajaran.


"Lo ngajar bang?" Tanya Regan.


Raja berjalan kearah Regan sambil menyerahkan cargernya. "Iya, ada orang yang minta anaknya untuk gue ajarin, soalnya udah kelas tiga dan persiapan ujian kelulusan."


"Yah tau gitu Bang, temen gue juga waktu itu cari guru privat untuk bimbingan belajar, gue gak tau kalo lo terima job untuk bimbel."


"Gak apa-apa Re, gue juga ini coba-coba karna anaknya susah kalo les ditempat lain. Makanya maunya privat."


"Oh gitu, iya deh Bang, nanti gue tanya temen gue juga, biasanya juga dia suka gak lama kalo les, alesannya gak cocok sama gurunya, kalo nanti dia berenti lagi, gue rekomendasiin lo deh."


"Jangan, gue gak pede Re, ini masih coba-coba."


"Lo pinter Bang, dapat tawaran bea siswa dibanyak universitas. Gak diragukan lagi."


Raja tersenyum, "Lo juga pinter Re, gue yakin lo akan masuk ke Universitas Favorit dan jadi dokter."


"Aamiin."


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2