BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Menikah


__ADS_3

Raja terus merayu Nanda dengan berbagai cara, ia ingin Nanda menutup penyelidikannya soal manipulasi data yang dilakukan oleh dito.


"Sayang, maafkan aku. Aku sungguh kurang teliti." Raja mulai mencumbui Nanda. Kini mereka sudah berada didalam kamar Nanda dirumah Aryo.


"Tidak bisa Mas, lagian kenapa Mas mesti takut? Apa Mas terlibat juga?"


Raja terkesiap karna Nanda kini berani menuduhnya.


"Tentu saja tidak, Sayang."


"Lalu kenapa Mas takut?" Nanda berbicara tanpa melihat wajah Raja.


"Itu karna aku tidak mau Papa menilaiku buruk menangani perusahaan."


"Sudahlah Mas, Papa paling hanya kecewa, selanjutnya akan memaafkan jika memang itu sebuah ketidaksengajaan."


Raja sedikit geram karna kini Nanda tidak lagi bersikap manis padanya. "Layani aku." Ucap Raja memaksa.


"Stop Mas!! Aku sedang lelah." Nanda berusaha menolak.


"Diamlah Nan, jangan berteriak. Apa kamu ingin Papa, Regan dan Ayla mendengar teriakanmu, lalu mereka berfikir aku sedang menyiksamu." Raja membuka paksa baju kerja yang masih dipakai oleh Nanda.


Dengan terpaksa, Nanda melayani keinginan Raja. Meskipun hanya Raja yang menikmati penyatuan itu dan seperti biasa, Nanda tidak sampai hingga dipelepasannya.


Raja tertidur setelah penyatuan itu, sementara Nanda membersihkan diri lalu turun untuk makan malam bersama.


"Ay.." Panggil Nanda saat melihat Ayla sedang menata menu makan malam dimeja makan.


"Hai Nan, mana Raja?" Tanya Ayla.


"Tidur." Jawab Nanda yang kemudian duduk lesu dikursi meja makan.


Ayla mendekat pada kursi Nanda dan bertanya, "Ada apa Nan?"


"Tidak ada, Ay. Aku hanya lelah." Jawab nanda berusaha menyembunyikan masalahnya dengan sang suami.


"Maafkan aku, Ay.. Aku belum bisa memberitahumu masalahku. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri." Batin Nanda.


***


Hari ini pertama kalinya Regan bekerja dirumah sakit pusat, Ayla mempersiapkan semua kebutuhan Regan, dari mulai menyiapkan air hangat, pakaian kerja, hingga sarapan untuk Regan.


"Wangi banget." Ucap Regan sambil memeluk Ayla yang tengah memasak didapur.


"Gombal, cuma masak ceplok telor aja kamu bilang wangi." Ledek Ayla.


Regan tertawa, "Iya wangi, Wangi telor Ay." Jawab Regan.


Ayla menyikut perut Regan, "Ish dasar."


"Belum selesai, Ay?" Tanya Regan.


"Ini sedikit lagi." Jawab Ayla yang mengangkat telur dan memindahkannya kepiring saji.


"Bukan telur nya, Ay."


Ayla mengernyitkan dahinya, "Lalu, apa yang belum selesai?"


Tangan Regan menyentuh bagian inti Ayla dan menekannya sedikit hingga terasa masih ada penghalang disana. "Masih ya? udah empat hari lho." Ucap Regan.


Ayla langsung melepaskan pelukan Regan. "Regan!!! kamu ngitungin tamu aku?"


"Bukan cuma ngitung Ay, tapi nunguin dia pulang juga. Aku juga berharap bulan depan tamu mu tidak datang lagi, yang artinya kamu langsung hamil."


Ayla masih merasa kaku membicarakan soal ini, Regan slalu bicara terang-terangan.


Regan kini duduk dikursi meja makan, ia mulai menyantap sarapan yang dibuat oleh Ayla.


"Ay, vitamin yang aku kasih, kamu minum terus kan?" Tanya Regan.


"Iya Re, slalu aku minum." Jawab Ayla.


"Jaga kesehatan, Ay.. Aku ingin kamu hamil dalam kondisi sehat."

__ADS_1


"Emang bisa langsung jadi, Re?" Tanya Ayla.


"Bisa, kalo aku sehat, kamu sehat, dan pas dimasa subur. Bisa langsung jadi."


Ayla hanya mengangguk.


***


Olivia datang kekantor tempat kerja Raja. Namun saat akan memasuki ruang kerja Raja, dia ditahan oleh Sarah.


"Oliv?" Tanya Sarah yang mengenali Olivia meski dulu Sarah hanya satu kali bertemu Olivia, dan itu pun Olivia masih duduk dibangku SMP.


Olivia mengernyitkan dahinya dan mencoba memperhatikan wajah Sarah yang akhirnya ia mengenalinya. "Kak Sarah."


"Kak Sarah kerja disini?" Tanya Olivia tak percaya.


Sarah mengangguk.


"Apa istri Bang Raja tau kalo Kak Sarah mantan pacar Bang Raja?" Tanya Olivia dengan nada tak suka.


Sarah melihat ketidaksukaan Olivia pada Nanda dan mencoba memanfaatkannya.


"Istri Abangmu tidak tau kalau Kakak hingga detik ini adalah kekasih Abangmu." Bisik Sarah.


Mata Olivia membulat sempurna.


"Tapi Abangmu tidak mau menikahi Kakak, dia hanya menjadikan Kakak kekasih gelapnya saja."


Olivia tampak berfikir. "Mungkin karna Bang Raja gak mau kembali jatuh miskin Kak. Bang Raja bisa seperti ini karna istri dan mertuanya itu."


"Kakak juga berfikir begitu, karna itu Oliv bantulah Kakak agar Abangmu menikahi Kakak, Kakak akan membantunya merebut aset milik istrinya ini."


"Tentu saja Kak, Oliv akan bantu."


Olivia masuk kedalam ruangan Raja.


"Bang." Panggil Olivia.


"Ada apa?" Tanya Raja ketus.


"Oliv, kuliahmu kan sudah selesai. Lebih baik kamu cari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang. Jangan minta uang terus sama Abang."


"Abang kenapa jadi perhitungan sih? Aku ini adiknya Abang satu-satunya."


"Tapi kamu sudah dewasa Liv, kamu harus bisa mandiri. Abang malu sama keluarga Nanda jika terus-terusan memberimu uang karna kamu sudah lulus kuliah."


Olivia memutar malas bola matanya. "Lebih baik abang tinggalkan saja istri Abang dan kembali dengan Kak Sarah."


Raja menatap tajam wajah Olivia,


"Abang harusnya pinter sedikit, hampir empat tahun menikah dengan Istri Abang, kenapa gak Abang ambil sebagian Asetnya, perusahaan ini maju juga karna Abangkan."


Raja terdiam seolah berfikir.


"Coba Abang berfikir, jika Abang bercerai dengan istri Abang, Abang hanya akan menjadi gembel lagi, jadi driver ojek lagi Bang." Olivia terus saja meracuni pikiran Raja.


"Pergilah Olivia, Abang masih banyak pekerjaan."


Sore hari, Raja pulang bersama Sarah, tentunya Sarah menunggu ditempat mereka slalu berjanjian.


"Ja mampirlah dulu." Ajak Sarah.


"Aku lelah Sar, aku ingin segera pulang."


"Ck, pulangpun kamu hanya ribut dengan istrimu."


Tangan Sarah terulur membelai kepala Raja, "Apa kamu tidak ingin aku pijit?" Tanya Sarah sensual.


"Aku akan menikahimu, Sar." Ucap Raja lirih yang membuat Sarah tersenyum penuh kemenangan.


"Kenapa?" Tanya Sarah.


"Karna aku tidak bisa menahannya lagi dan aku ingin menyalurkan hasratku."

__ADS_1


"Baiklah, jadi kapan kita akan menikah?"


"Malam ini, aku sudah mencari penghulu dan dua orang saksi, tapi kita hanya menikah siri."


"Tidak masalah, tapi aku ingin Olivia turut menyaksikan pernikahan ini, hanya dia satu-satunya yang tidak akan berkhianat padaku."


Raja segera turun dari mobil menuju unit apartemen yang ia sewa, lalu dirinya menelpon Olivia.


***


"Sah."


"Sah."


Jawab saksi yang menyaksikan pernikahan siri Raja dan Sarah.


"Selamat Kak Sarah. Akhirnya aku mempunyai Kakak ipar yang aku sukai." Ucapnya sambil memeluk Sarah.


Olivia beralih pada Raja dan memeluknya. "Bang, sebelum pernikahan ini diketahui istri Abang dan Abang berpisah dengannya, ambilah beberapa aset berharga Bang."


Raja hanya diam dan berfikir.


Acara pernikahan yang tidak meriah itu akhirnya selesai juga, bahkan Olivia juga sudah pulang kerumah Haris kembali.


Raja menutup pintu dan segera masuk kedalam kamar, kamar yang biasa ia pakai saat mencumbui Sarah dan kini mereka akan berc*nta disana.


Sarah menarik Raja saat Raja memasuki pintu kamar, dan menciuminya dengan brutal. layaknya kucing yang diberi umpan, Raja tidak bisa bisa menolaknya dan membalas pagutannya. Raja menggiring Sarah keatas tempat tidur mereka. Hingga tak terasa tubuh mereka kini benar-benar Naked.


"Raja.. Akh..." Sarah mend*sah saat Raja memainkannya kedua gunung kembarnya.


"Aku tidak akan mengampunimu malam ini, Sar." Racau Raja.


"Aku tak sabar menunggunya." Goda Sarah dengan nada sensual.


Blesss


Raja dengan mudah tanpa ada halangan saat mulai memasuki bagian inti Sarah.


Raja menatap sinis pada Sarah, tak lama kemudian Raja melepaskan penyatuan yang sama sekali belum mulai digerakannya.


"Hai, ada apa Ja?" Tanya Sarah yang kini memeluk Raja dan dengan sengaja menempelkan dua gundukannya dipunggung Raja.


"Siapa yang mendahuluiku, Sar?" Tanya Raja lirih.


"Come on, Raja. kehidupanku diluar Negri begitu bebas, hal itu sangat biasa." Jawabnya tanpa rasa bersalah.


"Kenapa tidak bilang? Pantas saja kamu begitu ahli."


Sarah tertawa, kini ia duduk dipangkuan Raja. "Jangan Marah, malam ini aku akan memuaskanmu, kamu tidak akan melupakannya." Bisik Sarah sensual lalu mendorong tubuh Raja higga Sarah yang kini berada diatas Raja.


Sarah memegang pusaka Raja yang tadi sempat menciut, lalu membangunkannya lagi hingga tegak perkasa.


"Oh Sar, terus Honey." Racau Raja saat Sarah menari-nari diatas pangkuan Raja.


"Enak mana dengan milik istrimu, Sayang?" Tanya Sarah yang masih saja lincah diatas Raja.


"Kamu, kamu paling hebat, Sayangku."


Sarah tersenyum puas melihat kepuasan diwajah Raja, "Sepertinya istrimu tidak pernah memanjakanmu seperti ini?"


Raja tidak menjawab, ia hanya menikmati service yang diberikan istri siri keduanya itu.


.


.


Yang nunggu MP nya Regan-Ayla, Othor simpan buat besok ya.


Hari ini othor lg Isoman dulu,


Doakan virus segera hilang dan Othor sekeluarga negatif lagi ya.


Bolehlah bagi Othor bagi Bunga dan Kopi, atau mau kasih Vote juga boleh.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2