
Satu bulan sudah Ayla terus berada diperusahaan mengawasi gerak gerik Sarah dan juga Raja. Beberapa kali juga Ayla menemukan laporan yang tidak sesuai, Ayla pun menolak beberapa tender yang Raja tangani dengan project yang tidak masuk akal menurutnya.
Sarah semakin geram atas tingkah Ayla yang menolak semua berkas yang ia buat.
"Wanita itu, teliti sekali dia." Gumam Sarah. Ia sudah kehabisan akal bagaimana lagi cara memanipulasi data agar bisa menggelapkan dana perusahaan ke rekeningnya.
Sementara Raja, ia begitu acuh terhadap Sarah, ia sudah tidak perduli kondisi Sarah yang tengah hamil. Tanpa Sarah dan Olivia tau, Raja menyuruh orang untuk mencari Nanda.
Kondisi Aryo pun semakin pulih, Ayla dan Regan terus menyemangatinya, Aryo sangat bersyukur memiliki anak angkat sebaik Ayla dan Regan sebagai menantunya.
Regan pulang kerumah saat malam sudah larut, ia mendadak ada operasi saat akan pulang kerumah. Sebagai dokter, Regan haruslah siap siaga kapanpun ia dibutuhkan.
Regan pulang kerumah Aryo, kondisi rumah sudah sangat sepi karna penghuninya sudah pada tertidur.
Perlahan Regan masuk kedalam kamar, dilihatnya Ayla yang tertidur disofa.
Regan langsung menuju kamar mandi, ia membersihkan diri sebelum ia menyentuh sang istri.
"Ya ampun, Ay. Kenapa tidur disofa." Gumam Regan sambil mencoba memindahkan tubuh mungil istrinya itu.
"Ya Tuhan, kamu demam, Ay." Ucap Regan saat tangannya mulai menyentuh tubuh Ayla.
Regan segera memindahkan Ayla ketempat tidur, ia mengambil tas berisi perlengkapan medisnya yang slalu ada dikamarnya.
Regan mulai menyingkap piyama Ayla dan menempelkan stetoskop diperut Ayla.
Sudut bibirnya terangkat seolah tersenyum,
"Terimakasih Aylaku." Regan menghujani wajah Ayla dengan kecupan, membuat Ayla tersadar dari tidurnya.
Rupanya demam Ayla disebabkan perubahan hormon pada tubuhnya.
"Re.. Stop Re.. Geli.." Ucap Ayla sambil berusaha mengangkat wajah Regan yang terlalu menempel dengan wajahnya.
Regan mengangkat wajahnya, menatap mata Ayla.
"Kamu pusing? merasa mual?" Tanya Regan.
"Berapa hari ini aku merasa pusing, sedikit mual, dan tubuhku merasa tidak enak, sepertinya aku terlalu lelah bekerja." Jawab Ayla.
"Tidak, Ay. Bukan karna kamu lelah bekerja." Regan tersenyum sambil menjeda kalimatnya, "Tapi ada dia disini, anak kita sedang tumbuh disini." Tangan Regan terulur mengusap perut Ayla.
Ayla mengernyitkan dahinya,
Regan mengambil stock tespek ditasnya. Sebagai dokter Obgyn, ia slalu mempunyai stock tespek untuk kepentingan medis.
"Coba ini sekarang, biar lebih pasti." Regan menyerahkan satu tespek untuk Ayla.
Ayla menerimanya dan segera mencobanya dikamar mandi.
Regan menunggu begitu cemas didepan pintu kamar mandi.
Cekleekk
Pintu kemar mandi terbuka, terlihat wajah Ayla yang masih pucat keluar dari dalam kamar mandi. Ayla menyerahkan hasil tespeknya dan Regan menerima lalu melihatnya.
"Ya Tuhan, terimakasih." Ucap Regan lalu kembali mengecupi seluruh wajah Ayla.
"Terimakasih, Ay. Terimakasih." Regan mencium kening Ayla dan mengecup sekilas bibirnya.
"Ada dia disini Re, buah cinta kita." Ucap Ayla penuh haru.
"Iya Baby, ada dia disini. Anak kita." Jawab Regan yang kini membawa Ayla duduk diatas tempat tidur.
"Ay, jaga kesehatanmu ya, jangan terlalu lelah bekerja." Ucap Regan sambil mendekap tubuh mungil Ayla.
"Iya, Re. Aku akan jaga calon bayi kita." Jawabnya masih tak percaya.
__ADS_1
***
"Mommy, stop Mom, Disya sudah basah." Suara gelak tawa kini menggema di rumah Pras.
Nanda dan Disya tengah bermain air dihalaman belakang, Pagi tadi saat Nanda sedang menyiram tanaman, Disya mengganggunya, alhasil mereka kini bercanda sambil bermain air. Nanda menyemprotkan selang kearah tubuh Disya, dan gadis kecil itu begitu gembira.
"Dia sangat dekat dengan Disya." Ujar Irwan pada Pras yang tengah memperhatikan Nanda dari atas balkon rumahnya.
"Ya, dia sangat dekat dengan Disya." Ucap Pras yang belum menyedari bahwa sang Ayah terus memperhatikannya.
"Dia gadis yang cantik." Ujar Irwan lagi.
"Ya, dia sangat cantik." Ucap Pras lagi yang masih belum menyadarinya.
"Dia sangat cocok menjadi Mommynya Disya, nikahilah Pras." Ujar Irwan yang terus-terusan mengerjai sang anak.
"Ya, tentu Pras akan menikahinya Pap." Ucap Pras begitu saja tanpa ia sadari.
Sepersekian detik Pras tersadar, bahwa sang Papi tengah menggodanya.
"Papi.. Sejak kapan papi disitu?" Tanya Pras dengan salah tingkah.
Irwan tertawa, "Sejak tadi, sejak kamu memperhatikan Hana. Dan tanpa sadar kamu menanggapi semua perkataan Papi."
"Me.. memangnya Papi berkata apa saja?" Pras masih terlihat salah tingkah.
"Papi bilang dia dekat dengan Disya, kamu menanggapi Ya dia sangat dekat dengan Disya. Papi bilang dia cantik dan kamu menanggapi Ya dia sangat cantik. Papi bilang dia cocok jadi Mommynya Disya, nikahilah dan kamu menanggapi tentu Pras akan menikahinya."
Irwan mentertawai anaknya yang sepertinya tengah jatuh cinta.
"Papi bohong, tidak mungkin Pras berkata seperti itu." Ucap Pras berkilah.
"Jelas kamu menanggapi itu Pras, Mami saksinya." Sahut Linda yang ternyata berada dibelakang Pras dan Irwan.
"Haish, kalian sejak kapan sih ada disini?" Tanya Pras.
"Ah Mami dan Papi ini, seperti dirumah ini tidak ada tempat lain saja."
Irwan tertawa, "Nikahi saja Hana, Pras."
"Papi.." Pekik Pras dan kembali salah tingkah.
"Pras, Hana gadis yang baik, Mami setuju jika dia menjadi istrimu dan Mommy untuk Disya."
"Mami jangan ikut-ikutan seperti Papi." Ucap Pras.
"Pras, sudah satu tahun Elena meninggal. Disya butuh kasih sayang seorang ibu, dan kamu juga butuh seorang istri untuk mengurusmu. Bukalah hatimu kembali Pras." Ucap Linda bijak.
Pras terdiam, tidak ia pungkiri, Nanda memang mempesona, ia begitu baik dan lembut, Disya bahkan hampir setiap malam tidur dengan Nanda.
"Ingatan Hana belum kembali Mam." Ucap Pras, "Pras tidak tau asal usul Hana, apa dia memiliki kekasih atau dia sudah menikah, kita tidak ada yang tau." Ucapnya lagi.
"Dia seumur adikmu yang hilang diculik, Pras. Andai adikmu ada bersama kita, pasti adikmu seumur dengan Hana. Mami menerima Hana disini karna Mami berharap adik kandungmu yang hilang, dimanapun berada bersama orang yang menyayanginya."
"Mami, sudah jangan terlalu dipikirkan." Ucap Pras yang kini berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Linda yang duduk dikursi roda.
"Mami takut Tuhan mengambil Mami sebelum Mami menemukan Hana adikmu."
"Mami jangan bicara seperti itu. Pras janji akan terus mencari Hana."
"Sudah dua puluh lima tahun, Pras. Masihkan adikmu itu hidup?" Tanya Linda lirih.
"Hana pasti masih hidup Mam, Pras janji akan menemukannya."
Irwan membawa kembali Linda turun beristirahat dikamar. Linda masih trauma saat mengingat kejadian dua puluh lima tahun yang lalu, saat itu, Hana adik Pras masih berusia satu tahun, Hana diculik oleh rekan bisnis Irwan, dan hingga kini tidak diketahui keberadaanya.
Pras turun menghampiri Disya dan Nanda.
__ADS_1
"Disya." Panggil Pras.
"Daddy, sini ikut main sama Disya dan Mommy." Teriak Disya.
"Kalian asik sekali."
"Maaf Mas, Disya jadi basah." Ujar Nanda yang kini memanggil Pras dengan panggilan Mas.
"Tidak apa-apa Han. Disya juga menikmatinya." Jawab Pras.
"Kalau begitu, aku akan mengganti dulu baju Disya."
"Iya. Trimakasih Han."
Nanda membawa masuk Disya dan segera membersihkan tubuhnya.
"Mommy, Disya lapal." Ucap Disya saat Nanda sedang menyisir rambut Disya.
"Ayo kita makan." Ajak Nanda.
Nanda sarapan bersama keluarga Pras. Linda pun sudah tampak tenang dan ikut sarapan bersama. Nanda menyuapi Disya dengan telaten, setiap gerakan Nanda slalu diperhatikan oleh Pras. Linda dan Irwan pun meyakini bahwa sang putra tengah menaruh hati pada Nanda.
Menjelang siang, rumah Pras tampak sepi. Irwan dan Linda pergi menghadiri undangan pernikahan teman Irwan, sementara Nanda baru saja menidurkan Disya.
Nanda keluar perlahan dari kamar Disya, ia ingin menuju dapur untuk mengambil minum.
"Disya sudah tidur Han?" Tanya Pras saat melihat Nanda berjalan menuju dapur.
"Sudah Mas." Jawab Nanda.
Pras mengikuti Nanda menuju dapur dan duduk dikursi meja bar.
"Mas mau minum?" Tanya Nanda.
"Boleh. Tolong ambilkan aku air mineral saja." Jawab Pras disertai dengan senyuman.
Nanda memberikan segelas air mineral pada Pras kemudian duduk berhadapan dengan Pras.
"Han, boleh aku bertanya?" Tanya Pras memulai obrolan.
"Boleh Mas."
"Sudah satu bulan kamu bersama kami, apa ada tanda-tanda ingatanmu kembali atau kamu pernah mengingat sesuatu?" Tanya Pras hati-hati.
Nanda menggelengkan kepalanya, "Aku slalu mencoba mengingatnya Mas, tapi semakin aku mencoba mengingat, kepalaku langsung terasa sakit."
Hening sejenak,
"Apa aku merepotkan mu disini Mas?" Tanya Nanda tiba-tiba.
Pras langsung menggelengkan kepalanya, "Tidak Han, bukan begitu, Justru aku takut ingatanmu kembali dan kamu meninggalkan rumah ini."
Nanda merasa terkejut mendengar perkataan Pras. Pras yang menyadari keterkejutan Nanda menjadi salah tingkah.
"Ja.. jangan salah paham dulu Han, maksudku jika kamu meninggalkan rumah ini, Disya pasti akan bersedih karna sudah merasa nyaman denganmu." Ujar Pras yang sudah takut jika Nanda berfikir macam-macam, meskipun benar hatinya berat jika Nanda sampai pergi meninggalkan rumah Pras.
Nanda tersenyum, "Aku juga berat ninggalain anak semanis Disya." Jawab Nanda. "Tapi aku sungguh ingin sekali ingatanku kembali Mas."
Entah apa yang dirasakan Pras, disisi lain ia ingin Nanda menemukan ingatannya kembali, tetapi disisi lain ia ingin Nanda terus bersamanya.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1