BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Balik Cemburu


__ADS_3

"Aku sangat mencintaimu, Ay." Dengan tatapan penuh damba.


Ayla mengecup sekilas bibir Regan, "Aku juga mencintaimu Re, sangat mencintaimu."


Regan membuat Ayla melayang dengan sentuh-sentuhan dibeberapa titik sensitif Ayla, Ayla seakan terus menikmati saat lenguhan itu terdengar indah dari suara Ayla.


Hal ini membuat Regan berada dalam kesempatan, saat Regan menurunkan segi tiga penutup aset Ayla, mata Regan menelusuri dimana letak bekas luka yang Pras maksud.


"Luka ini..." Batin Regan saat baru menyadari ada bekas jahitan yang sudah memudar didekat pangkal paha Ayla.


Pantas saja Regan tidak pernah melihatnya, letak bekas luka itu memang nyaris tidak terlihat, mungkin karna memang sudah lama.


Regan kembali pada alam sadarnya, ia sedang akan ber*cinta dengan Ayla. Regan kembali fokus pada percintaannya, saling memberi dan menerima kenikmatan yang membuat mereka melepaskan hasrat yang terpendam selama tiga bulan ini.


"Baby, kamu nikmat sekali, sayang." Racau Regan.


"Akhh, terus Re.. Lebih cepat." De*sah Ayla.


"Baik Baby, sesuai permintaanmu, Sayang." Regan menaikan tempo kecepatannya, membuat Ayla beberapa kali mendapatkan pelepasannya.


"Akhh Re, aku udah ga tahan."


"Sebentar lagi aku sampai, Sayang.. Bersama." Regan semakin cepat bergerak, hingga Ayla meremas kuat bahu Regan.


Mereka sama-sama mengerang saat mencapai pelepasannya masing-masing.


Regan mengecupi wajah Ayla bertubi-tubi.


"Masih sakit?" Tanya Regan.


Ayla menggelengkan kepalanya, "Engga, ternyata udah gak sakit lagi Re."


Regan tersenyum, sepersekian detik Regan bangun dan menggendong tubuh Ayla.


"Aku bantu bersihkan ya." Ucap Regan yang diangguki oleh Ayla.


Regan mendudukan Ayla diatas kloset, ia mengambil jet shower dan membersihkan sisa percintaan mereka dibagian inti Ayla.


"Ay, ini ada bekas luka, bekas luka apa ya?" Tanya Regan pura-pura tidak tau.


Ayla menatap bagian bekas luka yang Regan maksud dan merabanya. "Aku juga tidak tau, Re. Bekas luka itu entah kapan sudah ada ditubuhku." Jawab Ayla.


"Ini seperti bekas jahitan, Ay. mungkin tergores sesuatu. Kamu tidak ingat?" Tanya Regan mendalam.


Ayla tetap menggelengkan kepalanya, ia sunggung tidak ingat mengapa ada bekas luka jahitan didekat pangkal pahanya. Regan memakluminya, jika benar Ayla adalah adik kandung Pras, maka tidak diragukan lagi bekas luka yang ada pada tubuh Ayla adalah bekas luka yang dimaksud oleh Pras. Dan jelas Ayla tidak mengingatnya karna saat kejadian itu umur Ayla masih sekitar satu tahun.


Keesokan harinya Regan sengaja membantu Ayla dengan menyisiri rambutnya.


"Kamu tumben so sweet banget dari semalam sampai pagi ini." Ucap Ayla sambil menatap Regan dari kaca riasnya.


"Ishh nyebelin.. gak pernah peka, padahal sering banget aku bersikap manis sama kamu." Ujar Regan.


Ayla tersenyum geli saat melihat suaminya pura-pura merajuk. "Kamu manis sekali seperti anak kucing."


Ceklekk..


Suara pintu terbuka, terlihat Disya yang tengah berlari kearah Ayla.


"Onty, dimana Lyu?" Tanya Disya.


"Ryu sama Bibi lagi berjemur didekat kolam renang." Jawab Ayla sambil memangku Disya.


"Ajak Disya ikut berjemur juga, Ay. biar hangat tubuhnya." Ucap Regan yang diangguki oleh Ayla.


"Yuk, kita berjemur sama Ryu." Ajak Ayla lalu menggendong Disya turun kebawah.


Setelah Ayla keluar bersama Disya, Regan segera mengambil beberapa helai rambut Ayla yang tertinggal disisirnya. Rambut Ayla memang sedikit rontok dan itu memudahkan Regan untuk mengambil sampel rambut Ayla untuk test DNA.


"Semoga benar, Pras dan keluarganya adalah keluargamu Ay." Gumam Regan penuh harap.


***


Sementara dirumah Pras,


Irwan tengah kecewa mendapatkan hasil yang tidak memuaskan soal laporan asal usul Ayla.


Orang suruhannya mengatakan bahwa data Ayla dilindungi oleh IT yang handal. Bahkan orang suruhan Irwan menyewa seorang hacker hanya untuk membobol data Ayla namun tidak berhasil.


Pras tengah mendapatkan sebuah pesan dari Regan,


"Bekas luka itu ada, aku juga sudah mendapatkan sampel rambut Ayla." -Regan-

__ADS_1


pesan yang berisi tentang sampel rambut milik Ayla yang sudah berhasil Regan dapatkan. Pras pun mendatangi Irwan diruang kerjanya.


"Pap." Panggil Pras.


Irwan yang menengadahkan kepalanya disandaran kursi kebesarannya pun langsung menoleh kearah Pras.


"Ada apa?" Tanya Irwan.


Pras duduk berhadapan dengan Irwan. "Aku mendapati seseorang yang mirip dengan Hana." Ucap Pras hati-hati.


"Tidak perlu diselidiki jika yang kamu maksud adalah istrinya dokter Regan. Karna Papi sudah menyuruh orang untuk mencari tau tapi hasilnya nihil. Datanya terlindungi dan tidak bisa dibobol meski dengan hacker terbaik." Jawab Irwan.


"Papi juga mencurigai istrinya Regan adalah Hana?" Tanya Pras yang tidak tau menau jika sang ayah sudah bertindak lebih dulu.


"Dia sangat mirip dengan wajah Mamimu ketika muda, satu lesung pipi dipipi kiri, mata coklat dan bulat percis seperti mamimu." Jawab Irwan.


"Dan sebuah bekas luka dipaha Hana yang ternyata juga dimiliki oleh Ayla." Sahut Pras.


"Bekas luka?" Tanya Irwan.


"Papi lupa? saat kecil kita berlibur ke villa, aku dan Hana berenang, saat dipinggiran kolam, hana terpeleset dan tepat dibagian pahanya tergores pecahan keramik dan cukup dalam sehingga harus dijahit."


Irwan menghela nafas, "Oh my god.. Jadi luka itu ada juga di istrinya dokter Regan?"


"Ada, bahkan Regan sendiri sudah mendapatkan sampel rambut milik istrinya, karna itu Pras kesini untuk minta sampel rambut Papi untuk dicocokkan dengan sampel rambut milik Ayla."


"Harusnya kamu bilang hal ini dari awal, Papi kan tidak usah menyuruh orang lain untuk cari data soal Ayla."


"Mana Pras tau Papi sudah bertindak duluan. Dan maaf, Pap. Pras hanya tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan."


Irwan mengangguk, "Pantas saja datanya sulit dilacak, Ayla berada didalam keluarga Aryo Darmawan." Irwan menghela nafas. "Keluarga Aryo Darmawan begitu baik tapi menurut Papi ini misterius, kenapa bisa keluarga Aryo Darmawan menyembunyikan data Ayla, semoga Ayla adalah Hana yang slama ini kita cari."


***


Tiba waktu untuk Disya pulang kerumah Pras, Nanda sudah memberitahu Pras bahwa dirinya yang akan mengantarkan Disya dan Pras tidak perlu menjemputnya kerumah Aryo.


"Mommy jadi menginap dilumah Disya?" Tanya Disya.


"Maaf Sya, Mommy belum bisa menginap dirumah Disya, Kakek belum terlalu sehat, kalo gak ada Mommy, Kakek pasti lupa minum obat." Jawab Nanda memberi pengertian pada Disya.


Disya mengerucutkan bibirnya tanda kecewa.


"Benelan? Mommy ga bohong kan?" Tanya Disya sambil mengulurkan jari kelingking pada Nanda.


Nanda mentautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Disya, "I'm Promise."


Nanda tiba dirumah Pras dan terkejut ketika melihat sosok seorang wanita sedang bersama Pras dan orang tuanya.


"Nanda..." Linda memajukan kursi rodanya kearah Nanda dan semua orang melihat kearah Nanda.


Nanda tersenyum canggung, "Maaf Mam, Nanda ganggu. Nanda cuma mau anter Disya pulang." Jawab Nanda setelah berhasil menetralisir hatinya yang mungkin sedikit cemburu.


"Siapa wanita itu? Mungkinkah dia kekasih Mas Pras?" Begitu banyak pertanyaan dihati Nanda.


"Masuklah Nan." Ajak Irwan.


"Terimakasih, Pap. Tapi maaf Nanda lagi buru-buru, ada keperluan lain."


"Lho, koq pulang. Kita makan siang bersama dulu." Ucap Linda.


"Mommy, Disya mau makan sama Mommy." Ujar Disya memelas.


Pras menangkap sikap Nanda yang salah tingkah semenjak melihat Sania dirumah, Sania sendiri adalah rekan kerja Pras dirumah sakit yang merupakan seorang analis spesialis genetika dirumah sakit milik keluarga Pras, ia datang kerumah Pras untuk mengambil sampel rambut Irwan yang akan dicocokan dengan sampel rambut milik Ayla yang hari ini akan Regan bawa kerumah sakit langsung.


Pras tersenyum smirk, ia yakin bahwa Nanda mempunyai perasaan juga kepadanya, hanya saja mungkin memang Nanda masih membutuhkan waktu untuk meyakini hatinya, dan Pras akan memakai caranya sendiri untuk mendapatlan hati Nanda seutuhnya.


"Kalau begitu, aku langsung kerumah sakit saja dok." Ucap Sania.


"Tidak ikut makan disini dulu?" Tanya Linda yang memang slalu baik terhadap siapapun.


"Terimakasih, Bu. Saya langsung kerumah sakit saja karna masih ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan." Jawab Sania.


Setelah Sania berpamitan, Linda mengajak semua untuk makan siang bersama, dan sesudahnya, Disya tidur setelah meminum obatnya, Linda dan Irwan pun memilih beristirahat. Sementara Pras bersama Nanda duduk diruang tamu.


"Tadi buru-buru pulang, mau kemana?" Tanya Pras iseng. Padahal Pras tau tadi Nanda hanya beralasan saja, namun Pras senang sekali menggoda Nanda.


"Oh, iya hampir aja aku lupa. Aku ada keperluan lain." Jawab Nanda sebisa mungkin untuk tenang.


Nanda berdiri, "Aku pulang ya, Mas." Namun tangan Nanda ditarik kembali oleh Pras sehingga Nanda duduk kembali dan Pras merapatkan dirinya duduk berdekatan dengan Nanda.


"Aku tanya mau kemana?"

__ADS_1


"A.. Aku ada urusan sama Kak Robi. Mau bahas kerjaan sekalian ketenu diluar." Jawab Nanda gugup dan berbohong sambil melihat kesembarang arah.


Pras menarik dagu Nanda untuk melihat kearahnya. "Jangan bohong." Bisiknya.


"Mas." Pekik Nanda.


Pras pun menarik pinggang Nanda untuk semakin dekat dengannya. "Aku tidak suka kamu pergi berduaan dengan Robi."


Nanda mengernyitkan dahinya.


"Aku cemburu, sangat cemburu. Ingin rasanya aku membawamu langsung ke KUA dan menikahimu, lalu mengurungmu dikamarku seharian." Ucapnya dengan nada menggoda.


"Mas Pras." Nanda semakin salah tingkah.


"Kamu Mommy nya Disya, berarti kamu juga istriku, hanya saja belum resmi. Dan kapan kamu mau aku resmikan hubungan kita?" Tanya Pras.


"Maksud Mas Pras apa?" Tanya Nanda balik.


"Aku ingin menikahimu." Jawab Pras serius.


Nanda hanya diam dan menatap mata Pras, terlihat keseriusan dimata Pras.


"Kita tidak akan cocok Mas." Jawab Nanda kemudian.


"Apa yang membuat kita tidak cocok?" Tanya Pras.


"Aku orang yang cemburuan, aku posessif, jika kamu menikah denganku, aku tidak suka kamu dekat dengan wanita manapun."


Pras tersenyum smirk. "Apa kamu cemburu dengan Sania?"


Nanda memalingkan wajahnya.


"Jawab aku Nanda."


Nanda kembali menatap wajah Pras. "Aku tidak berhak cemburu karna kamu bukan milikku."


Cupp


Pras mengecup sekilas bibir Nanda bahkan mellu*matt nya sedikit. Tidak ada ada penolakan dari Nanda.


"Kalau begitu jadikan aku milikmu, akan aku pastikan aku hanya akan menjadi milikmu."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Aku tidak sempurna, Mas. Lebih baik Mas cari wanita lain yang lebih baik dari aku." Nanda kembali memalingkan wajahnya, ia menahan sesak didadanya mengingat jika ia tidak sempurna.


Pras mengernyitkan dahinya, ia baru menyadari ternyata Nanda menyimpan Trauma yang dalam.


"Apa karna soal anak?" Tebak Pras.


Nanda hanya diam tidak menjawab. Pras sangat tau, wanita yang pernah ia tolong saat melahirkan adalah wanita selingkuhan dari suami Nanda terdahulu. Regan yang tlah memberitahukan semuanya.


"Mantan suamiku berselingkuh dengan mantan kekasihnya, mungkin selain karna mereka masih ada cinta, bisa jadi soal anak juga jadi alasan utamanya. Pernikahan kami tiga tahun namun tidak kunjung mendapatkan anak, sementara, belum lama mereka berselingkuh, simpanannya sudah hamil."


Nanda tersenyum miris. "Lebih baik Mas Pras melupakan niat Mas untuk menikahiku. Aku tidak sempurna."


"Siapa yang memvonismu tidak sempurna? Apa kamu sudah periksa kedokter untuk masalahmu? Apa dokter yang mengatakannya? Atau itu hanya persepsi kamu sendiri?" Tanya Pras bertubi-tubi.


Nanda hanya diam dan tidak menjawab, ia sendiri bingung dengan keadaanya.


"Bukan hanya Disya yang krisis percaya diri ternyata kamupun seperti itu, Nan." Ujar Pras.


Nanda masih diam membisu.


Pras meraih Nanda kedalam pelukannya. dam mengusap rambut panjang Nanda, "Aku ingin menikahimu karna ingin mempunyai teman hidup, teman menua seperti Mami dan Papiku, menjadikan kamu ibu untuk Disya. Aku tidak perduli apapun kekuranganmu, aku seorang dokter Obgyn, aku akan membantu mengobatimu dan jika kamu tetap tidak kunjung hamil, kita sudah memiliki disya dan itu cukup. Dan jika kamu tetap menginginkan seorang anak, kita bisa mencoba bayi tabung jika tidak berhasil kita bisa mengasuh seorang anak dari panti asuhan." Ucap Pras panjang lebar penuh keyakinan.


Hati Nanda terenyuh mendengar Pras berkata seperti itu. Seperti tetesan embun yang menyirami hati Nanda yang gersang.


Pras mengendurkan pelukannya dan menagkup wajah Nanda dengan kedua tangannya.


"Percayalah padaku, aku akan menjagamu dan kita menua bersama."


Nanda mengangguk, "Tapi beri aku waktu sedikit lagi." Lirihnya.


Pras tersenyum kemudian mengecup sekilas bibir Nanda lagi.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2