
Di kapal boat, Nanda dan Ayla menikmati angin laut sambil sesekali berfoto selfie. Sementara Regan bermain catur bersama Aryo.
"Skak mat!!" Ucap Raja pada Aryo.
Aryo mengusap wajahnya, "Salah strategi." Ucapnya.
Regan tertawa pelan. "Om kayak lagi banyak pikiran." Tebaknya sambil meminum juice jeruk yang sudah disediakan.
"Kamu sok tau." Jawab Aryo sambil tertawa.
"Pasti iya. Ada apa Om?" Tanya Regan mengakrabkan diri dengan Aryo.
Aryo merubah posisi duduknya menghadap laut, "Om mengkhawatirkan masa depan Nanda."
Regan diam dan mencoba menjadi pendengar yang baik.
"Om takut kalo Nanda menikah dengan orang yang tidak tepat lalu tidak bahagia, sementara Om entah sampai kapan bisa mendampingi Nanda."
Hening sejenak.
"Om berharap, Nanda mempunyai pendamping yang bisa menjaganya dengan baik." Aryo menghela nafas, "Seperti kamu yang bisa menjaga Nanda dan Ayla seperti saat ini."
"Apa Om tidak ada rencana untuk menjodohkan Nanda dengan salah satu anak kerabat atau teman bisnis Om?" Tanya Regan hati-hati.
"Tentu tidak Re, Om lebih membebaskan Nanda dengan siapa pilihannya nanti, karna nanti kan Nanda yang menjalani hidupnya." Aryo diam sejenak, "Semoga Nanda tidak salah pilih."
"Jangan terlalu banyak pikiran Om, yang penting sekarang Om sehat dan bisa terus mendampingi Nanda."
"Iya Re, dan Om berharap besar padamu Re, teruslah menjaga Nanda dan Ayla, jadikanlah diri kamu orang yang paling dicari Nanda dan Ayla saat mereka susah dan senang."
"Iya Om." Jawab Regan.
"Oh ya Re.. kenapa kamu ingin menjadi dokter kandungan?" Tanya Aryo penasaran. "Kenapa bukan dokter anak atau dokter bedah, ahli jantung, atau dokter lainnya?" Tanyanya lagi.
"Terinspirasi dari cerita Nanda, Om." Jawab Regan cengengesan.
"Maksudnya? cerita Nanda? Nanda cerita apa?" Aryo mengernyitkan dahinya.
"Iya Om, Nanda pernah cerita kalau Mamanya meninggal saat melahirkannya, hal itu yang slalu membuat Nanda bersedih. Dari situ saya bertekad ingin menjadi dokter kandungan dan menyelamatkan nyawa semua ibu yang sedang berjuang melahirkan anaknya, mungkin termasuk istri saya sendiri nanti." Jawab Regan mantap.
Perasaan Aryo terenyuh saat mendengar penjelasan Regan, "Kalau begitu, dimasa depan, saat nanti Nanda melahirkan, kamu yang harus menolongnya ya Re."
Regan tersenyum dan menunduk.
***
Libur kenaikan kelas sudah berlalu, Kini Regan satu kelas bersama Nanda dan Ayla.
"Kenapa harus satu kelas coba?" Ujar Regan pura-pura tidak bersemangat.
"Kenapa? biar gak ada yang ngerecokin kalo kamu lagi jadi buaya darat ya Re?" Tanya Nanda asal.
Regan dan Ayla tertawa, "Nanda tau banget." Ucap Ayla.
__ADS_1
"Tau lah Ay, untung Regan sekelas sama kita, jadi dia gak bisa lagi menjelma jadi siluman buaya darat." Nanda tertawa.
"Asal banget sih Nan kalo ngomong." Cibir Regan.
"Pulang sekolah kemana nih?" Tanya Regan mengalihkan pembicaraan.
"Kerumah kamu aja Re, udah lama gak kerumah kamu." Jawab Nanda.
Regan berdecak, "Males ah." Jawabnya sambil bersandar disandaran bangku kelasnya.
"Kenapa?"
"Semenjak kakak tiriku ada dirumah, aku males aja." jawabnya.
"Hubungan kamu sama kakak tirimu gak baik ya Re?" Tanya Nanda mendalam.
Regan mengangguk.
"Aku sama Ayla juga gak suka sama adik tirimu. Sinis banget kalo ngelihatin orang, tapi diem-diem merhatiin."
Entah mengapa mereka bercerita tanpa menyebutkan nama, hanya menyebutkan dengan embel-embel Kakak tiri dan adik tiri. Bahkan hingga saat ini, Nanda maupun Ayla tidak tau nama adik tiri Regan.
"Ya udah kita ke mall aja." Sahut Ayla.
Regan mengepalkan satu tangannya keatas. "lets go baby!!"
Regan berjalan sambil merangkul Nanda dan Ayla disisi kanan dan kirinya.
"Dan kalian peliharaanku, gitu?" Tanya Regan tidak serius, dengan nada bercanda.
"Dikira kucing apa ya perliharaan?" Sahut nanda asal.
Dan mereka bertiga pun tertawa.
Mereka berlanjut makan dengan konsep makan sepuasnya.
"Makan yang banyak Re, biar gendutan." Ucap Nanda sambil mengisi mangkuk Regan dengan slice daging yang sudah matang dari grill nya.
"Aku gak mau gendut Nan, nanti gak ada cewek yang mau." Jawabnya asal.
"Minimal berisi Re, gak kayak orang cacingan begini." Cibir Ayla.
"Ck.. Begini juga aku banyak yang suka Ay."
"Iya suka, suka suka kamu Re." Nanda berbicara sambil memanggang slice daging didepannya, "Aku sama Ayla perduli sama kamu Re, kamu ini terlalu kerempeng walaupun tubuh kamu tinggi, coba deh agak berisi gitu, pasti semakin tampan." Nanda meski berbicara tapi dirinya juga fokus memanggang daging-daging ditempatnya.
"Iya sweety-sweetyku.. Terimakasih kalian perduli sama aku, makin cinta deh sama kalian." Regan membentangkan tangannya berharap dipeluk oleh Nanda dan Ayla.
"Lebay Re, Cinta? Ck apa itu cinta? Masih enam belas tahun, jangan ngomongin cinta Re." Cibir Nanda.
Regan menurunkan rentangan tangannya, "Kamu gak pernah jatuh cinta Nan? Cinta pertama atau Cinta monyet gitu?" Tanya Regan penuh selidik.
"Cinta pertamaku tuh Papa, pria yang penuh pengorbanan membesarkan aku, dan ngasih isi dunia buat aku."
__ADS_1
"Kalo cinta monyet Nan?" Kali ini Ayla yang bertanya.
"Hmm.." Nanda tampak berfikir sambil menggigit sumpit nya. "Aku sih belum pernah ngerasain deg-deg'an saat deket sama cowok, Kayaknya sih ga ada Ay. Dan aku juga gak berharap ngerasain cinta monyet, aku ingin benar-benar jatuh cinta dan membangun cinta sama orang yang aku cinta nanti."
"Yang seperti apa cowoknya?" Tanya Regan.
"Yang bikin aku nyaman seperti saat aku didekat Papa." Jawab Nanda tersenyum.
"Kalo kamu ay, type cowok kamu yang seperti apa?" Kali ini Nanda bertanya pada Ayla.
"Hmm, yang bikin aku nyaman dan nerima aku apa adanya." Jawabnya menerawang.
"Nerima apa adanya?" tanya Regan sambil menyipitkan matanya.
Ayla mengangguk. "Iya Re, aku kan anak panti, anak yang dibuang orang tuaku, aku berharap suatu saat benar-benar ada pria yang menerimaku bukan hanya dia, tapi keluarganya juga benar-benar menerima aku." Jawab Ayla penuh harap.
"Oh Aylaa ku.. aku menyayangimu." Nanda membentangkan tangannya memeluk ayla.
"Aku juga menyanyangimu Nan." Jawab ayla sambil membalas pelukannya.
"Aku juga menyayangi kalian." Ucap Regan dengan menatap kedua sahabatnya yang baru saja melepaskan pelukannya. "Dan siapapun pria yang akan menjadi kekasih atau suami kalian nanti, harus aku selidiki dulu asal usulnya, dan jika tidak baik, aku yang akan menjauhkannya dari kalian."
"Tapi aku gak yakin akan ada pria dan keluarganya yang nerima aku." Ucap Ayla tidak percaya diri.
"Tenang Ay, kalo gak ada pria dan keluarganya yang nerima kamu, nanti aku yang akan nikahin kamu." Regan menghela nafas dan menunjuk Ayla juga Nanda dengan sumpitnya bergantian. "Kalian tenang aja, aku tidak akan menikah dulu sampai kalian yang menikah duluan, aku pastikan kalian harus berada di orang yang tepat."
"Regan memang terbaik." Ucap Nanda tersenyum.
Sementara Ayla, dalam hatinya berharap sampai kapanpun tidak ada pria yang tertarik dengan dirinya agar Regan bisa menikahinya jika sudah dewasa nanti.
"Ay koq diem aja sih." Nanda menyenggol Ayla yang melamun disebelahnya.
"Eh engga Nan, lagi mikirin omongan Regan Bisa dipegang gak ya." Jawabnya sesantai mungkin.
"Maksud kamu Ay?" Tanya Regan.
"Hmm gini lho, kalo misal nanti kuliah, atau kalo udah jadi dokter, terus ketemu cewek dan deket sama cewek itu pasti kamu yang nikah duluan dibanding kita-kita deh Re."
Regan tertawa, "Engga Ay, Engga." Regan masih tertawa, "Aku tuh khawatir, apa lagi sama kamu Ay."
"Kalo aku sih gak berharap deket sama cowok Re, biar ngalir gitu aja, takut sakit hati juga sih." Jawab Ayla.
"Ya udah, Regan aja nikahin Ayla nanti. Selesai kan?" Sahut Nanda Asal.
"Baiklah, berarti kamu Ay, jangan pernah deket sama cowok sembarangan, biar nanti aku aja yang nikahin kamu." Jawab Regan dengan bercanda, namun jawaban Regan membuat perasaan Ayla berbunga-bunga dan penuh harap, padahal dibalik ucapan Regan, ia ingin membuat Nanda cemburu. Namun nyatanya Nanda tetaplah nanda, yang slalu cuek dan apa adanya.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1