
"Sampaiii" Seru Pras yang baru saja memarkirkan kendaraannya dihalaman rumah Nanda.
"Disya jangan nakal ya dirumah Mommy." Ucap Pras pada Disya yang duduk dipangkuan Nanda.
"Iya Daddy." Jawab Disya.
Pras tersenyum kemudian mengusap kepala Disya dan mencium keninggnya. "Daddy pasti sangat merindukan Disya."
Mereka turun dari mobil, Pras menurunkan tas berisikan perlengkapan Disya dan juga milik Nanda lalu meletakannya diteras tumah.
"Mas gak masuk?" Tanya Nanda yang Melihat Pras hanya berdiam diri di teras.
"Ga usah Nan, takutnya kamu dan Disya mau langsung istirahat." Jawab Pras.
Entah mengapa Nanda merasa kecewa. Sungguh, sebenarnya Nanda ingin Pras mampir dulu kerumahnya, namun Nanda menahan rasa, ia masih membentengi hatinya untuk tidak terlalu dekat dengan lawan jenis.
Sebuah mobil masuk kedalam halaman rumah Nanda, terlihat Robi yang kini tampilannya lebih rapih dengan jas yang melekat ditubuhnya. Karna biasanya Robi hanya mengenakan kemaja berdasi tanpa Jas.
"Kak Robi." Panggil Nanda tersenyum.
Hal itu membuat Pras sedikit terbakar cemburu, terlebih saat melihat Robi mencium pipi kanan dan kiri pipi Nanda. Pras memang sudah beberapa kali melihat keberadaan Robi bersama Nanda, namun hari ini Pras baru menyadari bahwa Robi mempunyai pesonanya sendiri.
"Kerja?" Tanya Nanda. "Libur-libur kerja." Cobir Nanda lagi.
"Ada beberapa berkas yang harus kamu tanda tangani, dan hari ini Kakak mau ketemu klien diluar bahas proyek jembatan layang di daerah C."
"Kak Robi keren sekali, hari liburpun tetap kerja. Ya udah ayo keruang kerjaku, kita bicarakan disana." Ajak Nanda pada Robi.
"Disya, nanti sama Auntie Ay dulu ya. Mommy ada kerjaan dulu sebentar." Ucap Nanda pada Disya yang masih betada dalam gendongannya.
"Iya Mommy." Jawab Disya menurut.
"Biarkan Disya sama aku aja Nan, aku tunggu kamu sampai selesai disini." Sahut Pras.
"Eh... Mas gak jadi pulang?" Tanya Nanda yang sebetulnya senang namun menyembunyikan perasaannya.
"Aku pegang dulu Disya, takutnya Ayla lagi repot sama Ryu. Aku tunggu sampai kamu selesai saja." Jawab Pras, padahal dirinya tengah was was takut Robi mengambil kesempatan untuk mendekati Nanda.
"Ya sudah kalau begitu." Nanda mengalihkan Disya pada Pras, "Kalau Disya ngantuk, bawa aja kekamarku, Mas. Disya slalu tidur bersamaku." Ucapnya lalu mencium kedua pipi Disya.
Pras mengangguk, bahkan dirinya akan masuk kedalam kamar Nanda, langkah selanjutnya Pras bergumam harus bisa memasuki hati Nanda juga.
Dua jam Nanda menyelesaikan pekerjaannya bersama Robi.
"Selesai juga Kak." Nanda meregangkan bagian tangannya yang pegal.
Mereka baru saja menyelesaikan diskusi tentang proyek yang akan mereka tangani. Dua jam berdiskusi dan mencapai sebuah keputusan membuat Nanda merasa lelah.
"Kak Robi gak cape hari libur dipake buat kerja?" Tanya Nanda.
"Ya capek sih, tapi aku jalanin dengan santai juga sih Nan. Bantuin Pak Aryo."
Nanda menyandarkan punggung dikursi kebesarannya. "Aku bersyukur, Kak Robi, Kak Tedy dan Om Ramli slalu setia sama Papa."
"Kami yang harusnya berterimakasih sama Pak Aryo, Nan. Karna Pak Aryo udah ngelepasin keluarga kami dari jerat hutang rentenir, kasih kerjaan yang layak buat Bapak, sekolahin aku dan Kak Tedy hingga mempercayakan jabatan tinggi diperusahaan Pak Aryo, padahal kami tidak ada hubungan keluarga."
Nanda tersenyum, "Iya Kak. Papa slalu baik sama siapa aja, aku bersyukur jadi anak Papa."
Pras terlihat sedang mengobrol bersama Aryo dan Regan diruang tamu, Pras pun meminta ijin pada Aryo karna Disya ingin menginap dirumah Aryo bersama Nanda.
Aryo dengan senang hati mengijinkannya, dan berkata bahwa ia pun sudah menganggap Disya sebagai cucunya.
__ADS_1
Sementara Disya, ia tertidur dikamar Ayla bersama Ryu. Ayla melihat Disya dan Ryu bergantian. "Mengapa wajah kalian sekilas tampak mirip." Gumam Ayla.
Ceklek..
Pintu kamar Ayla terbuka dan terlihat Nanda masuk kedalam kamar Ayla.
"Udah beres, Nan?" Tanya Ayla.
"Udah.." Nanda duduk bersama Ayla diatas tempat tidurnya. "Disya tidur juga." Tanyanya pelan sambil mengusap kepala Disya.
"Baru aja Disya tidur." Jawab Ayla.
"Mas Pras masih dibawah?"
Ayla mengangguk. "Masih, ngobrol sama Regan dan Papa."
"Ay.. Aku mau curhat.." Ucap Nanda berbisik.
"Soal dokter Pras?" Tanya Ayla menggoda.
"Haisshhh, ga seru, kamu udah tau duluan." Nanda pura-pura merajuk.
"Yahh Mommy Disya ngambek nih." Ledek Ayla.
"Serius, Ay."
"Okay.. Apa yang mau kamu curhatin soal dokter Pras?"
Nanda menggigit bibir bawahnya, Ayla tau Nanda tengah bingung dan Grogi. Ayla menggengam tangan Nanda seolah memberi kpercayaan diri pada Nanda.
"Dokter Pras bilang, kalo Disya sudah selesai menginap disini, harus gantian aku yang menginap dirumah dokter Pras." Lirih Nanda. "Menurutmu, bagaimana?"
"Aku tidak ingin mengecewakan Disya." Nanda menatap mata Ayla.
"Lalu?" Tanya Ayla mendalam.
Nanda menghela nafas. "Aku harus bagaimana?"
Ayla mengangguk. "Kamu mau jadi Mommy nya Disya?" Tanya Ayla.
"Aku menyayangi Disya, Ay. Aku tidak tega jika harus mengecewakannya. Terlebih saat aku tau Disya mengalami kepercayaan diri yang minim. Membuatku ingin slalu berada disampingnya."
"Nan, Disya ini anaknya dokter Pras. Jika kamu ingin menjadi Mommynya Disya, kamu harus menjadi Istrinya dokter Pras juga."
Nanda menggelengkan kepalanya, "Itu bukan solusi, Ay."
"Tapi itu jalan satu-satunya." Ucap Ayla santai.
"Kamu ada perasaan sama dokter Pras?" Tanya Ayla.
Nanda hanya diam, ia sendiri bingung dengan prasaanya. Nanda tidak ingin salah mengartikan perasaannya lagi.
Malampun tiba, Disya tidur bersama Nanda. Aryo bahagia melihat Nanda yang memiliki sifat keibuan meskipun sedari kecil Nanda tidak mendapatkan kasih sayang seorang ibu. Aryopun berharap, kelak Nanda bisa memiliki anak dari rahimnya sendiri dengan siapapun nanti jodohnya. Yang jelas Aryo berharap Nanda bisa memulihkan kembali hati dan mentalnya yang hancur karna ulah Raja yang berselingkuh.
Regan mendekap Ayla diatas tempat tidur mereka duduk bersandar disandaran tempat tidur. Kebiasa mereka sebelum tidur adalah bertukar cerita satu sama lain, Ayla pun bercerita soal prasaan Nanda yang kini tengah bingung.
Regan juga mulai memberanikan diri untuk membahas soal keluarga Ayla, dengan sangat hati-hati Regan memulai obrolannya bersama Ayla.
"Ay.. Apa yang akan kamu lakukan jika suatu saat kamu bertemu kembali dengan keluargamu?" Tanya Regan hati-hati.
"Entahlah." Ayla diam sejenak sebelum akhirnya berbicara kembali. "Saat aku masih remaja, aku slalu berkhayal, suatu saat ada orang yang mengaku sebagai orangtua kandungku dan menjemputku kepanti asuhan. Aku berharap memiliki kamar sendiri juga meja belajar yang slalu aku impiankan, ada ibu yang membuatkan aku sarapan dan ayah yang akan mengantarkanku sekolah, atau ada seorang kakak yang akan menjaga aku." Suara Ayla mulai terdengar berat, namun Ayla tetap mengeluarkan apa yang ada dihatinya dahulu. "Tapi seiring jalannya waktu, khayalanku menipis dan terlupakan begitu saja, aku mulai menerima kenyataan bahwa itu semua hanya khayalan, dan tidak akan menjadi nyata."
__ADS_1
Regan mengusap punggung Ayla yang masih didalam dekapannya, "Apa yang kau pikirkan tentang orang tuamu?" Tanya Regan.
"Mungkin mereka orang yang sangat tidak mampu, sehingga mereka takut tidak bisa memberikanku makan dan mereka tidak ingin aku kelaparan, karna dari itu mereka meninggalkanku didepan pintu panti." Jawab Ayla.
Regan menghela nafas, ia sangat menyukai sikap Ayla, istrinya adalah orang yang sangat baik dan juga pemaaf. Ayla memang slalu berfikir positif terhadap orang disekitarnya.
Regan terdiam, hingga hari ini, Regan belum melihat bekas luka di pa*ha Ayla seperti yang Pras ceritakan. Meski sudah tiga bulan melahirkan Ryu, Ayla masih merasa takut jika Regan mengajaknya ber*cinta. Regan pun memaklumi, bagaimana tidak, Regan sendiri yang membantu persalinan istrinya, dan Regan sendiri yang menjahit bagian inti Ayla yang robek karna melahirkan Ryu, buah hati mereka.
"Kamu belum mau pasang KB Ay?" Tanya Regan mengingatkan.
"Aku tidak mau KB, Re. Aku ingin memiliki banyak anak." Ayla tertawa.
"Berapa banyak?"
"Tiga atau empat juga boleh, dengan jarak yang berdekatan. Apa itu beresiko Re?" Tanya Ayla.
"Ya, itu sangat bahaya. Bahaya untukku karna harus berpuasa lama." Jawab Regan memberi kode, memancing reaksi Ayla.
Regan memang sudah sangat menginginkannya namun ia tidak ingin memaksa Ayla.
Ayla bangun dari dekapan Regan dan naik keatas pangkuan Regan, berhadapan dengannya. Tangan Ayla melingkar dileher Regan dan tangan Regan yang nakal spontan meremas bo*kong Ayla yang bulat.
"Ish nakal." Cibir Ayla.
"Sudah lama sekali kamu mengabaikan dia." Ucap Regan sambil melirik kebawah.
Ayla tertawa lalu mengecup sekilas bibir Regan. "Mau pulang?" Tanya Ayla sensual.
Pulang yang dimaksud adalah junior milik Regan menyatu dengan miliknya.
"Boleh?" Tanya Regan berbinar, pasalnya selain ingin mengeluarkan hasratnya yang slama ini dipendam, ia pun ingin melihat bekas luka yang dimaksud Pras.
Ayla mengangguk, "Tapi pelan. Rasa perih habis melahirkan Ryu masih terbayang. Aku ngilu sendiri membayangkannya." Ayla sedikit bergidik saat mengingat rasa perih dibagian intinya.
Regan seperti mendapat angin segar, tidak membutuhkan waktu lama, ia langsung meraup bibir Ayla, tangannya dengan lincah membuka dres ridur Ayla dan bergrilya di dua puncak gunung Ayla.
"Matikan dulu lampunya, Re." Tahan Ayla.
"Biarkan aja Baby, sesekali suasana dengan lampu menyala, aku ingin melihat jelas wajah se"xy mu." Jawab Regan dengan suara parau.
"Ishhh aku malu, Re."
Regan menelusuri leher jenjang Ayla. " Jangan malu sama aku Baby, bahkan aku sudah hapal bagian ter inti mu."
"Regan!!" Pekik Ayla pelan. Sungguh Ayla belum terbiasa membahas hal vul*gar dengan suami mesumnya ini.
Perlahan Regan merubah posisi, menidurkan Ayla yang semula berada dipangkuannya ke tempat tidur. Regan menatap wajah Ayla, ia merapihkan anak rambut yang menutupi wajah Ayla yang imut.
"Aku sangat mencintaimu, Ay." Dengan tatapan penuh damba.
Ayla mengecup sekilas bibir Regan, "Aku juga mencintaimu Re, sangat mencintaimu."
.
.
Kira-kira ada tanda bekas luka di paha Ayla gak ya** ?
Kencengin dong Like nya,
Bolehlah bagi othor hadiah apa gitu, syukur2 dikasih vote dan like bertubi-tubi sama readers tersayang, mumpung senin 😁***
__ADS_1