BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Kembali Ke Kota


__ADS_3

Disya begitu akrab dengan Nanda, gadis kecil berusia tiga tahun itu begitu senang dengan kehadiran Nanda, bahkan semalaman saat divilla, Disya lebih memilih tidur bersama Nanda dari pada dengan Pras.


Nandapun begitu menyukai Disya, ia sama sekali tak keberatan Disya begitu menempel dengan dirinya.


Tiba dikota, dirumah Pras.


Nanda turun dan mengamati rumah milik Pras.


"Masuklah." Ajak Pras.


"Ayo Mommy, Masuk." Ajak Disya yang sedari tadi menarik tangan Nanda.


"Assalamualaikum." Ucap Pras saat memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab dua orang paruh baya yang sedari tadi menunggu kepulangan Pras dan Disya.


"Oma, Opa." Disya berlari kearah Linda dan Irwan.


"Cucu Opa sudah pulang." Ucap Irwan yang menarik kunci kursi roda yang diduduki oleh sang istri.


"Sudah dong Opa. Lihat, Disya bawa Mommy pulang." Ucap Disya polos dengan menampilkan jejeran gigi susunya.


Irwan dan Linda seketika menoleh kearah wanita yang berdiri berdampingan dengan Pras.


"Mami." Ucap Pras sambil mencium pipi Linda. "Papi.." Pras pun mencium pipi Irwan.


"Pras siapa dia?" Tanya Linda dengan heran.


"Ma, biarkan dia duduk dulu. Nanti Pras jelaskan."


Pras mengajak Nanda duduk diruang tamu, sedari tadi Linda terus memperhatikannya.


Pras menceritakan kejadian divilla hingga akhirnya membawa Nanda pulang.


Linda memajukan kursi rodanya untuk menghampiri Nanda.


"Kamu tidak ingat namamu?" Tanya Linda.


Nanda menggelengkan kepalanya.


"Hana." Ucap Linda.


"Mam.." Panggil Pras seperti mengingatkan.


"Biarkan Mami memanggilnya Hana. Dia masih muda, mungkin seumur dengan adikmu, Pras."


"Mami yakin?" Tanya Irwan.


"Biarkan dia menggantikan Hana Pap, Mami sangat merindukan Hana, Mami sudah tua, Mami tidak tau apa akan bertemu kembali dengan Hana atau tidak." Ucap Linda dengan terisak.


Nanda menggenggam tangan Linda.


"Kamu Hana. Mulai saat ini namamu adalah Hana." Lirih Linda.


"Nama yang indah, terimakasih Bu." Ucap Nanda tulus.


"Panggil Mami, anggaplah aku Mamimu Nak."


Perasaan Nanda menghangat, ia tersenyum dan mengangguk.


Pras terus memperhatikan Nanda, sikap dan prilaku Nanda menunjukan bahwa Nanda merupakan wanita baik-baik.


"Oma, bolehkah Mommy tidul dikamal Disya?" Tanya Disya.


"Panggil Auntie, Disya. Jangan sampai nanti Auntie Hana tidak nyaman karna Disya memanggilnya Mommy." Ucap Linda.


"No Oma, ini Mommy nya Disya." Disya memeluk Nanda dan membuat Linda tersenyum.


"Baiklah, Oma menyerah. Dia adalah Mommymu. Mommy Hana."


Disya bersorak gembira. "Holee Disya punya Mommy."


Irwan memperhatikan Pras yang sedari tadi terus memperhatikan Nanda. Tanpa Pras sadari, sedari tadi ia terus mengulas senyum.


***


Olivia mengamuk saat dirinya mengetahui Nanda yang tlah berhasil kabur.

__ADS_1


Pak Amir dan Bu Amir merasa takut jika Olivia akan melampiaskan emosi dengan menyakitinya.


"Kalian memang tidak becus, akan kuadukan kalian pada Om Yuda biar kalian dipecat." Ujar Olivia.


Pak Amir dan Bu Amir hanya diam seribu bahasa, ia tidak ingin salah bicara.


"Pergi kalian, dan kupastikan kalian akan menjadi gelandangan." Ucap Olivia berapi-api.


Tanpa pikir panjang, hal ini dijadikan kesempatan oleh Pak Amir dan istrinya untuk keluar dari villa itu, ia akan menuju kota untuk mencari alamat Nanda.


"Semoga Non Nanda selamat ya Pak, jadi kita bisa minta bantuannya." Ucap Bu Amir.


"Iya Bu. Bapak juga berharap begitu, bapak yakin Non Nanda orang yang baik, pasti dia akan membantu kita." Jawab Pak Amir penuh harap.


Sementara dirumah sakit, Aryo meminta pulang dan ingin dirawat dirumah, Regan terpaksa mengijinkannya karna Aryo slalu meminta ingin pulang.


Untuk sementara, Ayla dan Regan tinggal bersama Aryo. Ayla hanya sesekali datang kekantor untuk memantau kinerja Raja, dan semua kerjaan ringan dipegang oleh Robi.


"Ay, istirahatlah. Kamu lelahkan?" Tanya Aryo.


"Papa jangan berfikir begitu. Ayla gak apa-apa koq Pa.."


"Maafkan Papa banyak merepotkanmu dan Regan."


"Papa tidak boleh bicara begitu, Aku dan Regan kan anak Papa juga."


Aryo mengangguk, "Semoga Nanda lekas pulang, Papa rindu Nanda."


Ayla mengusap punggung Aryo. "Papa harus kuat ya."


"Iya Ay, Papa harus kuat. Papa harus mencari Nanda."


Ayla tersenyum, "Kita akan mencari Nanda sama-sama Pa."


***


"Apa?? Nanda hilang!!" Pekik Sarah ditelpon.


Diam-diam raja yang sedang melewati kamar Sarah yang tidak tertutup rapat, langsung menguping saat Sarah menyebutkan nama Nanda.


"......"


Brakkk


Raja tidak dapat menahan diri saat mendengar Sarah mengatakan dia yang menculik Nanda bersama Olivia.


"Raja."


Olivia langsung memutus panggilannya setelah mendengar suara Raja.


"Jadi kamu sama Olivia yang menculik Nanda, dimana Nanda, antar aku kesana sekarang juga." Teriak Raja pada Sarah.


"Percuma Ja, Nanda sudah melarikan diri, dia kabur."


Raja menggusar rambutnya kebelakang, "Kenapa kalian tega menghancurkanku dan Nanda." Teriak Raja frustasi.


Sarah memutar malas bola mata, ia meninggalkan Raja yang masih meratapi dirinya sendiri.


Olivia bersiap meninggalkan Villa ketika ia tahu bahwa penjaga Villa tlah pergi karna diusir oleh dirinya.


Namun saat dirinya membuka pintu, Yuda sudah berada didepan pintu.


"Om Yuda."


"Halo sayang, kamu masih disini?" Tanya Yuda dengan wajah genitnya.


Olivia langsung bergelayut manja, "Iya Om, tadinya mau pulang, tapi ternyata Om kesini."


"Om sengaja keisini menyusulmu, Sayang." Yuda mencolek dagu Olivia. "Dimana penjaga Villa? kenapa begitu sepi?" Tanya Yuda.


"Hemm maaf Om, aku mengusir mereka. Mereka membuatku kesal." Ucap Olivia.


Yuda menarik Olivia agar duduk dipangkuannya menghadap dirinya. "Apa kamu masih kesal?"


"Tidak lagi setelah bersama Om." Jawab Olivia menggoda.


Yuda tertawa, "Baiklah, tidak usah perdulikan dua orang itu, nanti Om cari penggantinya. Sekarang divilla ini hanya kita berdua, puaskanlah Om disini juga."

__ADS_1


Olivia mengecup sekilas bibir Yuda, "Baiklah Om, Olivia akan memuaskan Om." Jawabnya yang membuat Yuda senang.


***


Keesokan paginya.


Setelah semalam Pak Amir dan Bu Amir meninggalkan Villa, mereka sempat tidur dulu disalah satu mushola diterminal bus, dan pagi sekali, mereka bergegas mendatangi alamat yang Nanda berikan.


"Ini rumahnya Pak? apa kita gak salah? besar sekali rumahnya." Ucap Bu Amir.


"Tapi bener kok Bu, ini alamat yang nona itu bilang. Jalan berlian lima nomer lima. Semoga Non Nanda sudah pulang dengan selamat." Ujar Pak Amir.


Pak Amir dan Bu Amir mendekat kearah pagar, Pak Amin security dirumah Aryo segera menghampirinya.


"Maaf cari siapa?" Tanya Pak Amin.


"Maaf Pak, kami cari Non Nanda, apa sudah pulang ya?" Tanya Pak Amir.


Pak Amin mengernyitkan dahinya, "Kenal dari mana sama Non Nanda?" Tanya Pak Amin.


Pak Amir dan Bu Amir saling memandang, kemudian Bu Amir menganggukan kepalanya.


Pak Amir membuka dompetnya dan memberikan surat kepada Pak Amin dan Pak Amin membuka juga membacanya.


"Tunggu sebentar disini." Ucap Amin, kemudian pak Amin segera masuk untuk menemui Ayla.


"Non Ayla." Pak Amin memanggil Ayla yang sedang menikmati teh pagi bersama Regan sambil menunggu Aryo bangun untuk sarapan bersama.


Ayla dan Regan menoleh kearah sumber suara. "Ada apa Pak Amin?" Tanya Ayla.


"Diluar ada orang yang mencari Non Nanda, dan mereka memberi saya surat ini." Amin menyerahkan suratnya pada Ayla.


Ayla menerima dan membukanya.


"Ya Tuhan, ini tulisan Nanda." Ucapnya sambil menutup mulutnya dengan satu tangannya.


"Lihat ini, Re." Ayla memperlihatkan surat itu pada Regan.


Dear Ayla dan Papa.


Ay, Papa.. Ini aku, Nanda.


Ayla, Kamu pasti mengenali tulisanku ini.


Olivia dan Sarah menculikku, mereka membawa dan menyekapku di villa diperbukitan, villa ini milik tuan Yuda yang tak lain ada kekasih Olivia. Kedua orang ini bernama Pak Amir dan Bu Amir, mereka membantuku untuk keluar dari villa dan membiarkanku melarikan diri. Jika aku belum sampai kerumah, tolong cari aku diperbukitan sini dan beri pekerjaan yang layak pada pak Amir dan bu Amir ini, mereka sudah menolongku. -Nanda-


Tangan Ayla bergetar membaca isi surat itu, Regan merangkul bahu Ayla.


"Papa jangan tau dulu, Ay. Aku takut kesehatan Papa jadi drop, biarlah Papa masih menganggap bahwa Nanda pergi menenangkan diri." Ujar Regan yang diangguki oleh Ayla.


"Dimana mereka Pak Amin?" Tanya Ayla.


"Di pos satpam Non."


"Ayo kita kesana."


Ayla, Regan dan Pak Amin mendatangi Pak Amir dan istrinya, mereka sengaja mengobrol dipos satpam agar tidak terdengar oleh Aryo.


Pak Amir menceritakan semuanya soal kejadian di vila, ia juga menyerahkan kalung milik Nanda.


"Tapi Nanda belum kembali, Nanda kemana Re?" Tanya Ayla putus asa.


"Sabar Ay, kita fokuskan pencarian diarea bukit." Ucap Regan yang sedari tadi setia merangkul Ayla.


Pak Amir dan Bu Amir mereka diterima dirumah Aryo, Ayla memberi pekerjaan untuk Pak Amir sementara sebagai security bersama Pak Amin, dan Bu Amir menjadi asisten rumah tangga. Mereka sangat senang sekali karna akhirnya memiliki tempat tinggal kembali meskipun menumpang dan bekerja.


"Kita harus bagaimana, Re?" Tanya Ayla.


"Kamu dan Robi cari orang untuk mengawasi gerak gerik Sarah dikantor, dan cari tau apa Bang Raja terlibat atau tidak. Soal mencari Nanda biar aku yang pegang." Jawab Regan.


Ayla mengangguk, ia harus secepatnya menemui Robi dan berbicara soal hal ini.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2