
Nanda dan Regan mengatur waktu untuk berbicara pada Ayla bertiga, mereka memilih tempat penuh kenangan mereka bersama yaitu pantai.
"Pa.. Nanti Papa datang menyusul kan ke pantai?" tanya Nanda.
Keluarga Pras tlah menyiapkan tempat di resort dekat pantai, mereka menyiapkan pesta kecil-kecilan sebagai tanda syukur Ayla yang sudah ditemukan. Walaupun semua belum tau reaksi Ayla nanti seperti apa saat Regan dan Nanda memberitahunya.
"Papa akan usahakan, Nan."
"Papi Irwan sangat ingin bertemu dengan Papa, ingin mengucapkan terimakasih pada Papa juga." Ucap Nanda.
"Papa tau itu Nan, dan Papa juga malu karna belum sempat berterimakasih secara langsung saat mereka menemukan dan merawatmu sewaktu kamu hilang ingatan."
"Mereka memaklumi itu Pa.."
"Papa tidak punya keberanian menghadapi Irwan, Nan. Ada hal yang kamu tidak tau." Batin Aryo.
Regan, Ayla dan Nanda pergi bersama ke Pantai. Setelah mereka berangkat, Pras mendatangi rumah Aryo untuk menjemput Bi Ning yang akan membawa Ryu, dan Bi Ning sendiri sudah diberitahu Regan sebelumnya jika Pras akan menjemputnya. Regan juga sudah menyiapkan koper untuk menginap diresort, karna rencananya keluarga Pras tlah menyewa Resort itu untuk beberapa hari kedepan.
Saat menjemput Ryu dan pengasuhnya, Pras sama sekali tidak melihat keberadaan Aryo, padahal Aryo tau kedatangan Pras, hanya saja Aryo mulai menghindari Pras dan Pras pun tidak menaruh curiga terhadap Aryo.
Regan, Ayla dan Nanda tiba dipantai. Mereka bermain sebentar mengenang masa sekolahnya dulu. Regan benar merubah posisinya menjadi sahabat Ayla dan Nanda.
Hingga ketiganya lelah dan duduk ditepi pantai, melihat ombak yang silih bergulung.
"Apa arti keluarga untukmu, Ay?" Tanya Nanda tiba-tiba.
"Buatku, keluarga itu adalah Papa Aryo, Nanda, Regan dan Ryu dan Ayah Haris." Jawab Ayla.
"Kalo Regan, Ryu dan Ayah Haris memang benar keluargamu, Ay. Tapi aku dan Papa......"
"Kamu dan Papa keluargaku, Nan. Stop berdebat denganku." Jawab ayla dengan kata ajaibnya yang menjadi andalannya.
Nanda tersenyum, ia yakin jika Ayla tau keluarganya, maka Ayla tidak akan melupakan Nanda juga Aryo sebagai keluarganya.
"Apa yang akan kamu lakukan jika hari ini kamu bertemu dengan keluarga kandungmu?" Tanya Nanda lagi.
"Hmm.. Apa ya? Mungkin aku akan bertanya Hai apa kabar kalian?" Jawab Ayla tertawa.
"Serius Ay.." Sahut Regan.
"Ya aku gak tau, Re.. Aku kan udah lama ga mikirin hal itu."
Mereka duduk melingkar diatas pasir pantai. "Bagaimana jika aku dan Nanda menemukan keluargamu, Ay?" Tanya Regan.
Ayla mulai mencurigai sesuatu. "Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanyanya penuh selidik.
Ayla menggenggam tangan kanan Ayla sementara Regan menggenggam tangan kiri Ayla. Lalu Regan menatap Nanda dan Nanda menganggukan kepalanya memberi isyarat untuk mulai memberitahu Ayla.
Dokter Pras, adalah keluargamu Ay. Dia adalah Kakakmu, dan kedua orang tua dokter Pras, mereka juga orang tua kandungmu." Ucap Regan memberitahu Ayla.
"Jangan ngarang, Re. Orang tuaku adalah orang yang tidak mampu, mereka sangat miskin sehingga menitipkan aku dipanti asuhan agar aku dapat kehidupan yang layak." Ujar Ayla.
"Ay.. Namamu yang sebenarnya adalah Hana. Kamu diculik sewaktu kamu berumur satu tahun, dan entah mengapa kamu bisa berada dipanti itu. Tapi takdir membawamu kembali bertemu dengan keluargamu. Saat kita menjenguk Disya, Papimu begitu memiliki firasat bahwa kamu adalah anaknya yang hilang slama ini. Wajahmu begitu mirip dengan Mami semasa muda, bentuk dan warna mata yang juga sama, dan kalian hanya memiliki satu lesung pipi." Nanda menjelaskan perlahan.
"Dan luka didekat pangkal pahamu itu, itu adalah luka saat kamu dan dokter Pras berenang, kamu terpeleset dan kakimu tergores pecahan keramik yang cukup dalam sehingga harus dijahit, dan dokter Pras sangat mengingat kejadian itu." Sahut Regan memperkuat ucapan Nanda.
Ayla menggelengkan kepalanya, "Engga, ini gak bener. Kalian cuma prank aku aja kan?"
Regan mengeluarkan amplop berisikan hasil test DNA Ayla, dan memberikannya pada Ayla. Dengan segera Ayla membuka dan membacanya.
"Aku mengambil sampel rambutmu untuk dicocokan dengan rambut Papimu. Dan hasilnya cocok, Ay."
Tangan Ayla bergetar.
"Orang tuamu bukan membuangmu Ay, kamu bukan anak yang dibuang, kamu juga bukan anak yang tidak di harapkan. Kamu korban penculikan, slama ini mereka mencarimu Ay. Mereka tidak pernah berhenti mencarimu." Nanda terus meyakinkan Ayla.
"Jadi mereka yang kutemui saat menjenguk Disya adalah orang tuaku? Dokter Pras adalah Kakakku? dan Disya adalah keponakanku?" Tanya Ayla yang diangguki oleh Regan dan Nanda.
Nanda memeluk Ayla, "Kamu harus bahagia, Ay. hidupmu sudah sempurna, selain ada Regan dan Ryu, sekarang ada kedua orang tuamu, Kakak dan keponakanmu juga."
Regan pun ikut memeluk Ayla. "Terimalah mereka, Ay. Bukan salah mereka membuatmu seperti ini."
__ADS_1
Ayla mengangguk didalam pelukan Nanda, menangis haru dalam dekapan sahabatnya itu. "Antar aku menemui mereka."
Nanda dan Regan melepas pelukannya kepada Ayla.
"Mereka ada disini, ada diresort dekat sini." Ujar Nanda.
"Kalian merencanakan ini?" Tanya Ayla yang mengusap air mata dipipinya.
"Papimu yang merencanakan ini." Jawab Regan.
Regan dan Nanda membawa Ayla ke Resort yang sudah disewa oleh Irwan.
Ayla begitu terharu bertemu dengan keluarganya, tak henti-hentinya Ayla menangis didalam pelukan Linda dan Irwan.
"Kamu Hana kami, Nak. Kami mencintaimu." ucap Linda.
"Maafkan kami yang kurang maksimal mencarimu, Han." Ucap Irwan.
"Tidak, kalian tidak salah. Aku tidak menyalahkan kalian." Jawab Ayla.
"Panggil kami Mami dan Papi, Han. Kami adalah orang tua kandungmu."
Pertemuan itu begitu mengharukan, hingga Nanda bersandar pada bahu Pras.
"Bersiaplah, setelah ini aku akan melamarmu. Mungkin bulan depan." Bisik Pras.
"Baiklah dokter Pras, aku akan menunggumu." Jawab Nanda. "Kamu belum nyamperin Ayla, bukankan dia adikmu?" Tanya Nanda lagi yang kini melepaskan sandarannya.
"Kamu benar, aku akan kesana dulu." Pras melangkah menghampiri Irwan, Linda dan Ayla.
Regan mendekat pada Nanda. "Are you okay Nan?" Tanya Regan.
"Aku tidak pernah sebaik ini, Re." Jawab Nanda.
Regan merangkul bahu Nanda. "Kamu juga harus bahagia, aku rasa Mas Pras akan membahagiakanmu."
"Kali ini kamu merestui?"
"Tentu saja." Jawab Regan dan mereka berdua tertawa pelan.
Nanda menelpon bodyguard sekaligus supir nya untuk menjemputnya diresort.
"Kamu tidak akan menginap disini?" Tanya Pras kecewa saat melihat Nanda tidak jadi membenahi isi kopernya kedalam lemari.
"Aku khawatir sama Papa, aku takut Papa drop lagi, Mas. Maafin aku ya. Papa hanya punya aku."
Pras mencoba mengerti Nanda. "Kenapa telpon Bang Heru, aku kan bisa mengantarmu."
"Mas, keluargamu baru saja menemukan Hana, habiskanlah waktumu bersama adikmu." Nanda begitu mengerti Pras.
"Lusa aku kembali, nanti aku kerumah." Ucap Pras yang kemudian mencium bibir Nanda dan Nanda meresponnya.
Nanda tidak berpamitan pada Ayla dan Regan, ia tidak ingin membuat Ayla khawatir pada Aryo.
Dengan berat hati, Pras mengantar Nanda ke loby resort, melepas Nanda untuk pulang kerumahmya.
"Aku akan merindukanmu." Ujar Pras.
"Ish lebay, cuma dua hari juga gak ketemunya." Ledek Nanda.
"Bukan hanya gak ketemu, tapi juga gak bisa nyosor."
Nanda tertawa, "Da*sar dokter Pras mesum."
Pras ikut tertawa, "Abis nikah, kamu akan habis aku makan."
"Oh ya, coba aja." Goda Nanda.
"Haishh untung kamu pulang. Kalo gak, bisa khilaf aku Nan."
"Benarkah, mau dong di khilafin kamu." Nanda terus saja menggoda Pras.
__ADS_1
Entah mengapa kini Nanda berani seperti itu, mungkin karna Pras yang slalu menggoda Nanda dengan kemesumannya sehingga membuat Nanda jadi ikut mesum seperti itu.
Nanda tiba dirumah saat menjelang malam. Ia segera masuk kedalam kamar Aryo untuk melihat keadaannya.
"Papa..." Panggil Nanda.
Aryo yang sedang duduk dikursi pijatnya pun langsung menghentikannya dan segera berdiri.
"Koq sudah pulang? Tidak menginap?" Tanya Aryo.
"Papa bikin aku khawatir. Papa tidak datang dan juga tidak menjawab telponku."
"Maafkan Papa. Hanya saja Papa memang tidak bisa datang."
Nanda mengajak Aryo duduk disofa dalam kamar Aryo. "Apa yang Papa sembunyikan dari Nanda?" Tanya Nanda mendalam.
Aryo menatap mata Nanda, "Kamu itu percis sekali seperti Mamamu, slalu mencurigai Papa." Aryo tertawa. "Papa merindukan Mamamu Nan, sangat merindukannya." Lirihnya yang kini mengeluarkan air mata.
"Papa..." Nanda mengusap punggung Aryo.
"Sebenarnya apa yang Papa sembunyikan dari aku Pa?"
Aryo tetap menggelengkan kepalanya, namun Nanda semakin curiga.
"Papa tidak menyayangiku. Papa tidak mau menceritakan masalah Papa padaku." Nanda merajuk.
Aryo menghela nafasnya, "Kamu akan kecewa jika kamu tau Nan, bahkan mungkin kamu akan meninggalkan Papa."
Nanda semakin penasaran, "Apa Pa, ada apa?"
"Ah sudahlah." Aryo menghela nafas, "Bagaimana Ayla." Aryo mengalihkan pembicaraan.
"Ayla sangat bahagia, Pa. Akhirnya Ayla menemukan keluarganya."
"Kamu bersedih?" Tanya Aryo mendalam.
Nanda menggelengkan kepalanya. "Nanda bahagia melihat Ayla bahagia. Sekarang hidup Ayla sudah kumplit Pa, ada Regan suaminya, Ryu anaknya, Mas Pras sebagai kakak kandungnya, dan orang tua yamg kumplit." Nanda menyandarkan kepalanya dibahu Aryo.
"Nanda cuma punya Papa." Lirih Nanda lagi.
Aryo merangkul Nanda. "Apapun yang terjadi nanti, kamu harus bahagia Nan, Papa ingin anak Papa slalu bahagia." Ujar Aryo.
"Dan Papa harus slalu sehat agar bisa melihat Nanda bahagia."
"Ya, kamu benar. Papa harus sehat dan menyaksikan kamu slalu bahagia."
"Tak bisakah Papa menceritakan apa masalah papa padaku?" Tanya Nanda kembali ketopik semula.
"Masalah Papa akan membuatmu tidak bahagia, Papa tidak akan menceritakan hal yang membuat tidak bahagia."
"Bagaimana jika aku memohon?" Tanya Nanda memelas.
Aryo diam sejenak,
"Papa adalah orang yang jahat."
Jedarrrr..
Suara petir begitu menggema diluar sana, menandakan akan turun hujan yang sangat deras.
.
.
Kira-kira Aryo mau ceritain apa ya?
Tebak-tebakan dikoment yuk..
Biar rame gitu komentnya..
Biar Othor juga ada kerjaan bacain koment satu persatu.
__ADS_1
Siapa tau jadi Inspirasi othor di bab selanjutnya.
Love u Readersku.. 😘