BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Ini Gila!!


__ADS_3

Siang hari Nanda mampir kekantor milik Ayla.


Ayla baru saja selesai meeting dengan kliennya.


"Hai Nan." Sapa Ayla saat melihat Nanda sudah menunggunya diruangan kerja Ayla.


Nanda tersenyum dan segera memeluk Ayla.


"Aku kira kamu gak kerja." Ucap Nanda.


"Kenapa harus gak kerja?"


Nanda mengerdikan bahunya. "Pacaran kali sama Regan." Ucapnya asal.


Ayla tertawa, "Asal banget kalo ngomong, Nan."


"Tapi bener kan? Regan nginep diapartemen kamu kan, Ay."


"Jangan mikir macem-macem Nan. Nginep doang, gak ngapa-ngapain."


"Jadi, gimana ceritanya bisa ketemu sama Regan? kamu hutang penjelasan sama aku." Ucap Nanda sedikit merengut.


Ayla mulai menceritakan tragedi yang menimpanya, hingga ia bisa bertemu dengan Regan.


"Ay, kenapa ga ngabarin aku kalau kamu kecelakaan?"


"Kamu pasti akan menyusulku ke kota B dengan paniknya, aku tau kamu seperti apa Nan."


"Ya karna aku menyayangimu, Ay." Nanda menghela nafas. "Aku cuma punya kamu dan Papa."


"Ada Raja juga, Nan." Sahut Ayla bijak. "Juga ada Regan." Ucapnya lagi.


"Iya, kamu benar, ada Mas Raja." Diam sejenak, "Kamu gak cemburu sama Regan?" Tanya Nanda.


Ayla mencubit kedua pipi Nanda, "Kita bertiga ini sahabat, Nan. Kalo kita lagi bertiga, kita tetap sahabatan. Status suami istri itu berlaku kalo lagi berdua aja sama dia."


Nanda mengangguk, "Nanti kalo udah nikah, jangan canggung sama aku ya, Ay."


"Iya Nanda cantik, kamu tenang aja."


"Jadi kapan kalian akan menikah?" Tanya Nanda.


"Aku gak tau, Nan." Jawab Ayla mengalihkan pandangannya kedepan.


Nanda mengernyitkan dahinya, "Kenapa?"


Ayla mengerdikan bahunya, "Entahlah, Regan hanya bilang akan menikahiku tapi tidak membicarakan lebih lanjut soal hubungan kami kapan menikah dan apa persiapannya."


"Jadi kamu belum dilamar Regan secara resmi gitu?" Tanya Nanda heran.


Ayla mengangkat kedua telapak tangannya dan memperlihatkan jari-jarinya yang masih kosong, "Tidak ada cincin dijariku, Nan." Ucapnya miris.


Nanda berdecak, "D*sar anak itu."


"Lucu ya Nan." Ayla menghela nafas sejenak "Aku terbiasa menyiapkan konsep EO untuk pasangan yang akan tunangan maupun menikah, tapi aku sendiri tidak pernah merasakan bagaimana indahnya dilamar seorang pria."


Nanda mengusap punggung Ayla, seolah menyalurkan kekuatan untuk sahabatnya itu.


"Tapi aku gak mau berkhayal terlalu tinggi Nan, aku bersyukur Regan dan Ayah Haris mau menerimaku dan tidak pernah mengungkit asal usulku."


Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Regan mendengar percakapan Ayla dan Nanda. Regan yang datang akan mengajak Ayla untuk makan siang bersama karna tidak jadi bertemu dengan Haris. Namun ketika akan masuk keruangan Ayla, tak sengaja Regan mendengar percakapan Ayla dengan Nanda.


"Dasar wanita, slalu baperan." Batin Regan sambil tersenyum smirk lalu menggeser pintu dan masuk.


Suara pintu tergeser membuat Ayla dan Nanda seketika mengalihkan padangannya dan melihat kearah pintu. "Regan." Pekik Ayla dan Nanda bersamaan.


"Kamu bukannya makan siang sama Ayah?" Tanya Ayla bingung.


"Ayah gak bisa, ada kerjaan lain katanya." Jawabnya santai lalu mendaratkan diri duduk disebelah Ayla.


"Kenapa gak pulang aja?"

__ADS_1


"Buang-buang waktuku Ay diapartemen sendirian. Besok aku harus kembali lagi ke Kota B. Malah ditinggal kamu kerja."


"Re, kamu tuh sekarang kelihatan bucin sama Ayla." Sahut Nanda.


Regan hanya menggaruk tengkuknya.


"Kamu sering kesini, Nan?" Tanya Regan mengalihkan pembicaraan.


"Hampir tiap hari." Bukan Nanda yang menjawab melainkan Ayla yang menjawab.


"Kamu gak kerja Nan?" Kini Regan serius bertanya pada Nanda.


"Udah ada Mas Raja, Re." Jawab Nanda.


Regan ingin berkata lebih namun tertahan ditenggorokannya, sebanarnya Regan mempunyai firasat tidak enak tentang rumah tangga Nanda dan Raja.


"Cari kesibukan lah Nan, setidaknya jika kamu kembali kekantor, kamu ada kesibukan." Ucap Regan bijak.


"Aku malas Re, semua pekerjaanku sudah diselesaikan oleh Mas Raja." Nanda menghela nafas. "Aku dan Mas Raja lagi berencana program anak, Re." Ucap Nanda.


"Aku kira kau sama Bang Raja nunda momongan, Nan."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Kami belum dipercaya, Re." Nanda tersenyum seolah dipaksakan.


Regan meraih kertas dan pena dimeja kerja Ayla, lalu bertanya pada Nanda. "Periodemu lancar?" Tanya Regan.


Nanda membulatkan kedua matanya, "Regan!!" Pekik Nanda yang merasa Risih, sahabatnya itu bertanya soal hal pribadi.


"Jangan lihat aku sebagai pria, Nan. Anggaplah aku dokter yang akan membantumu."


Wajah Nanda bersemu merah, "Engga!! Aku gak mau konsultasi sama kamu."


Regan menarik nafasnya dalam dan menghembuskannnya kasar. "Aku hanya bertanya, apa periodemu lancar?" Bertanya saja tidak kamu jawab, apa lagi jika aku memeriksamu?"


Nanda melempar bantal sofa kearah Regan dan Regan menangkapnya. "Jangan berfikir macam-macam, Re. Kamu pasti sudah sering melihat bentuk wanita." Ucap Nanda ambigu.


"Pikiran kamu kebanyakan traveling, Nan. Aku ini udah disumpah saat menjadi dokter, mana ada mikir aneh-aneh."


"Nan, kalo kata aku sih, ini kah sekedar konsultasi. Gak ada salahnya kan cerita."


Akhirnya Nanda menyerah dan menjawab setiap pertanyaan Regan. "Periodeku lancar, dan aku jarang sekali mengalami keram perut atau hal lainnya."


"Bang Raja masih merokok?" Tanya Regan lagi karna seingat Regan, kakak tirinya itu perokok.


"Masih, tapi jarang." Jawab Nanda.


Regan menuliskan sesuatu disecarik kertas.


"Tebus vitamin ini di apotik, minum dua kali sehari. Dan untuk Bang Raja, ajaklah dia berolah raga. Nan."


Nanda hanya diam menatap tulisan tangan Regan.


"Dan jangan bilang Bang Raja, jika aku yang memberikan resep ini."


Nanda mengangguk tanda paham.


***


Sementra dikantor ARDA Karya, Raja tidak fokus saat bersama dengan Sarah disatu ruangan.


Sarah berdiri dari meja kerja yang biasa dipakai Robi dan menghampiri meja kerja Raja. "Berkas ini sudah selesai." Ucap Sarah dingin.


"Ya." Jawab Raja singkat.


Saat Sarah akan keluar dari ruangan Raja, Raja memanggilnya. "Sarah." Raja ingin bicara serius dengan Sarah, untungnya Robi sedang diluar untuk bertemu klien mewakili Raja.


Sarah memberhentikan langkahnya,


"Sar, keluarlah dari perusahaan ini. Aku tidak mau menyakiti Nanda jika ia tau sekertarisku adalaha bagian dari masa lalu ku. Maaf, aku tidak bisa membantumu." Ucap Raja.


"Kamu takut ketahuan dan Nanda sakit hati atau takut ketahuan lalu kehilangan kemewahan yang sudah Nanda berikan padamu?" Tanya Sarah sinis.

__ADS_1


"Sar!!" Raja berdiri dari duduknya.


"Raja, aku mengenalmu, kamu itu ambisius, aku yakin kamu menikahi Nanda bukan karna cinta. Entah apa yang membuatmu menjadi seambisius ini?"


Raja tertawa seolah mengejek, "Kamu tanya apa yang membuatku begini? apa kamu tidak berkaca? Papa mu yang sombong itu menghinaku dan merendahkanku."


"Aku sudah bilang jangan temui Papa, tapi kamu nekat sendiri, Ja."


"Iya, aku nekat dan aku bodoh, dengan begitunya percaya padamu yang ternyata diluar negri kamu menduakanku, memasang foto mesramu dengan kekasihmu, lalu aku bertemu dengan Nanda setelah kamu memutuskan hubungan kita secara sepihak, aku merasa nyaman dengan Nanda, apa itu salah?"


Sarah mendekat pada Raja Raja, tangannya bermain diatas jas mahal Raja, percis dibagian dada Raja. "Kamu cemburu?" tanya Sarah dengan Nada sensual.


Raja hanya memejamkan matanya, entah mengapa ada perasaan lain yang ia dapati bersama Sarah yang tidak pernah ia dapati saat bersama Nanda.


"Sarah, stop!!" Raja menengadahkan kepalanya seolah menahan hasrat yang kini menyerang dirinya.


"Kamu menyukai sentuhanku? Apa sentuhanku sama dengan sentuhan istrimu?" Sarah masih saja terus menggoda Raja.


Tangan Sarah kini turun kebagian bawah Raja yang sudah terlihat menonjol, kemudian menyentuh dan sedikit meremasnya.


"Kamu menginginkannya? hem?" Sarah mendorong Raja hingga terduduk dikursi kebesarannya.


Sarah naik kepangkuan Raja dan mulai menciumnya dengan brutal, Raja yang tidak bisa menahannya langsung membalas ciuman Sarah, tangan Raja sudah bergerilya masuk kedalam blouse kerja Sarah.


"Sar.. Akh..." Desan Raja saat milik sarah sengaja ia gesekan di atas pusaka Raja."


Sarah semakin menggila, ia menenggelamkan wajah Raja dikedua dadanya yang terbilang besar.


Raja dengan cepat melahap kedua gunung kembar Sarah secara bergantian.


"Kamu mencintaiku Ja, kamu hanya mencintaiku." Ucap Sarah terengah-engah.


"Puaskan aku, Sar. Aku tidak dapat menahannya."


Sarah turun dari pangkuan Raja dan berlutut didepannya, perlahan Sarah membuka ikat pinggang yang melingkar dipinggang Raja dan menurunkan resletingnya, terlihat pusaka Raja yang sudah berdiri kokoh, Sarah tersenyum smirk dan mulai melahap pusaka Raja, tangan Raja terulur di atas kepala Sarah seolah membantu menggerakan naik turun sesuai ritmenya., Hingga Raja tiba dipelepasannya, Raja mengerang dan menengadahkan kepalanya keatas.


"Eungggg"


Sarah menatap puas kepada Raja.


Raja mengatur nafasnya dan mulai membersihkan bagian yang kotor menggunakan tissue basah yang selalu tersedia dilaci kerjanya.


Raja membenahi kembali pakaiannya, begitupula dengan Sarah. Kini Sarah duduk percis bersebrangan dengan Raja dimeja kerjanya.


"Masih bilang sudah tidak mencintaiku dan aku ini hanya masa lalumu?" Tanya Sarah mengerling nakal.


"Ini gila Sar." Ucap Raja sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya diatas meja.


"Gila tapi kamu begitu menikmatinya dan kamu pun tidak menolaknya."


Raja hanya diam, dia merutuki dirinya yang bisa berbuat tak senonoh dikantor milik mertuanya itu.


"Nikahilah aku, Ja. Aku rela jadi yang kedua dan menjadi simpananmu."


"Hah.."


.


.


Pelakor sudah tiba,


Harap bijak ya readers, memang alurnya dibuat seperti ini.


Mau bilang apa sama Raja?


Mau bilang apa sama Sarah?


Please Komentt.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2