BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Pebinor


__ADS_3

"Mas, bisa kita bicara sebentar?" Tanya Nanda pada Pras.


Pras yang sedang duduk mendongakan wajahnya, kemudian berdiri dihadapan Nanda.


"Baiklah, kita keluar ya." Ajak Pras yang diangguki oleh Nanda.


Mereka keluar setelah berpamitan pada Ayla dan Regan.


"Aku lihat, dokter Pras terus memperhatikan Nanda."


"Kamu memperhatikan dokter Pras, Ay?" Tanya Regan.


Ayla menatap Regan dengan menyipitkan kedua matanya, "Jangan bilang kalo kamu cemburu sama dokter Pras, Re."


Regan tertawa, "Aku cemburu dengan semua pria yang dekat denganmu, Ay."


Ayla menghela nafas, "Oh my God, Re... kamu posesif juga."


Regan memeluk Ayla dan mengecupi puncak kepala Ayla dengan gemas. sedari dulu Regan memang suka menggoda Ayla dan melihatnya cemberut.


Suster masuk membawakan bayi mereka untuk diberikan asi.


"Terimakasih Sus." Ucap Ayla yang diangguki dengan senyuman oleh Suster, kemudian suster itu meninggalkan kamar perawatan Ayla.


"Dia tampan sekali." Ucap Ayla yang menyisir wajah bayi mungilnya dengan jari-jarinya.


"Bibit terbaik yang aku tanamkan dirahimmu, Ay."


"Ishh pede sekali Papa mu itu, sayang." decak Ayla.


"Ryuga Elvano Aditya, itu nama bayi kita, Ay."


"Kamu belum minta persetujuanku, Re."


"Tapi nama ini bagus, Ay. Artinya anak lelaki pertama yang penuh kharismatik dan berderajat tinggi." Kata Regan menjelaskan.


"Baiklah, aku setuju." Jawab Ayla pasrah.


Sementara Nanda dan Pras kini saling diam, Pras sendiri bingung ingin mulai bicara dari mana, dan Nanda juga seperti grogi berdekatan dengan Pras.


"Kita mau ngobrol dimana, Mas?" Tanya Nanda memulai pembicaraan sambil menunggu lift terbuka.


"Dikafetaria gimana? tadi kamu belum sempat sarapan kan, dan ini sudah masuk jam makan siang."


Nanda menggelengkan kepalanya, "Disana ada Papa dan Ayah. Bisa kita bicara ditempat lain tanpa harus keluar dari rumah sakit?"


"Kamu gak laper?" Tanya Pras.


"Aku akan makan nanti, Mas." Jawabnya.


Pras nampak berfikir, "Diruangan aku saja."


"Apa tidak apa-apa jika ruangan kerja dipakai untuk urusan pribadi?" Tanya Nanda.


Pras tersenyum devil, "Memangnya kita mau ngapain? hem?" Pras menaikan satu halisnya.


Nanda menjadi semakin gugup, selama kenal dengan Pras, baru kali ini Pras terlihat lebih berani menggoda Nanda.


"A.. aku..." Nanda bingun apa yang ingin ia katakan.


"Rumah sakit ini milik keluargaku, kamu tidak perlu khawatir." Pras menarik tangan Nanda sambil tersenyum dan masuk kedalam lift untuk menuju ruang kerja Pras.


Nanda duduk disofa diruang kerja Pras dan Pras duduk tak jauh dari Nanda.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" Tanya Pras membuka pembicaraan.


Nanda menghela nafas untuk mengusir kegugupannya. "Aku mau ucapin terimakasih, karna Mas Pras sudah menolong aku hingga ingatanku kembali dan aku bisa kembali pada keluargaku."


Pras yang sedari tadi menatap mata bulat Nanda membalas perkataan Nanda. "Aku terima ucapan terimakasihmu. Dengan satu syarat."

__ADS_1


Nanda mengernyitkan dahinya, "Apa?"


"Tetaplah jadi Mommy nya Disya, meskipun kamu bukan istriku." Suara Pras terdengar berat.


"Maafkan aku, Mas. Aku bukan wanita single." Ucap Nanda pelan seperti tak percaya diri.


Pras mendekat duduk dengan Nanda, sangat dekat.


Deg.. deg.. degggg


Jantung Nanda berdegup sangat cepat seperti habis maraton.


"Ucapanku belum selesai, Nanda." Tangan Pras terulur untuk menyelipkan rambut Nanda dibelskang telinganya dan menatap wajah teduh Nanda.


"Tetaplah jadi Mommy nya Disya, meskipun kamu bukan istriku saat ini. Karna setelah kamu resmi bercerai dengan suamimu, aku akan segera menikahimu."


Cupp


Tanpa Pras rencanakan, ia mencium sekilas bibir Nanda lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.


"Mas!!" Pekik Nanda karna terkejut.


"Maaf Nan." Pras menangkup wajah Nanda dengan kedua tangannya. "Tadinya aku hampir menyerah saat dirumah kamu bilang sudah menikah, aku ingin mencoba mengikhlaskan melepasmu, tapi saat aku tau rumah tanggamu yang retak, entah mengapa aku merasa ada harapan. Mungkin aku terlihat seperti pebinor yang mengharapkanmu bercerai dengan suamimu, tapi sungguh aku tidak ingin melepasmu."


Nanda berdiri dari duduknya, "Mas ini gak benar, maaf aku harus kembali kekamar ayla." Nanda mambalikan tubuhnya dan segera keluar dari ruangan Pras.


"Pras, apa yang kau lakukan??" Pras menggusar rambutnya kebelakang. Sungguh ini diluar kendalinya.


Nanda kembali masuk kekamar perawatan Ayla dengan jantung yang berdegup kencang, "Ya tuhan, kenapa Mas Pras jadi seperti itu, dan kenapa aku tidak bisa marah sama Mas Pras?" Batinnya.


"Nan, are you okay?" Tanya Ayla yang merasa heran melihat Nanda hanya bersandar pada pintu yang baru saja Nanda tutup sendiri.


Nanda terkesiap, lalu mencoba mengendalikan pikiran dan hatinya yang tak karuan itu.


"Regan mana, Ay?" Tanya Nanda mengalihkan perhatian, kebetulan diruangan itu hanya ada Ayla yang baru saja selesai menyusui sang putra.


"Ke poli, praktik dulu sebentar." Jawab Ayla.


"Kenapa mirip sekali Regan?" Tanya Nanda asal.


"Ya jelas lah Nan, kan Regan Papanya."


"Takut banget gak diakui sampe plek mirip Regan bgini." Nanda tertawa. "Kamu terlalu cinta sama Regan, Ay. Makanya bayi kalian mirip Regan banget. Siapa namanya?"


"Ryuga Elvano Aditya, kami sepakat memanggilnya Ryu."


"Lucu sekali, Ay. Andai aku diberi seorang anak." Gumam Nanda yang terdengar oleh Ayla.


Ayla megusap punggung Nanda. "Suatu saat, pasti Tuhan akan mempercayaimu seorang anak, Nan. Jangan sedih ya."


Nanda menyimpan Ryu di box nya dan duduk bersebelahan dengan Ayla di brankar. "Aku akan menggugat cerai Mas Raja, dan aku akan fokus pada kesehatan Papa dan perusahaan. Aku tidak berharap lagi mendapatkan cinta, cukup satu kali aku gagal dan membuat Papa kecewa, Ay." Nanda mulai meniitikan air matanya.


"Jangan seperti itu, Nan."


"Mungkin Mas Raja selingkuh karna aku tidak bisa memberinya anak, bukan dia yang bermasalah, Ay. Tapi aku yang bermasalah dan tidak bisa memberinya seorang anak." Nanda menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menangis.


Ayla menarik Nanda untuk memeluknya dan mengusap punggungnya, "Ceritakan padaku apa yang terjadi, Nan."


Setelah Nanda tenang, Nanda mulai menceritakan semuanya pada Ayla. "Jauh sebelum Mas Raja selingkuh, Rumah tanggaku dengan Mas Raja memang tidak harmonis, Ay." Nanda menjeda kalimatnya dan mulai bercerita lagi, "Kami jarang melakukan hubungan suami istri, Mas Raja seperti tidak berhasrat padaku, Ay. Tapi saat aku melihat Mas Raja membawa perempuan itu kerumah kami, dan melakukan nya dikamar kami, aku melihat Mas Raja begitu bergai*rah, tidak seperti saat bersamaku." Suara Nanda terdengar seperti tertahan ditenggorokannya. "Mungkin sedari awal, memang Mas Raja tidak mencintaiku, Ay. Terlebih saat aku tidak kunjung memberinya anak." Nanda mengeluarkan rasa sesaknya yang tertahan dihati slama ini.


Ayla mengeratkan pelukannya pada Nanda, "Kamu tidak salah, Nan. Memang Raja yang tidak pernah bersyukur."


"Aku tidak sempurna, Ay. Mas Raja benar-benar menghancurkan mentalku." Nanda semakin menangis didalam pelukan Ayla.


***


Seminggu berlalu, baik Raja maupun Sarah dan Olivia belum mengetahui tentang Nanda yang sudah kembali. Urusan kantor sepenuhnya dipegang oleh Robi, Nanda tidak tau dimana ponselnya berada, karna hingga kini mobil dan semua barang Nanda didalamnya tidak diketahui keberadaannya, hingga Robi menemukan info tentang mobil Nanda yang tlah dijual dipenadah mobil bodong oleh Olivia.


"Mereka benar-benar ingin mengambil aset-asetku." Geram Nanda.

__ADS_1


Ayla menenangkan Nanda, kini Ayla dan Regan tetap tinggal dirumah Aryo untuk menenami Nanda dan Aryo. Sementara Pras, setelah kejadian hari itu, dirinya semakin tidak percaya diri bertemu dengan Nanda.


"Langkah apa yang mau kamu ambil, Nan?" Tanya Aryo.


"Nanda akan menggugat cerai Mas Raja, Pa. Setelah itu mengeluarkan Mas Raja dari perusahaan dan nengambil kembali semua saham yang berada di Mas Raja."


"Kamu akan menemui Raja?"


"Belum, Pa. Biar pengacara dulu yang nenemui Mas Raja. Dan Nanda akan menghancurkan Olivia juga Sarah yang sudah berani menculik Nanda. Biarkan Bu Amir dan Pak Amir disini Pa, mereka akan menjadi saksi jika diperlukan."


"Papa akan membuat mereka menyesal karna tlah menyakiti putri Papa."


Disisi lain, Pras tengah memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu kembali dengan Nanda, ia ingin bertanya pada Regan namun sedikit tidak percaya diri.


"Daddy, kenapa Mommy tidak pernah pulang kesini lagi?" Tanya Disya.


Tiba-tiba Pras tersenyum, ia menemukan cara untuk kembali bertemu bahkan terus berhubungan intens dengan Nanda.


"Disya mau ketemu Mommy?" Tanya Pras.


Disya mengangguk,


"Disya mau tidur sama Mommy lagi?"


Disya mengangguk,


"Disya mau Mommy jadi Mommy Disya beneran?"


"Yes Daddy, Disya mau itu semua."


Pras melihat jam didinding kamar Disya, waktu masih menunjukan pukul delapan malam.


"Kita kerumah Mommy sekarang, ya. Nanti Disya bilang sama Mommy, kalo Disya mau tidur sama Mommy, okay?"


Disya mengangguk dengan cepat, "Okay Dad, Disya mau."


Pras segera beranjak dan mengajak Disya untuk kerumah Nanda.


"Mau kemana Pras?" Tanya Linda yang sedang menonton televisi diruangan televisi.


"Emm ini Mam, Disya bilang kangen sama Hana, eh maksud Pras, Disya kangen sama Nanda." Jawab Pras grogi.


"Disya atau Daddy nya yang kangen Nanda?" Goda Irwan.


"Benarkah itu Pras?" Tanya Linda, "Kamu tidak boleh suka pada istri orang, apa kamu mau jadi pebinor Pras?" Tanya Linda lagi.


"Jangan khawatir Mam, Nanda itu calon Janda, Papi sudah mencari tau latar belakang Nanda." Sahut Irwan santai.


"Papi cari tau soal Nanda?" Pras terkejut mendengar perkataan Irwan.


"Papi hanya ingin tau saja, Pras." Irwan menjeda kalimatnya. "Lalu apa kamu mau kerumah Nanda sekarang?"


"Iya Pap, Disya bilang kangen Nanda." Jawab Pras.


"Daddy nya yang kangen, anak yang jadi senjatanya." Cibir Linda.


"Mami tidak mau Nanda jadi menantu Mami?" Tanya Irwan.


"Tentu saja mau." Jawab Linda.


"Ya sudah pergi sana Pras, nanti keburu malam. Sampaikan salam Mami pada Nanda." Ucap Linda yang membuat Pras menjadi semangat.


Pras membawa Disya menuju rumah Nanda


diperjalanan, Disya terus saja berceloteh, sementara Pras, ianterus mengulas senyum karna pada akhirnya akan bertemu dengan Nanda kembali.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2