
Jari jemari yang lentik mulai bergerak seiring mata yang perlahan terbuka.
Dinding berwarna putih dan tirai berwarna biru muda serta sedikit tercium aroma disinfektan menandakan bahwa Ayla sedang berada dirumah sakit.
"Akhh" Sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.
Ayla mengedarkan pandangannya dan tidak melihat seorangpun bersamanya. Sungguh malang nasib Ayla, ia hanya sebatang kara, mungkin jika ada Nanda, Nandalah yang akan menemaninya.
Ayla segera menekan tombol untuk memanggil suster.
Suster yang datang mulai memeriksa keadaan Ayla.
"Sus, siapa yang membawa saya kesini?" Tanya Ayla dengan lemah.
"Warga yang melihat kecelakaan dan menolong ibu, lalu membawanya kerumah sakit ini."
Ayla teringat, dirinya tertabrak lalu tak mengingat apa-apa lagi.
"Suster tau gak tas dan ponsel saya ada dimana? saya mau menghubungi teman saya."
"Kamu cari ini?" Tanya seseorang yang masuk begitu saja diruangan Ayla sambil memperlihatkan ponsel ditangannya.
Suara itu? Suara yang Ayla rindukan, suara yang sudah tujuh tahun tidak ia dengar lagi.
Ayla menoleh kearah sumber suara, matanya terbelalak saat melihat wajah yang ia rindukan, wajah dan postur yang sedikit berubah. Regan yang kerempeng kini berubah menjadi sosok pria tampan dengan postur tubuh kekar.
Regan semakin tampan, Rasa suka Ayla berubah menjadi rasa cinta. Atau memang sebenarnya dari dulu Ayla sudah mencintai Regan?.
"Regan" Gumam Ayla lirih.
Regan tersenyum kemudian menghampiri brankar Ayla dan duduk ditepi brankar, sementara suster sudah pergi meninggalkan ruang perawatan kamar Ayla setelah selesai mengganti cairan infus yang habis dengan kantung infus yang baru.
"Hai Ay, apa kabar? Tanya Regan dengan tatapan mata yang Ayla rindukan.
Mata itu masih tetap sama, mata yang Ayla rindukan.
"Ay.." Panggil Regan dengan lembut.
Ayla tersadar dari lamunannya. "Re..."
Regan memeluk Ayla perlahan, "Maafkan aku, Ay. Maaf."
Mata Ayla sudah berkaca-kaca, tangannya terulur mengusap pundak Regan.
Regan perlahan mengendurkan pelukannya setelah mendengar sedikit suara rintihan sakit. "Masih sakit? Mana yang sakit?" Tanyanya penuh khawatir.
"Kamu dikota ini Re?" Bukannya menjawab, Ayla malah balik bertanya.
"Aku baru dikota ini Ay, dan aku bekerja dirumah sakit ini." Jawab Regan. "Kamu sedang apa dikota ini?" Kali ini Regan yang bertanya.
"Akhh, iya.. Re berikan ponselku." Pinta Ayla.
"Untuk apa?" Tanya Regan.
"Aku harus menghubungi temanku."
"Nanda?" Tanya Regan penuh selidik.
Ayla menggelengkan kepalanya. "Bukan Nanda." jawabnya.
"Dari kemarin sore, Nanda terus menghubungimu." Regan memberikan ponselnya pada Nanda.
__ADS_1
"Kamu menerima panggilannya, Re?"
Regan menggelengkan kepalanya, "Engga Ay, aku biarkan panggilannya terhenti sendiri."
Ayla mengangguk tanda paham. "Aku harus menghubungi temanku dulu." Ucap nya sambil mendial nomor ponsel Tyas.
Ayla memberitahukan pada Tyas untuk mengambil kendali acara hari ini dan besok, Ayla juga menceritakan tentang dirinya yang mengalami kecelakaan.
Regan terus memperhatikan Ayla, bagaimana cara Ayla mengarahkan seseorang yang disebut temannya itu, bagaimana cara Ayla berbicara dengan serius soal pekerjaanya.
Ya, Ayla sudah banyak berubah. Banyak hal yang sudah Regan lewati selama tujuh tahun ini, dan Regan baru menyadarinya.
Ayla membalas pesan Nanda dan mengatakan bahwa ponselnya tertinggal dihotel sehingga tidak bisa menerima panggilan dari Nanda. Ayla tidak memberitahu Nanda tentang kondisinya, ia tidak ingin membuat Nanda khawatir.
"Ay.." Panggil Regan yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Ayla mendongakan wajahnya kemudian menaruh ponselnya dimeja nakas.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, sedang apa kamu disini?" Tanya Regan.
"Akh iya, maafkan aku Re. Aku sedang ada pekerjaan disini."
"Pekerjaan? bukankah kamu bekerja diperusahaan Om Aryo sebagai asisten pribadi Nanda?"
Setau Regan, Ayla berkuliah bersama Nanda dengan jurusan yang sama. Hal itu sudah dipersiapkan oleh Aryo, karna Aryo ingin Suatu saat nanti, Nanda dan Ayla memegang penuh perusahaan.
"Aku mengundurkan diri Re, sewaktu Nanda menikah, Raja yang menjabat sebagai CEO dan Nanda naik menggantikan Papa Aryo sebagai Presdir. Kemudian Papa Aryo menempatkanku sebagai direktur keuangan, namun tidak lama, aku minta berhenti. Tapi Nanda jarang sekali kekantor dan malah tidak pernah sama sekali menginjakan kakinya dikantor. Raja hanya membawa berkas-berkas yang harus Nanda tandatangani kerumah. Nanda juga hanya datang dirapat evaluasi akhir bulan, dan aku masih tetap menemani Nanda jika sedang rapat." Jawab Ayla menjelaskan.
"Terus kamu kerja apa sekarang, Ay?" Raut wajah Regan kembali terlihat cemas. Regan hanya ingat, bahwa Ayla tidak bisa akrab dengan orang lain kecuali dengan Nanda dan Regan, jadi sangat aneh bagi Regan jika Ayla bisa keluar dari zona nyamannya.
"Papa Aryo memberikanku modal untuk mendirikan usaha EO, Re. Dan dengan bantuan Papa Aryo juga, bisnisku kini berkembang, bukan hanya melayani EO perusahaan, kini usahaku juga merambat untuk engagement dan wedding."
"Wow, its amazing, Ay!"
"Kamu tinggal dimana sekarang?" Tanya Regan yang masih saja penasaran dengan kehidupan Ayla.
"Diapartemen." Jawabnya santai.
"Sendirian?"
"Iya.."
Hening sejenak.
"Re, aku ingin istirahat. Bisakah kamu meninggalkanku sendiri disini?" Tanya Ayla.
Regan menatap tak percaya pada sahabatnya, Ayla yang dulu bergantung pada Regan, kini enggan ditemani oleh Regan.
"Istirahatlah Ay, aku tidak akan mengganggumu. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian, aku akan tetap menjagamu disini." Balas Regan.
Ayla enggan berdebat, tubuhnya masih merasakan sakit, bahkan tulangnya terasa remuk, terlebih kepalanya yang masih terasa berat. Tak membutuhkan waktu lama, Ayla kembali tertidur dan Regan terus memandangi wajah Ayla tanpa henti.
***
Diperusahaan ARDA Karya Group
"Pak, ini sekertaris yang menggantikan Lena." Ucap Robi asisten pribadi Raja.
Raja mendongakan wajahnya, dirinya terkesiap saat melihat sosok yang sangat ia kenal.
"Sarah.." Gumamnya pelan yang tidak terdengar oleh siapapun.
__ADS_1
Begitupun dengan Sarah, ia tak kalah terkejutnya saat mengetahui bahwa atasannya yang menjadi CEO diperusahaan ini adalah Raja.
"Pak.." Panggil Robi yang membuat Raja kembali pada kesadarannya.
"Ya." Jawab Raja setenang mungkin.
"Siapa namamu?" Tanya Raja dingin.
"Sarah Pak." Jawab Sarah sedikit gugup.
"Baiklah, nanti Robi yang akan memberitahumu semua tugas-tugasmu. Sekarang kamu bisa langsung mempelajarinya." Ucap Raja tanpa menatap wajah Sarah.
"Baiklah, permisi Pak." Sarah meninggalkan ruangan Raja bersama Robi.
"Aku kira kalian saling kenal, Sar." Kata Robi sambil mulai membuka berkas-berkas yang akan Sarah pelajari.
"Koq Pak Robi bisa bilang begitu?" Tanya Sarah.
"Panggil aku Robi aja Sar, aku belum terlalu tua untuk dipanggil Bapak, dan aku juga bukan Bapakmu." Robi tertawa. "Tadi aja lihat Pak Raja seperti terkejut melihatmu, aku kira kalian saling kenal."
Sarah tersenyum sinis, "Masa iya sih." jawabnya sesantai mungkin.
"Pak Raja pemilik perusahaan ini?" Tanya Sarah hati-hati. Dirinya masih merasa aneh mengapa Raja bisa berubah sejauh ini, hanya dengan jarak sepuluh tahun, Raja menjadi CEO disebuah perusahaan. "Mustahil." Batin Sarah.
"Bukan, Pak Raja menantu dari pemilik perusahaan ini." Terang Robi.
"Pak Raja sudah menikah?" Tanya Sarah lagi.
"Sudah, dari tiga tahun yang lalu. Waktu itu Bu Nanda baru lulus kuliah, sempat jadi CEO disini kurang dari satu tahun, kemudian menikah dengan Pak Raja dan sekarang Pak Raja yang menggantikan jabatan Bu Nanda."
Sarah menelan salivanya, antara percaya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, tiga tahun yang lalu saat usia mereka dua puluh lima tahun, bukankah harusnya Raja mencari Sarah dan menepati janjinya. Akhh tapi Sarah baru teringat, satu tahun setelah LDR, Sarah memutuskan hubungannya dengan Raja.
Sementara didalam ruangan, Raja pun tengah menerka-nerka sambil memegang file berisikan data Sarah.
Dalam benaknya, mengapa Sarah bekerja sebagai sekertaris? Bukankah orang tuanya memiliki sebuah pabrik dikota B, dan Sarah juga lulusan salah satu universitas ternama diluar negri.
"Akhh Sh*it" Umpat Raja sambil membanting file biodata Sarah.
Raja mengusap wajahnya kasar, ingin rasanya ia mendatangi meja kerja Sarah dan menariknya untuk menjelaskan semuanya. Sepuluh tahun tidak bertemu dan lost contact membuat rasa penasaran Raja semakin mendalam.
Lamunan Raja menguap setelah seseorang masuk kedalam ruangannya.
"Sayang.." Panggil Raja dengan senyum yang dipaksakan untuk menutupi raut wajah yang dipenuhi kekesalan.
Raja mengecup sekilas bibir Nanda. "Tumben kesini?" Kemudian Raja menggiring Nanda untuk duduk disofa.
Raja membelai wajah Nanda, merapihkan rambut yang menutupi sebagian pipi merahnya. "Sayang maafkan aku atas kejadian tadi pagi. Aku janji, tanggal tiga bulan depan, aku akan menemanimu mengunjungi makam Mama." Ucapnya lembut.
Raja mengangguk sambil tersenyum, senyum yang membuat pertama kali Raja menyukainya.
"Gak apa-apa Mas, maafkan aku juga belum bisa mengerti kamu." Jawab Nanda.
Raja memeluk Nanda. "Aku mencintaimu, Nan. Maaf jika aku belum bisa membahagiakanmu." Raja berucap tulus meski hatinya tengah goyang karna bertemu dengan cinta pertama dimasa lalunya itu.
"Aku juga mencintaimu, Mas." Nanda mengusap punggung Raja lalu perlahan mengendurkan pelukannya.
Raja memang mencintai Nanda, Nanda satu-satunya wanita yang menerima dirinya apa adanya, dan Nanda juga yang membuat kehidupan Raja berubah. Raja mencoba menepis rasanya kembali pada Sarah, ia meyakini diri bahwa perasaanya pada Sarah sudah menguap pergi entah kemana.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....