
Nanda memotong rambutnya yang panjang menjadi sebahu, kehamilannya memasuki usia enam bulan dan itu membuatnya cepat sekali merasakan gerah dan slalu berkeringat.
"Rambutku jadi seperti rambut Ayla." Gumamnya.
"Ahh Ayla, aku merindukanmu." Gumamnya lagi.
Drtt.. drtt
Suara ponsel Nanda yang bergetar, terlihat sebuah pesa singkat dari Robi.
"Pernikahan Kakak, akankah kau datang?" -Robi-
"Aku ingin membalas kebaikan Kakak, tapi aku tidak bisa datang, Maafkan aku, Kak." -Nanda-
"Ayla kemarin kekantor, dia mau bunuh diri didepan Kakak, Kamu tidak *mengkhawatirkannya?" -Robi*-
"Aku rasa, Ayla hanya ingin menggertak Kakak." -Nanda-
Robi mengirimkan sebuah rekaman cctv diruangannya keponsel Nanda tanpa suara, terlihat adegan Ayla yang begitu mengharukan.
"*Kira-kira, a*pakah ini hanya sebuah gertakan?" -Robi-
Nanda tidak membalas lagi pesan Robi, ia terus memutar rekaman cctv itu berulang kali.
"Kenapa kamu tidak bisa marah bahkan membenciku, Ay?" Gumam Nanda kemudian air mata nya turun kembali, Nanda menangis setelah sekian lama ia tidak menangis kembali.
***
Hari week end, Ayla dan Regan berkunjung kerumah Haris, namun sebelum kerumah Haris, Regan dan Ayla berkunjung kemakam Aryo terlebih dahulu. Untaian doa tulus Ayla panjatkan untuk Aryo, bahkan sesekali Ayla mengusap pipinya yang basah karna air matanya.
Pandangan itupun tak luput dari penglihatan seorang pria tua dengan tongkat ditangannya,
Ramli memang sengaja akan berkunjung ke makam Aryo dan istrinya, ia diamanati oleh Nanda untuk membersihkan dan menaburkan bunga segar setiap seminggu sekali.
"Pak Aryo, haruskah aku mengkhianatimu kali ini saja?" Tanya Ramli dalam hatinya.
Ramli begitu terharu akan ketulusan Ayla.
Dedikasi Ramli memang tidak perlu diragukan lagi, bahkan ia mendidik anak-anaknya untuk terus setia kepada Aryo dan keluarganya.
Ayla dan Regan meninggalkan area pemakaman untuk menuju rumah Haris,
dan disinilah Ramli berada, didepan makam Aryo bersama Heru. Heru membersihkan makam yang berjejer berdampingan itu, sesudahnya, Ramli menabur bunga segar.
"Saya tidak pernah melihat wanita setulus Nona Ayla Pak." Ucap Heru seakan tau apa yang ada dalam pikiran Ramli.
"Jika aku memberitahu Ayla keberadaan Nanda, apa itu termasuk pengkhianatan?" Tanya Ramli sambil menatap pada batu nisan bertuliskan Aryo Darmawan.
"Saya rasa itu sebuah hadiah untuk Nona Nanda, dengan keadaan Nona Nanda saat ini, saya yakin Nona Nanda membutuhkan Nona Ayla."
Ramli tampak berfikir.
"Mungkin di darah Nona Ayla, mengalir darah Irwan Budianto, namun Jiwanya Nona Ayla adalah jiwanya Pak Aryo Darmawan, Sifat Nona Ayla sama seperti Pak Aryo, begitu baik dan tulus." Ucap Heru lagi.
***
"Ayla, Om ingin bertemu."
Sebuah pesan singkat masuk kedalam ponsel Ayla.
"Om Ramli." Gumam Ayla yang terdengar oleh Regan.
"Ada apa Baby?" Tanya Regan.
Ayla memperlihatkan ponselnya pada Regan, "Om Ramli ngajak ketemu."
"Mungkin Om Ramli mau bicara soal Nanda." Kata Regan.
Ayla meraih ponselnya kembali dan langsung membalas pesan Ramli.
"Ay hari ini ada waktu Om." -Ayla-
"Baiklah, kita bertemu di retoran xx jam satu siang." -Ramli-
Regan dan Ayla tengah bersiap akan memenuhi undangan Ramli, Ayla menitipkan Ryu pada pengasuh dibawah pengawasan Linda.
Ayla hanya beralasan keluar karna ada sedikit urusan.
Pras yang mendengarnya merasa curiga, jika hal tidak begitu penting, Ayla tidak akan keluar apa lagi sampai tidak membawa Ryu.
Pras berfikir, jika Ayla dan Regan begitu kompak, "apa ini ada kaitannya dengan Nanda." Batin Pras.
Tanpa Ayla dan Regan sadari, Pras mengikuti mereka dengan mobil yang berbeda.
"Restoran xx?" Batin Pras saat melihat Regan memarkirkan mobilnya disana.
__ADS_1
"Apa Regan sedang ingin quality time bersama Hana?" Tanya Pras dalam hatinya.
"Ah tapi itu tidak mungkin, Regan dan Hana buka orang egois mementingkan quality time dan meninggalkan anak mereka dirumah."
Pras pun masuk mengikuti Regan dan Ayla dengan jarak yang lumayan dekat,
"Ruangan VIP atas nama Bapak Ramli." Ucap Ayla.
Seorang pelayan ditugaskan untuk mengantarkannya, Pras masih mengikutinya.
"Om Ramli." Sapa Ayla lalu Ayla mencium punggung tangan Ramli bergantian dengan Regan.
"Duduklah Ay, Re." ucap Ramli.
Setelah mereka memesan minum, Ayla langung bertanya pada intinya.
"Ada apa Om?" Tanya Ayla penuh harap, berharap Ramli mau berkata jujur soal keberadaan Nanda.
"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ramli.
Ayla hanya diam, ia menunggu kalimat apa yang akan keluar lagi dari mulut Ramli selanjutnya
Ramli menyodorkan sebuah amplop berwarna putih pada Ayla.
"Ambilah Ay.." Lirih Ramli.
Ayla mengambilnya dan membukanya, tiga lembar tiket pesawat kelas bisnis menuju Amsterdam.
"Tiket ke Amsterdam? Untuk apa Om?" Tanya Ayla heran.
Ramli menyerahkan kembali sebuah amplop coklat berisikan dokumen keberangkatan Regan, Ayla dan Ryu. Passpor bahkan Visa Ryu sudah jadi dengan sekejap, mereka hanya tingga berangkat lusa.
"Pergilah, Ay. Temani Nanda disana untuk beberapa waktu." Ramli menghela nafas.
"Nanda di Amsterdam, Om?" Tanya Ayla tak percaya.
Ramli mengangguk, "Nanda yang memilih tempat itu, ia ingin tinggal dengan tenang di Amsterdam bersama Pak Aryo, namun takdir berkata lain, disaat detik detik keberangkatan, Pak Aryo meninggalkan Nanda seorang diri."
Mata Ayla berkaca-kaca, "Nanda... Sejauh itu kamu pergi?" Gumam Ayla.
"Untuk pertama kali dalam hidup Om, Om berkhianat pada Pak Aryo." Lirih Ramli.
Ayla tidak dapat membendung lagi tangisnya, "Om tidak berkhianat, Om melakukan hal yang benar." Regan menarik Ayla kedalam dekapannya. "Terimakasih Om, semoga Tuhan membalas kebaikan Om." Ucap Ayla tulus.
"Kamu lebih cocok menjadi anak Pak Aryo dari pada menjadi anak Irwan Budianto, hatimu lembut dan mampu meruntuhkan keegoisan Om." Kata Ramli memecah suasana.
"Maaf Om, tapi bukankah Nanda akan pulang saat Kak Robi menikah?" Tanya Regan.
"Nanda tidak akan datang, ia khawatir akan kandungannya."
Ayla tersenyum, "Papa akan jadi Kakek." Gumamnya.
"Sayangnya, cucu nya masih ada keturunan darah keluarga Irwan Budianto."
Ayla tertunduk, "Dan aku pun anak dari penyebab masalah ini."
"Kamu tidak marah pada Pak Aryo karna sudah menculikmu?" Tanya Ramli.
Ayla menggelengkan kepalanya, "Aku memang senang bisa mengetahui orang tua kandungku, tapi rasa sayangku, semuanya tercurah untuk Papa Aryo dan juga Nanda. Aku slalu merasakan kasih sayang mereka yang dalam dan begitu tulus untukku, Om."
Ramli tersenyum kecut, "Andai Pak Aryo tau ini, pasti beliau akan senang mendengarnya, Ay."
Pras segera pergi meninggalkan restoran xx setelah mendengar Nanda berada di Amsterdam. Ia akan menyusul Nanda dan menjadikannya istri.
Betapa bahagianya Pras saat mengetahui ternyata Nanda benar hamil anaknya.
"Kamu tidak akan bisa lari lagi, sayang. Aku akan menjemputmu dan menjadikanmu istriku sepenuhnya."
***
Disinilah Regan dan Ayla berada, di bandar udara Internasiona Schiphol.
Ayla tidak menyangka jika Ramli bisa sebaik ini, bahkan selain dokumen keberangkatan yang sudah disiapkan, akomodasi dan hotel mereka selama di amsterdam tetap Ramli yang menanggungnya, berjaga-jaga takut Nanda menolak mereka dirumahnya nanti.
"Syukurlah, Ryu tidak rewel slama diperjalanan." Ucap Regan yang menidurkan Ryu di ranjang king size disalah satu hotel di Asterdam.
"Kita dekat sekali denga Nanda, Re." Ayla menatap indahnya kota Amsterdam dari jendela kamar hotelnya.
Regan memeluk Ayla dari belakang.
"Berarti sebentar lagi kita LDR?" Tanya Regan.
Ayla membalikan tubuhnya menghadap Regan. "Aku akan ikut kamu pulang jika kamu tidak mengijinkan aku untuk menemani Nanda hingga Nanda melahirkan disini." Jawab Ayla dengan nada berat.
Regan membelai pipi mulus Ayla, "Aku mengijinkanmu, Nanda sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kita."
__ADS_1
Ayla tersenyum, dirinya sungguh bersyukur menikah dengan Regan, cinta pertama yang begitu mengerti Ayla.
Ayla memang berencana akan tinggal di Amsterdam untuk menemani Nanda hingga melahirkan dan menunggu kondisinya pulih hingga Nanda bisa pulang ke tanah air dengan membawa bayinya. Regan mengijinkan, karna baginya kebahagiaan Ayla adalah yang terpenting, Regan juga berfikir, bahwa Nanda juga bagian dari tanggung jawabnya.
***
Pagi ini Nanda tengah disibukan menata dan memindahkan tanaman di pot yang masih kosong. Kegiatan rutin yang mengisi hari-hari dalam hidup Nanda.
"Rumah Papa pasti akan cantik jika aku tanami bunga-bunga seperti ini." Ucapnya seperti mengajak berbicara pada tanaman-tamaman yang berada didepan Nanda.
"Kalau begitu pulanglah." Terdengar suara seseorang yang begitu Nanda kenali.
Suara yang sudah lama Nanda rindukan. Seketika tubuh Nanda membeku, gunting tanaman ditangan Nanda terjatuh begitu saja, jangan ditanya pipi Nanda yang mulai basah karna tidak dapat membendung air mata yang silih berdesakan keluar.
Ayla berjalan mendekati Nanda yang masih membelakanginya.
"Kenapa pergi tidak mengajak aku? Disini sangat indah, kamu curang pergi sendirian." Sebisa mungkin Ayla menahan tangisnya.
Tanpa melihat kebelakangnya, Nanda berjalan meninggalkan Ayla, namun Ayla mencekal tangannya.
"Kamu lupa kata Papa? Dimana ada Nanda, disitu ada Ayla, dan begitupun sebaliknya." Ucap Ayla.
"Kamu bukan Ayla, kamu Hana, Hana yang Papa culik dan menjadikannya Ayla." Jawab Nanda tanpa melihat Ayla.
"Aku tetap Ayla, dimatamu, dimata Regan, dimata Papa, dimata Ryu, aku tetaplah Ayla. Aku tidak mau menjadi Hana jika itu membuatku kehilanganmu."
"Pergilah, Ay. Tidak baik kamu berada dekat denganku." Nanda mencoba melepaskan tangannya namun Ayla memegangnya erat.
"Aku dan Regan menyayangimu Nan, kami keluargamu, kami tidak akan membiarkanmu sendirian disini." Ayla memeluk Nanda dari belakang.
"Kenapa kamu tidak membenciku, Ay. Karna Papa, kamu terpisah dengan keluargamu." Tangis Nanda pun pecah.
"Kamu salah Nan, justru karna Papa aku tau arti ketulusan menyayangi seseorang. Mempunyai saudari yang sangat aku sayangi. Dari Papa aku belajar ketulusan yang sesungguhnya."
Ayla melerai pelukannya dan memutari tubuh Nanda dan kini mereka saling berhadapan, mata Ayla tertuju pada perut Nanda yang kini membuncit.
"Anak nakal, kenapa kamu bisa sampai hamil." Cibir Ayla.
"Ya karna aku melakukannya." Jawab Nanda tanpa bersalah sambil mengusap air mata dipipinya.
Mereka berdua tertawa, bahkan Nanda tertawa lepas, hanya dengan Ayla, Nanda bisa seperti ini.
"Apakah bayi ini milik Kakak ku?"
"Bisakah kau tidak memberitahunya?" Nanda balik bertanya.
"Sayangnya sebelum kita memberitahu Kakakku, dia sudah tau kamu hamil, bahkan Mami memukuli Mas Pras." Jawab ayla.
Nanda mengernyitkan dahinya.
"Kamu tahu kehamilan simpatik?" Tanya Ayla,
Nanda mengangguk.
"Mas Pras mengalaminya, ikatan batin antara janinmu dengan ayah kandungnya begitu kuat. Mas Pras tidak bisa bekerja, setiap hari dia slalu mual dan pusing, bahkan apa yang baru saja dia makan, langsung dimuntahkannya. Tubuhnya kini sedikit kurus karna tidak ada makanan yang berhasil masuk ke lambungnya."
"Benarkah?" Tanya Nanda.
"Mas Pras tau kamu hamil karna dirinya mengalami hal ini. Dia mencarimu kemana-mana."
Nanda menunduk.
"Mas Pras sudah mendapatkan hukumannya, Nan. Kembalilah."
Nanda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa bersamanya."
"Tidak bisakah kita bicara didalam, tanganku sangat pegal menggendong Ryu dari tadi, dan kalian sungguh menganggapku tidak ada. Apa kalian sudah melupakanku?" Sahut Regan dengan kesal.
Nanda dan Ayla menoleh kearah Regan.
Nanda dan Ayla memutar malas bola mata. Regan mendekati mereka dengan Ryu yang masih berada dalam gendongannya. Nanda langsung meraih Ryu, namun drcegah oleh ayla.
"Tanganmu kotor, masih berlumuran tanah." Ucap ayla mengingatkan.
"Oh my God, aku lupa Ay. Saking rindunya pada Ryu." Jawab Nanda.
Ayla yang mengambil alih Ryu,
Regan berpelukan dengan Nanda. "Tidak bisakah dalam dirimu tidak membuat masalah dengan melarikan diri?" Tanya Regan.
Nanda melerai pelukannya, "Sepertinya hanya kamu sahabat yang tidak tulus padaku." Kesal Nanda.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....