
Nanda menyeka tubuh Disya, kemudian menggantikan pakaian Disya dengan yang baru.
"Mommy, Mommy tidak pulang kan?" Tanya Disya yang mungkin sudah puluhan kali Disya bertanya dan memastikan Nanda tidak akan meninggalkannya.
"Iya Sya, Mommy tidak pulang, Mommy disini jagain Disya."
"Janji?" Disya memberikan jari kelingkingnya pada Nanda.
Nanda tersenyum dan mentautkan jari kelingkingnya juga pada Disya. "Janji." Jawab Nanda.
Disya tertidur setelah Nanda mengucapkan janjinya, Nanda mengecup kepala Disya dan mengusapnya. Lalu Nanda turun dari Brankar Disya dan duduk disofa bersama Pras.
"Maaf merepotkanmu." Ucap Pras.
Nanda hanya mengangguk, "Tidak apa, Mas."
Hening, sejenak.
"Apa kabar kamu, Nan?" Tanya Pras memulai obrolan.
"Baik, Mas." Jawab Nanda singkat.
Pras melirik jam dipergelangan tangannya. Sudah tiba jadwalnya untuk praktik dipoli.
"Aku titip Disya dulu, ya. Dua atau tiga jam lagi aku kembali."
"Iya, Mas." Jawab Nanda.
Pras keluar dari kamar perawatan Disya, dan Nanda menyandarkan punggungnya di sofa.
"Masih aja deg-deg an kalo ketemu Mas Pras, hufftt." Gumam Nanda sambil memejamkan matanya lalu tertidur.
***
Regan kembali kerumah sakit saat sore hari, ia membawa tas berisikan perlengkapan Nanda yang sudah disiapkan oleh Ayla.
Regan masuk kedalam ruang perawatan Disya, terlihat Nanda yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu beneran bawain baju ganti aku, Re?" Tanya Nanda sinis, "Kamu sama Ayla tuh sama sama-sama seneng bikin aku disituasi gak ngenakin." Ucap Nanda.
Regan tertawa, "Kami mau yang terbaik untukmu Nan."
"Terbaik apanya?" Tanya Nanda yang kini duduk disofa bersama Regan, sedangkan Disya masih teridur.
"Mau sampai kapan kamu menutup hati, Nan? Kamu butuh pendamping hidup, cobalah membuka hati." Regan memberi nasihat pada Nanda.
"Aku belum siap, Re.. Perselingkuhan Mas Raja terlalu menyakiti hatiku, aku takut mengalami hal yang sama kembali. Lebih baik aku seperti ini."
"Tidak semua pria seperti itu, Nan."
"Akan seperti itu jika aku tidak bisa memberinya keturunan." Nanda menghela nafas, "Tiga tahun aku menikah dengan Mas Raja, tidak ada tanda-tanda aku akan hamil, Re. Tapi kamu lihat sendiri kan, Mas Raja berselingkuh dengan mantan kekasihnya dan wanita itu bisa langsung memberi Mas Raja keturunan." Lirih Nanda.
"Hilangkan pikiranmu yang seperti itu, Nan. Buang jauh rasa takutmu."
Nanda tersenyum tipis, "Kamu bisa bicara seperti itu karna kamu tidak ada diposisiku, Re."
"Nanda..."
"Aku hanya tidak ingin terluka lagi, Re. Aku akan memberi batas siapun yang dekat denganku. Hidupku hanya untuk Papa dan perusahaan."
"Bagaimana dengan Disya? kamu menyayangi Disya, Nan. Apa kamu tidak ingin menjadi Mommy yang sesungguhnya untuk Disya?"
"Aku slalu menganggap Disya Anakku, seiring jalannya waktu, Disya pasti mengerti."
"Dokter Pras menaruh hati padamu, Nan."
__ADS_1
Nanda menghela nafas. "Aku tidak cocok bersanding dengan Mas Pras."
"Apa alasannya, Nan? Apa hanya karna kamu yakin tidak bisa memberinya keturunan? Apa Disya saja tidak cukup? Apa kamu berfikir pernikahan itu hanya soal anak? Kamu salah besar Nanda!!"
Nanda hanya diam mendengarkan perkataan Regan kalimat demi kalimat.
"Nanda, dengarkan aku. Buatku dan Ayla, menikah itu artinya berteman seumur hidup dengan pasangan yang kita pilih, partner seumur hidup, Anak itu hanya bonus yang tuhan kasih. Dan aku rasa, dokter Pras tidak akan mempersalahkan itu. Dan harus kamu tau Nan, kamu tidak bisa memvonis dirimu tidak bisa memiliki keturunan, selama kamu belum pernah memeriksakan kondisi rahimmu, dokter Pras sama denganku, dia dokter Obgyn bahkan lebih hebat dariku, banyak pasangan suami istri yang melakukan program hamil dibantu oleh dokter Pras, aku yakin masalahmu akan teratasi jika kamu bersama dokter Pras."
"Stop Re, itu kan pandanganmu, aku belum siap untuk menjalin hubungan kembali, dan aku tidak pernah mau memikirkannya."
Regan menghela nafas, "Keras kepala!!" Cibirnya.
"Lebih baik kamu keluar, Re. Bukankah kamu ada praktik di poli?" Ucap Nanda.
"Ngusir, Nan?"
"Iya, kamu disini nanti malah ganggu Disya." Jawabnya dengan Nada asal.
Regan hanya tersenyum samar, Perlahan Nanda kembali jadi dirinya sendiri, Regan yakin kalau sebenarnya Nanda juga menyukai Pras, hanya saja dirinya masih membentengi hatinya karna rasa takut akan tersakiti lagi.
Regan keluar dari kamar perawatan Disya menuju polinya, sebenarnya masih satu jam lagi jadwal praktiknya, Saat lift terbuka, ia berpapasan dengan Pras.
"Dokter Pras, mau naik keatas?" Tanya Regan.
Pras baru saja selesai praktik dilantai dua, dan akan naik kelantai empat untuk kembali kekamar Disya.
"Iya dokter Regan, dokter dari lantai empat kah?" Balas Pras.
"Iya, saya baru saja membawakan perlengkapannya Nanda."
Pras mengangguk, "Sepertinya masih ada waktu, bisa kita ngobrol dulu?" Ajak Pras.
"Boleh, saya juga sepertinya butuh kopi karna mengantuk." Regan tertawa.
Mereka duduk dalam satu meja dikafetaria rumah sakit.
"Lebih baik panggil Pras saja, sepertinya kedepannya kita akan lebih akrab."
Regan mengangguk, "Betul juga, tapi karna dokter Pras lebih tua dari saya, saya akan memanggil Mas."
"Not bad." Ucap Pras sambil mengerdikan bahunya. "Umur kita beda sepuluh tahun mungkin umurmu sama dengan umur adik perempuanku."
"Oh ya? Harusnya adik anda dan istriku juga Nanda berteman jika seangkatan."
"Sayangnya, adikku tidak diketahui keberadaanya. Dia diculik saat berumur satu tahun dan hingga kini belum ada kejelasan."
Regan terkejut mendengarnya, "Maafkan saya Mas."
"Tidak masalah, dan bagaimana ceritanya kamu bersahabat dengan Nanda juga istrimu?"
"Kami bersahabat sejak SMP. Ayla dan Nanda memang sebelumnya sudah bersahabat sejak kecil." Cerita Regan.
"Bersahabat? Bukannya Ayla itu saudari Nanda?" Tanya Pras penasaran. Tetiba saja ia tertarik membahas soal Ayla.
"Saudari angkat tepatnya." Regan menyeruput kopinya sejenak kemudian melanjutkan ceritanya. "Istriku, Ayla adalah anak panti asuhan, Papanya Nanda donatur tetap dipanti tempat Ayla dibesarkan, Papa Aryo menjadi orang tua asuh Ayla dan saat Ayla berumur tujuh belas tahun, Ayla keluar dari panti dan tinggal bersama Nanda juga Papa Aryo.
"Apa orang tua kandung Ayla sebelumnya meninggal?" Tanya Pras mendalam.
"Sepertinya bukan karna hal itu, pihak panti bercerita Ayla ditemukan begitu saja didepan pintu panti, Ayla duduk didepan pintu panti sambil memeluk boneka dan permen lolipop, Ayla saat itu masih sangat kecil dan tidak mengingat apapun, bahkan pihak panti bercerita, saat ditemukan, Ayla belum bisa berbicara." Terang Regan menjelaskan.
Pras mengangguk, "Panti asuhan mana kalau aku boleh tau?"
"Panti asuhan bintang kejora, dulunya panti itu berada didaerah pelosok, hingga ada donatur yang meghibahkan sebidang tanah didekat kota dan Papa Aryo yang membangunnya."
Pras hanya mengangguk.
__ADS_1
"Boleh saya jujur, Re?" Tanya Pras.
"Silahkan, Mas. Ada apa?"
"Sebenarnya aku penasaran dengan istrimu, tapi kamu jangan salah paham dulu." Pras menekankan kata-kata itu agar Regan tidak salah paham.
"Maksudku bgini Re. Entah kenapa ada beberapa kemiripan antara istrimu dengan adikku yang hilang. Contohnya seperti mereka sama-sama memiliki satu lesung pipi dan itu dikiri, dan mata istrimu begitu mirip dengan mata mamiku."
Regan mengangguk, "Banyak orang yang hanya mempunyai satu lesung pipi dan bentuk mata yang sama, Mas."
"Ada satu tanda lagi, Re. Mungkin kamu bisa membantuku untuk melihatnya." Ucap Pras hati-hati.
Regan nengernyitkan dahinya.
"Begini Re, jarak lahir aku dan adikku cukup jauh, kami berbeda sepuluh tahun, aku mengingat jelas, di paha kanan adikku ada bekas luka jahitan, saat itu aku dan adikku sedang berenang, Kaki adikku mengenai pecahan keramik tepat dibagian pahanya, goresannya lumayan dalam hingga harus dijahit. Mungkin seiring jalannya waktu bekas jahitan itu memudar, apa lagi sudah lebih dari dua puluh lima tahun, tapi aku yakin pasti masih ada bekasnya."
Regan tampak berfikir, ia memang tidak pernah melihat luka itu, karna setiap mereka ber*cinta slalu dalam kondisi lampu yang redup.
"Ciri-ciri lain?" Tanya Regan selanjutnya.
"Hanya luka itu yang aku ingat Re, lesung dipipi dan mata Ayla hanya kesamaan dengan Mamiku saja."
Regan dan Pras sama-saa terdiam.
"Jika bekas luka itu masih ada, kemungkinan Ayla adalah Hana, adikku yang dua puluh lima tahun ini menghilang."
"Apa mau langsung test DNA saja?" Tawar Regan.
"Aku rasa memang harus seperti itu, Re. Tapi aku takut jika Ayla tau dan hasilnya cocok, dia beranggapan lain, misal ia beranggap dibuang oleh orang tuanya. Atau jika hasilnya tidak ada kecocokan, akan membuat Ayla kecewa, mana tau Ayla juga berharap ingin bertemu dengan orang tua kandungnya. Aku memikirkan hal ini dengan sangat hati-hati.
Regan diam sejenak, sebelum akhirnya berbicara kembali, "Aku akan ambil sampel rambut Ayla, dan aku tidak akan memberitahu Ayla kecuali jika hasilnya cocok." Ucap Regan yang membuat Pras merasa lega.
"Terimakasih, Re."
***
Tiga hari berlalu, kondisi Disya sudah semakin pulih, bahkan Disya sudah kembali ceria seperti dulu. Disya pun sudah diijinkan pulang oleh dokter yang merawatnya.
"Disya mau pulang kelumah Mommy." Ucap Disya.
"Sya..." Panggil Pras.
"Sudah Mas, Gapapa." Jawab Nanda.
Nanda mengusap rambut Disya. "Disya boleh nginep dirumah Mommy karna besok sabtu. Tapi hari Minggu nanti Mommy akan mengantar Disya pulang, okey?" Nanda menawarkan kesepakatan pada Disya.
Disya mengangguk. "Disya nginepnya dua kali Mom?" Tanya Disya sambil menunjukan dua jarinya.
"Iya." Jawab Nanda.
"Tidak apa-apa kan Daddy?" Tanya Nanda pada Pras.
Pras mendekat pada Nanda dan Disya. "Tentu saja tidak apa-apa, Mom." Pras mendekat pada Nanda dan Disya yang duduk dibrankar, kemudian tangannya melingkar dipinggang Nanda, membuat Nanda terkesiap. "Nanti kalo Disya sudah nginap dirumah Mommy, gantian Mommy yang menginap dirumah Disya." Ucap Pras santai yang membuat Nanda membulatkan kedua matanya.
"Holeeee, Mommy tinggal telus sama Disya." Ucap Disya Riang.
Nanda ingin mengelak, namun rasanya tidak tega jika harus mengecewakan Disya.
"Kamu, Mas!!" Bisik Nanda pada Pras.
Sementara Pras hanya tersenyum tanpa berdosa.
.
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....