
Ryu tengah menangis, sedari tadi ia kuat menghisap Asi pada Ayla, namun sudah beberapa hari ini Asi Ayla berkurang dan dari semalam bahkan tidak keluar.
Sehingga membuat Ryu tidak puas dan terus merasa lapar.
"Re.. Gimana ini?" Tanya Ayla yang terus panik.
Regan tidak lagi melihat Ayla yang biasanya slalu tenang, semenjak Nanda pergi, Ayla slalu saja panik dan tidak bisa tenang. Perubahan Ayla sangat terlihat drastis dimata Regan yang sudah mengenal Ayla dari remaja.
"Ay.." Regan menggenggam tangan Ayla setelah memberikan Ryu pada pengasuhnya.
"Asi ku gak keluar lagi, Re." Ayla terlihat putus asa dan menangis.
Regan menarik Ayla kedalam pelukannya.
"Sudah, Ay. Kita ganti pakai susu formula dulu."
Ayla terus menangis, "Aku bukan ibu yang baik untuk Ryu, Re. Maafkan aku."
Regan mengusap punggung Ayla, "Tidak apa Ay, kamu sudah berusaha dengan baik, kamu ibu terbaik untuk Ryu, Ryu pasti bangga memiliki ibu sepertimu."
Masalah Asi Ayla yang seret adalah karna Ayla terlalu stres memikirkan Nanda. Sehingga memperngaruhi hormonnya, apa lagi pola makan Ayla yang jadi tidak teratur.
***
Satu bulan sudah Nanda berada dinegara ini, ia menikmati hari-hari dengan menanam bunga dan tumbuhan dihalaman rumahnya.
Tidak ada lagi air mata dipipinya, Nanda terus menyibukan diri dengan segala kegiatannya. Meski disela-sela waktu pikiran Nanda kembali mengingat Ayla dan Regan, disaat dirinya kesepian teringat Disya dan Ryu, bahkan setiap malam terbayang-bayangi oleh wajah Pras.
"Ini sudah tepat Nanda, jangan lagi memikirkan mereka. Mereka hidup dengan bahagia, aku pun harus bahagia." Gumam Nanda sambil memotong daun di tangkai bunga yang rusak.
Nanda kembali masuk kedalam rumah, ia mencuci tangan diwastafel dapur.
Hoekkk.. Hoekkk..
Seketika Nanda merasakan mual saat mencium aroma bumbu masakan yang sedang ditumis oleh pelayan dirumah itu.
Nanda yang masih diwastafelpun segera memuntahkan isi perutnya.
Pelayan yang merupakan masih satu negara dengan Nanda segera menghampiri Nanda dan membantu dengan memijit tengkuknya.
"Bibik masak apa? Kenapa baunya menyengat sekali." Ucap Nanda sambil membasuh mulutnya.
"Bibik masak seperti biasanya Non."
Tiba-tiba Nanda mengingat sesuatu, "Apa aku hamil? Bulan ini aku belum mendapatkan periodeku. Tapi tidak mungkin, aku bermasalah, tidak mungkin hamil." Batin Nanda.
Namun ia mengingat beberapa hari belakangan ini Nanda merasakan cepat sekali lelah.
Nanda tidak ingin menebak-nebak. Ia segera mengambil coatnya dan menuju apotik untuk membeli alat test kehamilan.
Nanda membeli tiga macam tespack berbeda, ia segera mencoba semuanya saat tiba dirumah.
Positif
Positif
Positif
"Oh my God.." Nanda menangis melihat ketiga alat testpack itu.
"Haruskah aku menyesalinya? atau aku harus mensyukurinya?" Ucap Nanda disela-sela tangisnya.
"Tuhan, apa kau memberiku anak agar aku tidak hidup sendirian setelah Papa pergi dan aku meninggalkan mereka?"
Nanda masih menangis, ia sungguh bahagia, ia menerima takdirnya, setidaknya ia tidak sendirian hidup didunia ini, pikirnya.
Nanda menunduk dan mengusap perutnya, "Hai, aku Mommy mu. Aku janji akan menjaga juga merawatmu. Hidup dan bertumbuhlah dirahimku, sampai tiba waktunya kau terlahir kedunia." Ucap Nanda pada janinnya.
***
"Daddy tidak mengantar Disya sekolah?" Tanya Disya.
"Maafkan Dad , Sayang. Daddy merasa tidak enak badan." Jawab Pras yang memang sudah satu minggu ini merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya.
Disya mengerucutkan bibirnya. "Kapan Mommy pulang? Disya mau sekolah sama Mommy." Disya dengan kecewa meninggalkan kamar Pras dan membiarkan pintunya terbuka.
Ingatan Pras kembali pada malam dimana mereka menghabiskan waktu bersama.
"Udah ga takut kalo aku kebablasan?"
__ADS_1
Nanda mengerdikkan bahunya, "Engga, kan bentar lagi kamu nikahin aku."
"Gak takut aku lari?" Tanya Pras dengan menaikan satu halisnya.
Nanda tertawa, "Sebelum kamu yang lari, aku duluan yang akan lari meninggalkanmu."
Bayang-bayang ingatan akan ucapan Nanda terus berputar dalam pikiran Pras, bahkan Pras sering memimpikan kejadian itu dalam mimpinya dan Pras bangun dalam keadaan penyesalan.
"Bodoh.. Aku memang bodoh, kenapa aku tidak menyadarinya?" Gumam Pras lalu menggusar rambutnya kebelakang.
"Nanda, maafkan aku. Maafkan kebodohanku. Pulanglah Nanda, aku sangat mencintaimu."
Teriak Pras frustasi dikamarnya.
Irwan yang kebetulan melewati kamar Pras mendengarnya, ia sungguh merasa bersalah pada Pras, andai ia tidak egois, mungkin kedua anaknya tidak akan tersakiti seperti ini.
Bahkan semenjak kejadian itu, Pras dan Ayla hanya berbicara seperlunya pada Irwan, tidak ada lagi kehangatan dan canda tawa dirumah itu.
Menjelang siang, Linda masuk kedalam kamar Pras untuk melihat kondisi Pras.
"Bagaimana keadaanmu Pras, apa yang kamu rasa?"
"Perut Pras mual, Mam. Kepala Pras juga pusing sekali."
"Ck, kamu ini seperti orang ngidam. Wanita mana yang kamu hamili?" Ledek Linda.
Ucapan Linda membuat Pras membeku.
"Waktu Elena hamil Disya, kamu juga kan yang ngidam, kamu bilang itu kehamilan simpatik, masa iya sekarang seperti itu? Apa kamu memiliki kekasih lalu kamu menghamilinya? atau kamu jajan diluar?"
"Nanda..." Gumam Pras yang terdengar oleh Linda.
Linda membulatkan matanya. "Kamu menghamili Nanda?" Pekik Linda.
Pras menoleh kearah Linda, "Apa Nanda hamil Mam?" Tanya Pras.
"Ya ampun Pras.." Linda menepuk dahinya sendiri. "Kamu sudah meniduri Nanda?" Tanya Linda penuh selidik.
Pras mengangguk.
"Oh Tuhann, ampunilah anakku." Lalu Linda memukul punggung Pras. "Kenapa kamu menyakiti anak sebaik itu, Pras. Mami tidak habis pikir denganmu."
Ayla yang mendengar suara gaduh dari kamar Pras segera mendatanginya.
"Mami ada apa ini?" Tanya Ayla.
Linda menghentikan pukulan jitunya pada anak sulungnya itu.
"Mas mu ini Han, dia menghamili Nanda."
"Nanda? Apa Nanda sudah ketemu?" Tanya Ayla penuh harap.
Linda menatap Ayla, "Belum, Han."
"Lalu, tau dari mana kalau Nanda hamil?" Ayla terdiam sejenak kemudian dia menyadari satu hal, "Nanda hamil? Bagaimana bisa? Siapa yang menghamili Nanda?" Tanya Ayla bertubi-tubi.
Mata Ayla menatap tajam Pras, "Apa Mas pernah menyentuh Nanda?"
"Ay, saat itu kami melakukannya suka sama suka, tidak ada keterpaksaan, dan aku akan menikahinya." Pras mencoba menjelaskan.
"Menikahinya? Sementara Mas sendiri tidak membela Nanda saat Papi begitu jahat pada Nanda."
Pras menghela nafas.
"Kenapa harus Nanda Mas? Meski Nanda bukan seorang gadis lagi, tapi Mas tidak pantas seperti itu pada Nanda. Kasian sekali Nanda, Mas. Dia sendirian menanggung semua ini." Tubuh Ayla merosot kelantai, ia duduk dilantai menangisi Nanda yang belum ia temukan.
***
Lima bulan setelah menghilangnya Nanda, Ayla tidak dapat menahan diri lagi, Ayla mencari Robi keperusahaan, ia akan bertanya pada Robi meskipun Ayla tau jawaban apa yang akan Robi berikan.
Robi sendiri mengetahui kondisi Nanda saat ini yang sedang hamil dengan usia kehamilan enam bulan.
"Ay..." Robi menyambut Ayla.
Tanpa Robi duga, Ayla langsung berlutut didepan Robi.
"Ay, kamu kenapa, Berdiri Ay. Jangan begini."
Ayla menangis tersedu, "Aku mohon Kak, beritahu Aku Nanda ada dimana, Aku bisa gila jika seperti ini terus."
__ADS_1
"Ay, mengertilah, Nanda masih ingin sendiri."
Ayla menggelengkan kepalanya, "Haruskah aku mati didepan Kak Robi?" Ayla mengeluarkan pisau lipat yang ia bawa dan mengarahkannya dilehernya sendiri.
"Ayla." Pekik Robi.
"Beritahu aku, Kak. Aku mohon."
"Ay, jangan seperti ini, Kakak hanya menjaga amanat Pak Aryo."
"Papa berkata seperti itu karna Papa takut aku menyakiti Nanda, aku tidak akan menyakiti Nanda Kak, aku begitu menyayangi Nanda, aku mohon Kak, beritahu aku dimana Nanda."
"Ay, lepaskan pisaunya, Kakak akan memberitahumu." Bujuk Robi.
"Engga, beritahu aku dulu dimana Nanda, baru aku lepaskan pisau ini."
Robi menghela nafas, ia berfikir haruskah ia mengingkari janjinya dan memberitahu keberadaan Nanda pada Ayla. Robi pun tak tega pada Ayla, Ayla sering mendatanginya dan terus bertanya pada Robi, dan kali ini Ayla terlihat sangat kacau, mungkin rasa rindu pada Nanda sudah tidak bisa ia bendung lagi.
"Ay.. Maaf Kakak tetap tidak bisa memberitahu dimana Nanda berada karna Kakak sudah berjanji pada Pak Aryo, tapi Kakak bisa mempertemukan kalian. Kakak rasa ini solusi, meski Bapak akan memarahi kakak." Ucap Robi ia mengingat setiap pesan Ramli yang tidak boleh memberitahu keberadaan Nanda.
"Bagaimana caranya?" Tanya Ayla.
"Dua minggu lagi Kakak akan menikah, Kakak mengundang Nanda dan Nanda bilang akan mengusahakan datang."
Ayla tampak berfikir.
"Kakak menggunakan jasa WO mu, kamu bisa standby menunggu Nanda dan semoga Nanda memang datang."
"Kakak tidak membohongiku?" Tanya Ayla.
"Tanya saja pada Tias, asisten pribadimu yang memegang tanggung jawab EO mu, dia yang bertanggung jawab dalam acara kakak, nama calon istri Kakak adalah Marsha."
Ayla tampak berfikir, sebulan yang lalu ia memang berdiskusi dengan Tias dan Doni untuk pernikahan kliennya yang bernama Marsha. Perlahan Ayla menurunkan tangannya dan memasukan kembali pisau lipatnya kedalam tas.
"Tapi jangan beritahu keluarga Irwan Budianto, siapapun itu."
"Apa Nanda sedang hamil?" Tanya Ayla.
Robi mengernyitkan dahinya, "Kamu tau itu, Ay?"
"Jadi benar Nanda hamil?"
Robi menundukan wajahnya, "Nanda hamil dan itu anak dari Kakak kandungmu, Ay."
"Nanda pasti merasa terpukul" Lirih Ayla.
"Kamu salah, Ay. Justru Nanda sangat bahagia. Nanda merasa mempunyai tujuan hidup."
"Tak bisakah aku bertemu dengan Nanda sekarang saja Kak? Aku begitu ingin memeluk Nanda."
"Ay, jangan paksa Kakak untuk mengingkari janji Kakak pada mendiang Pak Aryo."
"Apa aku terlihat jahat Kak, sehingga Papa Aryo menganggap aku akan menyakiti Nanda?"
"Kamu baik sekali Ay, kamu wanita paling baik yang pernah kakak kenal, Sayangnya kamu hanya cinta pada Regan." Robi mencoba mencairkan suasana yang tegang itu dengan sedikit bergurau.
Robi tertawa, kemudian berkata kembali. "Pak Aryo hanya takut, Irwan Budianto membalaskan dendamnya. Kamu tidak mengetahui betapa menyeramkannya Irwan Budianto dimasa lalu."
Ayla diam mematung.
"Bahkan disaat Pak Aryo tidak memiliki apapun karna ulah ayahmu, beliau tetap metawatmu dengan baik, Ay. beliau tidak membiarkanmu kekurangan apapun meski kamu berada dipanti asuhan. Termasuk susu yang kamu minum, sama jenisnya dengan susu yang Nanda minum. Beliau tidak pernah membeda-bedakan kalian." Robi terus saja menceritakan kebaikan Aryo.
"Papa Aryo adalah pahlawanku." Gumam Ayla. "Dan Nanda adalah saudari yang harus aku jaga setelah Papa tidak ada."
Robi menatap Ayla, Ayla memanglah wanita berhati malaikat, Robi pun sebenarnya tidak tega jika harus berkata bohong pada Ayla.
"Kakak akan mempertemukanmu dengan nanda, Kakak janji, Ay."
Ayla tersenyum, setidaknya ia merasa lega karna Nanda berada dalam perlindungan Robi.
Ayla dengan tidak sabar menunggu waktu untuk bertemu dengan Nanda, ia ingin memeluk Nanda dan memarahinya karna meninggalkan Ayla dan membuat Ayla hampir gila karnanya.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1