BEFORE WE DONE

BEFORE WE DONE
Mencurigai


__ADS_3

"Sayang.. Aku merindukanmu." Raja memeluk Nanda dari belakang.


"Mas, aku sedang lelah." Jawab Nanda beralasan.


"Kamu sakit?" Tanya Raja penuh khawatir.


"Tidak Mas, aku hanya lelah."


Raja merasakan sebuah penolakan dari Nanda, dan Raja menyadari semua ini karna dirinya sendiri yang selama dua bulan ini mengabaikan Nanda.


"Maafkan aku, Sayang." Lirih Raja.


Nanda hanya diam dan tidak menjawab.


"Kamu boleh menghukumku, aku siap." Raja mulai berucap dengan memelas.


"Sudahlah Mas, aku benar-benar lelah, terserah padamu, kamu mau melakukan apa."


"Apa ini karna soal program kehamilan?" Tanya Raja.


"Kamu mengingkarinya. Bilang saja kalau kamu tidak menginginkan anak dariku."


"Sayang.. Jangan bicara seperti itu, tentu saja aku ingin seorang anak darimu. Kita coba dulu secara alami, aku yakin aku sehat dan kamu juga sehat."


"Bohong!! Kamu tuh plin plan Mas!" Nanda mulai tersulut emosi.


"Bagaimana kita mau punya anak secara alami, bahkan kamu saja jarang menyentuhku, kamu juga mengingkari janji untuk memulai program kehamilan. Kamu sendiri tidak ada usaha Mas!! Jawab Nanda berapi-api.


"Nanda stop!! Bukan hanya kamu yang lelah, aku juga lelah. Mengertilah aku Nan."


"Mas, selama tiga tahun ini, aku kurang mengerti kamu apa? Sekarang aku kembalikan ke diri kamu. Kamu bisa ngerti aku gak?"


Raja berdiri mengambil kunci mobilnya kemudian keluar dari kamar Nanda. Ia merasa lebih baik kembali kerumahnya saja dari pada harus berdebat malam-malam dengan Nanda dan terdengar oleh Aryo.


Namun bukannya kembali kerumah, Raja malah mendatangi apartemen yang sudah dua bulan ini ia sewa untuk Sarah.


Raja menekan bel didepan pintu apartemen Sarah.


Sarah membuka pintu, ia menyambut hangat kedatangan Raja.


"Sayang.." Sapa Sarah lalu mengecup sekilas bibir Raja, kedua tangannya melingkar manja dileher Raja.


"Sar, lepas." Raja melepaskan tangan Sarah yang melingkar dilehernya.


"Come on, Raja. Kamu kesini karna merindukan sentuhanku kan?" Sarah terus saja merayu Raja.


"Tidak, Aku hanya ingin istirahat."


"Kamu hebat sekali Ja, aku menggodamu, bercumbu denganmu dan kamu tidak pernah mau menyentuhku lebih dalam lagi." Ucap Sarah.


Regan merasa heran akan sikap Sarah, mengapa bisa Sarah slalu menggodanya, bahkan berharap Raja menyentuhnya lebih jauh lagi disaat mereka belum menikah.


***


Sinar mentari pagi masuk melalui celah-celah gorden dikamar Ayla. Wajah cantik itu masih terlelap tidur dengan nyaman. Entah jam berapa Ayla tertidur, yang jelas semalam Regan terus saja mengganggu Ayla dengan mencumbuinya meski Regan tidak menyentuh Ayla lebih dalam karna kondisi Ayla yang sedang datang bulan.

__ADS_1


Regan duduk ditepi tempat tidur dan memandang wajah sahabat yang kini tlah resmi menjadi istrinya itu. Tangan Regan terulur merapihkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Ayla. Tanpa disadari, Regan tersenyum saat mengingat status dirinya yang sudah mempersunting Ayla.


Perlahan mata dengan bulu mata lentik itu mulai mengerjapkan matanya, hal pertama yang Ayla lihat adalah wajah Regan dengan penuh senyuman.


"Pagi, Sayang." Sapa Regan lembut kemudian mengecup sekilas bibir Ayla.


"Kamu udah bangun, Re?" Tanya Ayla dengan suara serak khas bangun tidur.


"Sudah dari subuh dan sekarang sudah jam delapan pagi, Ay." Jawab Regan.


"Oh my God, aku kesiangan." Ayla bangun dari tidurnya dan kini duduk bersandar di sandaran tempat tidur.


"Aku udah buatin kamu coklat hangat." Ucap Regan dengan mata tertuju keatas nakas.


"Kamu sweet sekali, aku jadi makin cinta." Ayla mengecup pipi kanan Regan.


"Benarkah? kalau begitu, nanti kalau tamu kamu udah pergi, harus puasin aku ya." Regan mencubit dagu Ayla dengan gemas.


"Ishh Re, sejak kapan sih kamu jadi mesum begini."


"Sejak punya istri yang bisanya menggoda tapi gak mau tanggung jawab."


Ayla tertawa, "Ini karna kamu, pikiranku jadi ikut terkontaminasi juga."


"Udah ah, aku mau mandi. Hari ini aku mau kekantor Papa Aryo, dampingin Nanda rapat akhir bulan."


"Kamu kerja? ijin aja sih Ay. Terus aku bagaimana?" Tanya Regan bertubi-tubi.


"Regan suamiku sayang, hari ini aja aku dampingin Nanda, tiap sebulan sekali ini udah jadi agenda rutin, dua bulan kemarin Nanda gak ikut rapat karna bantu aku mempersiapkan pernikahan kita. Aku takut kalau gak dampingin Nanda nanti Nanda dibohongin orang."


Ayla mengerdikan bahunya, "Mana tau Re. Yang jelas aku hanya ingin menjaga aset Papa Aryo untuk Nanda."


"Ya, kamu benar. Aku juga mulai curiga sama Bang Raja, kenapa dia belum mau mulai program kehamilan. Bukankan salah satu tujuan menikah itu untuk memiliki keturunan? Setidaknya berusahalah dulu."


"Iya Re, itu juga yang ada dipikiranku. Sikap Raja tidak bisa ditebak."


Regan mengangguk, "Kalau begitu bersiaplah, aku akan mengantarmu kekantor Papa Aryo."


Sementara dirumah Aryo, Nanda tengah bersiap untuk datang menghadari rapat akhir bulan.


"Raja mana Nan?" Tanya Aryo saat mendapati Nanda hanya turun sendirian.


"Mas Raja semalam pulang kerumah, Pa." Jawab Nanda santai.


Selama dua bulan ini, Aryo memperhatikan Nanda dan Raja, Aryo pun menangkap ada yang tidak beres dalam rumah tangga Nanda dan Raja.


"Ayla akan mendampingimu?" Tanya Aryo.


"Iya Pa, padahal Nanda sudah bilang tidak usah datang, tapi Ayla tetap bilang akan menemani Nanda rapat hari ini."


"Papa tidak salah memilih Ayla untuk menjadi anak angkat Papa, dia gadis yang baik, bahkan baru satu hari menikah, Ayla tetap mau menemanimu."


Nanda mengangguk. "Iya Pa. Nanda sangat beruntung bisa bersahabat dengan Ayla."


"Lalu kenapa Raja pulang? Bukankah semalam Raja masih disini."

__ADS_1


Mas Raja pulang karna berkas rapat untuk hari ini ketinggalan dirumah, Pa." Jawab Nanda berbohong namun Aryo mencurigainya tetapi tetap berusaha tenang bersikap seolah-olah mempercayainya.


Nanda menyetir sendiri saat membawa kendaraannya. Semenjak Aryo pulang, Nanda lebih nyaman berkendara sendiri tanpa supir. Terlebih satu minggu yang lalu, ia baru saja membeli mobil baru dan Raja tidak mengetahuinya.


"Itukan mobil Mas Raja." Gumam Nanda saat melihat mobil Raja yang baru saja keluar dari sebuah apartemen yang jaraknya dekat dengan kantor.


"Kenapa Mas Raja keluar dari apartemen? apa Mas Raja memiliki Apartemen yang aku tidak tau?" Tanya Nanda dalam hatinya.


Nanda mengikuti mobil Raja percis dibelakangnya, tentu saja Raja tidak mengetahuinya karna Nanda memakai mobil baru yang Raja tidak tau.


Mobil Raja menepi di halte yang jaraknya hampir dekat dengan kantor, Nanda melihat seorang wanita turun dari mobil Raja, dan Raja segera meninggalaknnya lalu masuk kedalam kawasan kantor.


"Siapa wanita itu?" Nanda memperhatikannya dari spion, hingga mobil Nanda pun masuk kedalam kawasan kantor.


"Ada bagusnya juga ternyata aku beli mobil ini, Mas Raja gak tau kalau mobilku tadi percis dibelakangnya."


Nanda segera masuk kedalam ruangannya, ruangan yang hanya ia singgahi sebulan sekali. Nanda memanggil Robi untuk datang keruangannya.


"Selamat pagi Bu Nanda." Sapa Robi saat memasuki ruangan Nanda.


"Masuklah Kak Robi, kita hanya berdua dan stop panggil aku ibu." Ucap Nanda kesal pada Robi yang membuat Robi tertawa.


"Sepertinya lagi gak mood." Tebak Robi


"Kak, aku mau tanya. dikantor kita apa ada wanita yang rambutnya panjang, tingginya sedikit diatas aku, dan hmm apa lagi ya..."


"Itu sekertaris Pak Raja, Nan."


"Kakak Tau?" Tanya Nanda heran.


Robi mengangguk.


"Sejak kapan? apakah Lena berhenti?"


"Lena berhenti karna ingin fokus mengurus anaknya, sekertaris Pak Raja yang baru bernama Sarah, sudah mau tiga bulan bekerja disini." Jawab Robi.


Nanda tampak berfikir mengingat-ngingat. Sudah dua bulan ia tidak menghadiri rapat bulanan karna sibuk membantu persiapan pernikahan Ayla, tapi ia sempat datang kekantor dan tidak melihat Sarah.


"Waktu terakhir aku kesini, apa wanita itu sudah bekerja disini?" Tanya Nanda.


"Sudah, mungkin saat itu kamu tidak bertemu dengannya." Jawab Robi yang mulai sadar ada yang tidak beres dengan Nanda.


"Ada apa Nan?" Tanya Robi.


Nanda menatap Robi. "Kak, bisakah aku mengandalkan Kakak?" Tanyanya penuh harap.


Robi mengerti arah pembicaraan Nanda. "Kamu bisa mengandalkan Kakak, Kakak akan membantumu. Kamu tau kan keluarga Kakak banyak berhutang pada Pak Aryo." Ucap Robi.


Robi adalah anak dari Ramli yang dulunya adalah asisten kepercayaan Aryo. Keluarga Ramli sangat mengabdi pada Aryo karna Aryo yang menyelamatkan Ramli dari jerat hutang rentenir, Aryo pula yang nenyekolahkan ketiga anak Ramli termasuk Robi dan mengangkat Ramli menjadi asisten kepercayaanya dan sekarang robi ditempatkan sebagai asisten untuk Raja.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2