
Nanda dan Pras meninggalkan hotel setelah makan siang. Keduanya melewati Sarapan karna Pras masih melanjutkan mencum*bui Nanda saat dikamar mandi. Pras melakukannya berulang kali dan tentunya tanpa pengaman.
"Kita ketempat wisata dulu yuk Mas." Ajak Nanda.
"Boleh." Jawab Pras yang kemudian membelokan mobilnya area wisata.
Pras menggandeng tangan Nanda dan tak melepaskannya, mereka menikmati suasana dingin dan sejuk, dengan pemandangan yang hijau dan asri.
"Kayanya kita belum pernah foto bedua deh." Ujar Pras sambil mengeluarkan kamera ponselnya.
"Jangan difoto, Nanti aja bertiga sama Disya."
"Ishh kamu lebih sayang Disya dari pada aku." Pras pura-pura merajuk.
Nanda tertawa, "Iya aku lebih sayang Disya. Tapi aku cinta banget sama Daddy nya Disya, gimana dong?" Ledek Nanda.
Pras mencubit hidung mancung Nanda. "Coba malam ini masih satu kamar lagi, abis lagi aja kamu aku makan."
Mereka tertawa berdua, tanpa mereka sadari, sepasang mata tengah memperhatikan mereka.
Pras memposisikan dirinya lalu berfoto selfie bersama Nanda. Ia mengambil beberapa foto dengan gaya yang berbeda.
"Sumpah, cantik banget ini Mommy nya Disya." Ujar Pras sambil melihat kembali hasil fotonya.
Nanda hanya tersenyum, sedari tadi Nanda hanya terus memperhatikan wajah Pras, wajah yang mungkin akan ia rindui itu.
Setelah puas berkeliling diarea wisata, Nanda mengajak Pras untuk pulang agar tidak terlalu malam saat tiba dikota J.
"Nanda." Panggil seseorang.
Nanda dan Pras menoleh arah sumber suara.
"Mas Raja." Gumam Nanda.
Raja mendekat kearah Nanda dan Pras.
"Mas Raja, sedang apa disini?" Tanya Nanda.
"Perusahaan tempat ku bekerja sedang mengadakan family gathering disini." Jawab Raja.
Penampilan Raja kini tak seperti dulu, Raja tampak lebih kurus dari sebelumnya, ia pun kembali menjadi Raja yang dulu, sederhana dan pekerja keras.
"Kami permisi dulu, Mas." Ucap Nanda pamit.
"Nanda, bisa kita bicara berdua?" Tanya Raja.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan lagi, Mas. Smua sudah selesai."
"Aku hanya ingin minta maaf padamu."
"Aku sudah memaafkanmu, hiduplah dengan baik, Mas. Jadilah Ayah yang membanggakan untuk anakmu." Nanda tersenyum pada Raja.
Nanda menarik tangan Pras kemudian meninggalkan Raja seorang diri yang masih mematung.
Nanda memang mengetahui kehidupan Raja setelah bercerai dengan Nanda. Ayah Haris menceritakan pada Regan jika Sarah meninggalkan Raja dan anaknya. Sementara Olivia entah berada dimana karna sudah tidak pernah kembali lagi kerumah Haris. Dan semua cerita Haris, Regan ceritakan kembali pada Nanda dan Ayla.
Pras dan Nanda tiba dihalaman rumah Nanda. "Mas kamu langsung pulang aja." Ucap Nanda.
"Aku ingin bicara dengan Papamu soal pernikahan kita."
Nanda bersikap setenang mungkin. "Nanti aja Mas, setelah kamu pulang dari kota B. Ayah sedang tidak sehat, pasti dia sudah istirahat."
Pras mengangguk, "Baiklah. Aku pulang ya. Dan tunggu aku pulang, aku akan segera menikahimu dan mengurungmu dikamar." Pras tertawa, sementara Nanda hanya tersenyum.
Pras mencium Nanda kembali, tadinya hanya ciuman sekilas, namun Nanda memagutnya cukup dalam, seolah ciuman itu tidak akan terulang kembali.
"Aku akan merindukanmu." Ucap Pras sambil menghapus sisa salivanya dibibir Nanda.
"Aku yang akan lebih merindukanmu." Jawab Nanda.
Nanda turun dari mobil Pras, ia masuk setelah mobil Pras tidak terlihat lagi.
"Papa, Kak Robi." Sapa Nanda saat melihat Aryo dan Robi berada diruang televisi. Nandapun duduk didekat Aryo.
Nanda melihat beberapa dokumen diatas meja.
"Kamu yakin kita akan berangkat?" Tanya Aryo.
"Nanda yakin Pa.." Jawab nanda.
"Lusa keberangkatanmu." sahut Robi.
Nanda mengangguk, "Apapun yang terjadi, tolong rahasiakan ini Kak."
"Kamu bisa mengandalkan Kakak, Kakak tidak akan pernah mengkhianati kepercayaan Pak Aryo." Ujar Robi.
"Kakak sudah menyiapkan sebuah rumah di Amsterdam dan segala kebutuhanmu dan Pak Aryo." Ucap Robi.
"Terimakasih kak, terimakasih." Ucap Nanda tulus.
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Nanda memutuskan untuk istirahat setelah mengantar Aryo kekamarnya terlebih dahulu. Sementara Nanda masuk kedalam kamar Ayla.
"Wangi minyak telon Ryu." Gumam Nanda, dan lagi-lagi air matanya menetes.
Nanda mengambil foto yang terbingkai figura, foto mereka bertiga yang diambil saat Ayla menikah dengan Regan.
"Kalian sahabat terbaikku, maaf aku harus pergi dengan cara seperti ini." Gumam Nanda.
Nanda kembali meletakan foto itu ditempatnya dan pindah kedalam kamarnya.
__ADS_1
***
"Kenapa cemberut?" Tanya Linda pada Pras saat sarapan.
Mereka semua tlah kembali dari resort, sehari setelah Pras pulang, karna Regan pun harus kembali bekerja dirumah sakit.
Sementara Ayla, untuk sementara tinggal dirumah keluarga Pras.
"Pras gak semangat keluar kota, Mam." Jawabnya lesu.
"Tiga hari doang, makanya cepat resmiin Mas." Sahut Regan.
"Pulang dari kota B, Pras mau melamar Nanda." Ujar Pras.
"Sepertinya udah ga tahan." Ledek Irwan.
"Haishh Papi, dirumah sekarang ada pasangan suami istri baru, bikin ngiri nanti." Ledek Pras pada Ayla dan Regan.
"Ish, Mas Pras.. Apaan sih." Sahut Ayla yang wajahnya mulai memerah.
"Kamu serius mau melamar Nanda sepulang dari kota B? Udah dibicarakan dengan Nanda?" Tanya Linda.
"Udah Mam, Nanda udah setuju." Jawab Pras.
"Koq Nanda ga cerita sama aku ya?" Tanya Ayla.
"Mungkin belum, Ay. Nanda kan baru pulang dari kota K, mungkin masih capek." Jawab regan pada istrinya.
Ayla hanya mengangguk, meski perasaannya berubah jadi tak enak, entah mengapa sedari di resort, Ayla merasakan ada sesuatu yang dia sendiri tidak tau.
***
"Apa kegiatanmu hari ini?" Tanya Aryo disela-sela sarapannya.
"Nanda ingin bertemu Ayla dan Regan, mungkin untuk yang terakir kalinya Pa. Dan Nanda pun akan menemui Disya."
Aryo menggenggam tangan Nanda. "Apa kamu sudah yakin?"
Nanda mengangguk, "Papi Irwan bukan sembarang orang Pa, cepat atau lambat, Papi Irwan pasti akan mengetahui ini semua. Nanda tidak ingin kehilangan Papa."
Siang hari, tujuan utama Nanda adalah toko perhiasan. Ia membelikan sebuah liontin untuk Ayla, liontin yang berbandulkan hati yang bisa terbelah dua, separuhnya untuk Ayla dan separuhnya lagi untuk Nanda. Nanda juga membelikan sepasang anting-anting untuk Disya, dan sebuah jam tangan untuk Regan.
Setelah dari toko perhiasan, Nanda menjemput Disya disekolahnya untuk mengantarkannya pulang.
Diperjalanan, Nanda memakaikan anting-anting ditelinga Disya. Anting anting berbentuk tinkerbell yang Disya sukai.
"Antingnya bagus sekali Mommy." Seru Disya.
"Antingnya dijaga ya Sya, kalo Disya kangen Mommy, Disya pegang aja keduang anting yang berada ditelinga Disya, lalu Disya pejamkan mata Disya." Ucap Nanda.
Heru yang memperhatikan dari kaca spionpun merasa terharu.
Tiba dirumah Pras, Ayla menyambut Nanda dan memeluknya.
"Kurang tidur ya, mata kamu seperti mata panda." Ujar Ayla.
"Bukan mata panda, tapi mata Nanda, Ay." Nanda tertawa dan Ayla juga ikut tertawa.
"Dimana Mami dan Papi?" Tanya Nanda.
"Mami baru aja istirahat, ditemani Papi." Jawab ayla.
Ayla membawa Nanda kekamarnya agar lebih santai saat mengobrol.
"Kamu pasti bahagia sekali ya, Ay."
"Sangat Nan, aku sangat bahagia."
Nanda tersenyum. "Apa yang akan kamu lakukan jika kamu bertemu dengan orang yang menculikmu?" Tanya Nanda sambil menggendong Ryu.
"Hmm, entahlah. Mungkin melaporkannya kepolisi, biar kapok." Jawab Ayla. Sebenarnya Ayla hanya bercanda, tapi Nanda menganggapnya serius.
Nanda mengangguk, Ia melihat wajah Ryu yang penuh damai, mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. "Jadilah anak yang baik, Mommy Nanda menyayangimu." bisik Nanda pada Ryu lalu meletakan Ryu didalam box bayi.
Nanda mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Untukmu." Lalu memberikannya pada Ayla.
Ayla membuka dan menerimanya. "Liontin?" Tanya Ayla.
"Isinya sepasang, satu untuk kamu, satu untuk aku. Ini aku pesan khusus Ay." Nanda mengambilnya satu lalu memakaikannya dileher Ayla. Lalu Nanda mengambil satu kalung lagi, "Pakaikan ke aku, Ay." Pintanya.
Tanpa rasa curiga, Ayla pun memasangkannya dileher Nanda.
"Kita sahabatan terus kan Ay? Apapun kesalahan aku, kamu akan maafin aku kan?" Tanya Nanda sambil tersenyum.
"Tentu saja Nan, aku menyayangimu lebih dari sahabat." Ayla memeluk Nanda. "Terimakasih, Liontinnya indah sekali."
"Dijaga ya Ay, jangan hilang." Ucap Nanda yang diangguki oleh Ayla.
Nanda memeluk Ayla, hatinya merasakan perih mengingat ini pertemuan terakhirnya. "Maaafkan Papaku, Ay." Batin Nanda.
Mereka larut dalam perbincangan. Ayla menceritakan pada Nanda tentang rencana Pras yang akan melamarnya. Nanda menanggapi cerita Ayla agar Ayla tidak mencurigainya.
"Aku tidak menyangka, dulu saat aku hilang ingatan, memakai namamu, Ay." Ucap Nanda.
__ADS_1
Ayla tersenyum, "Hana memang identitas asliku. Tapi Ayla tetap sahabatnya Nanda." Ucap Ayla.
Nanda berpamitan pulang, ia tidak sempat bertemu dengan Linda maupun Irwan. Tapi Nanda tidak langsung pulang, ia menuju rumah sakit tempat Regan bekerja.
"Tumben kesini." Cibir Regan.
"Biarin, iseng aja pengen gangguin kamu kerja." Ucap Nanda asal.
"Kirain nyari Mas Pras."
Nanda menggelengkan kepalanya, "Tiba-tiba aja aku pengen ditraktir kamu makan bakso."
Regan berdecak, "Kaya orang ngidam."
Nanda tertawa, "Aku sangat berharap merasakan ngidam."
"Kalau begitu cepatlah menikah dengan Mas Pras, aku yakin suatu saat nanti kamu akan merasakan mengandung dan jadi seorang ibu."
Nanda hanya tersenyum, "Aku kesini bukan untuk dinasehati kamu, Re. Aku mau minta ditraktir."
Regan melihat jam dipergelangan tangannya, masih satu jam lagi jadwal praktiknya dimulai. "Bakso dikantin rumah sakit aja ya, ga keburu kalo keluar." Ucap Regan yang diangguki oleh Nanda.
Regan memesankan dua mangkuk bakso, kemudian duduk berhadapan bersama Nanda.
"Harusnya makan bakso bertiga sama Ayla." Kata Nanda.
"Ya nanti kita makan bakso bertiga sama Ayla, kamu jangan terlalu sibuk kerja, Nan."
Nanda mengangguk, tak kama dua mangkuk bakso tersaji diatas meja.
"Ini bakso terenak yang pernah aku makan." Ujar Nanda sambil meracik saus dan sambal kedalam mangkuk baksonya.
"Belum juga dimakan, udah bilang enak. Emangnya kamu udah pernah makan disini?" Tanya Regan.
"Belum sih, ini yang pertama kali."
"Terus kenapa bisa bilang ini enak?"
"Semua makanan itu enak kalo gratis Re." Nanda tertawa.
"Haisshh kamu ini Nan."
Selesia memakan baksonya, Nanda mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya pada Regan.
"Untuk kamu." Ucap Nanda.
"Apa nih?" Regan menerima kotak itu dan membukanya. "Jam tangan?" Lalu menatap Nanda. "Dalam rangka apa?"
"Tadinya aku membeli jam tangan itu untuk Papa, tapi pas aku mau taruh jam tangan dikamar Papa, aku lihat Papa udah punya jam tangan seperti ini, gak mungkin kan Papa pake jam tangan yang sama." Kilah Nanda berbohong. Pasalnya Nanda sangat tau Regan pasti akan menolaknya karna jam tangan ini harganya sangat mahal.
"Terus dikasih ke aku? Kenapa gak kamu kasih ke Mas Pras aja."
Nanda menghela nafas, Regan memang susah sekali jika menerima hadiah, apa lagi hadiah dengan harga fantastis.
"Baiklah, aku akan memberikannya pada Mas Pras aja." Nanda menutup kembali box jam tangannya dan hendak memasukannya kedalam tas. Terlihat wajah kecewa Nanda.
Entah mengapa Regan langsung menahannya, ia tidak mau membuat Nanda bersedih, Reganpun merasakan sesuatu yang ia sendiri tidak tau perasaan apa itu.
"Kamu udah punya niat mau kasih aku, sini aku terima, kebetulan jam tanganku rusak." Ucap Regan yang menarik kembali kotak itu. "Makasih Nanda."
Nanda tersenyum. "Andai waktu bisa berputar, Re. Ingin rasanya aku kembali kemasa sekolah. Dimana masalah terbesarku hanya karna tidak memahami pelajaran sekolah, dan kamu sama Ayla slalu membantuku untuk mengejar ketinggalanku."
Regan menatap wajah sendu Nanda.
"Ada apa Nan? kamu ada masalah apa?" Tanya Regan.
Nanda menggelengkan kepalanya. "Aku hanya rindu masa lalu, Re." Jawabnya tersenyum.
Regan menggenggam tangan Nanda, "Aku sama Ayla, tetap sahabatmu Nan. Jangan sungkan menghubungiku ataupun Ayla jika kamu merasa kesepian atau butuh teman."
Nanda mengangguk kemudian berpamitan pulang setelah selesai mengobrol bersama Regan.
Nanda pun memeluk Regan,
"Jadilah suami yang baik untuk Ayla, dan jadilah Papa yang hebat untuk Ryu. Karna belum tentu ada kesempatan jika kamu menyakiti orang-orang yang kamu sayangi." Nanda melerai pelukannya.
"Seperti Bang Raja maksudmu?" Tanya Regan.
Nanda mengangguk. "Siapapun pasti punya kesalahan, Re. Mungkin itu aku atau juga Papaku."
Regan tidak mengerti apa maksud Nanda.
"Sudahlah, aku harus pulang. Papa terlalu lama aku tinggal sendirian." Nanda masuk kedalam mobil yang sudah dibuka oleh Heru.
Regan mengangguk dan sedikit membungkukan tubuhnya sebelum pintu mobil itu tertutup sempurna, "Besok weekend, aku dan Ayla akan akan menginap dirumah Papa Aryo."
"Aku tunggu." Jawab Nanda, kemudian Regan menutup pintu mobil Nanda.
Regan melihat mobil Nanda yang keluar dari parkiran rumah sakit, hingga hilang dalam pandangannya. "Ada apa dengan anak itu?" Gumamnya sambil menggelengkan kepalanya lalu masuk kedalam rumah sakit.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1